The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|23|



Alina mencoba membuka matanya, kepalanya terasa sangat berat dan detak jantungnya memacu cepat. Wajah pertama yang dia lihat saat membuka mata adalah wajah sang suami yang tengah memeluk tubuhnya.


Bernafas sejenak, kemudian Alina menurunkan pelan tangan yang memeluknya. Lalu ia berlenggang ke kamar mandi.


Akmal membuka matanya, kepalanya terasa pusing. Ia membuka matanya dengan lebar, dan ia kaget melihat dirinya yang sama sekali tidak memakai sehelai benang.


"Apa yang gue lakuin semalam?" tanyanya pada diri sendiri sembari mengingat kembali kejadian yang terjadi malam tadi. Tapi kepalanya terasa pusing.


Akmal tak memaksakan ingatannya, ia segera bangkit dan memakai baju. Baru ia sadari ada suara percikan air didalam kamar mandinya. Akmal mendekat tapi tidak bersuara.


.....


Alina tak henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian semalam. Malam yang indah, terlebih lagi ketika ia mengelus perutnya yang masih rata.


"Apa ini jawaban dari doaku?" ucapnya. Memandang perutnya yang masih rata.


"Alina!!!" teriak Akmal. Suara Akmal berhasil membuyarkan senyumnya dan segera menuju suara panggilan sang suami.


Suara itu terdengar dibalik pintu kamar mandi.


"Iya Mas?" jawab Alina yang berdiri diambang pintu kamar mandi.


"Ngapain kamu mandi dikamar mandiku?!" tanya Akmal heran, ia memang tidak dapat mengingat kejadian semalam.


"Dan kenapa bajumu ada diatas kasurku,"


"Semalam..."


"Cepat bersihin!" bentaknya, sembari mengkancingkan bajunya.


Alina berjalan kearah ranjang. Bercak darah dan sp**ma bercampur diatas sperai putih milik Akmal.


Alina memandangnya, bayangan semalam masih lekat dalam ingatannya.


"Ngapain diam aja?" Alina terbuyar dari lamunannya.


"Mas.. kamu gak inget kita semalam..." Alina mentap punggung Akmal, yang pergi kearah luar kamar.


Akmal yang sedang asik mengkancingkan baju terhenti sejenak. "Aku tidak mengingat apapun!" ucapnya dan berlalu hingga akhirnya menghilang dari ambang pintu.


Akmal membalikkan tubuhnya, ia mengerti apa yang ada dipikiran sang istri.


"Gak mungkin gue ngelakuin itu sama Alina." Alina yang dapat mendengar suara Akmal, ia tak percaya dengan ucapan sang suami.


"Mas..." teriak Alina sambil mengejar Akmal keluar kamar.


"Saya gak mungkin ngelakuin itu sama kamu, saya tidak pernah berpikiran untuk menanam benih dirahimmu!" Lagi-lagi semua yang dilakukan Alina salah, termasuk menyerahkan tubuhnya pada Akmal. Ia malah mengira kejadian itu tidak pernah terjadi.


"Cepat bersihin. Dan jangan pernah bilang sama Sandra kalo kejadian ini terjadi diantara kita, saya tidak ingin dia tahu, dan saya tidak ingin dia pergi lagi," tegasnya. Lalu pergi keluar rumah.


Cairan bening menetes dari pelupuk mata Alina. "Ya Allah, ini lebih menyakitkan dari luka kemarin, baru saja aku berharap ini semua takdir yang baik, tapi ini malah menjadi masalah baru." Isaknya. Alina melepaskan sprei dan membawanya untuk segera dicuci.


.....


Alina berbelanja ke supermarket, semua keperluan dirumah sudah habis, jadi ia harus terpaksa keluar membeli semua kebutuhan pokok. Dia juga tak sempat meminta izin langsung pada Akmal karena handphonenya lowbat jadi dia hanya menuliskan sebuah surat.


Alina memasukkan semua kebutuhan pokok ke dalam keranjang dorong. Matanya asik melihat makan-makanan yang terpampang rapi di tempatnya.


Brukkk


Keranjang dorong yang Alina bawa tak sengaja menabrak sebuah kaki, hingga itu menghentikan langkahnya.


"M-maaf Mas..." ucapannya terhenti ketika matanya mendapati wajah yang tak asing baginya.


"Azka?" Tanpa basa-basi Alina segera mendekat kearah orang itu. Sudah lama sekali ia tidak bertemu sahabatnya.


Dan kali ini Alina benar-benar bertemu. Wajah Alina yang memang sedikit murung kini berubah menjadi tawa bahagia. Saat bertatap mata, wajah dan bercerita dengan lelaki dihadapannya.


Laki-laki tampan, yang sudah lama menjadi sahabatnya, dan sudah dianggap sebagai abangnya juga.


"Kemana saja Azka?" tanya Alina. Lalu menyantap donat kesukaannya.


Mereka berada disebuah restauran yang juga masih berada dekat dengan kawasan supermarket.


"Minggu-minggu lalu aku mengisi kajian di Surabaya, Lin." jawabnya.


"Pantas saja kau jarang kelihatan, biasanya kau menyempatkan untuk datang kerumah, tapi ini sudah sangat lama kau tidak datang berkunjung."


"Bagaimana keadaan kau dan suamimu?"


Alina tersenyum tiba-tiba pipinya memerah, seperti buah tomat.


"Sepertinya baik," lanjutnya. Dan lagi, Alina masih tersenyum manis.


"Alhamdulillah," ucap Alina, ia memegang perutnya.


"Kenapa dengan perutmu?" tanya Azka, setelah menyadari sejak tadi wanita yang ada dihadapannya terus saja memegang perut. "Kau sakit?" Lanjut Azka dengan suara khawatir.


"Tidak, aku bahagia sekali, mungkin setelah ini perutku semakin hari semakin akan membesar," jelasnya.


"Al, kamu hamil?!" Azka terkaget mendengar penjelasan Alina. Alina menggeleng, karna saat ini ia memang belum tau ia hamil atau tidak, tapi ia berharap ia hamil berarti ia akan segera menjadi ibu.


"Maksud dari ucapanmu tadi,"


"Aku hanya berharap." ujar Alina.


"Aku kira kau mengandung buah hati dari Akmal," ada rasa tak ikhlas dalam diri Azka, tapi setelah mendengar penjelasan tadi bisa sedikit membuat rasa itu sedikit berkurang, jika Alina sampai mengandung, kecil harapan untuknya untuk memiliki wanita yang sangat dicintainya itu.


"Sudah siang, aku harus segera balik, Assalamu'alaikum," pamit Alina meninggalkan Azka yang masih duduk dikursi.


"Waalaikumsalam," jawabnya. Dari jauh Azka memandang kepergian wanita yang sangat dicintainya, andai jika kau istriku, takkan ku biarkan tangan itu membawa beban berat, takkan ku biarkan matamu menangis dan hatimu menjerit karna luka yang menoreh hatimu itu.


"Aku akan selalu menunggu, menunggu hingga waktu yang panjang," lirihnya.


.....


Sekitar jam sepuluh malam Akmal baru pulang, ia membuka pintu perlahan matanya mendapati wajah wanita yang tengah terlelap tidur.


Akmal melangkah mendekat kearah Alina yang nyenyak dengan tidurnya. Akmal menoleh kewajah sang istri menatap wajahnya yang tertidur pulas seketika Akmal merasakan kedamaian saat menatap wajah cantik teduh sang istri.


"Kamu benar-benar cantik Lin" pujinya masih menikmati wajah Alina.


Setelah puas menikmati wajah Alina, tiba-tiba Akmal melirik perut Alina dan sangat ingin menyentuh perut itu.


"Kenapa tiba-tiba pengen banget ngusap perut dia? Tapi, takut dia bangun dan mikir macem-macem." gumam Akmal berusaha agar tidak melakukannya tapi nihil tangannya terus bergerak perlahan sampai ke perut Alina, belum sempat usapan tangannya ia tarik kembali Alina bergerak tapi untungnya tidak terbangun.


'Kalo bibit yang ayah tanam dibundamu berhasil jadi kamu, sehat terus ya... Bukan Ayah gak mau kamu lahir, cuman ayah belum siap punya kamu dari bundamu, maafin Ayah ya. Tapi Ayah janji, kalo sampe kamu beneran hadir Ayah akan berusaha pertahanin pernikahan ini, Ayah juga sayang sama bundamu cuman ada hal lain yang sangat sulit Ayah lupakan. Meski Ayah masih ragu akan kehadiranmu, tapi Ayah berharap kamu benar-benar hadir ditengah keluarga ini, Ayah sayang kamu nak.' Akmal berhasil mengusap lembut perut Alina yang memang masih rata dan belum berisi yang terbalut gamis berwarna hitam, Akmal mengusapnya terkesan sangat pelan agar Alina tidak terbangun.


"Leganya.. Tapi kenapa gue tiba-tiba pengen ngusap perutnya ya? Apa gue ngidam? Ya masa gue ngidam," ucap Akmal hatinya plong plus bahagia keinginannya terpenuhi. Tapi aneh juga baginya tiba-tiba bersikap seperti ini.


.....


Next✨


Akmal ngidam gengs...😁


Instagram ku: @im.silpa🤗