The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|39|



Sesampainya dirumah Sandra, Alina mengikuti Akmal memasuki pintu depan. Mereka saling pandang diruang tamu.


Akmal menghempaskan tubuh disofa. Sedangkan Alina dia masih mematung.


"Duduklah." ucap Akmal. Alina pun merebahkan dirinya, jarak mereka begitu jauh belum lagi dengan sikap Alina yang hanya menunduk dan diam saja.


"Bunda..." teriakan itu mengalihkan Alina. Refleks Alina berjalan kearah Shiran yang kegirangan.


"Shiran," ucap Alina. Mereka berpelukan begitu erat, tak lama datanglah Sandra.


"Alina!" lirih Sandra. Alina menoleh kearah Sandra.


Alina tersenyum lalu melepaskan pelukannya dari Shiran, "Bagaimana kabarmu?" Alina berjalan kearah Sandra.


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"


"Alhamdulillah aku baik,"


"Syukurlah aku senang mendengarnya, bagaimana dengan bayimu?" tanya Sandra lagi sembari mengelus perut Alina.


"Bayiku sehat."


"Bunda, bunda malem ini nginep disini ya," ucap gadis kecil yang terus bergelayu manja ditangan Alina. Alina menatap gadis itu lalu berjongkok menyetarakan posisinya.


"Lain kali aja ya Shiran, tante harus pulang, kasian uminya Tante nunggu dirumah." ucap Alina sembari mengelus rambut panjangnya.


"He-em... tapi Shiran pengen bunda nginep, bolehkan mamah bunda nginep disini?" Sandra menganggukkan kepalanya.


"Tuh mamah aja ngijinin, masa bunda gak mau," ucap Shiran semakin manja pada Alina.


"Nginep aja disini, besok pagi Mas Akmal anterin kamu pulang. Nanti biar aku yang bilang sama umi kalo kamu nginep,"


"Mmmm.... Iya deh aku nginep"


"Yeyeyeye.... Shiran bobonya sama bunda, mamah sama ayah Akmal ya." Seketika Alina menundukkan wajahnya. Kemudian lirih berkata, "Dia masih kecil Alina, dia belum mengerti yang dikatakannya itu salah dan benar, janganlah kau masukkan kedalam hati. Sabar." Alina menoleh kewajah kecilnya ditatapnya lalu tersenyum. Meski ada gejolak panas yang menjalar kehatinya. Dengan kuat Alina berusaha menenangkannya, Alina membuang nafas seraya menahan air matanya agar tidak keluar.


"Shiran! Kamu gak boleh bilang gitu." omel Sandra.


Kini Sandra menatap Alina dengan wajah merasa bersalah karena ia tahu yang dikatakan Shiran pasti menyinggung hatinya. "Lin. Maafkan Shiran ya,"


"Tidak apa-apa."


"Bunda! Ayok kita kekamar," ucap Shiran sembari menarik-narik tangan Alina.


"Mas aku kesana dulu." Akmal hanya mengangguk.


.....


Alina menghela nafas saat memasuki kamar Shiran. "Hufft" lalu berjalan menuju jendela kaca lebar yang gardengnya masih sedikit terbuka. Alina menarik ujungnya dan kini gardeng itu menutup rapat.


"Masih beraninya kau menginjakkan kaki kerumah ini!"


Degh.


Ucapan itu benar-benar menghantam kesadaran Alina. Alina menghela nafas lalu menoleh kearah sumber suara.


Terlihat wanita yang cukup tua tengah berdiri didepan pintu kamar, pandangannya sangat tajam. Tak lama wanita itu masuk kedalam tapi masih membiarkan pintu terbuka lebar, sedangkan Alina dia hanya berdiri kaku.


"Kau memang wanita berwajah tebal, setelah kau rebut Akmal dari anakku, kau masih saja berani datang menemuinya, bukannya kau sudah pergi! Mengapa kembali lagi, seharusnya kemarin itu kau mati saja." Sarkas Wanita itu menatap Alina.


"Apa maksud ibu?"


"Alah... kau memang jago bersandiwara Alina! Selama ini kau senang bukan melihat anakku terkalahkan olehmu, kau boleh menang dulu, tapi ingat! Jangan harap kau bisa kembali lagi bersama suamimu. Tidak segan-segan saya akan mencari berbagi cara untuk memisahkan kalian." Wanita itu masih menatap tajam Alina. Tak lama kemudian berjalan menghampiri Alina yang masih terdiam kaku.


Plak!


"Kau pantas mendapatkan itu!"


Alina merasa ada rasa panas yang menjalar dari pipi kanannya. Ia menyentuh pipinya dan merasakan sakit yang semakin menjalar panas. Hembusan nafas beberapa kali Alina lakukan, matanya sudah berkaca-kaca dan air matanya hampir saja jatuh.


"Nenek! Nenek kenapa gitu sama bunda?" teriak Shiran menghampiri Alina.


"Ibu! Apa yang ibu katakan." ucap Sandra diambang pintu. Terlihat disana juga ada Akmal.


"Nak untuk apa kau masih membelanya, sih? Kamu liatlah, dia telah merebut orang yang kamu cintai! Dia gak pantes hidup bahagia!" ucap Ibunya Sandra dengan nada tinggi.


"Cukup Ibu! Cukup! Ibu sudah keterlaluan!" hardik Sandra dengan mata yang menatap tajam pada ibunya itu. Sedangkan Akmal hanya diam tanpa ingin menambah keributan.


Tamparan itu masih sangat terasa sakit. Bukan hanya tamparan saja tapi kata-kata yang dilontarkan ibunya Sandra juga memberikan tamparan pada hatinya. Kalimat itu begitu membekas dan menyayat hatinya.


"Sandra! Ibu membelamu, mengapa kau malah memojokkan ibu! Jika bukan karena permintaan konyol Abinya mungkin sekarang kau bahagia bersama Akmal. Tapi karena perempuan ini kau harus terkesampingkan." Ibu Sandra mengarahkan telunjuknya dengan kasar kearah Alina. Tatapannya penuh kebencian pada Alina.


Alina yang sejak tadi hanya diam, kini ia sudah tak bisa menahan tangisnya, karena tak ingin memperpanjang masalah Alina langsung pergi dengan tidak sengaja dia menabrak bahu Ibunya Sandra hingga wanita itu terjatuh kelantai. Air mata yang sudah ia tahan kini malah meloloskan diri.


Rasanya, luka yang sejak lama terkubur kini malah kembali datang dengan titik hitam yang semakin melebar. Alina pergi keluar rumah dengan perasaan terluka.


.....


"Alina..."


Sayup-sayup Alina mendengar suara bariton memanggil namanya. Alina yang kini tengah duduk dibangku taman perlahan matanya menoleh. Ternyata panggilan itu adalah suara Akmal.


Melihat sang suami datang, Alina segera berdiri.


"Alina, kau tidak apa-apa?"


"Aku nggak papa, Mas. Aku baik-baik saja."


"Bener kamu gak papa? Maafin ibu ya Lin, Maaf tadi Mas gak belain kamu, Mas cuma gak mau menambah masalah." Kini Akmal sudah duduk dibangku taman itu, diikuti Alina yang duduk disampingnya.


"Iya Mas, Alin paham kok. Mungkin tadi ibu lagi ada masalah jadi emosinya gak ke kontrol."


"Nanti Mas yang bakal jelasin sama ibu soal hubungan ini," kata Akmal.


"Iya Mas. Aku berharap ibu mengerti, aku tidak ingin terus-terusan bertengkar dengan ibu. Semoga dia paham soal masalah kita ini." ucap Alina dengan suara lembut.


"Mas harap kamu gak pergi lagi, Mas harap kita bisa memperbaiki pernikahan ini, Mas ingin membangun keluarga kecil bersamamu dan anak kita." Alina sontak terkaget dengan ucapan laki-laki disampingnya. Apa yang harus ia lakukan. Saat situasi memojokkannya harus berpisah, tapi kini orang yang memang suaminya meminta jika ia harus terus bersamanya. Haruskah Aku mempertahankan pernikahan ini, meski nyatanya rasa sakit kian menusuk hati.


"Tapi Mas..."


"Alina, Mas mohon kamu kasih Mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Alina terdiam menimbang sejanak ucapan sang suami.


"Untuk saat ini Alin belum bisa mengiyakan. Alin butuh waktu." Alina berdiri setelah berbicara. "Alin pamit pulang Mas," Alina mengambil tangan sang suami dan menggenggamnya penuh kelembutan. Diciumnya punggung tangan itu dengan tangan yang bergetar. Alina bersyukur, meski sakitnya menghadapi semuanya, setidaknya ia masih diberikan kesempatan untuk masih bisa menggenggam dan mencium tangan orang yang dicintai.


"Mas selalu berharap kamu bertahan demi pernikahan ini..." Alina menatap wajah Akmal dengan tatapan sendu. Ia benar-benar sangat merindukan tatapan sipemilik netra hitam ini. Walaupun Akmal sering menaruh luka, Alina tetap merindukannya. Walaupun Akmal sebelumnya tidak pernah menganggapnya ada, Alina tetap mencintainya.


"Maaf jika selama ini Mas selalu menyakitimu. Maaf jika Mas belum bisa menjadi suami yang baik. Mas berharap kamu segera kembali dan setelah itu mari kita bangun keluarga bersama, Alina."


Alina merasakan matanya menghangat.


"Yang lebih Mas harapkan semoga kita tidak bercerai. Mas ingin kau jadi istri Mas untuk selamanya."


Air matanya tak dapat ia tahan. Alina menangis tanpa suara. Akmal hanya bisa memeluknya, sambil merasakan rasa sakit jika diposisi sang Istri.


Sungguh setelah Alina pergi meninggalkannya hatinya menjadi lemah, ketika melihatnya saat ini dan menyadari jika wanita yang statusnya sebagai istri ini memanglah sangat berarti dalam hidupnya.


.....


Next✨


Gimana Part ini pembaca setia ku?


Kira² apa yang akan terjadi setelahnya ya...🤔


**Udah ah gak usah dipikirin nanti naik darah.😁 Mending like dan komen aja😊


Instagram Author**: @im.silpa🤗