
**Hai guys π masih baca cerita ini? Masih dong... Hehehe π masih juga nunggu Part berikutnya kan, kan? Author harap masih pantengin cerita ngaco ini ya.
Gak usah lama-lama deh ya, langsung baca aja*. Happy reading ππ*
.....
Suasana beberapa hari ini sangat dingin, karena hujan terus saja mengguyur kota.
Akmal masih setia memegangi pundak Alina, Alina yang masih memejamkan matanya enggan untuk membuka, Akmal menyuruhnya agar dia tidak membuka mata sebelum ada perintah darinya.
Dilubuk hati terdalam Alina ia merasa sangat bahagia atas perlakukan sang suami padanya. Semenjak pernikahannya dengan Akmal baru pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti ini, apalagi pake acara rahasia-rahasian seperti ini, sungguh hati Alina bergejolak bukan main.
"Bukalah, buka matamu Alina."
Alina mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menfokuskan tatapannya pada pantulan dirinya didepan cermin. Alina masih belum saja menyadari jika ada perubahan pada tubuhnya. Alina melirik kearah sang suami seolah bertanya, apa maksudnya ini?
Setelah beberapa kali lagi menatap lekat dirinya dicermin. Kerutan alisnya mulai terlihat jelas. Perut? Buncit? Tidak lagi!
Dan kini Alina baru menyadarinya.
Air mata Alina meleleh seketika.
Tanganya kini bergerak mengusap perutnya yang tak lagi buncit. Permukaan perutnya rata hanya dalam beberapa hari. Semakin liar ia meraba setiap inci perutnya dengan tangan gemetar. Alina menangis sejadi-jadinya ketika ia sadar jika bayi yang beberapa bulan dikandungnya hilang.
"M-maafkan... ak..aku" Alina menoleh kearah Akmal yang sedari juga menangis menahan sakit yang sama dengan Alina.
"Aku tidak tahu harus bagaimana saat itu. Satu sisi aku tidak ingin kehilangan bayi kita, tapi... jika aku memilihnya, bagaimana dengan kamu. Aku benar-benar bingung saat itu Alina." jelas Akmal yang masih kentara dengan tangis pilunya.
Akmal berlutut dihadapan Alina. Dia semakin menangis ketika mengingat kejadian itu.
"Aku memang laki-laki yang tidak punya pendirian. Aku bodoh...." Akmal menjambak rambutnya frustasi.
Akmal menunduk, air matanya dibiarkan terus berjatuhan dilantai.
"Seharusnya aku saja yang mati!..."
Langkah kaki mendekat kearah Akmal. Alina berjalan pelan, hatinya yang berharap Akmal akan memberinya hadiah ternyata salah. Dan seketika rasa kesal muncul dalam dirinya, ingin sekali ia memukul laki-laki dihadapannya, ingin rasanya ia lampiaskan kekesalannya itu, tapi itu hanya akan memperbudak keadaan saja, dan ia tahu jika laki-laki itu juga sama terpukulnya.
Akmal mendongakkan kepalanya, dia menatap sang istri dengan air mata yang masih terus mengalir.
"Mengapa ujian yang kau berikan begitu sulit untuk hambamu yang lemah ini, ya Rabb..." Ucap Alina dalam hatinya sembari menatap wajah sang suami.
"Sudahlah Mas, jika kita terus menangis begini, itu tidak akan membalikan keadaan seperti semula, jangan menyalahkan dirimu, aku ikhlas dengan kepergian bayi kita, mungkin ini jalan terbaik yang Allah persiap untuk kita," ucap Alina sembari berusaha membangun Akmal dari posisi berlututnya.
"Aku tidak marah karena kamu memilih aku dari pada bayi kita, jangan menangis Mas. Aku akan terus menangis jika kamu tak berhenti menangis, jadi berhentilah menangis."
"Lebih baik kamu mengantarku ketempat dimana anak kita tinggal, aku ingin berjumpa dengannya, meski tidak lagi bisa melihat wajahnya setidaknya aku masih bisa melihat tempat tinggalnya. Aku ikhlas dengan semuanya, meski sangat menyiksa dan membuat luka baru, tapi aku bahagia karena masih bisa melihat dunia ini."
"Jangan menangis lagi Mas. Jangan pernah bersedih lagi dihadapanku karena anak kita. Semua yang terjadi ini sesungguhnya karena Allah, kita hanya bisa pasrah dan menerima. Jangan salahkan dirimu, kamu juga tidak perlu meminta maaf padaku. Ini semua memang sudah jalannya." Alina menghapus air mata sang suami kemudian tersenyum.
"Aku ingin bertemu anak kita, aku ingin tahu namanya melalui tulisan yang ada di batu nisannya," berhenti sejenak. "Aku ingin tahu kapan dia lahir dan meninggalkannya, aku juga ingin sedikit lebih lama memeluknya." Alina terus saja tersenyum meski perasaan yang sebenarnya ia begitu hancur. Tapi ia tidak ingin melihat sang suami menangis terus menyalahkan dirinya.
"Tidak apa-apa, aku ikhlas Mas." jawab Alina sambil terus menenangkan laki-laki yang ada dipelukannya.
"Kamu antar aku kemakan anak kita ya," pinta Alina, Akmal mengiyakan hanya dengan anggukan.
Selepasnya mereka keluar kamar dan masuk ke dalam mobil.
.....
Sesampainya di TPU mata Alina terpaku memandang gundukan tanah merah yang diatasnya terdapat taburan bunga yang masih baru. Ia menatap lekat batu nisan itu, memastikan jika jasad yang ada didalam kuburan itu memanglah bayinya.
Alina bergerak lebih dekat, tangannya memegang batu nisan itu. Tak lama ia beralih memandang Akmal yang berada disampingnya setelah ia membaca nama yang ada batu nisan 'Viannisa Farriza'
"V-viannisa Farriza? Nama anak kita?" ucap Alina dengan suara serak.
"Iya."
Alina mengalihkan kembali tatapnya pada batu nisan, jemarinya terulur merawa seluruh ruas batu nisan milik putrinya. "Nak..."
"Bunda yakin kamu sudah tenang disana, maafkan ayahmu karena dia lebih memilih bunda dari pada kamu, bukan ayah menginginkan kamu pergi lebih cepat tapi keadaanlah yang membuat ayahmu harus memutuskan menyelamatkan bunda, kamu jangan benci ayah ya... Bunda sama ayah sayang kamu nak, tapi takdir tidak dipihak kita, bunda harap kamu berada di surganya Allah berkumpul bersama bidadari-bidadari surga disana." jutaan derai air mata menyelimuti suasana di pemakaman.
Hampir 15 menitan mereka berada disana disamping kuburan putrinya dengan tangis yang tiada henti.
"Ayok kita pulang sayang," Alina menoleh pada suaminya dan menatap laki-laki itu dengan wajah yang kacau. Hal itu membuat hati Akmal sakit, kenyataan pahit ini begitu memberikan luka dalam yang begitu memilukan untuknya dan juga sang istri. "Mengapa kau ambil putriku lebih cepat, ya Allah... Aku bahkan menunggu kelahirannya kedunia, aku berharap besar pada kehadirannya, tapi... takdirmu lebih dulu menjemputnya tanpa menitipkan secarik pesan untuk aku dan istriku, mengapa kau limpahkan sakit yang lebih dalam pada istriku?! Disini aku yang banyak dosa, aku laki-laki yang menyakiti istrinya tanpa henti! Tapi mengapa kau malah menjemput putriku yang masih dikandungnya. Baru saja aku ingin memulai lembaran baru bersamanya, tapi dengan cepat kau patahkan hatinya, aku takut jika nanti aku juga akan menyakitinya lagi, bahkan untuk menyentuhnya saja dulu itu karena kejadian gilaku, aku tidak berani memintanya secara baik-baik, meski awalnya aku memang tidak ingin kehadirannya tapi saat itu sudah ku singkirkan jauh. Mengapa? Mengapa sulit sekali untukku memulai yang baik dengannya? Apa aku memang tidak pantas bersanding dengannya?" kata Akmal dalam hatinya ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendesah pasrah.
Alina yang masih fokus pada nisan itu, seketika mengalihkan perhatiannya ketika sebuah ukuran tangan terulur disampingnya. Alina memandang uluran tangan itu cukup lama.
"Ayo..." ajak Akmal.
"Tapi aku ingin lebih lama sedikit disini."
"Kita pulang, ayo."
Awalnya Alina menolak, namun akhirnya Alina mengangguk juga. Ia menyeka air matanya agar tidak terjatuh ketanah, ia tidak ingin meninggalkan tangisnya ditaas kuburan kecil putrinya.
"Bunda pulang ya sayang. Besok-besok, bunda datang lagi ya... Nanti malem bunda bakal bangun buat kirim kamu doa, supaya didalam sana kamu gak kegelapan, sayang... Bunda sayang kamu, semoga kamu bobonya tenang ya, kalo kamu kesusahan disana datang kemimpi bunda, bunda bakal rajin kirim doa buat kamu supaya kamu bisa tenang bobonya. Good night baby" Alina menghela nafas panjangnya seraya melepaskan semua bebannya. Langkah kakinya kini sudah mulai menjauh dari gundukan tanah merah itu.
.....
**Masih setia baca cerita author ini?π€
Thanks u yaπ uuuuπππ
Typo-typo koreksi yaππ»**
Jangan lupa vote dan komenπ
See you next part ππ