The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 37



"harusnya kamu jangan lari dari kenyataan. ini adalah takdir meski kau menghindarinya kau akan tetap bertemu dengannya, sebaiknya kau hadapi dan jangan terus berlari."


pov Rafka


***


Belum genap dua hari, rafka sudah kembali pulang, sampai di rumah tepat jam 10 malam, ia melewati kamar cavin yang tidak tertutup rapat. ia dapat melihat interaksi ibu dan anak itu cukup akrab, bahkan Alina sendiri sering ketiduran di ranjang Cavin. mungkin ia lelah karena cavin adalah anak yang hyperaktif.


perlahan Rafka mendekati alina dan menyelimuti tubuhnya hingga leher. ia kemudian menatap sang putra yang bergelayut manja di lengan alina.


"Selamat malam sayang." ucap Rafka pada cavin pelan kemudian ia mengecup keningnya dan mematikan lampu.


Rafka duduk di sofa di ruang tengah, menyalakan televisi tapi pikirannya melayang entah kemana.


"loh pak, belum tidur?" Alina menuruni tangga, Rafka mendongak melihat alina yang berjalan mendekatinya.


"hem, belum." jawab Rafka datar.


"bapak baru pulang ya." ujar alina lagi.


"hm iya." jawab rafka datar.


"bapak udah makan?" tanya alina lagi.


"sudah tadi saya sudah makan di restoran sebelum pulang."


"ooh baguslah, tadi mbak lisa pamit pulang ke kampungnya, katanya ibunya sedang sakit, jadi ga ada yang masak. ya barangkali kalau bapak lapar saya bisa masakin buat bapak. tapi kalau bapak sudah makan ya sudah, saya mau pulang." ucap Alina.


"Al." panggil rafka.


"ya, ada apa, ada yang lain?" tanya alina.


Rafka menepuk sofa di sampingnya duduk, Alis alina terangkat sebelah.


"temani saya malam ini." kata Rafka akhirnya.


"ooh." Alina pun pindah dari tempatnya ke samping rafka, rafka perlahan mengubah duduk menjadi berbaring, ia merebakan kepalanya di atas pangkuannya. Alina hanya diam dan menurut dengan sikap rafka. mata rafka terpejam dan menikmati setiap momen yang pernah ia lakukan saat masih bersama. ia ingin menjadi sandaran dalam hidup nya kembali. meski alina lupa ingatan, dan ia pergi juga karena dirinya. sekarang ia tak ingin ia pergi, mungkin ini masih lupa, tapi jika ia ingat masa kenangan mereka, takutnya alina akan pergi lagi.


Alina sesekali menguap, ia sangat lelah sekali, seharian ia sudah bermain ke wahana permainan, Alina pun ikut memejamkan mata dan tertidur.


keesokan paginya. mbok siti akan menaiki tangga seperti biasa ia akan membangunkan cavin dan menata perlengkapan sekolahnya, namun saat melewati ruang tengah ia menyaksikan betapa mesranya tuan dan nyonya ini. mereka tertidur di sofa dalam selimut yang sama apalagi posisi mereka saling memeluk satu sama lain.


mbok siti tersenyum tipis lalu kembali menaiki tangga dengan berjinjit agar tidak membangunkan majikannya itu. masih dalam posisi yang sama, bahkan pelukan mereka sangat erat. cavin sudah siap dengan seragamnya lalu menuruni tangga.


"Papa...Papa....papa....!"teriak cavin memanggil papa.


Alina yang mendengar suara keributan itu pun menggeliat, ia mengucek matanya menyetarakan sinar matahari yang terang.


"Ah...."teriak alina kencang, rafka yang masih tertidur pulas pun terkejut akan teriakan alina.


"Ah....ada apa?" Rafka terbangun dan memegang bahu alina.


"pak, kenapa bapak bisa tidur disini?" tanya alina di sertai kepanikan.


Rafka menghembuskan nafasnya lalu menarik tangannya untuk menyibak selimut dan berdiri.


"Saya mau mandi, mau ikut?" kata rafka.


"Tidak lah pak," Alina kembali merengut. sedangkan di tempatnya yang tak jauh, cavin dan mbok siti tertawa pelan menyaksikan kedua pria dan wanita yang bertengkar di pagi hari itu.


Eh sekarang ia tau, kenapa rafka memilih bungkam dan pergi, ini karena ada cavin dan mbok siti yang diam diam menyaksikan mereka, alina nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. ia jadi salah tingkah sendiri.


"hehe, cavin, mbok siti, kenapa kalian tertawa?" kata alina.


"den cavin, mbok akan siapkan buburnya ya." ucap mbok siti yang mengalihkan pandangannya kemudian berlalu.


sementara Cavin tersenyum dan mengangkat jempolnya ke atas. alina menjadi malu sendiri. kemudian cavin menyusul mbok siti ke dapur.


*


*


*


"dra, kamu kenapa? ku perhatiin kamu selalu marah marah, ada yang salah sama kamu, atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya alina, selama beberapa hari ini ia dapat melihat giandra yang berubah, ia yang selalu ceria dan ramah, banyak senyum. tapi kali ini, anak itu lebih sering marah marah dan setiap orang yang menjadi imbas kekesalannya.


"Al, andai kamu seorang pria, kamu melakukan kesalahan dan apa yang akan kamu lakukan?" tanya giandra.


"ya minta maaflah, emang kamu melakukan apa, sampai kau terlihat sangat frustasi seperti itu, apakah orang tuamu tidak memberimu warisan," kata alian mengejek.


Giandra memutar mata jengah.


"Aku ini serius alina."


"ya ya ya, aku juga dua rius."


"Seandainya kau seorang pria dan kau membuat kesalahan dengan menghamili seorang wanita yang bahkan tidak kamu cintai,.."


" Apa! kau menghamili anak orang dra, gila kamu!" pekik Alina geram.


"Oh astaga, terbuat dari apa sih otak kamu al? dengerin dulu aku ngomong al."


"hehe."


"nah, kamu harusnya ngapain sama wanita ini?" tanya giandra.


"ya tanggung jawablah, memang apain lagi. eh siapa yang menghamili, katakan! Apa kamu menghamili dewi ha!" kat a alina, matanya menyipit tajam menatap giandra.


Giandra merasa nyalinya menciut, kemudian ia nyengir dan menggaruk kepalanya. "tidak! aku cuma bertanya."


"ooh," alina menghembuskan nafas lega. "syukur deh kalau kamu tidak menghamili perempuan, kalau aku tau kau bersikap begitu maka aku sendiri yang akan menghajar kamu." ucap alina dengan tajam. giandra bahkan bergidik ngeri.


"eh, minum tuh kopi kamu. udah agak dingin." kata giandra mengalihkan. alina menunduk melihat kopi yang sejak tadi bertengger di atas cawan dan tadi asapnya yang mengepul penuh kini semakin berkurang, ia pun menengguk kopi itu secara perlahan. kemudian ruangan menjadi hening.


"Ya udab aku balik, kamu jangan banyak bertingkah, kasian tu pagawai kamu, kamu omelin, dah." ucap alina melambaikan tangan dan keluar ruangan.


Hampir saja, giandra keceplosan, ia kemudian menengguk air dalan botol, ia bisa lega dari acuan alina yang begitu tajam. giandra mengusap dadanya pelan. sabar.


#