
"Nak Akmal, bagaimana keadaan Alina?" tanya umi pada Akmal yang baru saja keluar dari kamar rawat sang istri.
Wajahnya sendu dipenuhi kesedihan, Akmal menoleh dan berkata, "sudah baikkan," ucapnya dengan nada pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Zahra sembari menepuk pundak adiknya itu.
Akmal mendongakkan kepalanya menatap langit-langit rumah sakit, setelahnya air mata jatuh kepipinya.
"Ada apa Akmal?" tanya lagi sang kakak.
"Alina.... dia amnesia," ucapnya sembari menangis tak kuasa menerima kenyataan itu.
"Kamu bercandakan Akmal?" tanya Zahra, Akmal menjawabnya hanya dengan gelengan kepala.
Umi yang berdiri dihadapan Akmal tangannya begitu bergetar, dia merasa sangat cemas karena mendengar pernyataan dari menantunya itu.
"Akmal, lebih baik kau antar umi pulang, soal Alina biar mbak saja." Akmal mengangguk.
"Ayo umi Akmal antar pulang,"
"Umi istirahat saja, soal Alina biar Zahra yang urus." Zahra tersenyum seraya meyakinkan pada uminya Alina jika keadaan Alina akan segera membaik. Setelah itu Akmal menggandengkan tangan umi dan pergi keluar rumah sakit.
.....
Zahra membuka pintu kamar rawat Alina.
"Assalamu'alaikum," ujar Zahra.
Alina menatap Zahra.
"Waalaikumsalam" jawab Alina dengan suara yang masih serak.
"Kamu sudah sadar," kata Zahra sembari menampilkan senyum kebahagiaannya, Zahra terus melangkah mendekat ke arah ranjang yang mana Alina terbaring disana.
Alina masih saja menatap Zahra.
"Kamu siapa?"
"Aku Zahra mbak mu," ucap Zahra.
Setelah benar-benar sampai disamping ranjang Alina, Zahra kembali bertanya. "Apa kamu benar-benar tidak mengenalku?"
Alina sedikit berpikir tapi tiba-tiba kepalanya sakit kembali, Alina memegangi kepalanya sesekali ia juga menjambak rambut yang tertutup hijab instannya.
"Aaaahhh..."
"Tidak usah dipaksakan." Tegur Zahra sambil menurunkan tangan Alina yang terus saja menjambak rambutnya.
Setalah beberapa menit keduanya hanya terdiam. Dimenit berikutnya Alina mencoba untuk turun dari ranjangnya. Tapi dengan sigap Zahra menahannya.
"Mau kemana?"
"Aku mau keluar,"
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Akmal dan Dokter yang merawat Alina selama ia terbaring lemah.
"Alina! Mau kemana?" tanya Akmal khawatir dengan cepat ia berlari mendekat kearah sang istri.
"Aku mau keluar, ngapain kamu bawa dokter kesini? Lagian apa pedulimu padaku?"
"Aku ingin kamu diperiksa, takutnya ada apa-apa dengan kepalamu itu."
"Aku gak papa, aku sehat kok," ujar Alina menyangkal.
"Alina, lebih baik kamu tidur dulu, biar dokter periksa kamu dulu."
"Tapi aku memang tidak apa-apa, lagian untuk apa kalian peduli! Toh aku saja tidak mengenal kalian sama sekali."
Dokter itu hanya cengengesan kemudian mengangguk.
"Saya periksa dulu ya, cuman sebentar kok," ucap sang Dokter tapi dengan cepat Alina menolaknya.
"Nggak, aku gak papa kok dan siapa juga yang amnesia. Aku hanya pura-pura Mas," ucapnya.
Dokter itu terus saja tersenyum melihat tingkah Alina tersebut.
"Hah, kamu gak amnesia?" tutur Akmal kesal.
Alina mengangguk kemudian tersenyum.
"Mbak kira kamu benar-benar lupa sama kita semua."
"Hehehe maaf, aku kaya gitu cuman pengen lihat reaksi Mas Akmal aja mbak. Aku pengen lihat apa dia benar-benar khawatir padaku, aku gak mau Mas Akmal jauh lagi dariku," ucap Alina pelan.
Dan ucapnnya itu berhasil membuat Akmal terdiam.
"Kalo begitu mari saya periksa sebentar saja, kalo memang sudah sehat, ibu Alina bisa istirahat di rumah." ujar sang Dokter.
Alina mengangguk.
"Silahkan berbaring lagi, mau saya periksa," pintanya.
Selesai sudah Dokter memeriksa dan memang kondisi Alina sudah lebih baik.
"Ibu Alina sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, untuk luka dikepalanya juga sudah lumayan pulih."
"Aku gak papa Mas,"
Akmal tersenyum bahagia. Tapi seketika matanya sendu menatap wanita dihadapannya, Akmal ingin sekali menangis keras, ingin sesegara mungkin ia ceritakan kenyatan jika bayi yang dikandungnya telah meninggal dunia, tapi Alina belum juga sadar dengan perutnya yang gini berubah menjadi rata.
Zahra yang menyadari keadaan sang adik ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang seraya pasrah dengan keadaan yang menimpa sang adik.
"Alina kalo begitu mbak pulang ya, kalo nanti kamu udah sampai dirumah kabarin mbak." Alina mengangguk.
Zahra bangkit dari duduknya lalu melenggang mendekati Akmal lalu berkata, "beritahu istrimu secepatnya, sebelum ia menyadarinya." bisik Zahra pada Akmal setelahnya Zahra keluar kamar rawat itu.
Akmal mendekati Alina dan menggenggam tangan itu erat.
"Ayok kita pulang," tutur Akmal, Alina tersenyum lalu menguatkan genggaman tangannya pada Akmal untuk berjalan.
Kini Alina sudah duduk dikursi roda.
"Sebelum kita pulang kerumah, aku mau ajak kamu kesuatu tempat dulu," ucap Akmal yang posisinya berjongkok didepan sang istri.
"Kemana?"
"Rahasia," jawab Akmal sembari mengelus lembut kepalanya Alina. Lalu berdiri dari posisinya dan kini ia mulai mendorong kursi roda yang diduduki Alina.
"Mau kemana sih Mas, kok main rahasia-rahasiaan segala." Alina menolehkan kepalanya kebelakang.
"Gak usah tengok-tengok, nanti juga bakal tau kok," ucap Akmal yang terus saja mendorong kursi roda sedangkan Alina memanyunkan bibirnya kesal.
.....
**Hallo👋
Maaf ya author baru bisa up😁 maaf juga part ini pendek banget🙏🏻
Semoga kalian selalu suka ya☺️**
Jangan lupa tinggalkan jejak nya✨👌
See you next part 🤗