The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|46|



Di part ini aku bakal fokus ceritain Alina aja ya...


Happy reading😊


.....


Akmal masih fokus pada kaca ruangan ICU, ingin sekali ia menyentuh tubuh yang terbaring lemah disana dan memastikan kalau tubuh itu dalam keadaan baik-baik saja. Dadanya serasa dihimpit bongkahan batu besar hingga terasa sesak dan pengap. Air matanya terus bercucuran dengan tangan yang kini telah terkepal menempel dikaca.


Akmal tidak menyangka, jika Alina akan mengalami hal menyedihkan seperti ini.


"Akmal...."


Suara lirih wanita yang menyentuh bahu Akmal, membuatnya menoleh perlahan. Menghancurkan semua pikirannya tentang Alina. Akmal semakin bergetar mendengar suara Zahra Kakak perempuannya.


Akmal menyeka air matanya. Raut wajah Zahra begitu pilu semakin menyayat hatinya. Belum lagi dengan tatapan Mamahnya yang menggambarkan tanda tanya besar dalam matanya.


"Dok, tekanan darahnya semakin melemah..."


suaranya memang tidak terdengar, tapi dari gelagan suster itu menandakan jika kondisi Alina semakin lemah.


"Siapkan Defibrilator."


Suster dengan cepat memberikan alat itu.


"Tolong periksa kandungannya, sust"


"Baik Dok,"


Suster itu menempelkan alat 5D USG pada perut Alina yang terbaring lemah diatas meja operasi. Barulah terlihat gambar bayi yang usianya masih 4 bulan itu.


"Dok, bayinya tidak memperlihatkan hidup. Bagaimana ini Dok?" dengan segera Dokter itu mengambil alih tindakan, berbagai cara berusaha ia lakukan sebaik mungkin. Dan tepat, bayi diperut Alina tidak merespon.


Dokter itu berjalan kearah pintu ICU, Akmal dan semuanya menyambut Dokter. Akmal dengan wajah khawatir menatap dokter itu seolah bertanya melalui matanya.


"Bagaimana keadaan Anak saya, Dok?" tanya umi sembari menggoyangkan tangan Dokter itu.


"Saya mencoba melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi... Bayi yang ada didalam perutnya tidak merespon alat yang saya gunakan, oleh karena itu saya meminta persetujuan suami dan keluarga, agar melakukan tindakan selanjutnya yaitu dengan mengoperasi pasien dan mengeluarkan bayinya. Karena jika tindakan itu tidak dilakukan, akan berdampak lebih buruk pada ibunya." jelas Dokter itu. tangis semuanya kembali pecah terlebih Akmal yang semakin terpukul. Zahra yang sedari tadi terus mengeratkan tangannya pada tangan Akmal.


"Apa tidak bisa menyelamatkan keduanya?!" Akmal angkat bicara, suaranya parau air matanya mengalir begitu deras.


"Tidak bisa pak, saya dan rekan medis lainnya sudah melakukan yang terbaik, tapi hal itu tidak bisa dilakukan, takutnya jika melakukan itu resikonya akan dua kali lipat lebih buruk. Karena pasien juga mengalami pendarahan hebat dikepalanya sehingga kehilangan banyak darah. Maaf saya tidak bisa apa-apa... hanya jalan itu yang insyaallah bisa menyelamatkan ibunya." jawab Dokter itu sembari mengelus pundak Akmal.


"Ya Allah.... Inikah rencana sebenarnya? Sungguh, aku tidak kuat melewatinya. Aku bukan wanita didalam disana, wanita yang tingkat sabarnya begitu tinggi, aku tidak sebaik dirinya ya Rabb. Tidak bisakah kau selamatkan keduanya."


"Kami sekeluarga mengijinkan operasi itu," ucap Akmal lagi.


"Baiklah, saya akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak. Saya hanya Dokter perantara antara keberhasilan dan kegagalan, sesungguhnya hanya Allah pemegang takdir, mungkin ini memang jalannya, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan ketabahan pada bapak dan keluarga. Kalau begitu saya kedalam," ucap Dokteri itu lalu masuk lagi kedalam ruangan.


Akmal membekap mulutnya tak kuasa dengan kesedihannya. Lalu berlari meninggalkan semuanya yang juga menangis pilu.


Langkahnya gontai menelusuri lorong putih rumah sakit, rasanya lorong itu begitu panjang hingga tempat yang ingin ditujunya tak kunjung sampai. Akmal merasa begitu bersalah, ia menyesal. Andai sore itu ia menahannya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Alin maafkan Mas.


Kakinya berhenti melangkah, namun airnya masih kentara mengalir deras dari pelupuk matanya. Sampailah ia dimusola kecil yang ada dirumah sakit. Matanya menatap bacaan 'Musola' hatinya tergerak ingin masuk kedalam, rasanya ia ingin mengutarakan rasa sedihnya didalamnya.


Sebelum masuk ia mengambil air wudhu dahulu, kemudian barulah ia masuk kedalam musola dan berkata, "Bismillahirrahmanirrahim,"


Terduduk ia disana, diatas hamparan sajadah dengan tangan yang terangkat keatas, tangisnya mengiringi doa yang dipanjatkannya. Disaat seperti ini ia terlihat begitu lemah, hatinya tak kuat menerima kenyataan buruk yang menimpa sang istri.


Bacaan demi bacaan ayat suci ia lantunan, suara baritonnya bergetar menandakan ia benar-benar terluka.


"Ya Allah... Sesungguhnya diri ini hina dan juga penuh dosa, hamba hanya seorang yang tiada daya dan upaya, hamba tidak bisa mengelak dari gadis takdir ini. Hamba hanya berharap, bisa memulai yang baru dengannya, jujur saja ya Rabb... hamba belum bisa menerima ini dengan hati yang ikhlas, tapi hamba juga tidak bisa memaksa agar semuanya selalu baik-baik saja. Jika memang ini jalannya, berilah rasa keihklasan agar selalu ikut serta dalam hati hamba, jangan biarkan hati ini mengambang dalam perasan menyalahkan takdir darimu, bagaimanapun hamba tidak ingin menjadi hamba yang tidak baik Di matamu ya Allah. Bantulah hamba melewati ujianmu ini, sesungguhnya hamba hanya manusia yang selalu menginginkan takdir baik. Aamiin."


Akmal mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya yang dibanjiri air mata. Lalu menoleh saat suara panggilan mengalihkan dirinya.


"Akmal." Akmal mengerjapkan matanya beberapa kali dan barulah menatap kakaknya dengan tatapan sendu.


"Apa yang harus aku lakukan Mbak, aku tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Akmal frustrasi, air matanya kembali menetes dipipi.


"Saat seperti ini barulah kau tahu, bagaimana sakitnya melihat orang yang berarti terluka, Akmal? Bukankah sakit, tapi sakitmu saat ini tidak sebanding dengan sakitnya Alina ketika kamu menyakitinya, mbak selalu bilang padamu, cobalah untuk menjadikannya istri sesungguhnya Akmal kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan lihatlah, sekarang apa yang mbak takutkan terjadi juga, dan disaat seperti inilah kau baru menyadari jika Alina sangat berarti untukmu." ucap Zahra seraya melampiaskan kekesalannya pada adik laki-lakinya yang terus menunduk.


Akmal hanya diam, kata-kata Kakaknya barusan berhasil membuatnya semakin bungkam. Yang dikatakan Zahra benar, kenapa ia tidak sadar akan perasaannya sejak awal, kenapa disaat seperti ini perasaan ini baru disadarinya. Apa ini yang dinamakan karna Allah.


"Sekarang bukan waktunya kamu menangis Akmal, bangunlah, jangan buat kesedihan menyelimuti hatimu, nasi sudah menjadi bubur dan itu tidak bisa kembali menjadi nasi, biarlah kejadian ini berjalan sesuai skenario Allah yang terpenting saat ini kau harus lebih kuat dari Alina yang tengah berjuang disana," Ya, benar apa yang dikatan Mbak Zahra, aku tidak boleh lemah seperti ini, masih ada waktu untuk memperjuangkan semuanya. Tapi... Bagaimana dengan anakku?


"Ikhlaskan bayi yang ada diperut Alina, ini memang takdirnya, jika benar kamu ingin memperbaiki semuanya kamu belum terlambat Akmal, mbak yakin kamu dan Alina akan hidup bahagia, bayi itu adalah titipan dan waktunya hanya sampai disini saja itu tidak masalah karena semuanya sudah Allah gariskan di Lauhul Mahfudz." ucap Zahra. Dengan cepat Akmal mendaratkan pelukannya ke wanita itu, tangisnya terbuai disana.


Zahra yang mendapat pelukan itu mengusap lembut punggung Akmal. Setelah sedikit suasana mulai membaik, Zahra melepas pelukan dan kini ia beralih menggenggam erat kedua tangan adiknya. Menguatkan laki-laki itu agar tetap tenang, walaupun hatinya memang tengah gundah. "Insyaallah, semuanya akan segera membaik. Insyaallah Akmal..."


.....


Gimana nih part ini?


Semoga selalu suka sama tulisan author yang masih berantakan ini😁🤗


See you reader 💕