
*Maaf, karena aku hanya bisa mencintaimu dalam diam.
Maaf, karena aku berpura-pura tidak peduli. Maaf...
Aku akan mencoba memperbaiki diri dan menuruti terlebih dulu egoku, agar ketika Allah mempertemukan aku denganmu lagi aku sudah benar-benar siap untuk memulai yang baru.
Dan harus kau ketahui, sesuka dan setidak sukanya aku, aku masih sempatkan menyebutmu dalam doaku. Karena ku tahu, kalau kau wanita Sholehah yang sangat dicintai banyak lelaki diluar sana.
Aku hanya takut doaku kalah manjurnya dengan laki-laki diluar sana yang sama-sama memperjuangkanmu dalam setiap doanya.
Tunggulah aku wahai lentera hidupku, tunggu lah... Aku akan datang padamu bersama ijab qobul kedua, akan kujadikan kau bidadari dunia dan surga, dan takkan ku sia-siakan lagi wanita sesholehah dirimu*.
Tetesan air mata Akmal jatuh diatas cincin pernikahan itu. Kini hatinya sakit, sangat sakit hingga perihnya terasa lebih nyeri dari luka yang terkena sayatan.
Akmal menyesal kenapa ia menyia-nyiakan kesempatan itu, andai saja dulu dia belajar untuk membuka hati dan mencintainya, mungkin hari ini tidak akan terjadi, mungkin saja Akmal akan hidup bahagia dengan Alina.
"Aku akan mencoba menikahinya, mungkin setelah menikahinya aku akan tahu, siapa wanita yang sebenarnya diinginkan hati ini." gumamnya. Matanya memejam sedalam mungkin seraya meyakinkan lagi hatinya yang bimbang.
.....
Alina menyeka air matanya, dia menangis tanpa hentinya, hatinya sedikit menyesali karena telah berani jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mencintainya.
Alina yang sedari tadi terduduk dibangku taman, ia hanya bisa merasakan pahitnya hidup seperti ini.
Tangisnya yang begitu dalam dibawah rindangnya pohon taman, membuat dirinya semakin hayut dalam air mata. Dan kicauan burung-burung kecil diatas pohon juga mengiringi tangis Alina.
Ia bingung harus bercerita lagi kesiapa, selain curhat pada Allah. Sahabat juga bisa menjadi tempat kita meluapkan isi hati yang terbalut rasa sedih, resah, galau, marah dan rasa lainnya.
Curhat pada sang illahi memang cara paling terbaik dan tepat. Namun, disisi lain juga perlu sosok sahabat yang bisa memberikan solusi pada kita, agar rasa sedih yang dirasa sedikit berkurang.
"Alin?" Alina yang mendengar panggilan itu ia menoleh. Dia melihat seseorang yang berjalan perlahan kearahnya.
"Assalamu'alaikum," salamnya setelah ia duduk disamping Alina. Tangannya menepuk pelan bangku taman itu lalu bertanya. "Ada masalah?"
"Hah, tidak kok, aku hanya menikmati langit sore." jawabnya dengan kondisi mata yang tampak merah. Tanpa apa-apa laki-laki itu menyodorkan tasbis kecil berwarna merah padanya.
"Apa ini?" Alina tau itu tasbis, tapi apa maksud dari tasbis merah itu?
"Ini tasbis, Lin," ucapnya berhenti sejenak. "Perbanyaklah menyebut nama-nya, jangan biarkan setan menguasai hatimu, dan ingat... Sholatlah ketika hatimu resah, insyaallah setelah sholat perasaan resah yang mengganjal dihatimu akan lebih tenang dan tentram." lanjutnya. Masyaallah.. maafkan aku Ya Allah, hampir saja aku berprisangka buruk pada Azka. Astaghfirullah.. maafkan hatiku yang tengah lemah ini ya Rabb.
"Terimakasih Azka, insyaallah, aku akan memakai tasbis ini untuk mengingat-nya." jawabku tersenyum. Andai jika laki-laki dihadapanku ini adalah imanku, sungguh aku sangat penuh dengan rasa syukur. Dia laki-laki baik dan ilmu agamanya sungguh matang, sungguh beruntunglah wanita yang menjadi jodohnya.
Azka tersenyum..
"Menangislah semaumu, jika memang itu cara yang bisa membuat tenang. Terkadang diam bisa menjadi jalan untuk menghindari masalah, tapi diam juga tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada. Meski menangis terlihat memalukan, dan sering dianggap lemah, tapi dengan itu kita bisa tau seberat inilah hidup, dan sesakit inilah hati yang tertoreh, tapi... Sesedih apapun sempatkanlah untuk tersenyum, karna senyumannya orang yang menutupi masalahnya adalah senyuman termanis. Kenapa? Karena ia mampu menutupi aibnya agar tidak terlihat oranglain." ucapan Azka ternyata mampu membuat Alina mengeluarkan suara tangisnya yang ia tahan setelah kedatangannya.
Tangis yang begitu dalam, air matanya keluar dari pelupuk matanya.
"Hiks....hiks... Aku gak tahu lagi...hiks.. harus bagaimana Azka, sakit ini amat tertanam didalam! Hiks... Aku kira dengan aku maju kedepan semua akan segera berubah, tapi nyatanya nihil! Hiks....hiks... Aku malah tersakiti karna tindakanku sendiri."
"Sttt.... Jangan pernah merasa masalahmu adalah yang paling berat, banyak diluar sana yang tengah menangis sama sepertimu karena masalahnya lebih berat dari yang kamu alami saat ini. Bersabarlah, minta petunjuk pada Allah SWT, insyaallah yang diatas akan memberikan jalannya, aku yakin kamu bisa menjalani semuanya Aku tidak bisa memberi saran lain, selain itu, karna aku tidak berhak ikut campur, semoga kamu segera mendapat titik terangnya." ucap Azka lembut dan berusaha memberikan pengertian pada sahabatnya itu.
"Astaghfirullahaladzim.... Terimakasih atas semuanya, aku akan mengikuti apa yang kamu suruh,"
Tanpa memberi tanda-tanda tiba-tiba langit menumpahkan air matanya, setelahnya barulah suara gemuruh dan petir terdengar keras. Merekapun pergi dari sana karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 17:19.
.....
Alina membereskan semua pakaian miliknya dan Dinda ikut membantunya. Tekatnya untuk pergi dengan niat memperbaiki diri sudah bulat, dia akan tinggal sementara dibandung lebih tepatnya dia akan tinggal di kota kelahiran Abinya, disana ia akan tinggal dirumah warisan Abi dari Almarhum ayahnya.
"Kamu yakin Lin?"
"Insyaallah,"
"Mas Akmal tahu, aku sudah mengikhlaskannya, aku juga sudah mengembalikan cincin pemberiannya agar kelak diberikan pada wanita pilihannya." jelasnya sembari menunjuk tangannya yang memang keberadaanku cincin dijari manisnya sudah hilang.
Dinda enggan untuk menjawab, dia tahu betul sifat sahabatnya ini.
Setelah itu Alina pergi diantar Dinda dan suaminya menggunakan mobil.
Alina bersyukur karena memiliki sahabat seperti Dinda, karena Dinda dan suaminya begitu baik padanya.
Alina menatap keluar jendela kaca mobil, ia menikmati angin malam yang menepis inci wajahnya.
Aku tidak membencinmu dan tidak juga menyesali pernikahan ini. Hanya aja aku merasa sedih karena ketidakmampuanmu menerimaku sebagai istri. Tapi tidak apa, aku sadar, bahwa pernikahan ini memang tidak bisa dipertahankan. Terimakasih atas suka dan dukanya, semoga angin malam ini dapat menyampaikan. Dan aku ikhlaskan namamu ikut tertiup olehnya pergi jauh dari ingatanku.
Alina menyeka halus sudut matanya dan menghembuskan napas pelan.
.....
Disisi lain Akmal yang tengah menemani Sandra dirumah sakit, mereka bertengkar hebat, padahal keadaan Sandra sangatlah mengkhawatirkan.
"Mas, kenapa kamu membiarkan Alina pergi?!" ucap Sandra dengan dada yang naik turun, belum lagi dengan tekanan jantungnya yang mulai tidak beraturan. Tapi dengan ngototnya ia terus bertanya pada laki-laki disampinganya.
"Kenapa? Kenapa Mas?"
"Cari dia Mas, cari... Aku tidak ingin dia pergi karena aku," tangisnya kini mulai pecah. Pompaan jantungnya semakin cepat terlihat jelas dialat yang berada disamping ranjangnya.
Akmal menatap sedih Sandra...
Mata Akmal memerah, rahangnya mengeras, dan dia sudah sampai dipuncak sabarnya. Ia bingung! Ia tidak tau bagaimana cara mengembalikan keadaan menjadi baik seperti dulu.
"Cukup! Aku tidak tau harus bagaimana, semuanya sudah tidak bisa aku perbaiki...,"
Sandra hanya terdiam. Memang benar adanya, keadaannya saat ini memang sudah tidak bisa diperbaiki, bahkan Alina saja sudah pergi entah kemana. Tapi tetap saja disisi lain Sandra menyalahkan dirinya, karena masalah ini bisa terjadi karna kehadirannya ditengah pernikahan mereka.
Disini, baik Alina maupun Akmal. Mereka sama-sama terluka. Semoga Allah mempertemukan mereka berdua lagi sebagai jodoh, meski awalnya melalui perpisahan ini, dan semoga perpisahan ini hanya perpisahan sementara bukan untuk selamanya.
.....
Netx✨
Bersama bukan berarti jodoh, berpisah juga bukan berarti tak jodoh. Karena semua yang mengatur dialah Allah SWT.
Doakan saja semoga mereka jodoh😁
Hai-hai🤗
Gimana nih part yang ini?
Absen dulu ah💕
Kalian team mana nih:
- ALINA
- Akmal
- Sandra
- Azka
???
Setuju gak kalo Alina sama Azka?🤔😊