
"Aku! aku yang seringkali di patahkan, aku yang seringkali diacuhkan, sering pula ku bertahan. Meski aku tahu semua yang aku lakukan akan tampak salah dimatamu, kau membuatku tampak tak berarti, kau ingin aku bagaimana? seharusnya aku sadar dari awal jika kau ingin aku pergi, namun aku berpura-pura tak menyadarinya, dengan harap, suatu saat dapat terbalas meski terlambat. Apa dengan aku diam kau akan berhenti menghindar? jika ya! maka aku akan diam, berhenti sejenak untuk harapan yang kucari dari mu, berhenti untuk perjuangan yang kulakukan padamu, dan berhenti untuk tidak berharap penuh lagi padamu. Berhenti dengan waktu yang tidak dipastikan, aku akan berhenti jadi kau tidak perlu risih lagi, karena kali ini aku akan berhenti untuk perasaan yang salah."
Alina masih saja melamun di depan meja riasnya, memikirkan banyak hal yang membuat hatinya terasa sesak, pandangannya kosong entah tertuju ke mana. Sekian detik pertanyaan dalam kepalanya semakin berkecambak. Sesakit itukah mencintaimu? Sampai kapan aku harus berjuang sendiri? semua itu belum juga dapatkan jawabannya.
Hari ini Alina benar-benar ingin diam saja, enggan untuk berbicara, ia akan mencoba untuk tak peduli, meski nantinya sang suami malah lebih dingin. Alina sudah bosan dengan sikap sang suami yang terus saja menoreh hatinya.
Saat ini pun meja makan terasa sunyi, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu menguasai kesunyian. Keduanya sama-sama diam.
"Siang nanti aku akan ke rumah Sandra, aku ada perlu dengannya. jadi, aku pulang ke rumah agak malam." Akmal membuka suara. Keberadaannya di sana tidak untuk makan bersama Alina, melainkan hanya minum air putih setelah nya pergi. Ya! itu kebiasaannya dan itu membuat Alina muak padanya.
Alina hanya menunduk lalu mengangguk perlahan, Alina akan mulai tak peduli dengan sang suami terserah dia, mau melakukan apa, kemana, dengan siapa bukan urusannya lagi. Kali ini ia akan menunjukkan bahwa dirinya juga bisa menjadi manusia dingin dan acuh. Mungkin dengan begini, Alina bisa melawan ketika Akmal membentaknya lagi dengan seenak hatinya.
Akmal mengangkat wajah, ekor matanya melirik kearah Alina yang diam tidak seperti biasa, dengan melihat sang istri yang aneh membuat Akmal bingung hari ini. Alina benar-benar begitu aneh.
"Kalau begitu saya berangkat." ucap Akmal ketus dan angkuh seperti biasa, ia bangkit lalu berangkat begitu saja.
"Tunggu, mas." panggil Alina.
Akmal menghentikan langkahnya, senyum miring tiba-tiba tersungging di bibirnya, dia begitu yakin Alina istrinya yang begitu cerewet dan agresif ini tidak akan lama berdiam diri tanpa bicara. "Ada apa?" sarkas nya.
"Mas, Hari ini aku mau minta izin buat datang hadirin acara pertemuan dokter di rumah sakit."
"Terserah padamu, saya tidak peduli, asal kamu tidak lupa dengan tugasmu sebagai istri."
Kali ini hati Alina tidak merasakan desiran aneh tidak seperti sebelum-sebelumnya, padahal tadi Akmal menyebutnya sebagai istri, berarti secara tidak langsung ia mengakui jika Alina adalah istrinya. Entah kenapa, desiran aneh itu memang tidak Alina rasakan saat ini. Apa hatinya sedang tidak sehat?
"Terima kasih." jawabannya singkat, membuat Akmal bingung dibuatnya, karena sikapnya yang super dingin dan acuh tiba-tiba. Akmal pun melangkah pergi meninggalkan Alina yang masih saja duduk di tempatnya.
.....
Suasana kota terlihat sedikit macet, banyak mobil-mobil berlalu-lalang. Bagaimana tidak? sudah satu jam saja motor yang Alina kendarai tetap berada ditempat itu-itu saja.
Tak terasa Alina sampai di sana disambut oleh sahabatnya dan lelaki berdasi disampinganya, lelaki pemilik postur tubuh tegap dan raut wajahnya yang tampan. Lelaki itu tak lain adalah Rehan.
"Assalamualaikum, hai Din, gimana kabarnya?" Tanyaku pada Dinda. Dinda tersenyum padaku dia mengangguk menandakan dia baik-baik saja.
"Kok cuman dinda saja yang ditanya, saya... tidak?" Ucapnya.
"Assalamu'alaikum, Dokter Rehan, gimana kabarnya?" Tanyaku sambil tersenyum malu padanya.
"Alhamdulillah, saya sehat, apalagi kalo kamu yang nanya. Hehe" ujarnya sambil tertawa. Dokter Rehan memang seperti itu, dia seringkali menggodaku didepan Dinda.
"Ah, bisa saja Dokter Rehan."
"Masuk yuk," ajak Dinda. Kami pun melangkah masuk kedalam, karna acara memang sudah dimulai.
Langit mulai gelap pertanda malam akan segera menggantikan siang. Setelah berpamitan pada Dinda dan Dokter lain, Alina melangkah ke parkiran motor. Ia menyalakan motornya dan melaju membelah ibu kota yang mulai gelap.
Tak terasa suara kumandang adzan isya terdengar merdu di telinganya, alinapun mencari musola terdekat untuk menunaikan kewajibannya. Seusai sholat ketika Alina akan pulang, tiba-tiba hujan yang cukup deras mengguyur kota. Terpaksa ia harus menunggu sampai hujan itu reda, karna tidak mungkin jika ia harus pulang dengan melawan derasnya hujan malam ini, lagi pula masih jam delapan belum terlalu malam. Pikirnya, lebih baik menunggu sampai hujannya benar-benar reda.
.....
Hari sudah malam dan langit malam hali ini benar-benar gelap gulita, karna diluar hujan. Ditempat lain, sesampainya dirumah Akmal langsung pergi lagi ketika ia sadar bahwa Alina tidak ada dirumah. Jujur! Akmal tengah khawatir pada wanita yang biasanya membuat dirinya kesal. Tidak bisa dipungkiri saat ini ia sangat khawatir pada Alina, terlebih ketika mengingat pesan terror kemarin yang memang mengancam keselamatan Alina.
Akmal yang tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, membelah jalanan malam yang tengah diguyur hujan deras. Dirinya saat ini benar-benar berada di situasi yang tidak seperti biasa, Akmal yang memang sangat dingin pada sang istri, malam ini ia sangat mengkhawatirkannya. Ia tidak tau keberadaan Alina saat ini, yang jelas malam ini ia akan menemukan sang istri dan membawanya pulang dalam keadaan sehat, tanpa luka sedikitpun.
Tiba-tiba ponsel yang ada dihadapannya bergetar. Sebelumnya dia menyambungkan terlebih dulu ke earphone bluetooth nya.
"Hallo, Bos. Kita menemukan lokasi terakhir yang nonya datangin. Dua jam lalu nonya mendatangi musola yang tidak jauh dari tempat kerjanya." Lapor seseorang dari seberang telepon.
"Baik, Bos. Kita akan lakukan yang terbaik. Saat ini yang menjadi kendala karna hujan ini, tapi, tidak masalah, kita bisa mengatasinya. Dan saya jamin akan membawa nonya segera, dengan keadaan selamat."
Tanpa sepatah kata Akmal memutuskan teleponnya. Dan kembali melaju cepat menembus derasnya hujan.
"Dasar gadis bodoh! Seharusnya dia meneleponku ketika memang situasinya darurat," oceh tak jelas Akmal sembari memukul kemudi. Sudah hampir jam sepuluh malam Alina masih belum ditemukan. Lalu ia ingat, kemungkinan besar Alina akan meminta bantuan sahabatnya itu. Tanpa berpikir lagi Akmal langsung melajukan mobilnya ke rumah Azka.
Sesampainya disana, ia kembali kecewa Sang istri tidak ada disana. Bahkan Azka saja sedang tidak rumah, kata salah satu pekerjaan dirumah Azka bilang jika Azka tengah keluar kota, menghadiri acara kajian.
Akmal yang begitu frustasi langsung kembali mengendarai mobilnya yang tadi terparkir di halaman rumah Azka. Akmal mendengus kesal, ia benar-benar ingin marah sekali pada dirinya sendiri. Ia khawatir jika hal yang tidak diinginkan terjadi pada Alina, bagaimanapun gadis itu adalah istrinya.
"Semoga kau baik-baik saja," lirihnya. Menyesal karna telah mengijinkan Alina pergi sendiri, mungkin jika ia ikut bersamanya hal ini tidak akan terjadi.
"Gue egois, aarrgh"
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:56. Sejauh ini pula belum ada tanda-tanda Alina akan ditemukan. Entah kenapa Akmal semakin gelisah. Tidak lama kemudian earphone yang masih terpasang di telinganya kembali bergetar. Dengan cepat ia menjawabnya.
"Bagaimana? Sudah ketemu?" Tanya Akmal cepat.
"Bos, kita menemukan motor yang nonya pakai terparkir di depan gedung kosong. Kita sudah mencari di sekeliling gedungnya, tapi, nonya tidak ada."
"Baiklah! Saya akan kesana, pokonya kalian terus awasi daerah itu, siapa tau penculik Alina masih berkeliaran disana." Balasnya.
"Siap bos!" Jawab seseorang diseberang telepon. Ya, itu orang suruhan Akmal yang ditugaskannya untuk mencari Alina.
Beberapa menit kemudian Akmal sampai disana, dimana orang-orang suruhan nya berada. Setelah menjelaskan panjang lebar Akmal memerintahkan mereka kembali untuk berpencar. "Cari lagi dengan teliti disetiap sudut tempat ini. Jangan sampai terlewat," titah Akmal.
.....
Di tempat lain, Alina tersadar dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Terutama pada pergelangan tangannya. Kedua tangan itu dipuntir ke belakang dan tertahan sesuatu. Gagal. Ia tidak mampu menggerakkan kedua tangan itu sama sekali. Semakin ia mencoba, semakin perih pergelangan tangannya tergores tali.
Perlahan-lahan, Alina membuka mata. Ia berpikir terbangun kembali di rumah sakit, seperti minggu-minggu lalu. Namun, salah, Alina malah berada di tempat kosong, kotor dan bau. Alina tidak tau keberadaan nya saat ini, yang Alina ingat terakhir kali ia berada di musola, menunggu hujan reda untuk pulang. Tapi, kenapa ia bisa disini? Di tempat sunyi nan pengguhini.
Ia mulai mengeluh panik. Namun, akhirnya sadar bahwa ini bukanlah hal wajar. Bukan orang sembarangan yang bisa melakukan ini. Mungkin sedari tadi ada orang yang menunggunya bangun, tapi siapa? Siapa yang melakukan ini? Kepalanya berdenyut dan rasa pusing terus bergejolak, ia terlalu sakit untuk berpikir.
Alina semakin sulit mengatur napasnya, karna rasa cemas yang semakin berkecambuk di hatinya. Tapi, menit berikutnya napasnya berangsur stabil dengan ketenangan yang baik. Alina berusaha berpikir agar ia bisa membuka tali yang mengikat kedua tangannya.
Tali tambang plastik yang mengikatnya sangat kencang. Ia bisa merasakan kulitnya sangat kencang. Kulitnya tergores saat berusaha menggoyangkan tangan. Ia tidak tau harus pakai cara apa untuk membuka tali itu. Alina hanya bisa memejamkan mata, berdoa berharap ada orang datang untuk membantunya. "Ya Allah, jika disini, ditempat ini takdir ku untuk kembali padamu. Aku ikhlas, tapi jika boleh aku meminta padamu ya Robb bantulah hambamu ini. Hamba masih ingin hidup untuk waktu yang lama, hamba masih ingin memperbaiki pernikahan hamba, hamba ingin memiliki buah hati dan menjadi ibu yang baik. Aku ikhlas, atas takdir yang kau berikan lewat perjodohan Abi, aku ikhlas, tapi untuk ini... Aku tidak ingin lagi berada di trauma seperti dulu. Tolong bantu aku ya Rabb." Dengan keadaan yang memang memperihatinkan Alina masih tetap berusaha tegar.
Ceklek
Suara dorongan pintu terdengar, Alina hanya memejamkan matanya. Suara ketukan sepatu yang tadinya jauh, kini semakin mendekat dan akhirnya ketukan itu berhenti tepat di depannya, Alina tidak ada niat untuk membuka matanya. Ia pasrah.
"Kau milikku,"
.....
Next✨
Kalo suka sama ceritanya, jangan lupa like, vote dan komen😊😘
Aku bakal ganti judul cerita sama cover nya. Thanks u.
Follow Instagram ku ya: @im.silpa🤗