
Mobil yang Sandra kendarai kini sudah terparkir rapi dihalaman rumah sakit. Aku mulai berjalan memasuki rumah sakit, terus berjalan di lorong-lorong putih ini. Hingga aku berhenti didepan kamar rawat inap yang dimana Sandra dirawat, dengan beberapa tarikan napas barulah aku masuk kedalam.
Dan benar saja, Sandra memang dalam keadaan kritis, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Meskipun aku kerap terluka karnanya, tapi ketika melihatnya seperti ini tidak membuatku sebegitu menyimpan benci padanya.
"Assalamu'alaikum," salamku. Mas Akmal yang tengah terduduk dikursi kini posisinya sudah berdiri.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya kamu datang Lin," ucap Mas Akmal. Dia tersenyum padaku, sungguh senyuman itu sangat jarang sekali aku lihat darinya. Manis.
"Bunda.." teriak Shiran. Gadis kecil itu kini mulai tumbuh besar, sungguh aku sangat pilu melihat gadis didepanku ini, matanya memerah karna tangisnya.
"Shiran, Shiran gimana kabarnya?" tanyaku sambil menyeka air matanya yang jatuh kepipi mungilnya.
"Shiran sehat kok, Bun. Tapi Mama sakit Bun, Mama gak mau buka mata dari semaleman," jelasnya beriringan dengan isakan tangisnya.
Ya Allah, sungguh sehatkan lagilah sahabat hamba, hamba tidak tega jika melihat Shiran kehilangan ibunya. Hamba tidak ingin dia terpukul diumurnya yang belia ini, hamba ikhlas suami hamba bersama mereka, ikhlas Ya Allah... Maka dari itu sembuhkanlah, sesungguhnya hanya pada-mulah hamba meminta dan kembali. Aamiin.
"Gak apa-apa sayang, Tante yakin.. Mama pasti buka mata kok, cuman butuh waktu, Mama Shiran itu cape jadi Mama tidur..." ucapku berusaha memberi pengertian padanya, meski berbohong setidaknya bisa mengurangi tangisnya dan rasa khawatirnya.
Mas Akmal menghampiriku dan Shiran.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik," jawabku singkat. Sungguh aku ingin menjadi jarak dengannya, aku ingin berusaha melupakannya, aku ingin berusaha mengikhlaskannya.
Setelahnya aku berjalan mendekat keranjang dimana Sandra berbaring. Aku sedih melihat keadaannya seperti ini, seluruh tubuhnya dipenuhi alat bantu, dihidung-tangan-kaki belum lagi didaerah dadanya. Sungguh aku tidak kuasa melihat.
Kini posisiku sudah berada disamping Sandra.
Aku menggenggam punggung tangannya. Dingin. Tapi Alhamdulillah nadinya masih dapat aku rasakan.
"Sejak kapan kamu seperti ini San?" tanyaku pelan. Aku mendekat ke telinganya dan membacakan surat Al-fatihah disana. Karna ku yakin Sandra dapat mendengar lantunan ayat suci yang kubacakan. "Semoga Allah segera memberimu kesembuhan, jangan takut untuk membuka mata, ada aku disini yang siap menjadi sandaranmu, dan ingatlah Shiran.. dia masih membutuhkanmu, dia butuh Mamanya yang kuat. Ayo bangunlah," bisikku pelan ketelinga Sandra.
.....
Tanpa kusadari jari-jari Sandra bergerak. Dan menit berikutnya iapun membuka matanya.
"Sandra.. Alhamdulillah.. terimakasih Ya Allah engkau telah mengabulkan doa hamba," ucap syukur Alina.
"Alin." ucapnya parau, tangannya bergetar dan tiada tenaga. Jika bukan karna sanggahan tanganku mungkin tangannya takkan mampu membalas genggamanku.
"Mama?" Shiran yang baru saja mengetahui jika Mamanya sadar ia begitu bahagia, matanya yang lesu kini berganti merekah seperti lengkungan senyum dibibirnya.
"Iya sayang,"
"Alhamdulillah kamu sadar San." seru Mas Akmal mengucap syukur. Sedari tadi ia hanya berada dibelakangku, sesekali ia juga mendaratkan tangannya dipundakku, sungguh aku sedikit risih dengannya. Tapi tidak mungkin jika aku menepis tangan itu, bagaimana pun aku statusnya masih sebagai istrinya.
Air mata dari pelupuk mata Sandra mengalir tanpa henti. Dan tangannya begitu erat menggenggam tanganku.
Aku memeluk pelan Sandra, "menangislah Sandra.. berteriaklah bila perlu, janganlah berlarut dengan sakitmu ini. Ingat ini sebagian ujian dari Allah, dan tanda darinya jika dia menyayangi-mu." setelah berkata seperti itu Sandra membalas pelukanku dan mulai mengeluarkan isakan, Akupun ikut menangis.
Setelahnya aku melepas pelukan itu. Dan berdiri dari dudukku.
"Sandra, aku izin ingin berbicara dengan Mas Akmal." ucapku dan Sandra menjawabnya lewat tatapan matanya.
"Mas, ikut aku." Kataku. Aku berjalan keluar dan Mas Akmal mengekoriku dari belakang.
.....
"Mas, aku ikhlas Mas menikah dengan Sandra," ucap Alina yang tiba-tiba.
Akmal terdiam. Dan Alina melepas cincin emas putih yang selama ini melingkar dijari manisnya.
Alina menatap dalam Akmal. "Aku kembalikan cincin pernikahan ini. Dan oleh Mas.. berikanlah pada wanita pilihan Mas didalam." Alina meraih tangan kanan sang suami dan menaruhnya di telapak tangan Akmal. Akmal sedikit merunduk menatap cincin yang ada di telapak tangannya.
"Meski perceraian adalah salah satu yang Allah benci, tapi aku ikhlas.. ini demi kebaikan kita,"
Akmal masih terdiam. Perlahan air mata laki-laki bernetra hitam tajam itu meluncur dengan santainya.
Hati Alina sebenarnya tersayat melihat tetesan air mata sang suami jatuh ditelapak tangannya sendiri dan membasahi cincin pernikahan itu.
"Tetap disini. bersamaku, saya akan memperbaiki semuanya Lin," ucapnya pelan dengan wajah yang masih tertunduk.
Deg!
Alina merasa menjadi istri durhaka saat ini. Namun dia kembali berpikir, bahwa suaminya memang bukanlah jodohnya, ia hanya titipan semata yang Allah selipkan melalui perjodohan itu.
"Maaf Mas, bukan aku tidak menginginkan pernikahan ini lagi, tapi kita memang tidak berjodoh!"
Perlahan, Akmal mengangkat wajah dan menatap Alina.
"Tetap disini!" ucapnya penuh penekanan. Alina menatap mata sang suami yang memerah.
"Maaf jika selama pernikahan kita, Mas selalu berlaku kasar dan dingin padamu, tapi sungguh dihati kecil ini, Mas tidak menginginkan perceraian ini, Mas ingin kamu tetap disini!" ucap Akmal. Detik berikutnya Akmal memeluk erat Alina.
"Maafkan Mas Alina. Maafkan Mas." Akmal melepas pelukannya.
"Maafkan Mas Alina, Mas mohon, jangan pernah meminta cerai! Untuk perkataan Mas saat itu Mas khilaf, Mas emosi... Kalau kamu butuh waktu untuk sendiri, Mas akan memahami itu, tapi jangan pernah meminta cerai!"
"Baiklah, Alin mengerti apa yang Mas bilang, dan Maaf jika selama ini Alin sering membuat Mas kesal dan marah. Alin akan memikirkan lagi soal permintaan itu, tapi Alin tidak bisa janji jika Alin bisa bertahan seperti sebelum-sebelumnya. Batas sabar ini sudah sampai dibenteng akhir yang Alin buat setebal mungkin.. dan itu sudah menipis, jadi Alin gak bisa jamin sabarnya Alin bertahan lama. Alin juga sudah bilang, Alin ikhlas Mas menikah dengan Sandra, wanita pilihan Mas kan?" ucap Alina dengan air yang berlinang.
"Iya, dia wanita pilihan Mas. Tapi Mas juga tidak ingin kehilanganmu saat ini," katanya. Sungguh aku tidak tahu lagi harus berbicara apa pada Mas Akmal. Apa dia tau betapa sakitnya hati ini menjadi istri yang tersisihkan. Apa tidak cukup torehan hati ini yang dibuat olehnya.
Ya Allah, mengapa ketika hamba ikhlas, ujian lain malah datang untuk hamba yang baru saja akan belajar melupakan, Ya Allah peluklah hati ini agar bisa merasa tenang dan damai.. Hapuslah air mataku agar bisa merasa sabar dan ikhlas. Apa ini yang dinamakan bala dalam rumah tangga? Aku mohon pada-mu sang Rabb bangunkanlah aku dari jatuh ini agar aku bisa menjadi tegar lagi...
"Maka dari itu. Berikan cincin ini padanya dan menikahlah," jawab Alina.
"Jika kamu memaksa Mas akan menuruti!" balas Akmal dengan sorot mata yang lelah.
.....
Next✨
Maaf up-nya malem² gini😁
Semoga suka ya🤗
Hayo Akmal bakal jadi nikah gak sama si Sandra?
**Main tebak-tebakan yuk☺️😊
Jangan lupa follow Instagram
author abal² ini**: @im.silpa👍