The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|25|



Kakinya berhenti tepat di taman, sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan indah. Dimana semilir angin bertatap langsung dengan tangkai-tangkai bunga dan membuatnya melambai-lambai kesana kemari.


Alina mencari bangku kosong, ia tak henti tersenyum kepalanya terus saja mengingat kejadian sebulan lalu, hari yang indah untuknya. Matanya terus mencari bangku kosong ia rasa ingin menikmati pemandangan sekaligus bernostalgia dengan kejadian sebulan lalu dan hari-hari sebelumnya, sayang, semua sudah ditempati, dan rata-rata yang menempati sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.


Dan tunggu....


Orang itu!


Itu seperti Mas Akmal. Postur tubuhnya, jasnya mirip dengan miliknya.


"Ya Allah, aku tidak berharap itu Mas Akmal," tentu Alina tidak akan berharap laki-laki itu Akmal, laki-laki itu bersama wanita.


Alina berusaha untuk tidak terlalu ingin mengetahui, lagi-lagi hati kecilnya selalu ingin tahu segalanya.


Alina terpaksa mengikuti hati kecilnya. Melangkah, berjalan mendekatinya. 'Aku harap bukan Mas Akmal' orang itu tengah berciuman mesra. Wajah laki-lakinya membelakangi dari posisi Alina.


Sepertinya wanita itu tidak asing untuk Alina.


"Mas Akmal..."


.....


"Mas Akmal?" Alina berharap kali ini matanya benar-benar salah melihat.


Tidak, itu memang benar Mas Akmal. Wajahnya terlihat saat mereka beranjak bangun dari bangku taman.


Deg


Akmal merangkul mesra wanita itu, sepertinya mereka akan pergi dari taman ini.


Tidak! Alina segera berlari kearah mereka dan berhenti tepat didepan mereka.


Alina tidak terima.


"Mas!" bentak Alina pelan.


Akmal sedikit panik saat sang istri muncul dihadapannya.


"Apa yang kamu lakukan Mas?!" tanya Alina marah


"A-aku hanya..."


"Hanya apa?!" Potong Alina bertanya lagi.


"Mas bisa jelaskan," apa pria ini bodoh, menjelaskan kesalahannya yang sudah menyakiti hati istrinya sendiri.


"Jika Mas terus seperti ini lebih baik Mas menikahinya! Aku malu Mas, Aku malu karna tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas, aku gagal menjadi istri," kesal Alina. Air matanya menetes, isakan tangisnya mulai menarik.


Akmal mengacak rambutnya frustasi, nafasnya berderu kasar.


"Maafkan Mas, Mas yang tidak bisa menjadi imam yang baik untukmu, selama ini Mas sudah berusaha, tapi Mas tetap tidak bisa."


"Sudah Mas, cukup! Aku tahu Mas memang tidak akan pernah bisa menerimaku,"


"Tidak Alin, Mas yakin Mas bisa menerimamu, tapi entah kapan itu." ucapnya dengan nada sedih.


"Sampai kapan aku harus bertahan? Mas bilang Mas ingin memperbaiki pernikahan ini, tapi mana Mas, Mas tidak berjuang untuk itu, hanya aku disini yang berjuang! Aku..." tangisnya semakin deras, air matanya membanjiri pipinya. Sakit! Sakit menjadi istri yang tidak inginkan suami sendiri. Apa harus aku pergi?


"Aku sungguh menyesal mengenal kalian,"


"San, bukannya kamu sahabatku? Tapi mengapa kamu tidak membiarkan suamiku menjadi milikku, kenapa harus kamu yang dicintai bukan aku?! Dari dulu kamu yang selalu dikelilingi laki-laki, sedangkan aku? Aku hanya menjadi nyinyirannya, apa kamu tidak bosan terus dikelilingi laki-laki? Bahkan orang disampingmu sendiri, yang sudah jelas dia adalah suamiku!"


Alina mendorong wanita disamping sang suami, Sandra sahabatnya sendiri. Mendorongnya hingga terjatuh, bukan ingin menyakiti hanya rasa kesalnya begitu menguasai hatinya.


"Alina!" bentak Akmal.


"Mas..."


Akmal meninggalkan Alina, ia pergi begitu saja bersama Sandra.


Air matanya kini tak tanggung-tanggung untuk keluar, tangisnya semakin berisak.


"Alin.." suara berat laki-laki yang amat dikenalnya muncul.


Dengan segera Alina menghapus air matanya saat melihat wajah tampan yang sangat dikenalnya.


"Lin, kau kenapa?" Laki-laki itu Azka. Laki-laki yang tempo hari Alina temui. Tidak, maksudnya yang tidak sengaja Alina temui.


Azka menyamai posisinya dengan Alina. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, pasti Alina habis menangis. "Matamu kenapa?"


Alina menggeleng. " Hanya kelilipan,"


"Bohong," Azka menuntun Alina untuk duduk di bangku taman.


.....


Azka POV


Sudah lama tidak menghirup angin segar dari taman, matanya menatap hijaunya rumput. Dan menikmati indahnya bunga yang tumbuh bermekaran.


"Kenapa aku seperti ini?" keindahan ini seakan memudar. Bayangkan saja taman ini penuh dengan sepasang kekasih, sedangkan aku? Masih sendiri.


Aku merasa seperti benalu ditaman ini, atau seperti? Tidak, kenapa aku harus berfikir dan merasa seperti itu. Ini taman, siapapun bebas untuk kemari.


Aku menelusuri taman, kapan aku bisa kesini bersama wanita yang kucintai? Ah, Azka kau ini selalu sendiri, manusia yang tidak pernah bisa move-on dari wanita yang kau taksir sejak dulu.


Andai saja Alina belum menikah pasti aku sudah...


.....


Aku mendekatinya, benar wanita itu Alina.


"Lin, kau kenapa?" Laki-laki itu Azka. Laki-laki yang tempo hari Alina temui. Tidak, maksudnya yang tidak sengaja Alina temui.


Azka menyamai posisinya dengan Alina. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, pasti Alina habis menangis. "Matamu kenapa?"


Alina menggeleng. " Hanya kelilipan,"


"Bohong," Azka menuntun Alina untuk duduk di bangku taman.


Karena sejak tadi Alina sudah dipandang dan menjadi tontonan orang-orang ditaman. Aku tidak akan membiarkannya!


.....


"Aku gak papa," ia memberikan senyuman, senyuman palsu.


"Jangan membohongiku Alin. Matamu bengkak, apa itu yang dikatakan tidak apa-apa?"


Alina diam mematung.


"Jawab aku Alin" bentaknya. Sembari memegangi kedua bahu wanita dihadapannya.


Alina tak menjawabnya dengan suara, tapi melalu air matanya. Dan Azka mengerti semuanya ia paham apa yang sedang Alina alami.


"Jangan bilang, suamimu yang melakukan semua ini" vonis Azka. Karena memang benar, kalau bukan suaminya siapa lagi! Wanita setelah menikah pasti tinggal bersama suaminya, dan orang tua tidak lagi mencampuri urusan rumah tangga anaknya lagi.


Alina tersenyum melihat kekhawatiran dari wajah tampan Azka. Andai Mas Akmal seperti Azka, bisa memiliki rasa khawatir terhadap dirinya. Dan itu sepertinya hanya mimpi yang mungkin tidak akan terwujud.


"Lin," Alina terbuyar dari lamunannya.


Alina menggeleng.


"Kau belum menjawab pertanyaanku,"


"Aku tidak apa-apa." jawabnya meyakinkan.


"Terus kenapa kamu melamun?"


"Aku hanya membayangkan sesuatu,"


"Membayangkan apa? Jangan-jangan kau membayangkan macam-macam." Alina mencubit lengan Azka.


"Awh..." rintihnya.


"Membayangkan kalau suamiku lebih tampan darimu, dan lebih baik darimu," ledak Alina. Mereka sama-sama tampan, tapi sifat mereka sangatlah beda jauh, bertolakbelakang Azka yang baik dan lembut, sedangkan Akmal yang dingin dan kasar.


Raut wajah Azka seketika berubah. Mengapa ia harus disamakan dengan Akmal? Tentu saja suaminya akan lebih tampan dan baik dimatanya. Meski nyatanya tidak seperti itu.


Dan sudah jelas wajahnya akan lebih tampan dan baik dari Akmal. Pikir Azka.


"Jelas aku lebih tampan dan baik dari suamimu, tapi dimatamu aku tetap dibawah suamimu,"


"Dan itu yang disayangkan, aku kalah dengan Akmal, aku kalah cepat mendapatkanmu,"


Alina menatap tak percaya dengan keluhan Azka. "Justru aku yang terlalu polos, seharusnya aku tidak usah menikah dengannya, karna itu juga membuat ku terperangkap dalam pernikahan ini dan akhirnya aku mengerti apa itu cinta."


"Tidak, tidak semuanya aku mengerti, hanya merasakan saja."


Azka mencerna baik-baik ucapan Alina, terperangkap?


"Dan ternyata berjuang sendiri itu menyakitkan, dan pernikahan itu tidak seindah di film-film," lanjut Alina lagi.


Azka menyerngitkan dahinya. "Maksudnya?"


"Ya, di filmkan kebanyakan orang mencintai itu cintanya terbalaskan, tapi didunia nyata? Kenapa tidak bisa bahagia seperti di film?"


Azka tertawa kecil. "Skenario manusia dan Allah itu berbeda Lin..."


"Skenario Allah itu lebih indah, karna tidak ada yang tau bagaimana jalan ceritanya. Kalau skenario manusia, bisa ditebak dari alur ceritanya."


Alina hanya mengangguk-angguk.


"Memangnya kenapa? Suamimu tidak mencintaimu? Dia punya wanita lain?" tanya Azka, padahal ia sudah tau yang sebenarnya, semua yang wanita dihadapannya alami setelah pernikahannya.


Skak! Alina seketika membeku, lidahnya sangat kaku. "Ngg... Dia mencintaiku, sangat mencintaiku" jawab Alina gugup.


Azka tersenyum. Tapi dibalik senyuman itu tersimpan rasa sakit, sakit yang tidak bisa diungkapkan.


"Apa kau sudah mencintainya juga?" Azka terpaksa menanyakan hal itu, ia tau konsekuensinya. Akan menambah rasa sakit pada hatinya.


"Aku sudah menerimanya dan juga mencintainya penuh..." benar, hati Azka bagaikan dihantam ribuan peluru.


"Sangat mencintainya.." jawab Alina yakin. Keyakinan Alina, sangat menyakitkan untuk Azka.


"Lalu, maksudmu terperangkap dalam pernikahanmu?" Alina menggeleng tak mau memberikan jawaban. Ia tak ingin aib rumah tangga nya diketahui orang lain, meski Azka sekalipun, cukup hanya dirinya suaminya dan Allah yang tahu.


"Ya sudah, maaf jika aku bertanya terlalu jauh, ayo aku antar pulang." Ajak Azka.


Alina mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju mobil yang terparkir ditempat parkir dibawah pohon rindang taman itu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, yang sangat serasi.


.....


Next✨


Sorry baru up hari ini🙏🏻 semoga suka ya sama ceritanya 😊


Instagram ku: @im.silpa🤗