
Happy reading 💕
.....
1 minggu telah berlalu dan tepatnya hari ini hari ke 8 Alina akan melakukan operasi khusus.
Akmal dan umi, serta keluarga lainnya hanya bisa pasrah sembari menangis mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Alina.
Karena kecelakaan kemarin, membuat kepala Alina cedera dan mengeluarkan banyak darah, efeknya saat ini Alina mengalami cedera otak tramautik sehingga ia harus menjalani serangkaian operasi lagi.
Kini mereka hanya bisa menunggu proses itu, berdoa agar semua berjalan dengan lancar agar Alina bisa kembali sehat dan menjalankan aktivitas sehari-hari nya.
Di tempat lain Umi kulsum dan Risyal sudah siuman dan mampu untuk bangun meski keduanya hanya duduk dikursi roda. Saat mendengar penjelasan dari Intan, uminya Alina terkait kondisi Alina mereka sangat terkaget dan segera memaksakan diri untuk melihat keadaannya. Tapi sayang mereka masih belum bisa bertemu Alina, karena masih menjalani beberapa penanganan penting.
.....
Satu hari setelah menjalani operasi yang Alhamdulillah berjalan lancar, Alina kini sudah dipindahkan ke ruangan baru. Lagi-lagi disayangkan, meski kini keadannya sudah lumayan membaik dan sesekali Alina sudah mulai membuka matanya tapi ia masih belum bisa diajak berkomunikasi. Dan tentunya dibandingkan sadarnya Alina masih banyak tak sadarnya, dan hal itu membuat Akmal berserta keluarga khawatir.
Kini Akmal duduk sendiri disamping Alina, menjaga wanita itu dengan penuh harap segera bisa siuman. Semenjak Alina membuka matanya, tak sekalipun Alina lepas dari pengawasannya. Akmal selalu menunggu istrinya itu bangun.
Akmal ingin Alina menyapa nya dan menampakkan senyum padanya seperti sedia kala. Tapi ini sampai detik inipun Alina belum juga menunjukkan perubahan.
Sebelumnya dokter memang sudah mengatakan jika cedera yang Alina alami itu sangat berat sehingga sulit untuk kembali pulih. Juga ada kemungkinan amnesia, tapi hal itu dapat terlihat setelah pasien bangun dan menunjukkan kesadaran dalam ingatannya.
Itulah yang sekarang Akmal takutkan, Akmal takut jika Alina lupa akan segala hal dan terlebih ia takut jika nanti Alina bangun sang istri menganggapnya orang asing. Padahal baru saja ia akan memulainya secara perlahan. Mengapa begitu cepat semua berganti dengan cobaan seperti ini?
"Alina..." panggil Akmal sembari mengelus hijab instan yang Alina kenakan, "Alin kapan kamu bangun, sayang?"
Akmal terisak, sesekali ia menyeka air matanya.
"Apa kamu bosen lihat suamimu ini?" ucapnya terhenti, "Mas harap tidak, Alina, bangunlah... Mas ingin melihatmu seperti sedia kala." lanjutnya pada sang istri seolah Alina memang mendengarkannya.
Mata Alina masih saja tertutup rapat, tak ada tanda sama sekali untuk membuka mata itu. Pemandangan seperti ini benar-benar membuat hati Akmal begitu getir.
"Bangun sayang... Jangan tinggalkan Mas, cukup anak kita saja yang pergi, masih panjang hari yang ingin Mas lalu bersamamu, kamu pernah bilang bukan, jika kamu ingin kita perbaiki semuanya? Ayok, ayok kita perbaiki semuanya, Mas janji akan melupakan masa lalu yang bodoh itu, Mas janji... Tapi kamu harus bangun dulu," ucapnya semakin sendu dengan tangisnya dan membenamkan kepalanya di tangan Alina.
"Sayang kamu harus bangun," lirihnya lagi.
Gerakan kecil dari jari tangan Alina mampu mengagetkan Akmal. Laki-laki itu lantas mengangkat kepalanya dan ternyata Alina membuka matanya.
Penglihatannya masih samar, tapi kali ini Alina sudah membawa pandangannya kesegala sudut ruangan itu.
"Alina... Alin!" Akmal memangku pipi sang istri dengan perasaan gembira, "Alin... Alhamdulillah, terimakasih ya Allah."
Alina masih diam tak merespon, detik berikutnya Alina mulai meraba kelapanya. Ia meringis merasakan kepalanya berdenyut nyilu.
"Alhamdulillah kamu sudah bisa berkomunikasi, aku senang dan sangat bersyukur sekali." Tangis kesedihan laki-laki itu berubah menjadi haru karena melihat keadaan sang istri yang membaik.
Mata Alina hanya melihat aneh kearah Akmal yang sedari heboh kesenangan, sedangkan Alina hanya diam dan menatap keanehan. Saking senangnya Akmal ia tak menyadari wanita itu menatapnya seperti itu.
"Kamu siapa?" tanya Alina dengan suara serak.
Mendengar pertanyaan itu, jantung Akmal seketika berdebar kencang. Ini tidak benar, tidak mungkin Alina amnesia. Jangan sampai ya Allah, dia pasti bercanda kan?
"Alin..." panggil Akmal penuh kelembutan, "aku Akmal suamimu."
"Suami? Saya sudah punya suami?" jeda. "Kapan saya menikah dengan kamu?" tanyanya sembari meneliti Akmal yang ada dihadapannya. Ia menatap bingung pada Akmal.
Akmal semakin panik. "Iya, saya suami kamu, kita sudah menjalankan pernikahan ini satu tahun lebih."
"Tidak, kamu pasti salah orang, saya belum menikah! Saya tengah menjalankan ta'aruf dengan calon suami saya, dan yang saya ingat nama calon suami saya Azka, bukan nama yang kamu sebutkan tadi, tidak mungkin saya punya suami sepertimu," ucapan Alina semakin meracau, wanita itu benar-benar tak mengingat orang dihadapannya saat ini, bahkan lebih parahnya yang ia ingat nama laki-laki lain.
Sementara Akmal, selain panik ia juga sangat bersedih karena Alina tak mengingatnya. Malah sebaliknya, ia mengingat Azka. 'Yang aku harapkan ketika kau membuka mata itu kau menyapa dan tersenyum padaku, bukan malah seperti ini, bahkan kau lupa jika aku ini suamimu. Mengapa kau malah mengingat nama laki-laki itu? Sebegitu dalamkah nama itu, sampai saat seperti ini kau masih mengingatnya dengan jelas? Tapi aku? Tidakkah sedikit saja gambaran diri ini ada diingatkan itu, setidaknya kau harus ingat namaku saja.' Akmal memulai tangisnya lagi. Sungguh Akmal sedih melihat sang istri tak mengenal sosoknya sedikit saja. Ini merupakan suatu tamparan paling mengerikan dalam hidupnya.
"Kamu tenang dulu, mungkin kamu masih pusing karena efek operasinya, sekarang Mas panggilkan dulu Dokter ya." Akmal lantas memencet tombol yang ada diatas kepala Alina untuk memanggil tim medis. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Alina. Amnesia?
"Jangan!" Alina menahan tangan sang suami. Sedangkan Akmal menatap sendu wajah sang istri yang pucat, sejenak ia terhanyut dalam kesedihan pada kenyataan yang menimpa Alina saat ini.
"Mas harus panggilkan Dokter, supaya kamu diperiksa dulu takutnya ada apa-apa," ucap Akmal dengan suara sedikit bergetar.
"Aku hanya membutuhkan calon suamiku, Azka." Alina menarik tangan kekar Akmal sembari menggoyang-goyangkannya seraya mohon.
"Apa dia tidak disini? Bagaimana dengan umi?" tanyanya.
Akmal melepas genggaman tangan Alina dan memang wajah sedih, ia benar-benar tak bisa menerima ini semua.
"Umi ada diluar, tapi Azka aku tidak tahu dia dimana," ucapnya dengan dada naik turun. Setelah ia pergi meninggalkan Alina.
Apa tidak ada sedikit saja, ruang dalam kepalamu yang menyimpan gambaran tentangku? Apa ruang itu hanya dipenuh dengan kenanganmu dengan sahabatmu itu?! Hingga kau dengan mudahnya nama dan posisiku hingga dalam sekejap. Beribu tanya memenuhi kepala Akmal, laki-laki itu masih tak percaya dengan kenyataan jika sang istri memang mengalami amnesia.
.....
Next✨
Alina amnesia manteman😢 gimana nih?
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya🤗👌 ada typo-typo mohon koreksinya 🙏🏻
See you all 💕