
Sesampainya dirumah, kuantarkan ia menuju kamarnya. Ku putuskan untuk menunggunya hingga terlelap. Aku bingung kenapa ia bisa pulang sesore itu, padahal hari ini shift nya sampai siang, lalu kemana ia akan pergi kenapa juga Azka ada disana, apa mereka pergi berdua. Tapi... Tidak mungkin, karena mereka mengendarai kendaraan nya masing-masing.
Ingin sekali aku mengajukan beberapa pertanyaan untuk nya, ingin juga mendengar penjelasan mengenai Azka yang ada disana. Tapi, ketika melihatnya aku tidak tega. Kuputar kepala ku untuk meyakinkan keadaannya. Awalnya ia biasa saja, memang masih ketakutan tapi keadaan nya sudah lebih baik dari pada tadi, tapi saat ini ia nampak gelisah dan kerutan mulai terlihat didahinya.
Akhirnya kuulurkan tanganku untuk mengusap dahinya menghilangkan kerutan itu. Namun aku terkejut ketika tanganku merasakan panas. Kuperiksa perlahan, dan benar tubuh Alina terasa panas.
Dengan sedikit tergesa kuambil baskom yang sudah berisi air dan sebuah handuk kecil untuk mengompresnya. Ketika aku kembali lagi, aku terkejut mendapati ia menangis dalam tidurnya. Sebenarnya apa yang ia mimpikan sehingga ia sampai menangis seperti itu.
"Lin, Alin!" Berusaha kubangunkan ia, ketika ia terbangun ia langsung memelukku dan terisak. Aku makin bingung. Aku sedikit ragu untuk membalas pelukannya, tapi aku tau ia butuh sekarang.
"Tenanglah Lin, Mas ada disini," ucapku menenangkannya. Setelah cukup tenang, kubaringkan tubuhnya yang sudah terlelap. Tak tega untuk meninggalkan nya, akupun ikut berbaring disebelahnya dan terlelap.
.....
Alina POV
Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk kemataku. Aku terkejut dan hatiku bergetar hebat ketika wajah Mas Akmal yang pertama kali kulihat.
Aku ingat kejadian semalam ketika dua orang lelaki yang datang mengganggu ku dan Azka datang untuk membantu. Lalu datang Mas Akmal yang mengantarkan ku pulang dan menemaniku hingga terlelap diperlukannya. Wajahku memerah ketika mengingat kejadian itu. Tapi aku tidak tau kalau Mas Akmal tidur dikamar ku, ya tepatnya disampingku.
Ku pandangi wajah Mas Akmal yang tertidur tenang didepanku, wajahnya begitu tenang tidak datar seperti biasanya. Aku yakin pasti pipiku memerah saat ini. Wajah Mas Akmal ketika tidur terlihat lebih tampan, Aku merasa bahagia dapat menikmati pemandangan ini.
Ku lihat bulu mata Mas Akmal yang lentik perlahan bergerak, tubuhnya menggeliat dan matanya terbuka sempurna. Aku yang terkejut sekaligus malu segera menundukkan kepala ku.
"Ehm... Maaf Lin, Mas ketiduran," ucapnya parau khas orang bangun tidur. Apa aku tidak salah dengar kali ini Mas Akmal memanggil dirinya dengan sebutan Mas?
"Gak papa kok," jawabku malu-malu. Suasana canggung melingkupi kami. Mas Akmal beranjak turun dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Setelah itulah aku bisa bernafas lega.
Akupun beranjak kekamar mandi yang ada diluar kamar untuk mengambil wudhu. Ketika kembali kekamar Mas Akmal sudah duduk rapi di atas sajadah nya, tepat dibelakangnya sudah terbentang satu sajadah lagi yang diatasnya terletak mukena milik ku.
"Ayo kita sholat berjamaah." Aku mengucapkan kata syukur mendengar nya. Sudah lama aku menantikan momen ini, diimami suamiku sendiri. Meski ini yang kedua kalinya, tapi momen ini berbeda. Karena hanya aku seorang yang menjadi makmumnya dan Mas Akmal menjadi imamnya, layak sholatnya suami-istri.
Setelah sholat dan berdoa, Mas Akmal berbalik dan menatapku dalam. Kutundukan kepalaku karna tak sanggup menatap matanya.
"Maaf, maafkan alin, tidak seharusnya mereka memegang tangan Alin, Maaf Alin tidak bisa menjaga diri Alin untuk Mas," ucapku lirih dengan suara bergetar, sungguh aku merasa bersalah.
"Maaf juga Alin telah melakukan dosa, karena berpelukan dengan Azka yang bukan mahram ku. Maaf," ucapku lirih lagi.
"Bukan kesalahan mu Lin, hanya saja lain kali harus lebih berhati-hati. Gak semua laki-laki dibumi ini baik, tapi untuk masalah Azka, Mas tidak suka. Tapi, sudahlah itu sudah terjadi yang penting ke depannya kamu harus lebih bisa menjaga, jika kamu memang menyayangi Mas dan tidak ingin masuk neraka nanti." Aku sekarang benar-benar malu, pipiku memanas dapat ku pastikan pipiku memerah sempurna.
.....
Sepanjang hari ini senyum manis tak pernah lepas dari bibirku. Bahkan sudah berulang-ulang kali aku dikagetkan Dinda. Entahlah, aku hanya ingin tersenyum mengingat kejadian semalam hingga pagi tadi.
Banyak pertanyaan yang berkeliaran diotakku. Dan dari pertanyaan itu pula tumbuh berbagai harapan yang membuat hatiku terbang tinggi.
Aku sudah berusaha mengingatkan hatiku, untuk mewanti-wanti jika suatu saat aku bisa saja dijatuhkan. Jujur, kali ini hatiku menolaknya, sudah terlanjur melambung tinggi.
Seperti hari biasanya, aku disibukkan dengan memeriksa keadaan pasien dan mendampingi Dokter untuk operasi ringan hingga operasi berat.
Lihatlah sekarang, semakin banyak saja pasien yang mengantri untuk datang check up. Sejak pagi tadi, aku belum sempat mengistirahatkan tubuhku walau sejenak. Tugasku memang tidak seberat Dokter, tapi dengan berlari kesana-kemari membawa alat dan obat lumayan menyita tenaga ku.
Pukul setengah satu aku baru bisa bernafas lega, walau setelah makan siang nanti aku harus kembali mengecek keadaan pasien lain dibeberapa ruangan lagi.
"Assalamu'alaikum Lin," salam seseorang dari belakangku, ketika kubalikkan tubuhku kulihat Rehan yang tengah berdiri dengan wajah kusutnya.
"Waalaikumsalam Dokter Rehan, loh wajahnya kenapa?" Tanyaku bingung melihat ekspresi Rehan yang tak seperti biasanya.
"Apa kamu sibuk? Bisa bicara sebentar?" Tanya Rehan dengan nada yang serius. Sepertinya Rehan memiliki masalah yang cukup rumit saat ini.
"Hmm, habis ini aku masih ada jadwal sih, tapi kalo mendesak kita bisa bicara sambil makan di kantin saja ya!" Putusku akhirnya. Rehan menganggukkan kepala dan mengikuti ku menuju kantin rumah sakit. Hari ini aku sedang dalam masa tamu bulanan, jadi kami bisa langsung menuju kantin rumah sakit.
"Ada apa Dokter Rehan?" Tanyaku setelah kami duduk dan memesan makanan.
"Aku sudah melakukan istikharah seperti yang kamu suruh, tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya, sedangkan mamaku terus mendesakku, aku makin bingung Lin," jelas Rehan sebelum kutanyakan apa masalahnya. "Apa mungkin berarti ia bukan jodohku Lin?" tanya Rehan.
Aku tidak tau mau menjawab apa, aku takut jawabanku nanti akan menyakiti hatinya.
"Kalau Alin boleh tau siapa gadis itu? Apa Alin mengenalnya?" tanyaku akhirnya.
"Kamu mengenalnya, dan sangat mengenalnya," ucap Rehan yang membuatku bingung. Aku sangat mengenalnya? Apa mungkin sahabatku? Tapi kalo Dinda tidak mungkin, dia telah menikah. Apa... Sandra? Memangnya Dokter Rehan mengenalnya?
"Saya tidak mengerti maksud mu Dokter, katakanlah siapa gadis itu? Siapa tau Alin bisa membantu Dokter."
"Gadis itu... Hmmm... Itu.... Gadis itu...."
Aku dan Dokter Rehan sama-sama terkejut mendengar suara itu, mungkin bukan hanya kami yang terkejut tapi seisi Kantin. Terbukti dari mereka yang langsung melirik kearah meja dimana tempat suara berasal.
"Bagus, keluar dengan lelaki lain tanpa seizinku, sekarang pulang!" sebuah tangan menarikku berdiri, namun Rehan sudah terlebih dahulu mencegahnya.
"Ini tidak seperti yang bapak lihat, saya juga hanya makan dikantin tidak keluar dari area rumah sakit, wajar dong saya ingin mengobrol dengan Alina kamikan partner, dokter dan suster." Ucap Rehan tidak terima dengan kejadian ini, aku hanya terdiam, otakku masih mencerna apa yang tengah terjadi.
"Saya tau itu, anda bisa makan dengan Alina saya tidak melarang, tapi disini... Anda makan berdua dengan Alina. Dan saya tidak suka!"
"Bukannya anda sudah tau, yang bukan mahram itu dilarang berduan! Yang saya lakukan disini tidak ada salahnya, saya hanya memarahi istri saya karna sudah berani berduan tanpa seizin saya."
Aku terdiam, seisi Kantin pun terdiam. Beberapa rekan kerjaku yang juga berada dikantin menatapku tak percaya.
"Mas!" tegurku, namun ia hanya diam ditempatnya. Kutatap Rehan yang begitu kecewa. Yang Mas Akmal bilang emang benar, tapi aku tidak mempermasalahkan itu toh Rehan hanya ingin bercerita, dan kami makan tidak berdua ada banyak Dokter dan Suster lain dikantin. Tapi... Entah angin dari mana Mas Akmal tiba-tiba datang kerumah sakit, biasanya dia kerumah sakit hanya untuk mengantar check up Sandra, tapi hari ini dia marah melihat aku saat bersama Rehan, bukannya dia sudah tau akukan Suster otomatis aku partner nya Dokter.
"Dokter Rehan," panggilku namun Rehan hanya mampu menatapku. Sekali lagi aku ingin memanggilnya, tapi Mas Akmal sudah terlebih dahulu menarik tanganku pergi dari kantin rumah sakit.
.....
Sepanjang perjalanan pulang tak ada satu yang bersuara. Aku yakin Mas Akmal masih dalam keadaan marah, jelas terlihat dari wajahnya yang memerah dan urat yang muncul didahinya. Namun aku juga dalam keadaan marah, marah atas perbuatan Mas Akmal tadi. Aku jadi tidak enak pada Rehan. Sebentar, Dokter Rehan sudah tau aku istrinya Mas Akmal?! Kapan? Apa Dokter yang datang kerumah bersama Dinda, waktu kejadian aku diculik itu Dokter Rehan. Mas Akmal bilang pernikahan ini jangan sampai bocor, tapi dia sendiri yang bilang kesemua orang. Dasar! Plin-plan.
Mobil Mas Akmal berhenti tepat didepan rumah kami, tanpa kata ia turun dan meninggalkanku. Dengan rasa marah yang menggebu, kuikuti langkahnya menuju lantai dua. Ketika ia hendak memasuki kamar nya, kutarik satu tangannya hingga ia berbalik menatapku.
"Maksud semua ini apa? Mas sendiri yang bilang kan kalo pernikahan ini jangan sampe bocor? Lalu apa yang Mas lakukan barusan, satu lagi saat kejadian aku diculik juga, kenapa Mas bilang didepan Dokter Rehan dan Dinda? Mas bilang Alin tidak boleh bilang kesiapa-siapa, tapi, sekarang Mas yang membongkarnya dan mempermalukan Alin, apa yang teman-teman Alin katakan nantinya?" Ucapku marah tanpa sadar menaikkan oktap suaraku.
"Mas tidak tau Alina, Mas hanya marah ketika melihatmu dengan Rehan, dan kata-kata itu seketika meluncur dari mulut Mas, Mas tidak tau," balasnya dengan nada memelas.
"Oke, Alin paham, Mas marah ketika aku dekat dengan Azka dan Dokter Rehan, padahal mereka hanya sahabat dan teman ku. Alin tanya, bagaimana dengan Mas yang selalu dekat dengan Sandra? Apa boleh aku marah! Dan bilang seperti tadi yang Mas lakukan?" Ucapku yang sudah emosi.
Aku memang sedikit tersentak dengan jawaban Mas Akmal. Apa Mas Akmal cemburu melihatku ketika dekat dengan lelaki lain? Kalau begitu apa Mas Akmal sudah menerimaku seutuhnya?
Kali ini aku tidak bisa lagi menahan hatiku, hatiku yang benar-benar telah terbang. Meski rasa kesal masih ikut bercampur didalamnya, tapi sungguh, aku benar-benar senang.
Mas Akmal mengacak rambutnya dan kembali berlalu meninggalkanku sendirian tepat didepan pintu kamarnya. Tak lama terdengar suara mobil yang menjauh, aku yakin itu suara mobil Mas Akmal.
.....
Laki-laki yang tengah sibuk dengan permainan jarinya di atas keyboard. Sambil mengerjakan tugasnya, otaknya terus berpikir mencari cara untuk mendapatkan apa yang ingin dimilikinya.
Ia masih tidak terima dengan kejadian yang menimpanya, kejadian yang membuat gairahnya untuk membunuh semakin kuat.
"Kau milikku, jika kau tidak dapat aku miliki maka tidak ada seorangpun yang dapat memilikimu juga." Ucapnya tegas, senyum licik tersungging dibibirnya.
Tarian tangannya semakin cepat menari di atas keyboard itu, tapi terhenti karena ketukan pintu. Tok... Tok... Tok...
"Masuk..." Sahutnya.
"Tuan ini berkas-berkas yang anda minta." Ujar seorang lelaki tampan bertubuh kekar.
"Baiklah, terimakasih. Untuk alat-alat yang ku minta kau sudah menyiapkannya, bukan?"
"Sudah tuan..." Ujarnya lagi. Suasanya semakin mencekam, aura hitam mengelilingi nya. Gerakan tangan dan bibirnya begitu mencurigakan, entah apa yang akan dilakukannya.
Laki-laki yang bertubuh kekar itu melangkahkan kakinya keluar, tapi langkahnya terhenti ketika suara memanggil namanya. "Thanks u Al,"
Aljion adalah namanya sejak SMA dia sudah menjadi sahabatnya dan Aljion juga bekerja dengannya dan ditempatkan sebagai direktur di perusahaan miliknya. Aljion juga sudah tahu apa yang Sahabatnya akan lakukan, membunuh dan menyiksa adalah keahliannya.
Tidak perlu ada alasan untuk membuat manusia saling membunuh. Manusia akan membunuh dengan brutal jika ia merasa tidak nyaman, dan apa yang ingin dimilikinya sudah lebih dulu di miliki oranglain.
Aljion melangkah lagi keluar ruangan, ruangan khusus miliknya yang sengaja dijadikan tempat untuk berpikir sebelum melakukan niatnya itu. Berbagai benda tajam tersimpan disana, tertata begitu rapi. Belum lagi dengan wadah-wadah kecil yang berisi beberapa organ manusia, sungguh di tempat ini ia jadikan sebagai tempat untuk menyimpan cincangan organ mangsanya untuk dijadikan pajangan.
Dia mengatur napas. Helaan demi helaan terasa segar. Udara ditempatnya itu bersih baginya padahal tempat itu kotor dan bau.
.....
Nextโจ
Jangan lupa lovenya, komen dan vote๐๐
Kalo ada typo maaf ya๐๐ป๐๐ป๐๐ป semoga kalian suka sama ceritanya ya๐
Instagram ku: @im.silpa๐ค