The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|38|



Laki-laki yang tengah sibuk dengan tumpukan buku itu setiap harinya selalu saja melamun. Bahkan sifatnya berubah menjadi lebih tertutup. Zaki yang memang teman sepekerjaanya merasakan hal itu.


"Bu Nilam bagaimana kalau hari ini kita malam malam diluar?" ucap Zaki pada wanita yang tengah menikmati kopi panasnya.


"Hmmm..." Nilam menaikan alisnya. "Boleh deh, pak Akmal bakal ikut juga kan?" tanya Nilam.


"Ah iya, pak Akmal harus gabung nih," laki-laki itu hanya diam dia masih fokus pada buku-bukunya.


"Pak Akmal!" teriak Nilam.


"Iya."


"Gabung yuk, kita makan malam diluar." ajak Nilam pada Akmal. Akmal masih diam. Tak lama kemudian dia mengangguk.


Setelah itu mereka berjalan keparkiran. Setelah sampai Akmal langsung menyalakan mobilnya, Nilam dan Zaki langsung menaiki motornya masing-masing, dan mereka pun melaju ketempat makan.


.....


Usai shalat Maghrib, Alina memanjakan diri duduk didepan meja kerjanya. Setelah sibuk dengan laptopnya, akhirnya ia menyelesaikan beberapa kerjaan yang sempat tertunda.


Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


"Masuk!" seru Alina.


Pintu terbuka dan Dinda menyembul masuk.


"Dinda?" Dinda hanya tersenyum dan terus melangkah mendekati Alina, setelah dekat Dinda duduk diranjang milik Alina, tepatnya duduk disampingnya.


Dinda menarik kursi dan mendekatkan kursi itu kehadapanya. Dan kini posisi mereka saling berhadap-hadapan.


"Ada apa Din?" tanya Alina sambil menangkup tangan Dinda.


"Mmm... gimana ya ngomongnya?" bingung, matanya liar menyapu seisi kamar.


"Ada apa, sih?" dahi Alina mengerut. Penasaran melihat tingkah Dinda.


"Kitakan udah lama gak ketemu ya, gue pengen...."


"Ada apa sih, Din? Ngomong aja kali."


"Malam ini gue pengen ngajak lo makan diluar, Lin."


"Astaghfirullahaladzim. Sebegitu susahnya Din berbicara? Ya udah kalau gitu kita keluar makan malam."


"Beneran, nih? Lo gak keganggu dan terpaksakan Lin?"


"Gaklah, kebetulan aku juga belum makan dari tadi sore. Ayo kita pergi. Aku pergi kaya gini aja gak usah ganti baju dulu." Alina beranjak dari duduknya. "Tapi kita mau makan dimana?"


"Makan diluar." Dinda mengulum senyum.


"Ya maksudnya makannya direstoran, mol atau cafe mana gitu Din..."


"Nanti juga Lo tahu," jawab Dinda sambil menarik tangan Alina keluar kamar.


"Umi Alin izin keluar makan malam bareng Dinda," ucap Alina pada umi yang baru keluar kamar.


"Eh, nak Dinda." ucap umi. Dindapun mencium punggung tangan umi.


"Umi, izin ajak Alina makan diluar ya," ucap Dinda.


"Boleh." umi tersenyum.


"Kalo gitu kita pamit mi." Setelah berpamitan, mereka keluar dan masuk ke mobil milik Dinda.


.....


Sesampainya dimol, mereka berkeliling dan memasuki sebuah tempat penjualan pakaian bayi. Berbagai model baju bayi terpasang dengan beberapa aneka warna.


"Katanya mau makan, kok malah kesini?" tanya Alina.


"Pilihlah pakaian mana yang kamu suka."


Alina mengkerutkan dahinya. "Untuk apa Din?"


Dinda menunjuk kearah perut Alina.


Alina menggelengkan kepala. "Masih lama kelahirannya juga, sayang Din kalo beli dari sekarang."


"Ya gak papalah Lin, itung-itung ngumpulin dari sekarang aja."


"Gak usah Dinda nanti aja kalo udah kebulannya baru beli, mending kita cari tempat makan aja."


"Iya deh, ya udah didepan sana ada cafe kita makan aja disana." ucap Dinda.


Setelah berjalan kira-kira 5 menit, Mereka sampai dicafe itu.


Seorang pelayan menghampirinya dan menawarkan selembar menu ketika mereka sudah duduk berhadapan disalah satu meja.


"Mau pesen apa Lin?"


"Apa aja deh,"


"Ya udah, saya pesen ini, ini dan ini ya." ucap Dinda pada pelayan cafe. Sepeninggalan pelayan, wajah Alina tiba-tiba berubah menjadi tegang. Dirinya seperti terkena Sambaran petir, gugup, takut bercampur didalam hatinya. Bahkan jantungnya sangat sulit dikendalikan. Perasaan yang diselimuti luka kembali bangkit dalam dadanya. Alina menarik nafas dalam-dalam. Lalu dengan cepat Alina menunduk dan menutupi wajahnya dengan tas miliknya.


Dinda yang menyadari tingkah aneh Alina. Matanya celingukan mencari sumber yang menurutnya membuat orang dihadapannya tiba-tiba aneh.


Suasana yang seharusnya romantis malah menjadi tegang.


"Alina." panggilan itu menambah suasana semakin horor.


Dinda beranjak dari duduk dan mendekati Alina setelah orang tadi menghampiri mereka.


Alina hanya diam. Dan orang itu memasang wajah tak percayanya.


"Alina, saya Akmal." suaranya bergetar.


"Selama ini saya mencarimu, tidakkah kau merindukan suamimu ini." Mata Dinda refleks memutar.


"Basi!" celetuk Dinda.


"Terimakasih sudah mencari." jawab singkat Alina.


"Bagaimana keadaanmu? Perutmu..."


Sebelum tuntas Akmal berbicara Dinda memotong ucapannya. "Dia baik-baik saja, sudahlah Akmal, kau tidak perlu sok peduli seperti itu, bukannya kau sudah membuang Alina! Untuk apa kau bertanya lagi soal keadaannya, dia maupun bayinya akan baik-baik saja walaupun tanpamu!" tegas Dinda.


"Aku tidak membuangnya, kau tidak perlu ikut campur dengan urusanku." timbal Akmal dengan gaya dinginnya.


"Lihatlah Alina, dia bilang aku tidak boleh ikut campur! Selama ini siapa yang jadi tempat bersandarnya bukankah itu aku, Akmal. Sedangkan apa gunanya kau, sudah jelas kau hanya bisa menyakitinya." Dinda menyunggingkan bibirnya tanda tak suka.


Ponsel disaku celana Akmal bergetar. Akmal meraih ponsel disaku celananya. Ada panggilan masuk. Dari Sandra.


"Mas kamu dimana?"


"Aku lagi makan malam diluar, ada perlu apa?"


"Oh begitu, tidak. Aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa." Jawab Sandra diseberang telepon.


"Aku baik-baik saja,"


Tertegun, dalam hati Alina bertanya-tanya. Apa itu Sandra? Sedekat apakah mereka sekarang?


"Aku dengar Alina dijakarta, mas." ucap Sandra.


"Iya, sekarang aku tengah bersamanya." jawab Akmal sembari menatap lekat Alina, sedangkan Alina dia hanya menunduk.


"Benarkah? Aku sangat merindukannya, jika bisa ajaklah dia kerumah ku mas."


"Mas akan mencoba mengajaknya,"


"Bilang sama Alina kalo Shiran kangen bundanya," ucap Sandra. Yang memang terdengar jelas ditelpon itu suara anak kecil yang terus saja memanggil nama Alina.


"Baiklah, mas tutup."


Setelah itu, Akmal memasukan ponselnya kembali ke saku celananya.


"Alin, tadi yang nelpon Sandra, dia bilang pengen ketemu kamu. Dan Shiran juga rindu katanya," celetuk Akmal. Alina mengangkat wajahnya menatap laki-laki dihadapannya. Masyaallah wajah itu memang tidak pernah berubah masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tampan.


Alina tersenyum, "Aku juga rindu Shiran."


"Bagaimana kalau malam ini kita kerumahnya," ajak Akmal sembari melihat arloji ditangannya. Pukul 20.00.


"Sekarang?" Alina tampak keberatan.


"Iya. Memang kau tidak mau?"


"Bukan gak mau, cuman aku belum siap, mungkin lain waktu saja. Rasanya udah malam juga aku takut umi nungguin dirumah." ucapnya mengingat uminya yang mungkin tengah menunggunya sekarang.


"Kamu lupa?"


"Lupa apa?"


"Aku ini suamimu,"


Deg. Ucapan Akmal seketika membuat organ tubuh Alina merasakan getaran aneh.


"Aku yakin umi gak bakal marah kalo kamu pergi sama Mas, kamu gak usah takut, Mas bakal lindungin kamu kok, apalagi sekarang kamu lagi ngandung anak kita."


Dibalik tundukannya itu tersimpan wajah semu, senyuman kecil juga hadir disana. Belum lagi dengan jantungnya yang berdesir. "Anak kita?" Mengingatnya saja membuat hati Alina berbunga-bunga. Perasaan aneh kembali menggejolak dan membucah didalam dada. Untuk pertama kalinya lagi Alina merasakan getaran ini. Alina menarik nafas dalam-dalam. Akmal telah melumpuhkan hatinya dalam waktu sesingkat itu.


"Jangan Lin, mending kita pulang aja, aku yakin nanti kamu kalo ikut kesana pulang-pulang bakal nangis lagi." ucap Dinda memecah keheningan.


"Mending lo pulang deh! Gak usah pake ngajak-ngajak Alina, dia bisa pulang bareng gue." tambah Dinda sinis. Akmal masih menatap Alina, setelah itu barulah dia beralih kearah Dinda.


"Lo aja yang pulang, kasian suami lo dirumah ngurusin anak!" jawab Akmal yang membuat Dinda sedikit tersinggung.


"Eh, kenapa lo pake bawa-bawa suami gue." Dinda menggebrak meja. Beberapa orang yang tengah makan tiba-tiba beralih kearah mereka.


Alina yang merasa tak enak angkat bicara, "Udah Din, udah. Bener apa yang dibilang Mas Akmal mending kamu pulang udah malem juga,"


"Tapi Lin...."


"Gak papa Din, aku bakal ikut Mas Akmal buat ketemu Shiran, nanti aku telpon umi kok buat bilang kalo malam ini aku sama Mas Akmal." ucap Alina. Dinda yang memang sudah geram tapi tidak bisa berucap apaapa lagi dia hanya mengangguk.


"Oke deh, aku pulang ya, kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa telpon aku aja," ujar Dinda khawatir lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Ya udah kita langsung kerumahnya aja," ajak Akmal.


Baru beberapa langkah tiba-tiba suara teriakan menghentikan langkahnya. "Pak, gimana sama makan malemnya?" Akmal menoleh kearah sumber itu.


"Kalian saja, saya ada urusan penting." jawabnya lalu melanjutkan jalannya.


Mereka beriringan karena Alina merasa canggung pada sang suami dia memilih mengikuti dibelakang dari pada harus bersisian atau bahkan didepannya.


.....


Next ✨


Semoga suka sama part ini🤗


**Jangan lupa like, komentarnya 😁


Jangan lupa follow juga IG author: @im.silpa