
Enjoy ya....
.....
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah mama, air mataku tak kunjung berhenti. Hatiku serasa dihentakkan dan dihimpit batu besar, rasanya ngilu. Bahkan umi yang menyambut kedatanganku sampai kaget melihatku yang bersimbah air mata.
Ya, malam itu aku tidak pulang ke rumah Mas Akmal, melainkan kerumah umi. Karna ku yakin berada dirumah umi aku akan menjadi lebih baik.
"Astaghfirullah nak, ada apa?" Aku hanya dapat diam sambil terus berjalan menuju kamarku. Aku tau umi mengikuti ku dari belakang, tapi aku benar-banar ingin berdiam diri sendiri.
Kuhempaskan tubuhku dan menutup seluruh wajahku dengan selimut agar umi tidak mendengar Isak tangisku. Aku benar-benar hancur, sehancur-hancurnya, lebih hancur ketika Mas Akmal menolak perjodohan dulu.
Sejak pulang tadi, sudah berpuluh-puluh kali ponselku tak hentinya berbunyi, aku tau itu pasti Mbak Zahra, tapi saat ini aku ingin sendiri.
Aku menangis sampai umi yang terus menanyaiku diluar aku abaikan. Tak terasa sampai aku tertidur, mungkin esok mataku akan bengkak, namun aku malam ini memang butuh menangis.
.....
Kembali aku terbangun dalam keadaan kepala berat dan terasa pusing. Tanganku terulur meraba keningku, sesuatu yang dingin tertempel disana. Sedangkan disampingku duduk umi yang sedang tertidur, seperti nya wanita kuat itu menjagaku semalaman.
"Umi?" Panggil ku. Dapat kulihat beliau menggeliat, tak berapa lama matanya perlahan terbuka.
"Astaghfirullah, umi ketiduran, nak kamu tidak apa-apa?" Tanya umi panik, tangannya terulur mengecek suhu tubuhku.
"Alin gak pap kok mi, umi tidur aja dikamar umi, Alin gak mau umi nanti sakit karna kurang tidur." Ucapku. Umi yang memang mengantuk beliau langsung menuruti ucapanku dan kembali kekamarnya.
Aku bangun dari tidur dan melihat jam yang menggantung didinding, jam itu menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan susah payah dan menahan beratnya kepala, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Sholat malam kali ini aku terpaksa laksanakan sambil duduk, karna rasa pusing yang kurasakan ketika dibawa berdiri sangatlah sakit. Seperti biasa sholat malam ini aku tutup dengan sholat witir tiga rakaat, setelahnya aku lanjutkan dengan berdoa, mengadu keluh kesah kepada sang Rabb.
"Ya Allah, kenapa cobaan hidupku begitu berat dari mu, apakah hamba akan sanggup menjalani nya? Hamba yakin jika dibalik cobaan ini, engkau sudah mempersiapkan kebahagiaan, tapi lagi, apa hamba sanggup? Ya Rabb, tolong bimbing hamba dalam menjalankan nya. Jangan buat hambamu yang lemah ini keluar dari jalanmu, bimbinglah aku agar selalu berada dijalan mu, aamiin."
.....
Umi memasuki kamar Alina dengan nampan yang sudah berisi makan siang. Wanita yang sudah cukup tua itu panik ketika mendapati Alina tergeletak dilantai dengan suhu tubuh yang panas, bahkan lebih panas dari kemarin.
Dengan rasa panik umi mengambil ponsel milik alina dan ia berusaha menghubungi Akmal. Namun sudah beberapa kali ia mencoba, Akmal belum juga mengangkat panggilan nya.
Hingga telpon ke delapannya, akhirnya telpon itu diangkat. Namun lagi, bukan Akmal yang mengangkatnya. Melainkan seorang wanita yang mengaku sebagai kakaknya Akmal.
"Alin, ada apa?"
"Assalamu'alaikum, ini uminya Alina, tolong kasih tau sama nak Akmal kalo Alina sakitnya semakin parah, suruh nak Akmal cepat datang ya,"
"Waalaikumsalam, oh iya umi, ini saya Zahra, kakaknya Akmal. Nanti Zahra sampein ya umi, kebetulan hari ini Akmal sedang keluar rumah, ponselnya tertinggal disini."
"Oh Zahra, iya sayang, umi minta tolong ya. Assalamu'alaikum."
"Iya umi, nanti Zahra langsung kasih tau Akmal, waalaikumsalam."
Umi panik, ia tak tau harus berbuat apa lagi. Diambilnya alat kompres dan menempelkan nya didahi Alina, berharap panas anaknya itu segera turun.
Sudah lebih dari lima jam umi menunggu kedatangan Akmal, namun tak kunjung datang. Sedangkan panas Alina tak kunjung turun.
Seru mesin yang berhenti didepan rumah membuat umi menghembuskan nafas lega. Beliau yakin itu Akmal, Karena tidak mungkin itu Azka, karna baru saja ia menelponnya tidak mungkin dia dengan cepat segera kesini. Beliau sudah khawatir, sejak tadi panas Alina tidak turun-turun.
Namun umi harus menghembuskan nafas kecewanya karna yang datang bukanlah Akmal melainkan Azka. Walau kecewa beliau tetap bersyukur karna dengan kehadiran Azka sahabat kecil Alina.
"Assalamu'alaikum, umi, bagaimana keadaan Alina?" Tanya Azka yang baru saja sampai diambang pintu.
"Bandanya panas lagi, tadi umi udah telpon Akmal tapi yang angkat kakaknya, katanya Akmal lagi pergi, tapi umi tunggu-tunggu sejak tadi Akmal belum juga datang." Jelas umi dengan nada panik. Mendengar umi seperti itu, Azka segera berlari menuju kamar Alina.
"Astaghfirullah Lin,
panas sekali umi," adu Azka setelah mengecek suhu tubuh Alina. Umi panik, akhirnya Azka memutuskan untuk membawa Alina kerumah sakit.
.....
Aku terbangun disebuah ruangan yang tak asing bagiku, jelasnya ruangan yang sama dengan minggu lalu ketika ku sakit, dan kini aku melihatnya lagi. Ruangan yang khas dengan bau obat-obatan tempat ku bekerja, melainkan terbaring lemah dikasur yang biasanya ditempati pasien.
Rasa pusing kembali menyerangku, kutegakkan tubuhku dan mencari posisi yang nyaman dengan kepalaku disandarkan keranjang itulah posisi ternyaman.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian ku, kulihat kehadiran umi dan Azka yang tampak marah sehingga tak menyadari kalau aku sudah bangun.
"Udah Azka coba mi, tapi ponselnya mati, jadi Azka telpon Sandra saja." Dapat ku dengar gerutuan Azka. Aku dapat menangkap maksud dari perkataan Azka, aku yakin Azka tengah membicarakan Mas Akmal.
"Sandara itu siapa?" Tanya umi. Azka terlihat kakuk seketika, mendengar umi seperti itu.
"Sahabat Alina dan Akmal." Jawab Azka berusaha meyakinkan umi. Karna tidak mungkin jika ia memberi tahu yang sebenarnya.
"Umi?" Panggil ku. Mendengar suaraku umi segera menghampiri kearahku. Beliau membelai rambut ku yang tertutup khimar instan. Memang sudah lama aku menutup rambutku, sejak aku masuk SMP. Jadi tidak ada laki-laki satupun yang pernah melihat rambutku, kecuali Abi dan Azka, itu juga ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi, setelah masuk SMP Azka bahkan Abi tidak lagi pernah melihat rambutku terurai dihadapannya. Bahkan untuk saat ini, suamiku juga belum pernah melihat aku membuka Khimar yang setiap harinya menutup rapat rambutku. Bukan aku tidak mau memperlihatkan padanya, tapi Mas Akmal saja yang tidak pernah mau tidur sekamar dengan ku. Tidak mungkin aku keluar melepas khimarku, cuma karna ingin terlihat olehnya. Rasanya sia-sia saja jika oranglain melihatnya, untuk apa selama ini aku menutup rapat rambutku itu, jika oranglain bisa melihatnya dengan segampang itu, rasanya usahaku hanyalah membuahkan kesia-siaan saja.
"Gimana nak? Sudah baikkan?" Tanya umi yang berdiri disamping ranjangku. Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban. Rasanya masih sulit untuk ku menggerakkan tubuh, rasanya sakit dan hanya ingin tidur saja.
"Alhamdulillah Lin," seru Azka yang berada tepat disamping umi. Dia tersenyum pada ku.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan. Aku terlalu terkejut ketika melihat kedatanga Mas Akmal dan Sandra dikamar rawatku. Pasti Azka yang memberitahu mereka.
"Waalaikumsalam," jawab kami serentak, meski suara ku hampir tidak terdengar. Kulihat umi berjalan menghampiri Mas Akmal dan berhenti tepat dihadapan suamiku.
"Umi tau anak umi bukanlah istri pilihanmu, Alina hanya istri karna perjodohan abinya dan ayahmu, tapi umi tak pernah meminta kamu memperlakukan nya seperti kamu memperlakukan wanita yang kamu cintai, tapi bagaimanapun anak umi ini istrimu, tolong jaga dia, dia sakit kamu kemana?" Hardik umi. Aku tak menyangka umi akan semarah itu pada Mas Akmal, tangannya yang terus meremas ujung gamisnya menandakan beliau marah. Kulihat Mas Akmal dan Sandra menunduk, ingin sekali aku berbicara tapi sangat sulit, tubuhku rasanya lemas.
"Umi kecewa, kecewa sekali padamu Akmal." Setelah mengucapkan itu umi berlalu dan menghilang dibalik pintu, tak berapa lamapun Azka ikut menyusul kepergian umi.
Hening, keadaan canggung seketika memenuhi ruangan ini. Sandra dan Mas Akmal masih tertunduk, dengan segala kekuatan ku buka mulut untuk bersuara.
"M-maaf," lirihku. "Maaf karna sakitnya alin kalian jadi seperti ini, maaf karna perjodohan ini membuat Mas Akmal jadi tertekan, dan, Sandra maaf karna kehadiran aku kamu jadi dibenci Mbak Zahra." Lanjut ku yang terus berusaha menahan sakit.
"Jika mas ingin menikahi Sandra, aku ikhlas untuk mas berpoligami. Alin pengen istirahat, assalamualaikum," salamku dan kembali berbaring. Hatiku kembali tergores, aku juga tau ini kesalahan ku karna terlalu berani melangkah maju tanpa memikirkan diri sendiri. Karena saat itu, aku melihatnya pada Abi yang terbaring lemah. Makanya aku memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Setetes air mata yang jatuh dipipi ku mengantarkan pada pahitnya cinta, dan luka yang terus menemani setiap langkahku, ditemani dengan kehancuran yang menoreh hati.
.....
Next✨