
Setelah semalam Bhara tertidur pulas, ia terbangun di jam 3 pagi. Bhara ingin pergi ke toilet tapi kakinya tidak bisa ia gerakkan.
"Kakiku, kenapa tidak bisa bergerak." Bhara menekan kakinya, ia meringis dengan sekuat tenaga tapi tetap saja tidak bisa bergerak.
Alina yang menyadari itu langsung terbangun dari tidurnya, ia mendekati ayahnya yang sedang menggerakkan kakinya.
"Papa!"
"Alina, apa yang terjadi, kenapa kaki papa tidak bisa digerakkan?" Bhara mulai meneteskan air mata.
Ada tersirat kesedihan di hati Alina, melihat ayahnya yang seperti ini.
"Kaki papa, lumpuh saat kecelakaaan waktu itu." Alina tertunduk dan berkata pelan.
Ayahnya hampir saja tak percaya dengan yang di katakan alina. ia akan cacat seumur hidupnya. ia merasa tak berguna saat ini.
"Alina, maafkan papa. Papa tidaklah berguna sebagai ayahmu. maafkan papa." kini bhara yang tertunduk lemas.
"Papa, tidak perlu meminta maaf, apapun keadaan papa. Alina sayang papa, papa harus selalu berada di sisiku setiap saat, menebus waktu kita yang hilang. Papa harus semangat, karena ada Alina disini." Kata Alina menghibur papanya.
"Terima kasih sayang." Bhara memeluk putri kesayangannya dengan sayang, mencium pucuk rambut alina berkali kali.
Di pagi hari, Alina menyuapkan bubur kepada ayahnya, ia tersenyum lebar menatapi putrinya dengan telaten menyuapinya.
"papa mau buah, biar alina kupaskan untuk papa."
"ya."
Alina pun mengupas apel yang berada di keranjang di meja yang tak jauh dari tempat tidur ayahnya, tak berapa lama Fandi beserta sang istri datang menjenguk.
"Apa kabar Bhara, bagaimana keadaanmu?"
"baik fandi, aku sudah baik baik saja, terima kasih atas bantuanmu, kalau bukan karena kau mungkin aku sudah tidak ada disini lagi." kata bhara.
"itulah gunanya teman." keduanya saling mengobrol. Alina sedikit lega dengan kedatangan pamannya, ia merasa ayahnya sudah tidak lagi memikirkan kelumpuhannya, bahkan ia bisa melihat ayahnya bisa tertawa. ini adalah yang selalu di inginkan alina, sebuah kehangatan dalam keluarga.
Sedangkan Shaqaella sendiri duduk manis bersama Alina, memberikan bekal yang ia bawa untuk Alina.
"Alina, bagaimana dengan sekolahmu nak, kau sudah tidak sekolah beberapa hari. kamu pasti sudah banyak ketinggalan banyak pelajaran." kata shaqaella.
"Iya, bik. kalau papa sudah pulih Alina akan pergi. Soalnya tidak ada yang menjaga papa."
"Biar paman saja yang menjaga ayahmu, dia ini terlalu manja pasti kau nanti akan kerepotan, Alina kau pergi saja, sekolahmu lebih penting dari orang tua ini." kata Fandi.
"Iya Alina, papa sudah lebih baik, akan lebih baik kau pulang dan istirahat, papa disini sudah banyak dokter dan perawat yang jaga." sahut Bhara.
Meski berat, akhirnya Alina menyetujui permintaan papanya. Setelah menghabiskan makanan ia pun berpamitan kepada papanya. Ia menuju jakarta yang di antarkan oleh supir Fandi.
"Alina anak yang manis, aku ingin sekali dia menjadi menantuku kelak." kata fandi.
***
Di M.J Corp.
Semalam Rafka pulang sekitar jam 11 malam, dari bandung ke jakarta setelah memastikan Alina sudah tertidur. Pagi ini ia mengadakan meeting untuk rekapitulasi hasil keuntungan bulan ini, jadi ia pagi pagi sekali pergi ke perusahaan.
"Pagi pak." sapa Salma sekertaris Rafka.
Wanita itu berdiri ketika Rafka datang. "Pagi." jawab Rafka datar tanpa melirik sang wanita itu membuat wanita itu sebal.
Padahal ia sudah berdandan cantik dan selalu berpenampilan sexy, ia berharap atasannya itu meliriknya, karena ketampanan yang dimiliki atasannya itu bak dewa yang di ukir dengan indah.
Rafka memasuki ruangannya dan duduk di singgasana seperti biasanya, Salma masuk dengan notepage di tangannya. membacakan agenda hari ini.
"Sudah pak, hanya itu saja jadwal anda hari ini." ucap salma.
"Ya kau bisa keluar sekarang." kata Rafka menunduk seraya meneliti dokumen pagi ini.
"Baik pak." jawab Salma.
Ia keluar dan menutup pintu. Sedangkan Rafka sendiri sudah mulai masuk dan larut dalam pekerjaannya. bahkan sebentar lagi akan diadakan meeting.
Tok tok tok
"Masuk!" tanpa melihat siapa yang datang ia sudah tau bahwa itu adalah Aileen yang masuk.
"Ada apa?"
"Lima menit lagi pak, meeting di mulai."
"oke." Rafka merapikan dokumen di depannya kemudian pergi keluar bersama sama menuju ruang rapat yang berada di aula di samping ruangannya.
Dua jam kemudian.
"Bagaimana keadaan om kamu itu?" tanya Aileen di kala seluruh pegawai sudah di pastika tidak ada lagi di ruang aula, kini tinggal mereka berdua yang masih betah dengan posisi mereka.
"Setelah melakuka operasi, aku rasa beliau sudah lebih baik."
"Syukurlah, kalau begitu nanti kalau ada ruang ingin menjenguknya."
Kemudian keduanya bangkit dari duduk mereka dan berjalan keluar.
"Kita makan di luar, dan sekaligus menemui klien dari Jaya Corp. kali ini mereka menawarkan budget yang tinggi."
"Oke."
***