
Operasi yang dilakukan dokter pada Alina berlajan lancar tanpa hambatan, dan kini Alina sudah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat inap. Matanya sayu memejam, bibirnya putih pucat, Akmal yang melihat tak bisa menahan tangisnya.
Tak lama datang suster yang membawa bayi dengan balutan kain putih menutupi tubuhnya.
"Ayah bayinya mana?" tanya Suster itu. Akmal berdiri, di bukalah balutan kain itu dan terlihat jelas wajah bayi itu meski wajahnya belum benar-benar sempurna membentuk tapi bisa dilihat jika wajahnya cantik.
"Ya Allah... Anakku..." Akmal langsung terduduk. Kedua kakinya tak lagi dapat menahan tubuhnya. Ia kembali terisak dengan hanya berani berdiri di belakang uminya Alina.
Bayi yang ada dihadapannya sekarang dinyatakan meninggal pada hari Minggu, tepat di jam 20:59 WIB. Kesedihan tak lagi dapat ditahan. Air mata meleleh dari masing-masing pipi ketiga orang dewasa di sekitar Akmal.
"Sabar, Nak Akmal, sabar..." ucap umi menenangkan Akmal. Sebagai ibunya Alina dan mertua, ia memberikan pengertian pada Akmal agar selalu tabah menghadapinya.
Suster itu memberikan Bayi itu kepada Akmal, dengan tangan bergetar ia mengambil alih Bayi itu.
"Mas Akmal..."
Suara itu mengalihkan pandangan Akmal, membuatnya menolehkan kepalanya.
"Mas bagaimana keadaan Alina dan bayinya? Bagaimana bisa ini terjadi," tanya Sandra napas tak beraturan.
"Kau tanya kenapa? Kenapa, masih belum puas kamu melihat Alina sengsara, masih belum puas!"
"Entah putriku yang polos atau kau yang tidak tahu diri, Sandra. Selama ini umi percaya padamu, dan bahkan Alina saja sangat menyayangimu, tapi apa yang kau berikan padanya kau malah mengganggu pernikahannya."
"Ap...pa maksud umi?" tanya Sandra terbata.
"Tidak usah sok polos deh, kau mendekati adik Mbak karena ingin dinikahinya kan, padahal kau tahu Akmal itu sudah menikah dengan Alina, pokoknya mbak tidak ingin melihat kamu dan Akmal berhubungan lagi! Terlebih setelah Alina sembuh mbak minta kau pergi."
Dor
Ucapan Zahra benar-benar membuat Sandra meneteskan air matanya. Ternyata kedatangannya menjadi malapetaka baginya.
"Aku memang salah disini, tapi kedatanganku bukan untuk membahas itu. Aku hanya ingin mengetahui keadaannya, tapi mbak Zahra malah memojokkan ku seperti ini." Batin Sandra.
Tanpa mendengarkan kalimat yang akan diucapkan Zahra selanjutnya. Sandra berlari meninggalkan rumah sakit dengan air mata yang mengucur deras.
.....
Hujan turun dengan derasnya, air mata Sandra jatuh bersamaan hujan. Kini Sandra berada ditaman belakang rumah sakit, dan tadi saat ia berlari ternyata Akmal juga ikut mengejarnya.
"Untuk apa Mas kesini? Apa yang dikatan umi dan Mbak Zahra benar, aku hanya wanita perusak rumah tangga Mas dan Alina." ucapnya
"San, biar Mas jelaskan semuanya, dan juga ada yang ingin Mas sampaikan padamu," cicit Akmal sembari berlutut didepan Sandra.
"Mas tidak perlu menjelaskan apa-apa, sudah jelas! Disini aku yang salah, seharusnya aku tidak datang lagi dikehidupan Mas. Tapi saat itu aku memang benar-benar tidak tahu harus mengeluh dan bersandar pada siapa, hanya Mas orang satu-satunya yang aku percaya," ucap Sandra, tangisnya semakin berisak.
Akmal menarik nafas panjang. Tangannya berusaha mengenggam kedua tangan Sandra, namun dengan segera Sandra menghindar.
"Sebelumnya Mas minta maaf atas ucapan umi dan Mbak Zahra. Mas tahu ucapan tadi pasti sangat menyakitimu, sungguh Mas minta maaf."
"Jujur saja Sandra, awalnya Mas bahagia kau kembali lagi pada Mas, tapi... setelah ini terjadi Mas sadar, jika pernikahan ini memang sudah takdir Mas, tapi disini Mas juga tidak ingin menyakitimu." Akmal menarik wajah Sandra agar menatap matanya. "Kamu adalah wanita pertama yang membuat Mas jatuh cinta, Mas tahu pernikahan Mas dengan Alina itu atas perjodohan Abinya dan ayah Mas. Dan saat itu Mas memang terpaksa menikahinya."
"Bahkan dulu Mas menginginkan perceraian dengannya, karena apa? Karena Mas mencintaimu, karena Mas pikir tidak ingin lagi kehilanganmu yang kedua kalinya, semua permintaan yang kamu utaran Mas selalu kabulkan, dan bodohnya Mas itu ternyata membuat Alina tersiksa, ia menangis setiap kali melihat Mas denganmu, karena ego ini! Mas menyakitinya, dan sekarang Mas juga mungkin menyakitimu." jelas Akmal, Sandra menatap lekat wajah lelaki didepannnya.
"Apa yang Mas bilang benar, aku terlalu egois memikirkan kebahagiaan ku sendiri tanpa melihat orang yang selama ini menyayangiku ternyata terluka karenaku, aku menyesal melakukan ini. Jika kepergianku bisa membuat kalian bahagia akan ku lakukan itu,"
"Terimakasih sudah mau mengerti Sandra," ucapnya sembari mengelus tangan Sandra yang sudah keriput karena kedinginan.
"Kamu tidak perlu takut untuk biaya sekolah Shiran dan berobatmu, Mas akan mentransfer uang bulanan ke rekening mu. Bagaimanapun Mas tidak akan membiarkan kalian berdua kelaparan."
"Tidak Mas, tidak usah. Aku bisa mencari uang sendiri untuk kehidupanku dan anakku sendiri. Sampaikan permintaan maafku pada Alina," setelah mengucapkan itu Sandra berdiri dan berjalan meninggalkan Akmal.
.....
Next โจ
Jangan lupa love dan komennya๐๐
Untuk pertypo'an mohon koreksinya!
Akun media sosial author ๐ di follow ya ๐ author gak sombong kok, kalo mau di follback DM aja๐
Instagram: @im.silpa
Facebook: Jeon Silpa