
Alina mengerjapkan matanya saat jarum jam menunjuk pukul 3:13 dini hari. Alina membuka matanya perlahan. Dan tepat saat membuka matanya sempurna, ia melihat wajah lelaki yang tertidur dengan tenang.
Alina menahan diri untuk tidak bersuara. Ia juga baru sadar jika tangan kekar itu berada tepat diatas pinggangnya. Lelaki itu memeluk dirinya erat. Akmal begitu dekat dengannya, bahkan saking dekatnya, Alina dapat merasakan deru nafas teratur dari hidung suaminya itu.
Melihat sang suami dalam wajah sedekat ini seperti mimpi baginya. Bisa tidur seranjang dengan suaminya sudah pasti itu harapan Alina sejak awal pernikahannya.
Apa yang harus aku pilih bertahan atau meninggalkan?
Alina menyentuh mata milik Akmal. Tangannya turun perlahan kehidung setelahnya beralih kepipi. Alina tersenyum, mandangi ketampanan suaminnya. Sungguh, ia berharap semua ini tidaklah sesaat.
"Maafkan aku..."
Alina terkejut. Ia melihat ada air mata yang mengalir dari sudut mata Akmal ketika lelaki itu mengngumamkan kata maaf dalam ketidaksadarannya.
"Maaf..."
"Maafkan....aku...."
Alina mengusap air mata yang keluar dari sudut mata suaminya. "Mas... Apa kau mimpi buruk?"
Alina mengelus pelan pipinya. Membuat lelaki itu perlahan menghilangkan kerutan dikening. Wajah Akmal terlihat damai kembali karena usapan lembut tangan Alina.
Melihat Akmal yang sudah kembali tertidur dengan pulas, Alina segera bergegas kekamar mandi untuk berwudhu. Malam ini ia akan menunaikan kebiasaannya shalat tahajjud dua rakaat.
Alina menggelar sajadahnya. Ia mengenakan mukena yang ada didalam lemarinya. Mukena pemberian Azka sebagai kado pernikahannya.
"Allaahu Akbar...." Takbir pertama Alina mulai khusyuk. Perhatiannya hanya ia fokuskan pada satu titik diatas sajadah.
Sampailah dia disalamnya. "Assalamu'alaikum warahmatullah.... Assalamu'alaikum warahmatullah...."
Sayup-sayup Alina mendengar suara sibukan selimut. Selesai menyelesaikan 2 salamnya, Alina berdiri dari duduknya.
"Alina?"
Alina sontak menoleh. Ia melihat Akmal yang sudah duduk ditepi ranjang dengan wajah yang tampak basah.
"Mas Akmal sudah bangun?"
"Kamu barusan sholat tahajjud?"
"Iya, Mas." jawab Alina. "Mas mau minum? Kalo iya biar Alin ambilkan."
Akmal menggeleng. Ia menatap wajah Alina yang penuh dalam balutan mukena. Wajahnya bersinar dibawah terangnya lampu.
"Apa boleh Mas menjadi imam sholat subuhmu?"
Alina terpaku. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu dari Akmal. Alina tak bisa menyembunyikan binar bahagia diwajahnya. Senyum mengembang diwajah, menatap sang suami penuh syukur.
"Boleh Mas, boleh sekali. Alin ambilkan dulu baju untuk Mas Akmal dikamar Abi ya."
"Tidak perlu. Aku pakai kaos ini saja, Lin. Nggak enak nanti bangunin umi."
"Umi udah bangun dari tadi Mas, kalau masih tidur juga gak mungkin marah, apalagi ini soal ibadah." Alina menatap kaos putih dan celana panjang hitam yang Akmal pakai. "Pakaian itu juga baik Mas, tapi jika ada pakaian yang lebih baik alangkah baiknya kita pakai yang paling baik untuk menghadap Allah. Mas tunggu dulu ya, Alin ambilkan dulu bajunya sebentar."
Akmal membalas dengan senyuman kecil saat melihat istrinya itu keluar kamar untuk meminjam baju peninggalan dari Abinya.
"Ini Mas, umi pinjamkan beserta kopiahnya." Tak membutuhkan waktu lama untuk Alina datang kembali membawa baju untuk Akmal. Akmal meraih baju dan kopiah tersebut.
"Mas, ayok segera bersiap. Waktu subuh sebentar lagi masuk."
Akmal bergegas ganti dengan cepat. Ia menyisir rambut kebelakang sambil bercermin. Dipakailah kopiah itu ke kepalanya. Alina yang menatap wajah suaminya dari dalam cermin memuji dalam hati. Akmal benar-benar terlihat tampan seperti itu.
Alina tersenyum, "nggak papa, Mas, Allah tidak mempermasalahkan untuk bacaan surat yang kita baca ketika sholat, mau itu panjang ataupun pendek, yang penting bacaanya fasih dan benar insyaallah Allah akan tetap menerima sholat kita." kata Alina menenangkan.
"Aku masih belajar Lin, maaf jika nanti bacaannya ada yang salah."
"Iya Mas."
Akhirnya suara kumandang adzan bergema merdu. Sholat subuhnya kali ini sangatlah berbeda, terasa tentram dan tenang.
"Mari kita sholat," ucap Akmal yang sudah berdiri siap untuk menjadi imamnya Alina.
"Allahu Akbar...." Akmal memang masih sering meninggalkan sholatnya, tapi bukan berarti ia sama sekali tak pernah sholat.
Akmal membaca surat Al-Ikhlas. Alina sadar, jika suaminya sebenarnya sangat fasih membaca ayat suci Al-Quran. Hanya saja ia sering meninggalkan sholatnya sehingga hafalannya sedikit tidak lancar. Tapi Alina bersyukur dengan ingin menjadi imam sholatnya saja sudah sangat baik.
Selesai sudah 2 rakaat sholat subuh.
"Alhamdulillah," ucap Akmal pelan.
"Mas?" Akmal memutar tubuhnya saat mendengarkan suara Alina memanggil.
"Ya?"
Akmal membeku menyaksikan sang istri yang meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.
"Terimakasih sudah mau menjadi imam sholatku, Mas."
Berdesir hati Akmal mendengarnya. "Terimakasih sudah mau menjadi makmumku, meski kau menjadi wanita kedua yang aku imami setelahnya, tapi rasanya sangat berbeda, mungkin karena kau istriku." ucap Akmal.
Alina merasakan matanya menghangat. Meski ucapannya tidak kasar tapi mendengar pengakuan itu sedikit menyentuh hatinya. Alina tahu jika dia memang wanita kedua yang ada dihati suaminya ini, dan itu benar nyatanya.
"Alina senang Mas mau mengakuinya, tapi maaf Alin belum bisa menerima Mas lagi."
Akmal terdiam, "Maafin Mas..."
"Maaf karena Mas belum bisa jadi seorang suami yang baik untukmu. Maaf, karena terlambat menyadari perasaan ini.... Maaf karena Mas selalu datang untuk menyakiti kamu...."
Alina menangis. Ia menunduk dalam dan menumpahkan segala perasannya dalam sebuah tangisan dihadapan Akmal. Ia mengulas semua ingatan sebelum-sebelumnya.
Bagaimana tidak menyakitkan saat mengetahui suami sendiri berselingkuh dengan sahabat sendiri, Sandra. Bagaimana tidak hancur. Meski semua itu skenario Allah tapi itu begitu membekas di hati, awal mula dari perjodohan tidak diduga hingga terjadi pernikahan dan harus hidup bersama tanpa ada rasa cinta. Hingga cinta itu hadir dari satu pihak tapi dari sisi lain malah membuat masalah semakin mengoyak pernikahan ini. Dari sulitnya ingin tidur satu kamar, dan hari-hari ditumbuhi pertengkaran, hingga sebuah benteng pertahanan yang roboh karena luka yang terlaku banyak, dan berujung menyerah dengan pernikahan. Alina sedih mengingat itu semua. Itu adalah perjuangan dan pengorbanan dari hatinya untuk menjalan amanah dari almarhum abinya untuk waktu yang cukup lama.
"Jika ada kata yang lebih dalam dari kata menyesal, maka aku ingin mengatakannya kalau Mas benar-benar menyesal atas semuanya, Alina. Mas banyak menoreh hatimu, Mas menyesal dan minta maaf atas itu semua...."
"Sebelum Mas minta maaf Alin udah maafin, Mas.. tapi sekali lagi Alin minta maaf karena Alin belum bisa sepenuhnya menerima Mas lagi."
"Mas tau Alina, Mas bisa mengerti itu."
"Oleh karena itu malam ini, bahkan detik ini, dengan dihadapanmu dan disaksikan Allah, aku berjanji akan terus mencintai kamu hingga maut memisahkan kita. Mas akan terus ada disamping mu apapun yang terjadi, dan Mas minta kamu juga beri kesempatan untuk Mas memperbaiki semuanya." bertatapan dengan itu air mata Akmal ikut meleleh. Janjinya ia buat sungguh-sungguh. Ia sudah bertekad akan membahagiakan Alina wanita cantik juga Sholehah yang Allah turunkan untuknya.
Alina menghapus air mata sang suami. "Sudahlah Mas lupakan yang sudah terjadi, biarlah kedepannya Allah yang mengatur."
Akmal mencium kening Alina lama, lalu mengelus perut Alina lembut, setelahnya menarik tubuh Alina kedalam pelukannya. "Terimakasih Alina, terimakasih karena mau menjadi istriku, tidak akan kubiarkan oranglain merebutmu dariku, akan kuperjuangkan kau hingga titik penghabisan."
Alina membalas pelukannya. "Terimakasih Mas juga mau berubah. Semoga setelah ini Mas benar-benar berubah, karena jika sampai Mas mengulang sekali saja, cukup sudah aku tidak bisa memberi kesempatan itu lagi."
.....
Jangan lupa vote dan komen cerita ini. Support kalian yang menentukan cerita ini berjalan atau tidaknya🤗👌
Gimana dong mereka baikkan, nih?