
Jam 10 p.m Alina dan Rafka sudah sampai di jakarta, setelah Rafka sudah menyelesaikan semuanya di bandung. Alina duduk di jok samping, memiringkan kepala ke arah jendela. Saat mobil sudah berhenti di parkiran.
"Al, kita sudah sampai." ucapnya seraya melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Alina tidak merespon apapun.
Rafka menepuk bahu Alina pelan, tapi sang empu tidak bergerak sama sekali. terdengar hembusan nafas halus yang keluar dari hidungnya, itu artinya Alina sudah sangat pulas.
Untungnya, Rafka membelokkan mobilnya di rumah besar mewah miliknya di jakarta. Ia pelan pelan memindahkan Alina hingga masuk ke dalam rumah.
"Tuan Rafka!" Seru Art yang bekerja di rumah Rafka.
"Shyuuutt!" Ucap Rafka sembari mengkodekan Art itu untuk pelan pelan berbicara.
Art itu mengangguk dan mengerti lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
Rafka menaiki anak tangga di lantai dua, lalu merebahjan gadis itu di ranjang besarnya. Sedangkan untuk Cavin sudah di gendong oleh pengasuhnya masuk ke dalam.
Rafka menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut tebal sebatas dada.
Rafka melihat jam di tangannya, menyetir mobil dari Bandung hingga jakarta membutuhkan waktu setidaknya dua jam setengah membuat ia merasa lelah.
Setelah selesai mandi, Rafka keluar melalui pintu kaca yang berada di kamar menuju teras balkon. tanpa mau mengganti jubah mandi, ia menyulutkan api di puntung rokok yang baru ia keluarkan dari sakunya.
Di sela jarinya, ada rokok yang terjepit. Menyesapnya perlahan hingga keluar asap putih yang mengepul menutup wajah putihnya yang bersih. Ia diam menatap kegelapan malam yang berada di luar sana.
Ia membiarkan hentakan angin malam menimpa wajahnya. tidak bergerak sama sekali. seolah mati tapi hidup.
"Papa!" terdengar sangat lirih masuk ke dalam gendang telinganya.
"Kenapa tidak tidur Cavin!" sahutnya dengan dingin.
Anak kecil itu hanya diam. tidak bergerak sama sekali, seperti ketegasan yang selalu di ajarkan Rafka. Karena suatu saat saat ia sudah besar, ia akan mewarisi sebuah perusahaan besar yang kini masih di kelola Rafka.
"Papa, Aku tidak bisa tidur. bisakah Aku tidur bersama mama?" Ucap lelaki kecil itu. Suaranya bahkan terdengar datar dan tidak memiliki emosi sedikitpun.
Ia tau bahwa Ayahnya selalu mengajarinya selalu hidup mandiri meski ada seorang wanita yang selalu menjaganya jadi ia selalu tidur di kamarnya, meski hujan petir yang membuatnya takut tapi ia tahan agar tidak takut.
"Hem. Kamu sudah besar Cavin, kamu tidurlah di tempat tidurmu, seorang lelaki sejati tidak akan takut pada apapun. bahkan jangan sampai goyah meski badai di depan mata. ingatkah itu Cavin." Lirih Rafka tanpa menoleh sedikitpun. Ia tak segan selalu memberikan peringatan kepada anak kecil itu agar tidak terlalu manja.
"Mengerti papa." Jawab bocah kecil itu. raut wajahnya bahkan sangat lesu, tapi ia bisa menahannya. Ia tetap berwajah dingin seperti sang papa.
"Selamat malam. papa!" Sebelum bocah kecil itu memutar balik tubuhnya, ia menatap ayahnya sekilas.
Rafka menoleh ketika bocah lelaki itu sudah berjalan masuk dan keluar dari pintu utama menuju kamar pribadinya sendiri.
Rafka mematikan puntung rokok yang sudah habis setengah ke asbak yang ia bawa di tangan kirinya. sebelum akhirnya masuk le dalam, Rafka kembali menatap luar yang masih terlihat gelap.
#
Pagi hari. Alina terbangun lebih dulu saat jam sudah masuk fajar. Saat membuka mata, ia terkejut saat tau itu bukanlah nuansa kamar pribadinya. lalu menoleh ke samping, Rafka masih tertidur pulas dengan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya.
Alina memutar tubuhnya ke samping, ia pelan pelan menurunkan kakinya. lalu segera masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan segala urusannya saat pagi hari seperti biasa.
Tiba tiba, tubuh alina di dorong hingga ke tembok yang tak jauh dari nya. Rafka memblokir gerak Alina dengan kedua tangan di sisi kanan dan kirinya.
Menatap dengan intens raut wajah Alina yang menggemaskan ketika berubah berwarna merah saat marah atau saat kesal. seperti saat ini, pipinya sudah semerah tomat karena terlalu kaget. bahkan detak jantungnya meningkat begitu cepat saat wajah Rafka kian mendekat.
Alina memejamkan mata, lalu membuang muka ke kanan. Rafka tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Rafka.
"Rafka!" mendorong dada Aksa hingga mundur." Kau keterlaluan!" sengit Alina mencoba menutupi jantungnya yang seakan berperang.
Alina berlari keluar kamar, lalu menekan dadanya dengan kedua tangannya yang berdetak cepat. masih bersandar pada pintu yang tertutup rapat. setelah sudah merasa lebih baik, ia menuju kamar Cavin.
Di tatapnya wajah bocah kecil itu dengan seksama, lalu ia sadar, bocah lelaki itu justru mirip dengannya. perasaannya tiba tiba teringat 6 tahun lalu, bagaimana saat ia bersusah payah mengandung tanpa di di temani suaminya, bahkan Suaminya rela pergi kepelukan wanita lain karena menghormati orang tuanya.
"Ach." kembali lagi rasa pusing menderanya. kali ini tidak terlalu parah. ia menekan kepalanya, mencoba kuat tidak memikirkan hal itu.
"mama!" Ucap bocah itu menggosok matanya.
Alina membuka matanya lebar lebar, menatap bocah kecil itu dengan wajah tersenyum. ia menekan rasa sakitnya agar tidak terlihat rapuh di hadapan anak kecil itu.
"Selamat pagi, sayang." tuturnya dengan lembut.
Bocah itu balas tersenyum lalu mencium pipi kiri Alina. "Selamat pagi mama."
"Mau mama bantu mandi?" tawar Alina.
"Cavin sudah besar ma." tolaknya halus, bahkan anak kecil itu sudah berlari masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Alina merapikan tempat tidur Cavin, menyiapkan seragam sekolah yang biasa di pakai saat berangkat ke sekolah. menunggu hingga selesai mandi, bocah kecil itu melingkarkan handuk kecilnya sebatas pinggang layaknya pria dewasa.
Alina tersenyum saat pertama kali ia melihat putranya yang seakan sudah dewasa.
"Mama bantu pakai ya!" tawarnya lagi saat Cavin memasukkan tangannya pada lengan baju seragamnya.
"Tidak perlu mama," tolaknya lagi, Benar benar membuat Alina merasa gemas akan tingkah lelaki itu, meski sikapnya sok acuh tapi tetap menerima bantuan dari sang mama. lalu bergandengan tangan menuruni tangga.
Alina tampak tersenyum lebar menggandeng tangan kecil di sampingnya, Aksa melipat koran paginya, dengan satu tangan yang lainnya menyesap kopi panas.
Ia bahkan tersenyum meski tidak kentara, hanya Art lama yang dapat melihat hal itu.
"Cavin mau minum susu?" tanya Alina. membantu duduk di kursi yang seharusnya berukuran dewasa, Cavin duduk dengan tenang badannya yang kecil tertutup meja besar, dan menyisakan kepalanya yang kecil menyuapkan bubur.
Rafka menghabiskan buburnya dalam diam dan tenang, setenang air yang dalam, bahkan ketenangan yang dimiliki papanya menurun ke anaknya. Alina hanya diam membatin, tidak ingin melakukan sesi percakapan apapun dengan keduanya.
"Sungguh keluarga es." Batin Alina menatap punggung Rafka besar dan Rafka kecil masuk ke dalam mobil.
...****************...