
"Assalamu'alaikum Umi," salamku. Air mataku memang sudah mengering, namun aku masih belum dapat menghentikan isakan yang masih keluar dari bibirku.
"Waalaikumsalam," sahut Umi dari dalam. "Al kenapa? Ada apa ini?" tanya Umi terkejut mendapatiku yang berdiri didepan pintu. Aku memeluk Umi sejenak sebelum berlalu kekamarku.
Aku menangis, menumpahkan segala beban dipelukan Umi. Setelahnya aku berlalu kekamar dan mengunci pintu. Sedang Umi terus saja mengetuk pintu menanyakan keadaanku, tapi aku mengabaikannya, aku tidak ingin Umi melihat kehancuranku, dengan aku pulang dalam keadaan menangis saja Umi sudah khawatir, apalagi dengan keadaanku yang memang buruk saat ini pasti membuat hatinya hancur.
.....
Perlahan kubuka mata yang terasa berat, aku tak sadar jika aku sudah tertidur sehabis menangis. Setelah mengambil wudhu dan melaksakan sholat magrib, kukuatkan hatiku untuk bertemu Umi diruang keluarga.
Umi menatapku seraya menanyakan keadaanku lewat matanya, sebenarnya aku ingin menyembunyikan masalah ini dari Umi. Tapi pada siapa lagi aku harus bercerita selain pada Umi, aku menghampiri Umi yang tengah membuat kerudung dengan tangannya. Aku duduk disampingnya, hanya terdiam.
"Ada apa Al? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Umi halus. Ku genggam jemariku erat hingga buku-buku kuku-kukuku memutih.
Perlahan kuceritan apa yang terjadi, walau beberapa kali tersendat, tapi aku berusaha menyelesaikannya. Umi terus mengusap punggungku agar aku sedikit tenang.
"Maafkan Umi Al, Umi seharusnya menahan Abimu dulu supaya tidak menikahkan kamu dengan suami itu, Umi sungguh minta maaf," ucap Umi menenangkanku. Aku mengangguk, tak mampu membalas ucapan Umi. Aku tak pernah menyalahkan Umi atau Abi akan masalah ini.
"Jika masalahmu seberat ini, apa kamu sudah punya solusinya?" tanya Umi lagi. Aku menggeleng.
"Apapun keputusan mu nanti, Umi akan mendukungmu penuh," lanjut Umi. Aku juga ragu apa yang akan aku lakukan kedepannya. Aku hanya takut, akankah aku sanggup untuk kehilangan Mas Akmal, setelah dulu aku gagal memilikinya. Dulu aku memang tidak terlalu mencintainya, karna dulu aku tidak suka dengan sikap dinginnya, tapi saat ini setelah aku yakin bahwa perasaan itu sudah benar-benar mantap, aku takut kehilangannya.
"Alin juga tidak tau apa yang akan dilakukan, yang jelas saat ini Alin hanya ingin tenang, Alin butuh waktu untuk membuat keputusan itu, Alin tidak ingin nantinya keputusan itu malah semakin membuat luka ini semakin berat, Alin ingin memikirkannya dengan matang dulu, Mi."
"Baiklah, semoga Allah segera memberikan petunjuknya padamu," Umi mengangguk. Tangan lembut itu terulur mengusap kepalaku tak henti sejak tadi. Aku tau Umi sedih, terlihat jelas dari sorot matanya. Andai jika Abi masih ada, mungkin ia akan lebih sedih dari Umi, aku tau bagaimana Abi ketika dulu menitipkan aku pada Mas Akmal, ia begitu berharap sangat besar pada Mas Akmal, jika ia akan menjagaku, tapi Abi salah, dengan aku menikah dengannya malah membuatku banyak menoreh hati. Tapi itulah seorang ayah, ia selalu ingin anaknya bahagia, bahkan untuk menyayangi anak-anaknya saja seorang ayah tidak usah dipertanyakan lagi.
.....
Jam sembilan malam aku sudah kembali terlelap, namun tepat pukul dua dini hari aku terbangun. Kuambil wudhu dan melaksakan sholat malam, dan seperti biasa akan kututup dengan sholat witir tiga rakaat.
Baru setelah itulah aku mengadu keluh kesahku pada sang Rabb. Dengan deraian air mata aku meminta ampun kepada Allah juga meminta agar Allah memberikan kekuatan dalam menjalani ujian ini.
"Ya Allah, sungguh berat ujian yang engkau berikan pada hamba-mu ini. Hamba tak yakin kuat menjalaninya, menghadapi masalah yang begitu menoreh hati ini, hamba tau, engkau lebih tau jalan kedepannya seperti apa. Tapi lagi, apa hamba sanggup menghadapinya? Hamba juga yakin engkau tidak akan menguji hamba melebihi batas kemampuan hamba, hamba hanya takut tak bisa menjalaninya. Ya Allah, bimbinglah hamba dalam menjalani ini semua."
"Ya Allah, tunjukkanlah hamba jalan yang sebaik-baiknya, agar hamba mampu untuk menembusnya, agar hamba bisa keluar dari masalah ini. Jika takdir hamba untuk berpisah dengan suami hamba maka tutuplah hati ini, agar rasa ini hilang dari hati hamba, tapi jika takdir ingin menyatukan kami, maka berilah penerang untuk menuju kebersamaan itu. Aamiin."
.....
Malam ini, aku hanya berdiam diri dikamar. Aku memang diam, namun pikiran dan hatiku tak mau berhenti bergejolak.
"Abi... Bisakah Alin menyerah? Alin sudah tidak tahu lagi caranya bertahan. Semua ini begitu menyakitkan." Alina meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Air mata sudah membanjiri pelupuk matanya.
Keputusanku sudah bulat saat ini, aku akan belajar melupakan Mas Akmal. Mungkin ini memang takdirku, takdir untuk tidak bersama Mas Akmal.
Sudah tiga hari aku hanya diam dirumah tanpa keluar rumah, bahkan pekerjaan juga aku abaikan, aku hanya berdiam didalam kamar.
Dinda bahkan sampai meneleponku beberapa kali tapi tak kunjung kuangkat, pesan darinya sudah menumpuk, ia membujukku untuk berbagi cerita padanya, tapi aku hanya diam enggan membalas pesan itu.
Malam ini dengan hati yang sudah kusiapkan, bahwa aku akan melupakan Mas Akmal, dan akan mengubur dalam perasaan itu.
.....
Malam Jum'at ini aku sudah berada didepan pintu besar rumah yang sudah beberapa hari ini tak kukunjungi. Tapi aku ragu untuk mengetuknya, namun lagi aku yakinkan hatiku, bahwa inilah satu-satunya jalan supaya aku tidak tersakiti lagi.
Dengan meyakinkan hati, kuketuk pintu coklat yang berada tepat didepanku. Setelah mendengar kata 'masuk', kuhempaskan nafasku panjang dan memantapkan langkah untuk melepas segalanya.
.....
Alina terkaget melihat Akmal tergeletak lemah dilantai.
"Mas...." Alina membantu sang suami dan merangkulnya sampai kamar milik Akmal.
"Mas... Mas kenapa?" Akmal hanya menatap tajam mata Alina.
"Kamu kemana saja?" tanya Akmal lemah, sejahat apapun Akmal padanya, Alina masih tetap menyayanginya. Meski keadaannya kini ia sedang terluka. Bahkan niatnya kesini ia ingin mengajukan gugatan cerai, tapi niatnya ia urungkan ketika melihat keadaan Akmal seburuk ini.
"Maaf Mas, aku hanya pulang kerumah Umi" Alina tertunduk setelah merebahkan tubuh Akmal diatas ranjang.
Bodohnya ia seharusnya tidak pulang hari, jika keadaan Akmal seperti ini. Dari mulutnya tercium jelas bau alkohol, pasti lelaki ini mabuk. Hal ini baru pertama kalinya Alina lihat, karna sebelumnya ia tidak pernah melihat sang suami mabuk. Bahkan Alina tau jika Akmal bukanlah lelaki perokok juga, melihat keadaannya seperti ini menambah Alina sedih. Apa dia seperti ini karna ku?
Karna tak kuasa melihat Akmal yang benar-benar dalam keadaan mabuk berat, Alina membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Tapi, sayang sepasang tangan berhasil melingkar dipinggangnya dengan sangat keras, siapa lagi kalau bukan tangan sang suami.
"Mas...."
Akmal memutarkan tubuh Alina.
Cup! Akmal mencium bibir Alina. Alina hanya diam mematung, apa ini benar-benar Mas Akmal?
Menit berikutnya Akmal mendorong tubuh Alina diatas ranjang miliknya.
"Mas aku..." Akmal menggeleng dan membekap mulut sang istri dengan tangan kekarnya.
"Sssstt.... Aku menginginkannya Alina. Sangat menginginkannya" Alina tau Akmal sedang mabuk, tapi apa pantas Alina menolak keinginan suaminya? Bagaimanapun ia masih istri sahnya, dan dosa jika ia menolak yang diminta suami.
Akmal mulai merabah Alina.
"Maaf, seharusnya aku memang melakukan ini padamu."
"Mas, aku...."
Alina menelan savilanya, mungkin ini sudah saatnya. Menyerahkan tubuhnya untuk suaminya, menanamkan benih yang nantinya akan menjadi buah hati mereka. Buah hati yang sejak lama ia nantikan. Dan Akmal akan segera mengabulkannya.
Semoga setelah ini, menjadi awal baik untuk pernikahannya. Mungkin ini jawaban dari semua doa-doanya.
Kini masalah yang telah terjadi rasanya hilang, beban yang begitu besar dalam otaknya kini lebih ringan. Alina merasa kini ia benar-banar menjadi wanita seutuhnya. Karna sudah menjalankan tugas yang seharusnya sudah lama dilakukan.
Malam yang Alina kira akan menjadi malam terakhir ia menginjak kerumah ini, salah. Malam ini malah menjadi malam pertama yang indah untuk Alina dan mungkin juga untuk Akmal. Malam yang tak akan terlupakan dalam hidup Alina. Semoga setelah ini takdir baik memang ada untukku.
.....
Next✨
Jangan lupa like, vote dan komennya👍
Maaf ya di part yang ini ada adegan 18+ nya.
Instagram ku: @im.silpa🤗