The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|40|



Sudah pukul sebelas malam dan hujan mengguyur kota Jakarta sejak satu jam tadi belum juga reda.


Memandang dari balik jendela kamarnya, Alina dapat melihat jalanan disebrang sana yang sepi. Setelah Akmal mengantarnya sampai dirumah tak lama hujan turun, sebenarnya saat itu Alina ingin sekali bilang pada sang suami, diluar hujan jadi lebih baik kau menginap disini. Tapi niatnya urungkan karena rasa malu yang begitu besar.


Matanya masih menatap jalanan yang sepi, hanya ada beberapa pengendara motor berjas hujan yang berlalu lalang. Hingga matanya mendapati objek yang sangat dikenalnya. Ya, mobil hitam itu... Suskes mengalihkan perhatian Alina. Dan Alina tahu siapa pemilik mobil itu.


Dengan segera Alina berjalan keluar kamar. Belum sempat ia sampai di pintu utama rumahnya. Umi lebih dulu bertanya.


"Mau kemana Alina?"


"Anu... Anu umi..." jawab Alina gugup.


"Mau kemana? Diluar hujan lebat nak,"


"Diluar ada Mas Akmal umi," ucap Alina.


Umi menghampiri Alina lalu berkata, "Bukannya tadi dia susah pulang?"


"Iya. Sepertinya Mas Akmal balik lagi umi, apa boleh Alina menyuruhnya masuk?" tanya Alina dengan nada pelan.


"Suruhlah masuk, Alina. Kasian suamimu takutnya nanti dia kedinginan." ujar umi tanpa lama Alina mengambil payung dan berlari kemobil hitam itu.


Diketuk kaca mobil oleh Alina. Setelahnya terlihat jelas orang didalam mobil itu memang Akmal.


"Mas, kenapa Mas disini? Kenapa gak masuk?" tanya Alina. Akmal yang awalnya menatap kini menundukkan wajah.


"Aku malu padamu dan umi," jawabnya lirih.


"Kenapa harus malu, ya sudah, mending kita masuk Mas diluar dingin." ajak Alina sembari membuka pintu mobil. Setelah Akmal keluar dari mobil barulah mereka berjalan masuk kerumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Akmal setelah sampai diambang pintu. Sedangkan umi tengah duduk dikursi.


"Masuklah nak Akmal." barulah Akmal melangkah masuk.


"Bagaimana kabar umi?"


"Alhamdulillah umi baik. Lebih baik nak Akmal mandi terus ganti baju, takutnya masuk angin, Alin ayok ajak nak Akmal masuk kamar." titah umi. Alina sempat mengkerutkan dahinya, tapi setelahnya ia membawa Akmal kekamarnya.


Sesampai dikamar Akmal maupun Alina hanya diam. Mereka enggan untuk pembuka pembicaraan.


Menit berikutnya barulah Alina berkata, "Lebih baik Mas mandi dulu, Mas laper gak? Kalo iya Alin masakin" Akmal hanya melongo kemudian mengangguk. Setelah itu langsung masuk kamar mandi.


.....


Lima belas menit dikamar mandi akhirnya Akmal keluar juga dengan tampang segar dan hanya memakai handuk dari pinggang hingga lutut.


"Makanannya mana?" Akmal kira Alina sudah memasakan makanan untuknya, dan ia kira tadi Alina sudah tidak didalam kamar, karena itu dia keluar tanpa memakai baju terlebih dahulu.


"Mm... itu. Itu mas, Alin lupa tanya Mas mau makan apa?" ucap Alina sembari memalingkan wajah. Akmal bisa melihat pipi sang istri merona. Bibir Akmal tertarik keatas membentuk lengkungan samar.


"Apa saja yang penting gak beracun" Akmal mendekati Alina.


"Eh.. Mas." ucap Alina setelah menyadari jika posisinya sang suami benar-benar dekat dengan tubuhnya.


"Kenapa? Takut?"


"N-nggak kok mas, ya udah aku keluar ya mau masak dulu" usai berujar, Alina langsung berjalan cepat menuju pintu untuk keluar dari kamar. Akmal melihat kepergian Alina, begitu pintu tertutup Akmal menggeleng-geleng dengan lengkungan dibibirnya yang semakin kentara.


.....


Alina meletakkan sepiring nasi goreng didepan Akmal. Tak lupa denga telur dadar mata sapi.


"Maaf Alin cuma bisa masak ini. Kebetulan didapur bahan-bahan masak abis. Jadi cuman ada ini," Alina hanya memasak nasi goreng dengan bahan-bahan alakadar yang ada didapur.


Akmal tidak menyahut dan protes apa-apa, segera dia memakan apa yang tersaji dihadapannya.


Setelah melihat sang suami mulai makan, Alina langsung beranjak dari posisinya. Berniat kedapur untuk membersihkan peralatan yang tadi dipakai untuk memasak.


"Mau kemana?"


"Alina?"


Alina yang baru saja berbalik kembali memutar badan kearah sang suami dengan tampang bertanya. Ada apa ini? Apa masakanku tidak enak? Pikirnya.


"Terimakasih untuk nasi gorengnya, enak sekali"


Alina yang kebingungan harus menjawab apa ia hanya mengangguk. Lalu berjalan kembali kedapur, dan Akmal melanjutkannya acara makannya.


.....


Alina duduk ditepi ranjang dengan perasaan gugup. Sejak tadi jantungnya tak dapat berhenti berdetak dengan begitu cepat.  Alina memeriksa pakaiannya. Ia sudah mandi dan mengganti baju tidurnya dengan yang baru beserta kerudungnya.


Alina sontak berdiri sang menggeleng. "Mas bisa tidur dikamar ku malam ini, biar aku tidur dikamar tamu."


Akmal mengkerutkan keningnya bingung. "Kenapa harus tidur dikamar tamu?"


Alina berpikir sejenak kemudian menjawab, "Kalau Mas nggak nyaman dikamarku, Mas boleh tidur dikamar tamu kok. Kamarnya sudah bersih kok."


"Apa tidak boleh kita tidur satu kamar?"


"Ap...apa Mas?" tanya Alina ragu.


"Kasur inikan besar," sambil melirik kearah ranjang milik Alina. "Cukup untuk kita tidur berdua satu ranjang."


"Ap...Apa Mas bilang?" Alina merasa dirinya bermimpi. Untuk pertama kalinya laki-laki itu meminta untuk tidur satu kamar. Ingat sekali dulu sebelum Alina hamil, Akmal tak pernah tidur satu kamar dengannya. Jika bukan karena kejadian malam itu mungkin sampai saat ini Alina tidak akan mengandung anaknya. Begitulah skenario Allah tidak ada yang tidak mungkin terjadi didunia ini. Jika memang sudah takdir bagaimanapun caranya akan tetap terjadi.


Akmal dan Alina saling bertukar pandangan. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat.


"Lebih baik kita tidur sekarang. Sudah malam," Akmal bergerak cepat dan langsung mematikan lampu kamar secara tiba-tiba.


Akmal mendengar sang istri memekik pelan. "Mas Alin gak bisa bisa liat! Terlalu gelap. Susah nafas juga..." Alina meresa harus menyesuaikan matanya dalam keadaan gelap yang tiba-tiba menyelimuti. Meski awalnya merasa panik, Alina mulai tenang saat sebuah tangan yang menyentuh lengannya.


Tangan itu menuntunnya naik keatas ranjang. Saat ada sebuah tangan lain yang menyalakan lampu tidur diatas balasnya, Alina mulai bisa menghela nafas lega.


Akmal tersenyum melihat ekspresi sang istri. "Mas baru tahu jika kamu tak suka gelap."


Alina menoleh, "Bukan gak suka cuman gak nyaman aja."


"Sama aja Alina."


"Tidak, Mas..."


Akmal terkekeh pelan. Membuat Alina yang pertama kali menyaksikan tawa Akmal jadi termanggu.


"Iya, iya terserah kau saja." ucap Akmal.


Alina tersenyum malu. Setelah itu Alina membaringkan tubuhnya. Dan Akmal menyusul tidur disampinganya. Alina tidur  membelakangi Akmal.


Alina mencoba memejamkan mata. Tapi ia tak menemukan rasa kantuknya. Alina penasaran dengan Akmal apa suaminya sudah tidur, Alian menolehkan kepalanya perlahan disusul dengan tubuhnya.


Sayangnya Akmal belumlah tidur. Lelaki itu masih berjaga. Bahkan kini Akmal memiringkan tubuhnya dan hingga diposisi mereka. Mata Akmal seolah mengunci matanya agar tidak mentanap kearah lain selain mata cantik itu. Kini jarak mereka sangatlah dekat, bahkan mereka sudah tertutup selimut hingga pinggang mereka masing-masing.


"Apa kamu marah?"


Alina diam dengan sambil terus menatap mata sang suami.


Alina menggeleng. "Alin tidak marah. Dan Mas tidak perlu merasa bersalah."


Akmal tersenyum kecil, puas mendengar jawaban sang istri. Keduanya kembali terdiam hingga kantuk menyerang Alina, lambat lain matanya mulai menutup.


Saat mata Alina menutup dengan sempurna, Akmal tersenyum melihatnya. Sekian lama akhirnya ia bisa melihat wajah sang istri lagi dari jarak lebih dekat. Dalam diri seorang Akmal begitu banyak rasa yang tak dapat dijabarkan. Ia bersyukur masih bisa bersama Alina.


Akmal mendekati Alina dengan perlahan, berusaha tak menimbulkan suara. Tangannya naik keatas pinggang Alina. Ia mendorong pelan kepala Alina agar menepel didadanya. Ia juga membenarkan letak selimut hingga menutupi seluruh tubuh mereka.


Akmal ikut memejamkan matanya. Ia mengecup kening Alina dengan lembut tanpa sepengetahuan wanita itu. Akmal juga sempat mengelus pelan perut yang buncitnya. Akmal juga mencium harum aroma dari rambut sang istri yang sudah terlepas dari hijab.


"Maafkan aku, Lin...."


Rasa bersalah tak pernah bisa ia hilangkan dari dirinya, seberapa banyak ia menyakiti wanita ini.


"Maafkan Mas...."


Akmal memeluk erat tubuh Alian didalam dekapannya. Ia terus mengulang permintaan itu hingga didinya ikut terlelap. Ia berharap esok akan menjadi hari yang baik. Dan berharap esok matahari akan bersinar membawa cintanya kembali.


.....


Next✨


Jangan lupa vote dan komentarnya👌


Karo besok ada


Typo-typo maaf ya🙏🏻


Follow Instagram;


@im.silpa


Facebook:


Jeon Silpa.