
Aku kembali terbangun dikamar tempatku tertidur semalam. Kududukkan tubuhku dan kusandarkan kepalaku ke ranjang. Alhamdulillah, rasa pusingku sudah tidak terasa lagi, walau rasa denyutannya masih ada.
Tak sengaja ujung mataku mendapati kehadiran Mas Akmal yang tengah tertidur disofa yang letaknya disudut ruangan. Apa dia menunggu ku disini? Sungguh, hatiku menghangat meski rasa kemarin masih menghantui ku. Kulirik jam yang tergantung di dinding. Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi dini. Kulaksana sholat subuh sebelumnya aku melakukan tayamum karna keadaan ku belum memungkinkan untuk mengambil wudhu kekamar mandi.
Diakhir sujudku, gemercik air terdengar, aku yakin itu Mas Akmal. Benar saja, ketika ku tutup sholatku dengan doa, kulihat Mas Akmal tengah khusuk dalam sujudnya.
"Sudah baikkan?" Suara bariton nya mengagetkan ku yang tengah melamun. Kulihat dia sudah duduk dikursi yang ada disamping ku. Masyaallah... Sungguh tampannya suamiku, dia mengenakan peci, Koko dan sarung. Wajahnya sungguh menghangatkan ketika ku menatapnya, dari netra hitamnya itu sangatlah berbinar benar-benar membuat hatiku berdesir, andai dia benar milikku sepenuhnya. Tidak akan ku biarkan dia jatuh cinta pada wanita lain, akan ku genggam erat dia agar selalu menjadikan ku wanita satu-satunya dalam hatinya. Astaghfirullah. Apa yang kau pikirkan Alina?
"Alhamdulillah, sudah lumayan," jawabku dengan suara lemah. Ia menganggukkan kepalanya, setelahnya keheningan menyelimuti kami berdua.
"Umi dan Azka mana?" Tanyaku memecahkan keheningan, Mas Akmal mengangkat kepalanya dan menatap ku dengan netra tajam itu. Tapi, kali ini mata itu meneduhkan hingga mampu menggentarkan hatiku, meski aku baru benar-benar mencintainya dan bagaimana pun sikapnya padaku tak dapat aku pungkiri kalau hati ini masih bergetar jika ditatap oleh matanya itu.
"Pulang," jawabnya. Dan lagi keadaan hening menyelimuti. Akhirnya Mas Akmal berdiri dan menyimpan perlengkapan sholatnya.
Setelahnya Mas Akmal izin keluar untuk membeli Saparan kekantin. Sedangkan aku hanya dapat terdiam. Apa Mas Akmal sudah mulai berubah karna ucapan umi semalam? Apa Mas Akmal telah menerima pernikahan ini? Apa ia berubah pikiran soal dirinya yang akan menikahi Sandra?
Beberapa menit diluar akhirnya Mas Akmal kembali dan membawa tentengan kantong plastik ditangannya. Namun ia tidak kembali sendiri, melainkan bersama Sandra. Sebuah senyuman kecil mampir dibibir pucatku menyambut kedatangan Sandra.
"Assalamu'alaikum Lin," salamnya dan mengambil tempat duduk disamping ku, sedangkan Mas Akmal duduk disofa sembari memakan sarapan.
"Waalaikumsalam Sandra," jawabku.
"Sudah sarapan?"
"Sudah, baru saja." Sandra mengangguk dan menyodorkan kantong plastik yang berisi buah, aku mengambil nya seraya berterimakasih.
"Maaf Alina, karna kehadiran ku, kamu jadi seperti ini." Ucapnya lirih, matanya memerah dan akhirnya menangis dihadapanku. Sungguh aku melihatnya tak tega, bagaimana pun dia sahabatku. Meski sebelumnya hubungan kita memang tidak baik. Aku menyeka air mata yang jatuh kepipinya.
"Kamu tidak salah, aku yang terlalu bodoh mengambil keputusan, tanpa memikirkan resikonya. Sudahlah, aku ikhlas jika kamu menikah dengan Mas Akmal." Jelasku. Kulihat Mas Akmal mengkerutkan keningnya tanda tak paham.
"Mas Akmal akan menjadi suamimu, dan ayah baru untuk shiran, dan aku akan menjadi sahabat sekaligus kakak untuk mu." Lanjut ku yang membuat hatiku tersentil kembali. Apa benar yang aku bicarakan ini? Semoga keputusan ini diambil menjadi awal yang lebih baik. Tapi lagi, semoga aku benar-benar ikhlas.
"Tapi..."
"Sudah ikuti saja. Aku yakin kita bisa menjadi keluarga yang baik," setelahnya aku hanya dapat pasrah dengan perkataan ku sendiri.
.....
Selama tiga hari aku disini, selama itu juga Mas Akmal menungguku disini. Sungguh, hatiku menghangat mendapat perhatian dari Mas Akmal. Walau hanya seperti mengingati makan atau minum obat, tapi perlakuannya itu mampu membuat hatiku bergetar.
Setelah berdiam tiga hari didalam ruangan berbau obat ini, aku bisa juga menghirup udara segar diluar. Dibantu Mas Akmal, aku berjalan menuju parkiran untuk kembali kerumah.
Mobil yang dikendarai Mas Akmal melaju membelah kota. Tak butuh waktu lama, mobil berwarna hitam itupun sudah terparkir di halaman rumah yang sudah lama ini ku tinggali, lebih tepatnya rumah yang kutinggali setelah menikah dengan Mas Akmal.
.....
Setelah dua hari beristirahat pasca pulang dari rumah sakit, akhirnya aku bisa kembali ke aktivitas seperti semula.
Hari ini aku kembali melakukan rutinitas, bekerja.
"Alin?" Panggil Dinda dengan suara seraknya. Tanpa aba-aba ia memeluk tubuhku erat, hingga aku sulit untuk bernafas.
"Lepas Din, susah nafas nih aku," protesku seraya melepaskan pelukan Dinda. Wanita dengan jas putihnya itu tertawa kecil melihat ekspresi ku.
"Jangan marah dong Lin," bujuk Dinda menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Iya-iya, udah ah, aku mau kerja."" Kutolak tubuh Dinda halus.
"Lin sorry ya, kemarin waktu Lo sakit, gue gak sempet jenguk. Sibuk banget," ucapnya, aku mengangguk memaklumi.
"Udah ah, sana masuk ruangan." Ujarku, dindapun berlalu menuju ruangannya. Sedangkan aku melanjutkan perjalananku menuju ruangan pasien.
"Suster Ani, kata dokter rehan, kita harus mengoperasi pasien yang bernama pak Harto, ini saya sudah bawa surat rawatnya, tolong segera kasih ke pasiennya." Ucapku pada suster Ani yang satu profesi denganku, memang sebelumnya aku tadi keruangan rehan untuk mengambil surat rawat itu, dan memberikannya kepada suster Ani, yang memang bertanggungjawab atas pasien yang ia rawat.
"Baik sust, dokter Rehan nya dimana?"
"Tidak ada, saya ada keperluan lain bersama dokter Rehan." Jawabnya. Aku mengangguk dan izin untuk undur diri karna masih ada pasien lain yang harus diperiksa.
Akhirnya selesai juga tugasku hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit. Waktunya untuk pulang. Baru saja ingin keluar lagi-lagi aku melihat Mas Akmal dan Sandra berada disini. Kali ini Shiran tidak bersama mereka.
Aku melihat mereka berkunjung kesini. Bingungnya, kenapa mereka ada di ruang pemeriksaan kandungan? Belum sempat aku bertanya, Dinda sudah lebih dahulu merangkul pundak ku.
"Alin, mau kemana?"
"Pulang," jawabku singkat.
"Yah... Temenin makan yuk?" Ajak Dinda seraya merayuku. Aku hanya menggeleng, tapi tak hentinya ia terus merayu.
"Hmmm... Ya udah Ayuk" ucapku, tanpa lama-lama kita berdua menuju parkiran mobil khusus dokter, kebetulan hari ini aku tidak membawa motor, karna Mas Akmal melarang ku untuk tidak dulu membawa motor ke favorit ku itu. Jadi terpaksa aku diantar olehnya.
.....
Setelah menemani Dinda makan, kami singgah di sebuah masjid terlebih dahulu disalah satu masjid dekat tempat aku dan Dinda makan tadi. Selesai melaksanakan sholat Maghrib, baru setelah nya Dinda mengantarku pulang.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Bukan suara Mas Akmal yang menjawab melainkan suara anak kecil. Aku masuk kedalam rumah, ternyata itu suara shiran.
"Bunda," teriaknya yang langsung memeluk ku. Aku mencari Sandra, namun tanda-tandanya tidak dapat aku lihat. Akupun menyetarakan posisi dengan shiran.
"Shiran, mama mu mana?" Tanyaku, karena sejak tadi aku mencari Sandra namun tidak ada.
"Mama pergi!" Tegasnya.
"Maksud kamu apa?" Tanyaku khawatir. Aku takut Sandra pergi karna aku. Rasa khawatir semakin besar dalam diriku.
"Shiran juga gak tau, pokoknya mama bilang, kalo shiran bakal tinggal disini dulu, sama bunda." Jawabnya. Ia tersenyum bahagia melihat kepada ku. Sedangkan, aku bingung. Dan Mas Akmal juga tidak ada dirumah, baru saja sore tadi aku melihat mereka. Tiba-tiba mereka pergi? Entah kemana perginya dan meninggalkan Shiran bersama ku. Sungguh aku bingung, tidak tahu harus bagaimana.
"Loh, terus Shiran kesini sama siapa?" Tanyaku. Gadis mungil itu sudah bergelayut manja di lenganku yang posisinya berada tepat dihadapannya.
"Ayah Akmal," jawabnya.
"Terus ayahnya dimana sekarang?"
"Dirumah mama, shiran kangen bunda, bunda gak pernah kerumah lagi, jadi shiran kangen. Terakhir ketemu bunda di rumahnya omahkan, malam ini Shiran bobo disini ya, bareng bunda," celotehnya dengan suara kecilnya.
Ya Allah, begitu teganya Mas Akmal pada ku? Dia menitipkan Shiran padaku, sedangkan dia, berduaan bersama Sandra! Astaghfirullah, begitu beratnya cobaan mu, ya Rabb.
Aku menangis dihadapan Shiran, anak kecil yang memang tidak paham posisiku saat ini. Bahkan dia berbicara jika Mas Akmal bersama mamanya saja, ia mengucapkannya dengan wajah senang. Gadis kecil ini memang tidak tahu apa-apa. Tapi, aku terluka karna ucapannya.
Mungkin jika anak ini tahu tentang kisah aku, mamanya dan Mas Akmal. Apa dia akan ada dipihak ku? Atau dia malah ingin memiliki Mas Akmal, sama seperti Sandra? Jangan sampai gadis ini seperti mamanya, ya Allah. Bagaimana pun yang dilakukan Sandra salah.
"Bunda, bunda kenapa nagis?" Tanya Gadis kecil itu lagi.
"Gak papa, bunda nangis bahagia, karna Shiran mau bobo disini." Mendengar itu Shiran bersorak girang sambil memeluk tubuhku erat. Entah kenapa meski Sandra seperti itu pada ku, namun Shiran bagiku sudahlah seperti putri kandung ku. Rasanya luka hatiku begitu saja terobati jika dia sudah memelukku erat.
Malam ini Shiran tidur bersama denganku. Anak ini begitu manja, tidur saja harus ditepuk-tepuk dulu baru tertidur. Tapi untuk membuat nya tidur tidak susah, padahal ini pertama kalinya ia tidur dengan ku. Walau berjauhan dengan Sandra, yang ku yakini orangtuanya tengah tidur bersama Mas Akmal, suamiku.
.....
Next✨
Maaf kalo part kali ini gak nyambung lagi males nulis😁 tapi semoga suka ya.
Kalo ada typo² sorry🙏🏻
Jangan lupa like, komen dan vote ya😘
Bisa follow aku ya di Instagram: @im.silpa🤗