
Ceklek
Suara dorongan pintu terdengar, Alina hanya memejamkan matanya. Suara ketukan sepatu yang tadinya jauh, kini semakin mendekat dan akhirnya ketukan itu berhenti tepat di depannya, Alina tidak ada niat untuk membuka matanya. Ia pasrah.
"Kau milikku,"
"Apa maksudmu?" Ucap Alina yang masih saja memejamkan mata. Bibirnya digigit keras. Badan Alina terasa semakin lemas, ia takut.
Menit demi menit Alina terus saja berdoa, berharap orang datang menolong nya, tapi, doanya masih belum dikabulkan.
Alina merasakan kesakitan yang luar biasa di pinggangnya. "Jangan sakiti aku, aku mohon padamu." Wajah Alina kini tegak, tidak lagi menunduk karna orang yang ada dihadapannya menarik wajah itu, dan kini wajah Alina berhadapan dengan orang itu.
Alina yang tak kunjung membuka mata, membuat orang dihadapannya bosan menunggu. Orang itupun melangkah pergi, namun perginya tidak jauh dari tempat Alina duduk. Bagaimana tidak? Dari langkah nya saja dapat dihitung jika keberadaan sosok itu tidak jauh.
Dengan tarikan napas panjang, Alina membuka matanya sedikit. Ia melihat laki-laki tengah duduk di sebuah sofa berwarna putih, namun kotor, laki-laki itu menghadap jendela yang menampilkan derasnya hujan yang terjatuh ke tanah. Hal seperti itu dapat menenangkan beberapa sebagian pikiran. Tapi, tidak bagi Alina, otaknya benar-benar kacau malam ini. Pikiran buruk semakin menghantui dikepalanya, tak pernah Alina mengalami kejadian seburuk ini.
"Kau milikku, Alina." Suara itu tiba-tiba bergema di ruangan kosong yang isinya hanya ada dirinya dan laki-laki yang tidak dikenalnya. Laki-laki dengan jubah hitam, yang menutup rapat wajahnya juga, hanya bagian matanya saja yang terlihat. Namun, Alina tidak dapat melihat mata itu, karna suasana nya yang gelap.
.....
Dalam kesunyian malam, Akmal yang masih berjalan menelusuri setiap sudut kota malam ini, berharap sang istri dapat ditemukan. Bahunya naik turun dibarengi dengan tarikan napas yang kencang. Ia bingung harus mencari Alina kemana lagi. Lampu yang bersinar menerangi langkahnya yang gontai, pikiran nya yang semakin berkecambuk membuatnya mengacak rambutnya.
Beberapa rumah dan gang sudah ia lewati, tidak ada tanda-tanda Alina. Langit malam yang gelap dengan hujan deras yang terus turun menemani malamnya yang gelisah.
Sudah dua jam ia mencari Alina, dia khawatir orang yang mengirim pesan terror itu benar-banar dengan ancamannya. Karna selama ini dirinya tidaklah pernah peduli dengan sang istri, tapi, setelah seperti ini ada rasa ketakutan hebat dalam dirinya. Ya! Akmal rasa takut kehilangan istrinya, istri yang sudah ia sia-siakan.
Akmal merongoh saku celana jeans hitamnya dan segera mengangkat saat melihat nama yang tertera.
"Bagaimana?" Ucapnya dingin.
"Kita menemukan nonya, Bos." Ucap orang suruhannya, rasa bahagia dan senang datang diwaktu yang sama, Akmal menyunggingkan senyumnya, raut wajah yang tadi terlihat sangat kau kini berubah menjadi raut wajah tenang.
"Bagus! Kirim alamatnya sekarang." Dengan cepat Akmal berlari menuju mobilnya.
Sampai akhirnya dia didepan gedung yang cukup luas, kakinya melangkah masuk. Pintu besar itupun dibukanya, ekor matanya menangkap sesosok wanita berhijab syar'i didalam sana, wanita yang terduduk lemah di kursi, dengan darah yang terus keluar dari tangannya. Tetesan air bening itu jatuh dari iris mata hitamnya, Akmal sangat sedih melihat wanita itu, wanita yang selalu ia sakiti. 'Alhamdulillah, setidaknya kau masih selamat, dan aku masih bisa melihat mu.' tanpa terasa Akmal bersyukur dalam hati, senyumnya perlahan mulai terbit. Tidak lama, memudar kembali ketika ia melihat sosok lelaki dengan jubah berlari keluar lewat jendela.
"Kejar! Laki-laki itu, tangkap dia dan bawa kehadapan saya!!" Titahnya, tangannya menunjuk kearah jendela yang tadi dilewati lelaki misterius. Orang-orang suruhan Akmal pun berlari dengan cepat.
Akmal berjalan mendekati Alina yang terulai lemah di kursi dengan tangan yang terpuntir kebelakang, bajunya basah kuyup, terlihat Alina sesegukan karna tangisnya.
"Alin, kenapa sampai seperti ini?" Tanya Akmal.
Bukannya menjawab, Alina justru makin sesegukan dan semakin kencang tangisnya pecah. Akmal menatap lekat wajah Alina, kedua tangannya memegang kedua sisi lengan sang istri.
Akmal mengepalkan kedua tangan sampai kukunya benar-benar memutih. Ia marah pada lelaki yang tega melakukan ini pada Alina, ia tidak terima melihat Alina dibuat seperti ini. Akmal membuka tali mati yang mengikat tangan sang istri, perlahan-lahan, karna ketika ia menggoyangkan sedikit saja tangannya, Alina terlihat kesakitan.
Air mata Alina menetes.
Tali mati itu berhasil lepas, butuh waktu cukup lama bagi Akmal membuka ikatan itu. Kulit tangannya merah bercampur dengan darah segar yang baru saja keluar. Tali plastik itu memotong kulitnya perlahan-lahan, membuat kedua tangan Alina terasa lemas.
"Mas Akmal,"
Alina menangis dipelukan sang suami. Kesabarannya menunggu pertolongan berbuah sangat manis, meski ia masih saja terluka. Setidaknya ia masih bisa hidup dalam waktu yang lama. Tangisnya semakin pecah, Akmal yang juga memeluk Alina erat dengan tangannya seperti ia tidak ingin kehilangan orang yang saat ini berada dipelukan nya. Akmal membuka jaketnya, lalu menyampirkannya pada tubuh Alina.
"Berhentilah menangis," kali ini ucapan Akmal tidak dingin, katanya begitu lembut. Wajah Alina pucat, kedua tangannya mengkerut bahkan memutih, belum lagi dengan luka dipergelangan tangannya. Akmal sadar jika sang istri begitu ketakutan dan kesakitan karna luka yang terus mengeluarkan darah. Malam ini sikap Akmal benar-benar berubah 180 derajat dari biasanya, ia tidak gengsi menunjukkan rasa khawatirannya. Bahkan, tubuh mungil sang istri terus saja ia peluk tenggelam pada dada bidang miliknya.
"Ayo pulang." Ajak Akmal berjalan disampinganya, tangannya yang kekar terus saja melingkar dipundak sang istri, ia tidak ingin Alina kedinginan.
"Saya berjanji! Akan segera menangkap orang yang melakukan ini pada mu." Ucapnya, lalu kembali berjalan.
Alina tersenyum kecil, hatinya benar-benar berdesir mendapat perlakuan dari sang suami. Alina yang merasakan tubuhnya hangat karna rangkulan sang suami membuat dirinya semakin tidak bisa menahan debarnya jantung yang terus memompa. Tapi, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Bahkan sekarang untuk menahan tubuhnya agar tetap seimbang sulit. Dan akhirnya ambruk di pinggir trotoar, dengan sigapnya Akmal menahan Alina. "Lin?! Alin?!!" Panggil Akmal cemas, karena tidak adanya jawaban, Akmal mengangkat tubuh sang istri lalu membawanya pulang.
Sesampainya dirumah, Akmal langsung membawanya kekamar. Akmal pun segera memanggil Dokter dari tempat kerja sang istri. Orang yang tertera di layar ponsel itu atas nama 'Dokter Rehan'.
Akmal yang kebingungan terus mondar-mandir menunggu Dokter yang tadi di telponnya.
Selang beberapa menit setelah Akmal mengganti baju, pintu diketuk dengan cepat Akmal membukanya.
"Dimana Pasien nya?" Tanya sang tamu. Orang yang datang saat itu tidak hanya Dokter Rehan, melainkan Dinda juga ikut.
"Dimana Alina?" Tanya dinda, yang langsung masuk tanpa persetujuan Akmal. Wajahnya begitu khawatir, wajar Dinda khawatir toh dia sahabatnya sejak dulu. "Malah bengong! Dimana kamar Alina?"
"Hah? Di-disitu." Akmal menunjuk kamar Alina.
Tanpa basa-basi Dinda dan Dokter Rehan menuju kamar Alina. Diikuti oleh Akmal dibelakang nya.
.....
Next✨
Gimana buat ceritanya? Sukakan? Suka dong😁 semoga suka ya😊 jangan lupa like, vote dan komennya ya👍
Instagram ku: @im.silpa🤗