The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|37|



Hari yang begitu cepat berlalu membuat Alina tak menyadari jika kini kandungannya sudah menginjak 4 bulan. Dan perut yang tadinya rata kini sudah membulat saja, dan tendangan kecil dari dalam sering sekali Alina rasakan.


Banyak sekali pelajaran yang ia petik dari kejadian ini, sekian lama ia meninggal kota Jakarta rasanya ia merindukan uminya. Bagaimana kabar wanita itu?


Saat ini Alina tengah sibuk memandangi pantulan dirinya yang tampak dicermin lemari kamarnya, sungguh saat mengenakan gamis panjangnya ini perutnya sudah mulai terlihat.


Tanpa terasa air mata itu mengalir membasahi pipinya.


"Masyaallah nak cantik sekali." puji Bi Arum ketika melihat Alina.


"Bibi bisa saja," ucap Alina dengan wajah malu-malu.


"Bi Arum hari ini Alin akan pergi mengunjungi umi," ucap Alina sembari berjalan kearah lemari didepannya dan mengeluarkan tas dan bajunya.


"Nak Alin mau ke Jakarta?" tanya Bi Arum pada Alina.


"Iya bi, kemarin Alin nelpon Dinda tanya keadaan umi, katanya umi sakit." jelas Alina.


"Sakit?"


Alina mengangguk, "hanya sakit biasa bi, tapi Alin juga merindukannya, Alin pamit ya bi," ucap Alina sembari mencium tangan Bi Arum.


"Ya sudah, nak Alin hati-hati ya dijalan, sampaikan salam bibi pada umi," ucap Bi Arum. Mereka berjalan keluar kamar. Tak lama suara klakson mobil terdengar.


"Bi Arum, Alina pergi ya, Assalamu'alaikum." ucap Alina lalu masuk kedalam mobil.


"Waalaikumsalam," jawab Bi Arum sembari tersenyum. Mobil itupun melaju, Bi Arum masih pada posisinya tangannya terus saja melambai-lambai hingga mobil itu tak terlihat barulah ia masuk untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


.....


Perjalan yang panjang dari Bandung ke Jakarta cukup membuat Alina ingin cepat-cepat sampai dirumah uminya.


"Pak, didepan sana ada restoran tolong berhenti dulu ya, saya lapar." ucap Alina.


"Iya non," sopir itupun menepikan mobilnya dan parkir ditempat parkir yang memang sudah disediakan disana.


"Bapak mau ikut makan juga?" tanya Alina yang posisinya sudah diluar mobil.


"Tidak usah non, saya sudah sarapan tadi," jawab sopir itu.


"Baiklah, kalo begitu saya makan dulu pak," setelahnya Alina berjalan masuk ke restoran itu. Jarak dari restoran kerumah uminya tidak terlalu jauh lagi kok, sekitar 10 menitan saja. Tapi cacing diperutnya sungguh berisik meminta makan.


Kini Alina sudah duduk dan memesan makan. Tiba-tiba suara ponsel didalam tasnya berbunyi, Alina merongoh ponsel itu dan menggeser tombol itu untuk menjawabnya. Tertera disana nomor yang tidak dikenal.


"Halo, Assalamu'alaikum, ini siapa?"


"Waalaikumsalam, aku Sandra Alina,"


"Sandra? Kau bisa tahu nomerku dari mana?" Alina sedikit terkaget ketika lawan bicaranya saat ini Sandra.


"Dari Dinda, kemarin aku menemuinya dan memohon padanya agar memberitahu nomermu, tidakkah kau marah padaku Alina?" tanya Sandra.


"Tidak kok, bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku baik,"


"Kau dimana Alina?"


"A-aku..."


"Tidakkah kau merindukan suamimu? Tidakkah ada keinginan untuk menemuinya?"


"Kembalilah Alina, aku mohon kembali, temuilah suamimu dia sudah berubah sekarang, dan janganlah kau merasa tidak enak karena aku, aku bukan siapa-siapanya aku tidak ada hak untuk merebut suamimu, percayalah padaku." Alina yang mendengar matanya tiba-tiba perih, goresan kecil dihatinya terasa menyayat.


"Untuk saat ini aku tidak bisa memutuskan, kita bicara lagi nanti Sandra, aku sedang ada kepentingan, Assalamu'alaikum." putus Alina menutup telponnya.


Alina beranjak dari duduknya lalu melenggang pergi, rasanya perutnya sudah tak lapar lagi entah kenapa tapi itu tiba-tiba. Terdengar seseorang memanggil tapi Alina abaikan, mungkin itu suara pelayan restoran tapi sungguh perut Alina tiba-tiba tidak lapar lagi.


Kini ia sudah sampai didepan pintu mobil.


"Non, itu mbaknya manggil-manggil dari tadi," Alina menatap kearah sopir itu. Lalu beralih kearah pelayan didalam restoran yang terus saja menunjuk-nunjuk makanan yang ada diatas, Alina mengabaikannya lalu masuk kedalam mobil.


"Udah pak abaikan saja, kita lanjut perjalanan aja," ucap Alina dingin.


Mobil yang Alina tumpaingi pun melaju membelah jalan kota Jakarta. Alina yang tiba-tiba terdiam sambil mengelus perutnya. Pak sopir yang melihat perubahan Alina mengkerutkan alisnya. Tak sampai disitu sopir itu masih terus saja melihat-lihat kearah Alina lewat kaca mobilnya, mungkin heran dengan perubahan Alina yang tiba-tiba diam enggan untuk bicara.


"Non ada masalah?" sopir itu membuka pembicaraan.


Alina menatap dingin sopir itu, lalu menggeleng.


Alina terus menajamkan pandangannya pada jalanan kota, tak lama sampailah tepat didepan rumah yang tak terlalu besar. Terdengar hembusan nafas kasar dari Alina, lalu ia keluar mobil dan berjalan masuk kerumah itu.


Didepan pintu segeralah ia mengetuknya. "Assalamu'alaikum, umi,"


"Waalaikumsalam," jawab uminya dari dalam. "Alina, ya Allah umi sangat rindu padamu nak," lanjut umi sembari memeluk anak satu-satunya itu.


"Alin juga rindu umi, bagaimana kabar umi?" tanya Alina.


"Masuk dulu nak, Alhamdulillah umi sehat, bagaimana denganmu?" tanya balik umi.


"Alin sehat mi," sambil tersenyum


"Cucu umi juga sehatkan?" ucap umi sembari mengelus lembut permukaan perut Alina.


"Alhamdulillah sehat, kata Dinda kemarin umi sakit?"


"Ah tidak apa-apa, umi hanya kecapean Lin," jawaban umi selalu saja seperti itu, padahal aku tahu umi sakit karena memikirkan ku, aku merasa bersalah pada umi. Seharusnya setelah Abi pergi aku yang menggantikan posisi itu, tapi apa, aku malah pergi meninggalkan umi demi mementingkan diri ini.


"Maafkan Alina umi, seharusnya Alina selalu ada disisi umi, maaf karena Alin pergi demi kebaikan diri Alina sendiri tanpa memikirkan umi," Alina menumpahkan tangisnya pada wanita tua didepannya.


"Tidak nak, tidak, umi baik-baik saja disini, dan umi paham kondisimu." jawab umi sembari menenangkan.


"Tapi tetap saja Alina egois umi,"


"Sudahlah, umi tidak akan memaksamu untuk tetap bersama suamimu, jika berpisah itu pilihanmu umi tidak bisa apa-apa, tapi ingatlah nak, perceraian itu salah satu hal yang Allah benci. Umi ingat sekali ketika dulu umi dan Abimu berada diposisi mu dan suamimu, umi bimbang, umi tidak tau jalan mana yang harus umi pilih, tapi pasrah itu satu-satunya jalan untuk diam, umi sempat meminta Abi untuk menceraikan umi tapi jika jalan Allah bukan itu maka tidak akan adalah perceraian itu, coba lihat sekarang kau ada didunia ini, bagaimana jika saat itu umi bercerai dengan Abi mungkin kau tidak akan ada. Takdir Allah itu sempurna semuanya penuh teka-teki dan prosesnya itu sangatlah panjang, yang umi ingin saat ini hanya satu umi ingin kau bahagia, dan jika bisa... janganlah bercerai dengan nak Akmal, umi yakin dia bisa memperbaiki semuanya, semua orang bisa khilaf tidak ada orang yang sempurna didunia ini Alina, bahkan umi saja bukanlah ibu yang sempurna untukmu, umi tidak bisa membuatmu bahagia." suasana tiba-tiba menjadi haru, air mata itu keluar dari pelupuk mata yang sudah mulai keriput, tangisnya membuat orang dihadapannya merasa bersalah.


Alina menyeka air mata itu, "umi... maafkan Alina, maaf karena keputusan Alina membuat umi sedih, sebenarnya Alina tidak ingin ini terjadi, tapi mas Akmal terus saja membuat Alin ragu, Alin takut bertahannya Alin sia-sia Alin tidak ingin terus disakitinya, umi..." Alina terus saja meneteskan air matanya.


"Alina belum menyerahkan surat gugatan kok umi, Alina masih mempertimbangkannya, jika mas Akmal berubah dan ingin memperbaiki semuanya insyaallah Alina dengan senang hati memberi kesempatan itu." jelas Alina.


"Umi senang mendengar itu nak, bagaimanapun nak Akmal itu masih suamimu sampai saat ini temuilah dia, kamu harus menghormatinya bagaimanapun dialah pengganti Abi, imam kedua setelah Abimu, apalagi nak Akmal ayah dari bayi yang ada diperutmu, janganlah egois, umi dan Abi tidak pernah mengajarkan itu, temuilah... Ciumlah tangannya karena istri Sholehah itu adalah wanita yang menghormati suaminya bagaimana pun kondisinya kau harus tetap menghormatinya." umi mengelus rambut Alina yang tertutup hijab panjangnya. Alina tersenyum.


"Terimakasih telah menjadikan umi sebagai ibuku ya Rabb, sungguh hatinya sangatlah lembut dan baik, jika nanti engkau mengambilnya pertemukanlah dia dengan Abi disurgamu, maafkan aku yang lalai dengan kewajibanku sebagai seorang istri ya Rabb, maafkan aku yang egois ya Allah, aku pergi tanpa memikirkan orang-orang yang disekeliling, maafkan aku ya Rabb, jika memang dengan kembali padanya adalah jalan terbaik untukku ataupun orang-orang yang ingin melihatku bahagia maka aku siap untuk kembali, karena luka ini terlalu dalam bantulah aku untuk melupakannya ya Allah, Bismillahirrahmanirrahim." Gumam Alina dalam hatinya yang memantapkan diri untuk kembali pada kenyataan jika ia memang ditakdirkan untuk laki-laki yang bernama Akmal.


.....


Next ✨


Semoga suka ya😊 maaf kalo typo-typo 🙏🏻


Follow Instagram author ya🤭 @im.silpa🤗


Jangan lupa tinggalkan jejak 💕