The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|45|



"Umi Alin pamit ya." Alina memeluk wanita yang sangat dicintainya, ciuman demi ciuman yang Alina berikan pada uminya sangatlah tulus. Setelah selesai dengan umi kini Alina beralih ke lelaki yang sedari tadi hanya menunduk lesu. Selangkah saja kini Alina sudah berdiri tepat didepannya.


"Mas, selama aku diBandung aku titip umi ya, kalo bisa.. Mas liat umi setiap hari, aku gak mau umi sakit lagi, bagaimanapun umi tetap ibunya Mas, jangan hanya memperhatikan oranglain saja tapi orang yang memang lebih penting kita abaikan." ucap Alina tegas dan diakhir ucapannya Alina perjelas dan penuh penekanan, seolah-olah memberitahu.


Akmal mendongakkan wajahnya menatap lekat wanita dihadapannya, Akmal tahu maksud dari ucapan istrinya itu.


Akmal tersenyum dan berkata, "Tidak perlu takut, Mas akan sering mengunjungi umi." Alina mengangguk-ngangguk menandakan jika ia mengerti.


"Kita pamit ya" ucap umi kulsum yang baru saja membuka pintu mobilnya. Umi dan Akmal mengangguk bersamaan.


"Alina ayok masuk, Na" ucap umi kulsum tanpa lama aku langsung masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya. Mobil yang kutumpungi akhirnya menjauh dari umi dan Mas Akmal, masih dapat kulihat lambaian tangan umi yang terus melambai kepadaku, hingga lambaian itu tak terlihat lagi artinya mobil ini sudah sangatlah jauh berjalan.


Jalanan Jakarta sore ini terbilang cukup lenggang. Hanya ada beberapa mobil dan motor yang berlalu lalang, mungkin itu karna masih jam kerja hingga orang-orang yang berkerja dipabrik belum bubar, karna jika orang-orang pabrik sudah berhamburan dapat dijamin jalanan ini akan sangat macet seperti biasanya. Alina bersyukur. Jalanan kosong dan lancar, setidaknya sore ini tidak terjebak macet.


Alina terus saja menatap kejalanan, kini mobil yang ditumpanginya tengah berhenti karena lampu merah, Alina melihat kesekeliling jalanan tiba-tiba hatinya merasa tidak enak, tapi dengan segera Alina menghapus pikiran jelek yang baru saja mengelilingi otaknya.


Melihat lampu yang sudah hijau benderang, Risyal yang mengendarai mobil dilepaslah rem itu, dan ia kembali mengiinjak gas membuat mobil itu melaju dengan cepat. Risyal terus fokus kedepan, membuatnya tak menyadari jika ada mobil besar yang melaju sangat cepat padahal lampu untuk jalur itu sudah berubah menjadi merah. Risyal tak salah. Ia mentaati rambu lalu lintas dan bahkan mobil-mobil yang tadi berhenti sama dengannya saja melaju lurus, tapi sayangnya mobil Risyal melaju paling akhir.


Waktu seolah berjalan begitu lambat. Tuhan seperti sedang memainkan jarum jamnya hingga membuat bumi dan seisinya ini berhenti. Mereka menoleh bersamaan kearah kanan. Mata mereka sontak menyipit saat ada dua lampu yang begitu menyorot terang kedirinya yang kini mereka tengah berada ditengah perempatan.


BRAKK!!!


Risyal maupun umi kulsum atau bahkan Alina merasa dunianya berbalik dan berputar dengan begitu cepat. Mereka merasakan tubuhnya seperti terhempas masuk kedalam jurang yang begitu dalam.


"Uhuk!!" Risyal batuk darah dan darah itu menyembur dari mulutnya. Kental dan warnanya merahnya sangat pekat dan segar.


Risyal berusaha membuka kedua matanya. Pandanganya berbayang tapi ia masih tetap bisa melihat. Risyal mengalihkan pandangannya ke kedua wanita yang tadi duduk dibelakangnya.


Terlihat dua wanita yang sudah dibasahi darah, keadaan ibunya yang sangat mengkhawatirkan membuat Risyal terisak tangis, tangan dan kepala ibunya keluar dari kaca mobil, dan kini matanya teralih pada Alina yang pingsan dengan tangan yang menghalangi perutnya bukan hanya itu saja darah yang mengalir dari kepala Alina membuat Risyal semakin menjadi-jadi dengan tangisnya.


Ingin sekali Risyal membantu dua wanita itu, tapi bagaimana lagi jangankan untuk membantu, mengurusi dirinya saat Ini saja ia kesusahan. Pandangannya buyar dan bayangan yang kabur semakin membuat kepalanya sakit. Ia tak lagi dapat melihat apapun lagi selain kepulan asap putih yang membumbung tinggi keluar dari kap depan mobilnya. Kaca depannya mobilnya retak dan beberapa pecahan kaca itu menancap ditangan dan lehernya. Rasa sakit itu sudah tak tergambar lagi. Tubuhnya tak dapat bergerak sedikitpun karena badan mobil yang menghimpit tubuhnya. Risyal tak dapat melakukan apapun selain merintih sakit dan berupaya meminta pertolongan.


"Mas!"


Suara panggilan itu dapat Risyal dengar, meski napasnya sudah tersengal-sengal. Riuhan suara mengelilingi mobilnya.


"Ayok bantu bapak-bapak."


"Tolong keluarkan ibunya dahulu,"


"Baik pak, ayok saya bantu,"


"Eh pak! Sepertinya wanita satu lagi yang masih didalam mobil sedang hamil muda. Terlihat perutnya buncit!"


"Kalo begitu cepat keluarkan, takutnya terjadi apa-apa pada ibu dan bayinya."


"Mas! Bisa buka pintunya nggak?!" ucap pria yang pertama kali melihat mobil Risyal terguling hampir 13M dari lokasi kejadian, pria itu yang awalnya sedang mengendarai mobil langsung membuatnya menepikan mobilnya dan segera turun untuk melihat.


Kaca mobil itu terus digedor, tapi Risyal tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya seakan lumpuh. Tak mampu ia menggerakkan sedikit saja, bahkan untuk jemarinya.


"Cepat panggil ambulance!" teriak pria itu. Umi kulsum dan Alina berhasil mereka keluarkan, tinggal Risyal saja yang masih didalam mobil. Karena sudah untuk mengevakuasinya, karena bagian rem dan juga kopling mobil itu penyok sehingga menjepit kedua kakinya dibawah.


"Orang dimobil pelaku sekarat!!" teriakan lantang itu menggema dengan radius tujuh meter dari posisi mobil Risyal saat ini yang kondisinya mengenaskan.


"Pelaku bersama seorang anak perempuan! Kondisi keduanya juga terluka parah!"


Risyal meringis kesakitan saat merasakan kakinya berusaha ditarik oleh para petugas. Rasanya sangat sakit, perih, dan ia merasakan jika kakinya akan putus saja.


"Alhamdulillah, ayok segera naikkan ke ambulance." seru petugas yang berhasil mengeluarkan kaki Risyal yang terjepit setelah hampir setengah jam-an itu.


Untungnya kecelakaan itu tak menjadi kecelakaan beruntun, hanya mobil Risyal, umi kulsum dan Alina yang naiki saja yang tertabrak. Setelah semuanya dievakuasi dan dinaikkan ke ambulance yang berbeda langsunglah mereka dilarikan kerumah sakit. Tak lama setelah itu datanglah dua ambulance terakhir, dan dibawalah umi kulsum dan anak perempuan dari mobil pelaku itu.


.....


"Hallo selamat malam, ini dengan ibunya Alina?" suara seseorang disebrang telpon.


"Iya, saya uminya, ada perlu apa ya?" jawab umi sedikit ketakutan, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa tidak enak.


"Saya dari pihak rumah sakit ingin memberi tahukan, jika putri ibu masuk ruang ICU karena kecelakaan." wanita itu terdiam sejenak tak lama tangisnya pecah.


"Akmal, Alina kecelakaan...." suaranya yang lirih dan juga cepat membuat laki-laki yang tengah meminum kopinya mengeluarkan kopi itu. Wanita itu yang masih terdiam, tangannya bergetar hebat memegang sebuah ponsel.


"Ap-apa umi?" balas Akmal lirih. Padahal baru satu jam lebihan, ia melihat Alina sang istri baik-baik saja. Dan baru saja ia mendengar kabar jika Alina kecelakaan. Sungguh itu membuat kakinya tiba-tiba lemas, "umi bercandakan? Tidak baik loh umi berbicara seperti itu."


"Umi tidak bercanda Akmal. Jika tidak percaya kau telpon saja pihak rumah sakitnya." setelah mendengar jawaban umi Akmal ikut bergetar takut mendengar suara wanita didepannya bergetar. Dari sorot matanya, kini Akmal sadar jika wanita ini memang sedang tidak bercanda. "Keadannya Alin kritis Sekarang, kita harus segera kerumah sakit," lanjut Umi tak sabar.


"Jika keadaan Alin kritis kemungkinan Risyal dan ibunya juga sama-sama kritis dong, umi." Umi hanya mengangguk.


Tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, Akmal dan umi segera keluar dan menuju rumah sakit. Jantung Akmal terus berdegup kencang mengkhawatirkan sosok wanita yang tak lain Alina, istrinya.


Sesampainya dirumah sakit, Akmal termenung tubuh wanita yang kini begitu lemah dengan banyak alat medis terpasang ditubuhnya. Wanita yang selama ini selalu tersakiti, wanita yang juga kuat bertahan dengan dirinya. Dan kini wanita itu menjadi wanita yang sangat berharga dihidupnya.


"Ya Allah... Tolong jangan sekarang ini. Aku belum bisa melepaskannya, aku masih butuh dirinya, aku ingin menghapus dan menebus luka dalam hatinya, aku masih ingin hidup bersamanya, aku ingin dia menjadi ibu dari anakku yang tengah dikandungnya ya Rabb... Aku mohon padamu... ulurlah waktu kematiannya, biarlah aku membahagiakannya dahulu, biarlah aku menumpahkan kasih sayang ini padanya, aku tidak ikhlas jika dia pergi saat ini.. aku masih ingin bersamanya..." Batin Akmal meronta pada yang maha kuasa.


Disaat seperti inilah Akmal merasa dosa pada Alina. Keegoisan dan sikapnya yang selalu menyakiti Alina dulu kini menampar habis hatinya. Disaat seperti inilah dia menangis dan memohon tidak tahu diri. Setelah apa yang dia berikan pada sang istri.


Itulah skenario Allah sulit ditebak dan sangat rahasia. Tidak ada yang menyangka kejadian ini akan terjadi, mungkin Allah menegur lelaki itu, memberikan peringatan padanya jika sewaktu-waktu orang yang saat ini tengah diperjuangkannya bisa saja pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Maaf selama ini Mas selalu membuatmu menangis. Dan maaf karena Mas terlambat menyadari perasaan ini, bangunlah sayang, bangun.. Mas disini menunggumu, bukannya kau sudah janji akan memperbaiki pernikahan ini dan membesarkan anak kita. Bangunlah Alina! Bangun! Mas disini untukmu."


"Ya Rabb... Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan untukku? Kenapa harus... istriku yang tersakiti lagi? Kenapa bukan aku, lelaki brengsek ini! Kenapa ya Allah? Cukup sudah aku menyakitinya, mengapa engkau malah membuatnya semakin tersakiti. Bangunkanlah dia ya Allah... biarkanlah dia untuk bahagia bersamaku, aku ingin melihatnya tersenyum dan akan ku pastikan dia tidak terluka lagi." Batin Akmal semakin meronta-ronta meminta untuk kesembuhan wanita didalam ruangan itu. Air matanya kembali pecah. Pemandangannya begitu menyayat hati kecilnya.


.....


Alina mati gak ya?πŸ€”


Ikutin terus aja ceritanya nanti juga pasti tau kok😁 Btw ini part lumayan panjang ya😊 semoga kalian suka☺️


Untuk pertypo'an mohon koreksinya πŸ‘Œ


Jangan lupa vote dan komenπŸ‘ŒπŸ’•


Akun media sosial author πŸ‘‡ jangan lupa difollow πŸ‘πŸ˜˜


Instagram: @im.silpa


Facebook: Jeon Silpa