
Alina dan Fandi duduk di taman yang berada di belakang rumah, bangku itu menghadap ke arah kolam renang, dan juga bisa menikmati bunga mawar yang berada di sebrangnya. Fandi menyesap kopi secara perlahan, Alina masih terdiam.
"Apakabar nak, bagaimana rumah boutiq mu?" tanya Fandi yang mengetahui perencanaan yang di lakukan Alina jika tiba di indonesia.
"berjalan lancar paman, dan terima kasih atas segala bantuan paman." ucap alina, fandi tersenyum.
"nah apa yang akan kamu lakukan atas budi baik paman,? kata paman.
"maksud paman, paman ingin aku membalas budi?" tanya alina dengan heran. fandi mengangguk.
Alina berpikir sesaat, hingga ia membuka suaranya. "jalan jalan ke luar negeri?" tanya Alina, fandi menggelengkan kepala.
"voucher belanja?" lagi Fandi menggelengkan kepala.
"Apa dong paman, Alina benar benar tidak tau keinginan paman." kata alina dengan cemberut. Pria paruh baya itu menarik Alona ke dalam dekapannya,
"jadilah anak menantu paman." kata fandi lembut yang membuat alina membeku seketika.
"A-aku!" kata alina memastikan.
"ya." sahut fandi mantap.
"ta-tapi!"
"tidak ada tapi tapian!" seseorang datang menyahut obrolan mereka. seketika keduanya menatap Rafka dengan dahi berkerut. Rafka menggosok pelipisnya.
"maksud saya, Cavin menginginkan seorang mama, dan hanya kamu yang sanggup melakukannya." kata rafka agar tidak salah paham.
"benar nak, hanya kamu harapan kami satu satunya. kamu mau kan menerima lamaran rafka?" tanya fandi dengan raut wajah yang memohon.
"ta-tapi bagaimana dengan bibi shaqaelle?" tanya alina.
"saya setuju!" sahut Shaquelle yang sedang menggendong cucunya. ia berjalan mendekat ke arah bangku. semua menatap shaquelle dengan tatapan tak percaya. padahal wanita paruh baya itu sejak semalam masih melakukan aksi penolakan terhadap alina.
"saya setuju akan pernikahan kalian, asalkan kamu alina, mau hidup di sini menemani bibi mu ini yang sudah semakin menua." ucap shaqaella. lantas ia tersenyum dan memeluk alina. alina tidak merespon apapun selain keterkejutannya hari ini. begitu juga Fandi dan Rafka.
"bukankah bibi tidak ingin aku hidup disini." tanya alina.
"bibi jangan lakukan ini. alina juga minta maaf jika selama ini sudah membuat bibi marah." alina menarik tangan Shaqaella dan ia memeluk tubuh renta shaqaella. semua yang ada di sana menyaksikan betapa bahagianya mereka, begitu juga asisten rumah tangga fandi, juga ikut meneteskan air mata kebahagiaan.
akhirnya selama 6 tahun lebih terpisah, ia bisa menyaksikan senyuman kebahagiaan yang tersemat manis di wajah mereka. malam pun tiba, semua tetangga berduyun duyun datang ke tempat pernikahan alina dan rafka yang di gelar secara sederhana itu. Rafka tidak bisa lagi menyembunyikan perasaananya, seakan burung yang berada di dalam sangkar kini bisa merasakan kebebasannya.
Kebaya berwarna putih dan jas berwarna hitam, telah mendominasi kedua pengantin. mereka tampak serasi dengan baju yang ia kenakan. cavin anak kecil itu selalu merengek ketika opa-nya selalu menggodanya.
"Terima kasih ya Tuhan, Kau telah mengabulkan doa ku. kami akhirnya bisa berkumpul kembali," batin Rafka dengan tersenyum simpul menatap Alina yang kini tengah duduk di sampingnya.
Alina tampak anggun mengenakan kebaya yang entah sejak kapan sudah di persiapkan oleh keluarga Fandi. pipinya tampak merona malu malu, ketika ia selalu di pandangi oleh rafka.
"akhirnya, kita jadi pasangan yang sah." gumam rafka, ia membaringkan tubuhny yang lelah di atas kasur kamarnya.
Alina yang sedang menanggalkan aksesorisnya, ia tersenyum menatap rafka melalui pantulan kaca riasnya.
"kenapa kamu tersenyum seperti itu." kata rafka yang membuat alina mendatarkan wajahnya.
"ga apa apa pak, hanya aneh saja. sepertinya bapak ini kayak udah lama banget ya kita pernah bersama." kata alina polos yang membuat rafka mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"kayaknya, saya merasa gerah deh, saya mandi dulu." rafka mengalihkan pembicaraannya kali ini dan masuk kamar mandi.
alina mengganti baju kebayanya dengan baju kemeja rafka yang kebesaran, ia memang tidak membawa baju ganti karena awalnya tadi ia berniat setelah memberikan kado hadiah pada pamannya itu ia akan kembali ke kota besar, tapi ternyata semua di luar dugaan, kedatangannya malah menjadi hari pernikahan dirinya.
Keluar kamar mandi, rafka melihat istrinya itu tengah tertidur pulas, ia masih mengenakan handuk sebatas pinggang, rambutnya masih terlihat basah. ia tak bisa lagi mengungkapkan dengan kata kata, ia cium dahi alina sayang dan menutupi tubuh mungil itu dengan selimut.
"selamat malam, sayang." ucap rafka menundukkan pandangannya.
terlihat alina menggeliat, ia memposisikan tubuhnya dengan nyaman.
"makasih selama ini kau masih setia padaku." lanjut rafka. ia kemudian berlalu mengambil piyama dari dalam almari dan ikut merebahkan tubuhnya di samping alina, ia melingkarkan lengan kekarnya ke pinggang alina, ia sudah lama merindukan kehangatan yang seperti ini. ia pun menarik tubuh alina di dada bidangnya.
"i love you." bisik rafka tepat di telinga alina, alina pun tersenyum.
"love you too."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...