
Umi menatapku dengan bingung, keheningan berkerut menandakan ia tidak paham dengan aku yang pulang dalam keadaan menangis berat. Dan beberapa barang yang aku bawa.
Aku tau umi ingin bertanya apa maksud dengan semua ini, tapi aku ragu untuk menjelaskannya.
Dengan tekad yang kuat ku mulai menjelaskan pada umi. "Umi," panggilku.
Belum sempat aku berbicara, umi sudah terlebih dulu menanyakan apa maksud dari barang-barang yang kubawa.
"Maaf umi, Alin gak bisa pegang amanah Abi lagi, tapi ini keputusan Alin,"
"Maksud kamu?" tanya umi bingung. Aku takut untuk mengatakannya, tapi aku harus melakukannya.
"Alin akan bercerai dengan Mas Akmal." ucapanku membuat umi terdiam.
"Apa maksudmu?" tanya umi lagi. Aku menundukkan kepalaku.
"Maaf umi, Alin sudah buat keputusan ini, sementara waktu Alin akan pergi dulu, Alin mohon umi izikan ya, Alin ingin memperbaiki hati Alin," ucapku.
Awalnya umi hanya menatapku dalam diam, namun kini umi bergerak dan mendekatiku. Ia mengusap kepalaku lembut.
"Umi gak bisa larang kamu sayang, kamu sudah besar dan berhak untuk memutuskan keputusanmu sendiri, tapi apa kamu yakin kalau kamu tidak akan menyesal dengan keputusanmu?" tanya umi lagi.
"Alin yakin umi, keputusan ini sudah bulat,"
"Kemana kamu akan pergi?" tanya umi dalam nada bicara pelan.
"Tidak jauh umi, Alin hanya akan belajar dipondok pesantren Azka."
"Baiklah, umi mengizinkanmu."
Walau ragu, tapi akhirnya izin itu dapat aku kantongi juga. Dengan mengucap basmallah aku menyakinkan hatiku bahwa ini keputusan terbaik.
Ya Allah....
Yang kutakutkan terjadi juga. Aku merasa bersalah pada Abi, karna tidak bisa menjalan amanahnya dengan baik. Tapi bagaimana lagi semua masalah itu sangatlah berat untukku.
.....
Alina menyusuri trotoar dengan pandangan kosong. Langkahnya lunglai tanpa arah. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Lagi-lagi air matanya mengalir, tidak sungkan meski ada beberapa orang melihatnya.
Alina menjatuhkan tubuhnya. Berjongkok memeluk lututnya dan menangis disana. Ya Allah, kenapa kau berikan ujian yang begitu berat kepadaku? Aku sudah mencintai suamiku. Tapi kenapa aku harus melihat suamiku mencintai wanita lain? Apa cintanya tak bisa untukku? Aku hanya ingin dia mencintaiku sama seperti dia mencintai wanita itu.
Suara tangis Alina semakin pecah. Beruntung tempat itu sepi dengan orang yang berlalu lalang. Hingga dia bisa menangis dengan keras mencurahkan semua beban kesedihannya.
Alina mengangkat wajahnya, dengan lesu dia bangkit berdiri. Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus Sandra? Alina melangkahkan kakinya yang lemas. Langkahnya serasa sempoyongan tanpa tenanga.
Sungguh, dia bingung harus bagaimana? Meski dia bilang pada umi akan belajar dipondok pesantren Azka, tapi bagaimana jika Azka bertanya. Ia tidak ingin oranglain tahu tentang masalahnya.
"Awas!" seru sebuah suara membuat Alina menengadahkan kepalanya.
Dia mengalihkan matanya menatap mobil yang sudah didepan matanya, "Aaa!!!" teriaknya.
Namun, sebuah tangan meraihnya, hingga mereka terpental kepinggir jalan. Alina memekik kencang saat menghantam trotoar jalan.
Alina mengerang keras, merasa ngilu pada pergelangan tangannya yang jatuh tertindih, juga kepalanya yang terbentur bahu jalan. Dia menatap seseorang yang telah menyelamatkannya, matanya membelalak, terkejut luar biasa.
"Dokter Rehan?" ucapnya. Menit berikutnya ia merasa pusing karna darah yang mengalir dari kepalanya. Alinapun ambruk dipangkuan dokter itu.
.....
Alina menyadarkan tubuhnya dibantalan kursi. Ditatapnya pemandangan luar dari kaca jendela. Pandangannya kosong dengan helaan napas yang terasa berat. Sakit, luar biasa rasanya. Pandangan lurus tanpa tujuan, hingga sesuatu menarik perhatiannya. Matanya membulat, dengan sigap ia menegakkan tubuhnya.
"Dokter Rehan?" gumamnya, menatap laki-laki yang berjalan mendekatinya.
Alina menahan napas. Jantungnya yang penuh dengan derap pasukan ketakutan mungkin kejadian beberapa bulan lalu akan menimpanya lagi. Ia ingin meminta dan memohon, tapi terlalu takut untuk membuka mulut.
Sebuah tendangan sepatu boot sampai ke perutnya membuat wanita itu ambruk. Mulutnya memuntahkan darah. Seluruh tubuhnya lemas. Ia menjerit tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhnya bergemetar.
Alina mencoba bangkit. Ia duduk dengan tegap bersandar ketembok sembari menatap laki-laki didepannya. Kemudian matanya beralih ke aliran darah yang keluar melewati kakinya. Alina hampir lupa jika tengah mengandung anak dari sang suami, yang usia kandungannya baru berusia 2 bulan.
Flashback
Alina mengerjapkan matanya, tubuhnya benar-benar terkulai lemas diatas ranjang. Matanya mencari sang suami, namun ia teringat kembali. Jika suaminya tidak dirumah.
Cklekss....
Seorang Dokter menghampiri Alina. Dokter yang tadi ditelponnya, Dokter yang ber- nametag 'Ednan Abraham'.
"Selamat malam." sapanya ramah. Alina hanya membalas senyuman.
Dokter itu mulai memeriksanya...
"Gejala ibu hamil memang seperti itu.." nafas Alina seakan berhenti, apa katanya? Gejala ibu hamil? Itu tandanya...
"Kamu hamil, dan sekarang sudah menginjak 2 bulan. Selamat ya Bu.." bibir Alina seketika melengkungkan senyum, ia benar-benar bahagia. Benih yang ditanam Akmal sudah benar-benar membuah hasil, dan sekarang ia hidup. Tangan Alina refleks mengusap perutnya yang masih datar.
"Pasti suami ibu Alina bahagia mendengar kabar ini." ucap Dokter Ednan, lengkungan senyum kebahagiaan itu perlahan-lahan menghilang. Dan usapan lembut diperutnya perlahan ikut berhenti.
"Saya sarankan, ibu jangan terlalu banyak aktifitas yang berat, dan jaga pola makan juga, jangan terlalu memikirkan pikiran yang tidak-tidak yang nantinya membuat ibu setres, karena itu rentan untuk kondisi hamil muda." Dokter Ednan yang telah selesai memeriksa Alina, ia beranjak dari duduknya.
Dan Alina masih diam memikirkan sesuatu.
"Istirahat yang cukup ya Bu Alin.."
"Kalau begitu saya permisi keluar, sekalian saya pamit pulang." Dokter Ednan membalikkan badannya. Tapi ia batalkan niatnya saat Alina menyuruhnya untuk menunggu.
"Ada apa?"
Alina mengambil nafasnya panjang. " Jangan beritahu siapa-siapa ya..."
"Maksudnya?"
"Ya Dokterkan nanti pasti sering saya telpon buat periksa saya lagi, takutnya nanti pas suami saya dirumah, dan dia bertanya tentang keadaan saya bilang saja kalo kondisi saya tidak apa-apa. Jangan kasih tau kalo saya hamil," Dokter Ednan hanya mengangguk. Meski sebenarnya cukup tak percaya dengan ucapan wanita didepannya itu. Tapi ia menuruti permintaannya dan segera berpamitan keluar.
.....
Setelah kepergian Dokter Ednan, aku teringat kebersamaanku dengan Mas Akmal ketika makan malam bersamanya. Makan malam pertama ku dengan Mas Akmal, telur dadar? Yang membentuk bulat mata sapi.
Bahkan suasananya masih hangat terbayang di benakku. Malam itu adalah malam terindah untukku, dan aku kira malam berikutnya akan terus seperti itu. Tapi tidak, setelah malam itu masalah malah makin besar menimpaku. Hingga aku memutuskan untuk pergi, dan merelakan suamiku bersama sahabatku, Sandra. Wanita yang sejak dulu dicintainya.
Flashback off
Alina mengerjap. Dia harus berbuat sesuatu. Jika tidak permainan laki-laki didepannya akan semakin kejam. Mata kelabu Alina penuh dengan nyala api. Tidak ada ketakutan sama sekali. Ia percaya jika Allah akan melindunginya. Matanya yang begitu berani terpancar. Tapi sorot mata itu tidak membuat orang didepannya takut, malah semakin membuatnya bersemangat untuk menambah siksaan. Sebuah sabetan gesper liar memecah diudara. Besi gesper itu berhasil menghantam kepalanya, hingga Alina sempoyongan dan jatuh kelantai yang dingin.
Tidak ada rasa sakit yang menyamai sakit didalam hatinya. Meski kematian kini waktunya. Ia ikhlas, ia percaya jika semua ini adalah takdirnya.
"Ya Allah, jika ini memang ajalku, aku menerimanya, tapi semoga matinya aku dalam keadaan Khusnul khatimah. Aku ingin bertemu Abi disurgamu ya Rabb, Laailaha illahwah Muhammadur Rosulullah..." gumamnya dalam sadarnya sebelumnya akhirnya ia benar-benar pingsan.
.....
Alina terbangun kembali dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Pelan-pelan, ia menggerakkan ujung jarinya yang kaku, lalu pergelangan tangan, kemudian siku dan bahunya. Ia berusaha menarik tangannya kedepan. Lemas.
Aku masih hidup?
Alhamdulillah, tak hentinya ia mengucap syukur. Meski keadaannya sangat menyedihkan. Ia harus segera melepaskan kegelapan yang melingkupinya agar bayangan kejadian itu menghilang.
Sebuah napas panjang meluncur dari bibir keningnya. Berkali-kali dia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang perih. Tapi, sejenak kemudian dia tersenyum.
Alina memberanikan diri membuka pintu. Tidak terkunci. Tidak ada lubang kunci. Hanya gagang pintu biasa berwarna perak. Ia makin waspada.
Bagaimana mungkin Dokter Rehan melakukan kecerobohan seperti ini?
Mungkin ini jalan yang Allah tunjukkan untukku, aku yang memang membutuhkan bantuan.
Lagi, Alina mengambil beberapa nafas panjang sebelum memberikan diri membuka lebar pintu kamarnya. Bisa saja Dokter Rehan berjaga diluar. Sambil menahan nafas, dia keluar dengan pelan dari pintu itu.
Alina berjalan pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Hingga ia sampai di pintu utama rumah itu, ia membukanya secara perlahan dan berhasil keluar dari sana.
Nafasnya berderu kencang. Ia terus berlari menjauh dari rumah itu. Dalam keadaaan lemas Alina terus berlari menyusuri jalan. Jaraknya kini sudah lumayan jauh dari rumah itu, matanya terus mencari orang untuk dimintai bantuan tapi jalanan sepi, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di jalan ini.
"Ya Allah, hamba serahkan semua hidup ini kepadamu. Hamba percaya, engkau tidak akan membebani hambamu dengan ujian diluar batas kemampuan para hambamu. Hanya kepada engkaulah hamba berserah diri."
Air mata Alina meluncur begitu deras membasahi kedua pipinya.
Matanya celingak-celinguk tiada henti, hingga kumandang adzan ashar terdengar merdu. Matanya memejam hingga akhirnya ia melanjutkan jalannya untuk mencari musola terdekat untuk membersihkan diri dan memunulaikan sholat.
Berjalan hampir 15 menitan akhirnya Alina mendapati musola yang cukup besar, dan disana tengah mengadakan pengajian bapak-bapak. Dengan kaki, kepala yang dilumuri darah, dan tangan yang bengkak, Alina masuk kekamar mandi musola untuk membersihkan diri.
Sebelum masuk untuk menunaikan sholat, Alina celingak-celinguk memastikan kondisi musola sepi. Barulah ia masuk.
Setelah menutup sholatnya dengan salam, Alina melanjutkannya dengan berdoa. Alina yang baru saja selesai berdoa disholat asharnya, ia terkaget karna suara panggilan dibelakangnya.
"Alin?"
.....
Next✨
Semoga suka terus ya sama cerita ini 😊😁