
"Dok, bagaimana keadaan bayi saya?" tanya wanita yang tengah terbaring ditempat tidur. Tangannya terus saja mengelus perutnya yang sudah mulai membulat, kehamilannya kini sudah diusia tiga bulan.
"Kandungannya baik, hanya saja ibu harus sedikit mengurangi aktivitas diluar rumah." jawab sang dokter yang bername tag "Arya Wiguna"
"Kalo saya tidak bekerja, bagaimana nasib anak saya nantinya," ucap Alina dengan nada pelan sambil terus mengelus lembut perutnya.
"Ibu, ini bukan lagi jamannya dunia terbalik, ibukan seorang istri, ya tanggung jawab ibu hanya bekerja dirumah, bukan bekerja menghabiskan tenaga sehingga lupa akan kesehatan sendiri." berhenti sejenak. "Untuk apa adanya sosok suami disisi ibu, jika ibu masih bekerja keras mencari uang, wanita itu kondratnya hanya berdiam dirumah membantu suami, membantu suami oke gak masalah, tapi kalo ikut banting tulang mencari uang itu sangat tidak wajib, untuk hal itu suamilah yang harus bertanggung jawab penuh pada istrinya." Alina menelan dalam kata-kata Dokter Arya. Alina membenarkan apa yang dikatakan Arya.
"Baiklah Dok, saya akan mengurangi aktivitas saya. Kalo begitu saya pamit." jawab Alina dengan nada pelan. Setelah itu Alina keluar ruangan.
.....
Ditengah perjalanan Alina berhenti didepan mesjid yang tampak sepi padahal waktu sholat Ashar sebentar lagi, dijam-jam seperti ini seharusnya mesjid telah ramai untuk menunaikan sholat Ashar berjamaah namun masih banyak manusia yang disibukkan mengejar dunia dibandingkan mengejar ridhonya Allah.
Alina melangkahkan kakinya memasuki mesjid yang masih sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 15:00 Alina masih saja terduduk menunggu waktu Ashar karena baginya datang lebih awal itu lebih baik, dan ia yakin jika Allah menyukai orang-orang yang mengedepankan perintahnya.
Alina yang tadinya hanya berdiam saja kini ia merangkak ke lemari kecil yang berada di pojok kanan. Alina membuka lemari itu dan mengambil Al-Qur'an yang ada didalam lemari itu. Lalu membuka Al-Qur'an yang sudah digenggamnya kemudian membacanya.
Lantunan bacaaan surah An-nisa, surah yang didalamnya di khususkan menjelaskan perkara wanita, betapa spesialnya wanita dalam Islam hingga ada surah yang mengabadikan mereka dalam kitab suci. Lantunan surah itu mengalun dengan indah dari bibirnya, keindahan suara Alina bergema memenuhi mesjid.
Lantunan ayat suci itu tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara ketukan dibalik tirai tinggi yang dijadikan pemisah antara wilayah wanita dan laki-laki agar tidak terjadi campur baur. Alina menghentikan bacaaannya dan melangkahkan kakinya kearah suara itu.
"Assalamu'alaikum." sapa seorang laki-laki dari balik tirai.
"Waalaikumsalam." balas Alina dengan suara yang tegas sebab wanita dilarang menghaluskan suara ketika berbicara dengan laki-laki yang bukan mahromnya.
"Wahai ukhti, mungkin bisa suaranya dipelankan sebab suara anti terdengar hingga bagian ikhwan, takutnya ada fitnah dalam hati yang timbul," ucap suara itu dengan tegas terdengar dari balik tirai.
"Iya akhi. Saya paham," ucap Alina dengan suara yang tegas kemudian menghembuskan nafas, jantungnya entah mengapa terpacu dua kali lipat ketika mendapat teguran dari laki-laki dibalik tirai itu.
Alina berdiri dari posisinya kemudian berjalan kearah sudut mesjid dan membaca kembali Al-Qur'annya dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya. Yah tadi Alina berpikir jika dimesjid ia hanya sendiri sehingga ia sengaja mengeraskan suaranya agar lebih mudah mendengar kesalahannya dalam membaca. Lama Alina terlarut dalam bacaannya hingga suara Adzan Ashar menghentikan bacaannya.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2X)
Hayya 'alashshalaah (2x)
Hayya 'alalfalaah. (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
"Alhamdulillah." ucap syukur Alina.
"Masyaallah, lantunan adzannya sangatlah merdu, siapakah pemilik suara itu?" ucap Alina lagi dengan suara yang begitu lembut.
Dalam hatinya Alina ingin sekali melihat orang yang mengumandangkan adzan tadi, tapi nihil karena terlahang tirai panjang yang menjadi pembatas.
.....
Laki-laki yang sedang bercengkrama dengan bapak tua menatap kearah Alina. Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu, seketika Alina kikuk. Ia tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya laki-laki itu menundukkan pandangannya dan bibirnya bergumam sesuatu yang tidak mampu Alina dengar karena jarak mereka yang berjauhan. Laki-laki tersebut kemudian pergi, Sedangkan bapak tua itu menoleh kearah Alina kemudian tersenyum dan menyusul laki-laki yang tidak Alina ketahui namanya.
Alina yang masih tidak menyadari apa yang terjadi, membuatnya hanya membalas senyum bapak tua itu dengan senyum yang sedikit salah tingkah.
"Astaghfirullah hal adzim." gumam Alina ketika kesadaran menghantamnya bahwa ia tidak menundukkan pandangan dari sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Alina kemudian berjalan meninggalkan mesjid.
.....
Matahari tampak kembali ke peraduannya menyisakan indahnya sang jingga yang terpancar dilangit, terganti oleh bulan yang akan menemani malam. Bapak tua itu menatap seorang laki-laki yang saat ini tengah berjalan didepannya.
"Risyal, sudah adakah wanita yang menarik perhatianmu?" bapak tua itu menatap laki-laki yang tengah berjalan disampinganya.
Laki-laki itu seketika berhenti dan menatap bapak tua itu kemudian tersenyum, "Aku belum siap untuk tanggung jawab yang berat itu yah," ucapnya kemudian berjalan dengan langkah yang lebih cepat.
Yah bapak tua itu memang ayahnya. Agus Rustam Effendi adalah namanya. Pendiri pesantren Al-fatah dan mesjid yang Alina kunjungi adalah miliknya.
"Jika kau terus seperti itu, kapan siapnya Risyal? Ayah sudah ingin menggendong cucu darimu," ucap Agus dengan nada serius terhadap anak laki-lakinya itu. Jika sudah ditanya tentang pernikahan, anak laki-lakinya itu selalu beralasan.
"Risyal akan menikah Yah, hanya saja untuk saat ini Risyal mau fokus untuk mengembangkan pesantren dulu," ucap Risyal dengan nada yang begitu lembut pada Ayahnya.
"Ayah senang kau fokus mengurus pesantren tapi kau harus ingat, ayah dan ibumu sudah tak muda lagi, usiamu juga sudah 28 tahun. Kami juga ingin melihat kamu berkeluarga, nak." ucap Agus sembari meninggalkan Risyal dan masuk kedalam rumah mereka.
"Ada apa dengan Ayahmu nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang duduk disofa dengan Al-Qur'an ditangannya.
"Biasa Bu," ucap Risyal.
"Kau memang seharusnya segera menikah nak, ibu punya kenalan, anak perempuan itu insyaallah sholehah," ucap Wanita paruh baya itu menggoda anaknya.
"Ibu jangan ikut-ikutan ayah, Insyaallah jodoh tidak akan kemana." Risyal menanggapi godaan ibunya.
"Jodoh juga perlu diusahakan nak, Ayah dan ibu sudah tidak bisa menunggu lama lagi, apa kau ingin ibu dan ayah keburu mati sebelum kau menikah?" ucap Wanita itu lagi.
"Loh kok ibu ngomongnya ngelantur sih, jodoh, maut dan rezeki itu sudah ada yang ngatur Bu, ibu dan ayah gak usah takut... Risyal pasti nikah kok," ucap Risyal sembari meninggalkan ibunya dan berjalan kearah kamarnya.
Risyal membuka pintu kamarnya dan berjalan kearah rak buku yang berada di samping ranjangnya. Ia meletakkan Al-Qur'an dan beberapa kitab yang tadi dibawanya dari mesjid.
"Astaghfirullah hal adzim.... Astaghfirullah hal adzim..." gumamnya berulang-ulang kali ketika mengingat hari ini matanya telah menatap sesuatu yang tidak halal baginya.
Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya, "Lupakan Risyal, jangan biarkan setan menguasai, tundukkan pandanganmu itu," ucapnya sembari berjalan kearah kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap ke masjid dan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dimesjid.
.....
Next✨
Hai-hai 🤗 Maaf ya up-nya lama banget🙏🏻 miminnya masih sibuk dengan praktek disekolah 😊
Ada peran baru nih.. kira-kira gimana ya🤔