
Jam 5.30 a.m
Cahaya pagi belum sepenuhnya muncul menyinari dunia, tapi seorang pria muda telah menyambut sinarnya datang, Rafka dengan kaos outfit dan celana trainingnya bersiap mengayuh sepedanya untuk menaiki sisi lereng gunung, di hari libur seperti ini adalah hari yang pas untuk bersantai dan menikmati sinar mentari.
"Hei Ka, pagi begini mau kemana?" tanya Fandi yang siap membaca koran di teras rumahnya.
"Biasa yah, sepeda santai." jawab Rafka seraya mengecek ban depan pada sepedanya. "Rafka pergi dulu ya, Yah." Lanjut Rafka seraya berpamitan.
"Hati hati ka." teriak Fandi. Belum juga sampai pada gerbang depan, tetapi seorang gadis tengah merentangkan kedua tangannya dengan menatap Rafka yang mengarah kepadanya.
"Stoppp!!" teriak Alina. Rafka yang terkaget dengan teriakan Alina, bertindak awas. tetapi keawasannya terlambat, sehingga sisi ban depan hampir mengenai Alina yang masih terdiam di sana dengan mata terpejam.
"A..Awas..!!!" teriak Rafka ia hampir saja menabrak Alina.
Bruagh
Saat terdengar sesuatu yang jatuh, Alina membuka mata sebelah, melihat Rafka yang hampir saja menabraknya, Dan setelahnya ia melebarkan matanya saat tidak menemukan Rafka di depannya lalu mengedarkan pandangannya dan sesaat kemudian ia tertawa saat melihat Rafka yang terjungkir dengan kepala masuk ke dalam lubang.
"Hahahahaha....." Alina tertawa sangat keras, tetapi itu justru mengundang sisi geram pada Rafka yang saat ini sedang kesakitan.
"Alina!" Geram Rafka, Seketika Alina langsung terdiam, dengan tangan kanan menutup mulutnya sendiri. Di detik berikutnya ia beringsut ke arah Rafka. mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Om, ngapain om disitu. mau nyari ikan!" Tanya Alina masih menahan tawanya.
"Jan, ketawa. Ini sakit tau, Cepetan bantuin." Ucap Rafka.
"Bentar Om." Sahut Alina, ia berjalan ke sisi kiri menarik lengan Rafka, Sementara dirinya membantu menarik dirinya keluar got. namun di detik berikutnya Rafka menepis lengannya sehingga Alina terjungkal ke belakang.
"Aw..." pekik Alina. Dan itu membuat sudut bibir Rafka terangkat. "Kamu itu gimana sih, bukannya ditarik malah enakan sendiri duduk di situ." cibir Rafka.
"Apa yang om bilang, Om gak liat kalo aku terjatuh kek gini. sakit nih om." Seru Alina menunjuk punggungnya.
"Makanya, jan ketawain orang yang lagi jatuh." sahut Rafka. Ia mengambil sepedanya yang masih terjungkir lalu menuntunnya melewati gerbang depan.
"Om, lah kok di tinggalin, Om...mau kemana?" Teriak Alina.
"Mau olahraga." jawab Rafka yang mulai menaiki sepeda kayuhnya.
"Ikut dong om, saya juga mau lihatin kebun." Sahut Alina masih berteriak.
Rafka menghentikan kayuhannya yang belum begitu jauh."Kau bisa naik sepeda gak, Di gudang masih ada sepeda, kau bisa ambil?" Alina menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Rafka menaikkan sebelah alisnya, Alina segera berlari ke arah Rafka yang menatapnya lama.
"Ikut ya Om." kata Alina dengan menampilkan puppy eyesenya, dan itu membuat Rafka semakin gemas dengan Alina yang terlihat sangat lucu baginya. "Boleh ya Om?" Ucap Alina memelas, dan itu berhasil membuat Rafka merasa iba.
"Ya sudah ayo naik." Jawab Rafka dengan menggerakkan wajahnya. Alina langsung mengembangkan senyum di wajahnya yang chubi, lalu segera naik di selakangan depan sepeda Rafka.
Di sepanjang perjalanan, Alina lebih banyak tersenyum, memandangi pemandangan yang sangat segar tanpa adanya polusi udara. apalagi desa yang aman tanpa suasana bising ataupun asap yang mencemari udara itu membuatnya dirinya merasa sangat terhibur. Sehingga Dia merasa ingin berlama lama berada di sana.
"Bagus tidak?" tanya Rafka di sela mengayuh sepedanya.
"Heem, bagus. meskipun masih ada banyak nyamuk. tapi Aku seneng bisa liatin pemandangan kek gini, jarang-jarang bisa nikmatin hal indah." Balas Alina menatap lurus ke depan. memperhatikan jalanan setapak dan di kanan kirinya terdapat tanaman Teh berjajar rapi.
"Jadi, masih betah disini?" Tanya Rafka.
"Enggak juga sih, Disini masih jauh dari kata semuanya." sahut Alina.
Rafka masih mengayuh sepedanya jauh dari pedesaan, tanpa adanya rumah penduduk yang berjajar, dan tak jauh darinya bersepada para buruh pemetik teh sudah berkumpul dengan hasil teh yang berada di punggungnya. Alina semakin merasakan rasa dingin saat kabut tebal itu menghalangi pemandangan. Tapi tak surut dengan semangat yang ingin ia lihat sekarang. Berhenti menatapi pemetik teh sesaat kemudian menikmati sunset pagi.
Kruuukkk
Tiba tiba saja perut Alina berbunyi, "Eh..." Dan itu malah membuat Rafka menaikkan alis sebelahnya menatap Alina masih duduk di depannya. Alina tersenyum canggung menatapi perutnya yang berbunyi minta diisi, menepuk pelan perutnya seraya menundukkan kepala.
"Kamu lapar?" tanya Rafka.
"Sungai?" ucap Alina seperti gumaman. Matanya berbinar terang. melepaa sepatu miliknya, memasukkan separuh kakinya ke dalam air sungai seraya duduk di atas bebatuan. Semuanya terasa sangat Alami. Dan itu membuat dirinya merasakan kedamaian setelah beberapa masalah.
"Apa kau ingin makan ikan?" Tanya Rafka kemudian ikut mendudukkan dirinya mensejajarkan duduk dsamping Alina.
"Memangnya ada ikannya?" Alina menggoyangkan kakinya, tatapan matanya tertuju pada air mengalir yang tidak dalam.
"Tentu saja." Jawab Rafka, detik kemudian ia sudah menceburkan dirinya ke dalam sungai yang jernih menatap Alina yang sedang menatapnya. "Ini Om beneran mau nyari ikan?" Tanya Alina. Rafka mengangguk pasti. Dengan mata awasnya Rafka mencari sesuatu untuk menangkap ikan, detik berikutnya ia sudah mendapatkan kayu lalu membawanya ketengah sungai.
Alina berfokus pada tubuh Rafka yang tampak gagah saat memakai kaos outfit yang terlihat tipis seperti menampakkan sisi perut sixpax milik Rafka, tanpa ia sadari menaikkan sudut bibirnya lebar, kemudian menggeleng saat pikiran itu mengarah pada hal yang menurutnya sangat konyol, tetapi lamunan itu tidak bertahan lama saat air dingin mengenai wajahnya.
"Ih Om!" teriak Alina menatapi Rafka dengan masih menyipratkan air ke arahnya, Alina menurunkan kakinya masuk ke dalam sungai membalas dengan menyipratkan air ke arah rafka. Rafka tertawa kencang saat Alina terjatuh ke dalam air dan badan Alina menjadi basah kuyup. Dan itu membuat dirinya saat terhibur dengan segala permasalahan yang berada di kantor.
***
Bhara dan Fandi sedang menikmati kopi di pagi hari, kedua pria dewasa itu saling terdiam dan saling menikmati bacaan koran.
"Apa kegiatanmu selanjutnya Bhar?" tanya Fandi membalikkan halaman.
"Ya seperti in saja dulu, dan menikmati kebersamaan dengan putri kesayanganku."
"Apa kau tidak ingin menemui istrimu? sudah dua tahun berada fi Los Angeles, apa kau tidak rindu dengannya."
"Entahlah, aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan, alih alih aku menyibukkan diriku sampai lupa ternyata waktu berlalu begitu cepat."
Fandi melipat korannya dan meletakkan di meja, ia menatap sahabat satu satunya dengan iba.
"Sudahlah Fan, ini adalah hidupku. kau jangan menatapku seperti itu." Bhara meletakkan koran dan menyesap kopinya perlahan menikmati pahitnya kopi seperti jalan hidupnya.
"Ya baiklah, itu adalah keputusanmu, aku tak bisa berbuat apa apa." Bhara tersenyum menatap Sahabatnya.
Tak berapa lama, Rafka dan Alina datang membawa ikan yang ia ikat pada rumput dan ia tenteng di tangannya.
"Mereka berdua datang." Fandi menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Bhara.
"Mereka masih sama seperti dulu saling bersama meski saling bertengkar." Fandi menggelengkan kepalanya dan tersenyum dan di akhiri dengan menyesap kopi miliknya.
"Papa..." Alina berlari menghampiri kedua pria paruh baya itu di teras.
Bhara menampilkan senyum ke arah anaknya yang terus berlari memegangi ikan.
"Sini sayang,"
sampai dihadapan Bhara, Alina menunjukkan ikan yang ia tangkap bersama Rafka.
"Papa ini ikan yang Alina tangkap sendiri loh, yuk kita goreng bersama pa." kata Alina Manja.
"oh ya?"
"heleh gayanya tangkap sendiri, tadi aja mau di lepas tuh ikan." ledek Rafka yang entah kapan sudah berdiri di belakang Alina.
"Kan kasihan kalau di masak pa."
"Yaudah, sini biar papa yang goreng." Bhara menjulurkan tangannya dan Alina menyerahkan ikan itu untuk dimasak.
Sebelum masuk kedalam rumah, Alina memeletkan lidahnya ke arah Rafka dan berlari begitu saja.
"Dasar bocah."
***