The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|15|



"Aku tidak membenci mu, aku hanya ingin kau tahu, jika yang sekarang aku rasakan seperti dibunuh, tapi tidak mati. Berusaha menjadi yang terbaik, tapi tetap salah. Berusaha mencintai, tapi tidak berarti karena masalalu mu datang mempengaruhi, sehingga membuat ku tenggelam bersama luka."


_Alina Yasvia_


"Saya tidak akan menikahi Sandra. Jika kau tidak mengijinkan. Tapi, saya juga tidak bisa meninggalkan Sandra, demi mempertahankan pernikahan ini."


Alina ingin sekali berteriak dan memaki Akmal kalau dia itu tidak berperasaan. Namun daya apa yang bisa ia lakukan? Ia benar-benar terjebak ditengah badai besar. Jika bertahan, apa sanggup ia melihat wanita lain yang dicintai suaminya? Meski itu sahabatnya. Jika menyerah, sudah dipastikan ia tidak menjalankan amanah abinya dengan baik. Dan itu tidak ingin Alina ingkari.


Alina menghampus air matanya kasar, "aku lebih baik dimadu Mas, dari pada pernikahan ini rusak. Aku tidak ingin membuat Abi sedih disana,"


"Karena pernikahan ini amanah yang harus digaja." Sambung Alina. Alina tidak tahan melihat wajah suaminya.


"Baiklah, aku akan tetap menikahi Sandra. Dan juga, mempertahankan pernikahan ini."


"Aku berdoa semoga Mas bahagia." Alina terus menangis tersedu tanpa suara. Sesekali menggigit bibirnya kuat-kuat meredam gelombang besar yang bergejolak didalam dadanya. Kenapa Akmal Setega itu padanya? Apa salahnya? Saat Alina benar-benar mencintai dan menerima pernikahan ini, kenapa ujiannya begitu berat? Saat ini Alina benar-benar berharap waktu berhenti sejenak, ia ingin mengistirahatkan perasaannya. " Ya Rabb apa hamba tidak pantas untuk bahagia? Apa hamba bukan sumber kebahagiaannya? Jika ya, tuntunlah hamba agar tidak terus berada dalam keterpurukan. Ingatkanlah hamba jika rencana-mu jauh lebih indah."


"Tentu saja. Aku akan bahagia, karena dia adalah wanita pilihan ku."


"Ya, semoga pilihan Mas itu memang jodoh Mas."


Alina berlari dari tempat itu. Dia benar-benar tidak kuat lagi untuk berdiri. Hati dan jiwanya seakan remuk redam. Hatinya benar-benar hancur. "Ya Allah sesakit inikah mencintainya? Sebenarnya tak mudah untuk melepaskan Mas Akmal dengan wanita lain, meski wanita itu sahabat ku. Tapi hamba harus, karena keadaan memaksa hamba untuk melepasnya. Padahal hamba sudah menetapkan hati ini padanya, begitu dalam. Semoga hati hamba ikhlas menerima, dan masih tetap bisa bahagia, meski berpura-pura bahagia itu melelahkan." Alina tidak pernah melakukan apapun tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Bagi Alina dengan selalu melibatkan Allah, dirinya selalu gampang bersyukur atas nikmat-nya. Karena sebaik-baik nya curhat pada manusia, tempat curhat yang paling tepat hanya pada Allah. Itu yang selalu Alina ingat dan terapkan.


Alina melepas mukenanya, rambut yang selalu ia tutupi dengan khimarnya kini tergerai bebas, ia tidak langsung memakai hijab seperti biasa. Lalu melempar tubuhnya ketempat tidur, menenggelamkan wajahnya pada bantal. "Laki-laki tidak punya hati! Jahat! Kejam! Selalu berbuat seenaknya!' seru Alina memaki, saat ini Alina ingin melampiaskan kekesalannya dengan menangis. Setelah menangis tersedu-sedu dengan niat untuk mengurai sesak di dadanya. Alina akhirnya berhenti setelah merasa lelah dan perlahan tertidur.


.....


Melihat kekecewaan mendalam di mata Alina menimbulkan rasa bersalah dihati terdalam Akmal. Tapi, sudahlah! Lagi pula salah siapa melibatkan hati. Sekeras apapun ego Akmal menyangkal rasa bersalah itu semakin menguasai. Ada yang salah dengan Akmal, sebelumnya ia tak pernah sekalah ini dengan hatinya. "Arghh!!!" Akmal mengacak rambutnya lalu bangkit dan melangkah menuju kamar Alina. Sesampainya disana ia masih terlihat ragu, hingga akhirnya ia tertegun diambang pintu melihat Alina tertidur lelap. Seharusnya ia tidak sekhawatir itu tadi.


Akmal melangkah masuk, baru kali ini ia melihat rambut istrinya tergerai tanpa hijab. Lalu berjalan hingga berhenti tepat dimana wajah Alina berada. Lagi. Akmal sudah salah. Alina tidak baik-baik saja. Rasa bersalah kembali timbul di hati Akmal. Di balik helaian rambutnya masih terlihat jelas bahwasanya kedua mata Alina membengkak, bantalnya basah. Mungkin wanita ini tertidur ketika menangis, bisa dilihat dari tubuhnya yang masih sesegukan.


Akmal mendekatkan wajahnya pada wajah Alina lalu tangannya menyampirkan bagian rambut yang menutupi wajah gadis itu. CANTIK! Satu kata yang tiba-tiba muncul di benak Akmal.


"Maaf," ucapnya pelan sembari mengusap pipi Alina. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Alina. Setelah itu keluar dari kamar.


.....


Sudah dua minggu ini Azka di luar kota mengikuti kajian, selama itu juga hatinya merindukan Alina. Wanita cantik yang sudah lama ia cintai.


"Azka bakal pulang kerumah. Kalo bunda berhenti cariin Azka istri." Ucap Azka. Ia memang tidak suka dengan sikap bundanya yang terus saja gencar mencarikan istri untuk nya. Padahal Azka tidak ada niat untuk membuka hatinya untuk wanita lain, karna yang ada di hatinya hanyalah Alina.


"Bunda bakal berhenti kalo kamu mau lupain Alina, ingat! Alina sekarang sudah menjadi istri orang lain, bunda tidak ingin kamu melewati batas hingga merusak rumah tangganya. Bunda tau kamu mencintainya, tapi cinta itu salah Azka, kamu tidak boleh terus menaruh hati padanya, masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya." Jelas Nina pada Azka. Seberapa besar bundanya itu memberi tahu, Azka masih tetap keras kepala, ia masih tetap pada pendiriannya dan ia akan tetap bertahan dizona nyamannya. Meski hatinya akan terus terluka.


"Sudah menikah belum tentu jodoh, Bun. Bisa jadi Allah membalikkan hatinya untuk ku, meski masa itu membutuhkan waktu dan luka. Azka percaya, Alina adalah jodoh ku." Ucap Azka.


Setelahnya Azka menutup telpon nya. Apa iya Alina jodohku? Pertanyaan itu muncul dalam pikirnya.


Bidadari surgaku


Assalamu'alaikum, bagaimana kabarnya Lin? Besok aku pulang, mau dibawakan oleh-oleh apa?


Ketikan pesan itu berhasil terkirim.


Terdengar suara notifikasi di ponsel Alina, Alina membuka pesan itu dengan rasa malas. Karena saat ini benar-benar tidak punya tenaga, lemas rasanya mungkin ini adalah efek dari menangis tadi.


Di tempat lain seseorang tengah menunggu balasan dari bidadari nya. Ya, itu Azka, ia tidak menyadari jika sedari tadi dirinya tidak sabar menunggu balasan dari Alina.


Bang Azka


Gak perlu oleh-oleh apa, cukup kamu sampai dengan selamat alin udah bersyukur. 😊 Oh iya, besok kita ketemu ya.


Seketika senyum Azka merekah. Lalu membalasnya cepat di sertai emoticon senyum manis balik.


.....


Next✨


Jangan lupa lovenya, komen dan voteπŸ‘ŒπŸ˜Š


Kalo ada typo maaf yaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Instagram ku: @im.silpaπŸ€—