
"Non, ini donatnya."
"Makasih bi."
Bi Arum meletakkan nampan yang berisi donat yang masih hangat, tepat dimeja ruang tengah, tempat Alina merebahkan dirinya.
"Bi Arum," panggil Alina.
"Iya non."
"Duduk samping Alin bi," ucap Alina sambil menunjuk kearah tempat duduk disampingnya.
"Tidak usah non bibi dibawah saja." Alina bergerak dan mendekat kearah bi Arum lalu menyuruh wanita yang cukup tua itu duduk disampingnya.
"Jangan buat diri bibi seperti pekerjaan disini, aku tidak suka, berlakulah seperti biasa padaku, anggap saja aku ini anak bibi, jadi perlakuan aku wajar kita disini tidak ada yang namanya tuan dan majikan ya, bi." ucap Alina.
"Tapi saya tidak enak non," jawab bi Arum menunduk tak enak.
"Panggil saja aku Alin jangan non,"
"Tapi non..."
"Alin...Alin..." ucap Alina sambil tersenyum.
"Baiklah, bibi akan memanggil non dengan sebutan Alin,"
"Nah gitukan enak didengarnya,"
"Bagaimana keadaan bayinya nak Alin?" tanya Arum sembari mengelus perut Alina halus.
"Alhamdulillah bi sehat, tapi kata dokternya Alin harus kurangin kerja."
"Hmmm..." Arum hanya membalas dengan deheman dan anggukan.
"Bi, bibi tau gak ustadz yang suka ceramah dimesjid deket sini?" tanya Alina dengan wajah penasaran.
"Emang kenapa?"
"Ya pengen tahu aja, Alina pengen juga ikut kajian disana."
"Ya sudah, kamu sekarang ganti baju kita kemesjid buat ikut kajian bareng ibu-ibu." ajak Arum. Dan tiba-tiba Alina tersenyum malu.
"Baiklah," setelah itu Alina berjalan kekamarnya untuk ganti pakaian.
.....
Serabut jingga mulai menampakkan keindahannya di ufuk barat. Suara burung berterbangan pulang hendak kembali kesarangnya.
Suara alunan Al-Qur'an sayup-sayup mulai terdengar dari pengeras mesjid yang tak jauh dari rumah Alina yang menandakan sebentar lagi akan masuk waktu sholat Maghrib.
Beberapa rombongan pemuda sudah mulai berjalan menuju mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Tak kalah banyak juga dengan rombongan ibu-ibu yang ikut meramaikan jalanan sore itu lengkap dengan mukena putihnya.
"Nak Alin, kebetulan malam ini ada pengajian rutin, setelah sholat Maghrib nanti jangan langsung pulang, kita tunggu setelah sholat isya baru ikut pengajiannya." ucap Arum yang baru muncul dari kamarnya dengan menenteng mukena dan sajadahnya.
"Baiklah, tunggu Alin sebentar bi!"
Setelah bersiap Alina menghampiri Arum yang menunggunya diluar. Alina dan Arum berjalan bersama rombongan ibu-ibu yang juga hendak ke mesjid.
"Sanaos saha eta?" tanya seorang ibu yang seumuran dengan bi Arum. Awalnya Alina bingung, tapi akhirnya ia bisa mengerti kalau ibu itu menanyakan siapa aku.
"Ieu mah nak Alina, ti Jakarta anaknya Almarhum bapak," jawab Arum menjelaskan. Ibu itu tersenyum dan menjabat tangan Alina. Beberapa ibu lainnya juga ikut menjabat tangannya.
Tepat ketika adzan Maghrib dikumandangkan Alina dan rombongan ibu-ibu itu akhirnya sampai dimesjid.
.....
Alina masih merasa aneh, sepertinya ia mengenali suara yang menjadi imam sholat isya tadi. Suara tegas yang hari itu menegurnya.
Alina melihat beberapa gadis seumurannya dan bahkan dibawahnya, yang sedari tadi terus saja berbincang seperti menceritakan seseorang yang begitu dikaguminya disini.
Tak sengaja dia menangkap pembicaraan mereka. Mereka sedang membicarakan seorang pemuda yang bernama Risyal.
Risyal? Apakah dia orang yang menegurku saat itu? Pemilik suara berat yang mengumandangkan adzan dengan merdunya.
"Bi, mengapa mereka terus membicarakan orang yang bernama Risyal itu?" tanya Alina sedikit penasaran terhadap orang yang terus saja disebut namanya itu.
Tirai yang memisahkan antara shaf perempuan dan laki-laki mulai dibuka, sehingga bisa melihat mimbar yang akan digunakan sang ustadz untuk ceramah malam ini.
Gadis-gadis yang meribut tadi mulai diam dan menatap mimbar dengan tatapan menunggu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, terimakasih sebelumnya saya ucapkan karena telah memberikan kesempatan untuk saya mengisi pengajian malam ini." aku terkejut, sungguh terkejut dengan apa yang kulihat didepan sana. Risyal, aku tidak menyangka jika dia memang pemuda yang menegurku sore itu. Pantas saja jika banyak perempuan yang membicarakan dan mengaguminya dia benar-benar laki-laki idaman. Bukan hanya tampan tapi ia juga penghapal Qur'an dengan bacaan yang fasih.
Tak sengaja mata Alina dan ustadz itu bertemu, dan beberapa gadis tadi tampak terpekik tertahan melihat Risyal yang tersenyum.
Entah hanya Alina yang merasa, tapi sejak tadi ustadz itu terus saja menatapnya. Sungguh Alina merasa risih dengan tatapannya, yang ia takutkan akan ada yang berfikiran yang tidak-tidak padanya. Selain itu dia juga sadar diri, jikalau dia ini hanya seorang wanita yang statusnya masih bersuami yang seharusnya harus menjaga diri dan hati dari laki-laki lain.
"Nak Alin, bibi merasa aneh deh, kok dari tadi ustadz Risyal matanya kearah kita terus ya?" tanya Arum bingung. Ternyata bukan hanya aku yang merasa. Ketakutan itu lagi melandaku, bagaimana jika yang lain juga menyadarinya.
Setelah beberapa saat barulah Ustadz itu menundukkan pandangannya dan mulai mengalihkan tatapnya kearah lain.
Setelah itu barulah dengan tenang Alina bisa mendengar ceramahnya.
.....
Setelah selesai ceramah Risyal segeralah keluar mesjid dan ia berjalan kearah tempat wudhu.
"Astaghfirullah hal adzim." kalimat itu terus terucap dari bibir Risyal. Beberapa hari belakangan ini pikiran laki-laki yang tersohor dengan tutur kata yang lembut dan bersahaja itu tergantung.
Setelah hari itu dan yang membuatnya semakin tergantung adalah malam ini. Malam dimana ia menatap lagi yang bukan mahramnya, seperti sore itu dan yang membuatnya salah tingkah yaitu tatapnya masih pada wajah yang sama, wanita cantik nan ayu dengan gamis hitam yang menawan.
Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan air, "Kendalikan hatimu Risyal, jangan sampai kau berbuat hal itu lagi," tuturnya. Setelahnya ia mengambil wudhu dan kembali kedalam mesjid untuk memberikan salam terakhir dan menutup majelis dengan berdoa bersama.
"Baiklah, hadirin semuanya yang insyaallah diridhoi Allah SWT, kajian kali ini kita cukupkan sampai disini, dan sebelum kita pulang marilah kita menutupnya dengan doa kafaratul majelis agar segala kesalahan yang tanpa sengaja kita lakukan dalam majelis ini dapat diampuni, sehingga Majelis kita ini dapat sempurna." Risyal kemudian membaca doa kafaratul majelis.
Setelah berdoa semua orang keluar mesjid termasuk Alina juga.
"Bi, ayok kita pulang" ucap Alina. Yah hari sudah benar-benar malam bahkan jam kini menunjukkan pukul 9 malam. Pengajian yang digelar didalam tadi lumayan cukup lama, tapi itu tidak membuat Alina kapok untuk mengikuti pengajiannya lagi.
"Bentar nak," jawab Arum yang masih mencari sandalnya.
"Arum..." ucap seorang wanita yang baru saja menuruni anak tangga mesjid. Alina yang penasaran akan wanita itu ia berjalan mendekat kesana.
"Ummi Kalsum, bagaimana kabarnya?" tanya Arum sembari peluk cium ala ibu-ibu. Alina yang berada disamping Arum hanya terdiam.
"Ah, iya. Kenalin ummi, ini Alina dari Jakarta putrinya Almarhum bapak." ucap Arum memperkenalkan, sontak Alina Langsung mencium tangan wanita yang tersenyum kearahnya.
"Saya Alina Bu. Saya anaknya Abi Isman," ucap Alina.
"Alina, perkenalkan nama ummi Kalsum, kamu pindah kesini sama siapa?" ucap Ummi dengan nada yang begitu lembut.
"Sendiri ummi, saya bosan dijakarta, saya juga bekerja dirumah sakit dekat sini kok, itung-itung cari suasana baru saja." jawab Alina menjelaskan.
"Oh iya, lain kali main yuk kerumah ummi," ucap Ummi lagi dengan nada lembut.
"Insyaallah Ummi," Alina tersenyum.
"Ibu, ayok kita pulang ayah sudah menunggu disana." Suara tegas yang baru saja datang dari toilet mesjid membuyarkan perbincangan antara Alina dan ummi Kalsum.
Alina mengalihkan pandangannya kearah suara itu. Dan orang itu menghentikan langkahnya seketika, tak lama keduanya berdiam sambil menundukkan pandangannya.
"Kemarilah Risyal, perkenalkan dia Alina anaknya Almarhum Abi Isman, tidak ingatkah kau pada Abi Isman yang sejak dulu mengajarkan kau mengaji."
"Tidak mungkin saya melupakannya ibu," sambil terus menundukkan pandangannya engan untuk melihat kearah Alina yang juga sama menundukkan pandangannya.
"Assalamu'alaikum, Risyal, saya Alina." ucap Alina.
"Waalaikumsalam, saya Risyal, ibu lebih baik kita segera pulang sudah malam sekali ini," ucap Risyal sembari menarik tangan ibunya seperti anak kecil, entah dia malu atau apa tapi sungguh sikapnya sangat berubah seperti anak kecil.
"Sebentar nak, Arum aku pulang ya, Alina ummi pulang duluan ya, Assalamu'alaikum" pamit Kalsum kemudian pergi bersama Risyal yang berjalan didepannya.
"Ayok bi kita pulang," ajak Alina sambil menggandeng tangan kanan Arum. Diperjalanan pulang Alina terus saja bertanya soal Risyal, dan disana ia bisa tau siapa itu Risyal.
.....
Next✨
Jangan lupa tinggalkan like dan komenya😊 vote juga kalo bisa👌
See you💕