
"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari luar rumah.
"Waalaikumsalam," jawab kedua wanita yang tengah asik berbincang diruang tamu.
"Biar umi yang buka," kata Umi, lalu berjalan kearah pintu.
"Ada perlu...."
"Umi" potong orang itu.
"Nak Azka, susah lama sekali umi tidak melihat nak Azka, kemana saja?" ucap umi riang. "Mari masuk,"
"Alina ada yang mencarimu," ucap umi.
Alina mendongak, "Huh! Siapa umi?"
"Nak Azka,"
Alina langsung berdiri, "Benarkah umi?"
"Iya, sekarang dia ada ditaman belakang."
"Kalau begitu Alin temuin Azka dulu mi, kalo Mas Akmal udah bangun suruh dia sarapan." setelah itu Alina keluar rumah.
Sesampainya ditaman belakang terlihat sesosok lelaki tampan yang sudah tak asing duduk dikursi taman. Alina masih tertegun tak percaya, setelah sekian lama tak bertemu, hari ini ia bertemu laki-laki yang sudah ia anggap seperti abangnya sendiri.
"Assalamu'alaikum," sapa Alina.
Laki-laki itu menoleh dan langsung berdiri, "wa'a-wa'alaikumussalam," jawabnya terbata.
Deg!
Tiba-tiba dadanya berdentum hebat, rasa senang, bahagia, haru, bercampur menjadi satu. Wajahnya masih sama, tak ada yang berubah darinya. Entah kenapa ia harus jatuh cinta pada gadis yang dulu sering merengek dan sering menjailinya. Alina, gadis cantik yang terbalut gamis panjang dan hijab syar'i yang kini memperindahnya.
"Sudah lama tidak bertemu Alina, bagaimana kabarmu?"
Alina tersenyum, "Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu? Mana calon istrimu?"
"Syukur Alhamdulillah kalo sehat. Calon yang mana sih Lin?"
"Ya... yang mana saja yang penting Sholehah,"
"Aku tidak bisa menikah,"
Alina menyatukan alisnya heran. "Kenapa?"
"Karena wanita yang akan ku jadikan istri masih berstatus istri orang." sindirnya.
"Azka...." Alina memanyunkan bibirnya bete pada Azka. Sedang Azka terus tertawa melihat kelakuan Alina yang menurutnya sangat gemas.
Azka dan Alina yang terus saja sibuk dengan perbincangannya, mereka tidak menyadari jika dibalik jendela sana Akmal memperhatikan kegiatannya. Ada rasa tidak rela melihat Alina berbincang sedekat itu dengan Azka, ingin sekali ia melangkah kedekat mereka, tapi kakinya tiba-tiba sulit digerakkan. Mau tidak mau Akmal hanya bisa diam dan memandangi istrinya dari kejauhan.
.....
"Alina." jeda beberapa detik. "Jika benar nanti kau akan bercerai dengan Akmal, bolehkah aku menjadi penggantinya dihidupmu?"
Sontak Alina mencari candaan dalam wajah Azka. Laki-laki didepannya itu pasti bercanda, tidak mungkin ia serius.
"Aku serius, Alina. Izinkanlah aku tinggal dihatimu, meski hanya sedikit... setidaknya hati ini bisa menerimaku, karena aku yakin setelah ada harapan kecil itu, rasa dan cinta yang sebenarnya akan secara tiba-tiba datang." ungkap Azka jujur.
Alina kembali tercengang, bagaimana mungkin? Dia sudah seperti abangnya sendiri.
"Please, Lin." Azka berusaha meraih tangan Alina yang menggenakan handsock.
"Alina, aku tahu itu. Tidak apa, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Cobalah pikirkan terlebih dahulu, kau boleh menjawabnya setelah perceraianmu selesai."
Suasana ditaman itu tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Maaf Azka, tapi Jawabanku masih tetap sama, aku tidak bisa." Alina yang tadinya memunggungi Azka kini ia terfokus pada mata Lelaki itu. Lewat tatapannya Alina mengatakan jika ia memang tidak bisa menerima Azka.
"Apa itu karena Akmal?" jeda beberapa detik, "astaghfirullah Alina, dimana mata hatimu... tidakkah kau ingat kelakuannya padamu? Dia itu..."
"Aku tahu Mas Akmal memang jahat padaku, tapi ingatlah juga dia itu masih suamiku, dan aku harus menghormatinya, meski nanti aku dengannya bercerai jawabanku tetap sama! Aku tidak bisa menerimamu, Azka." Emosi Alina mulai memuncak.
Sebelum berbicara lagi Alina menarik nafas mengatur emosinya terlebih dulu. "Carilah wanita yang lebih pantas Azka, dan lupakan aku, buanglah perasaanmu padaku, berikanlah cinta itu pada wanita yang memang lebih pantas menerima cinta lelaki Sholeh sepertimu." jeda, "Mungkin kita ditakdirkan hanya menjadi sahabat, tidak apa, semoga ikatan sahabat itu sampe ke akhirat juga. Aku tidak ingin kita putus sampai disini, tenangkanlah hatimu, dan kembalilah padaku ketika kamu sudah menemukan calon istrimu, dan aku akan datang padamu bersama laki-laki yang memang itu adalah jodohku, jika memang kita ini adalah jodoh, kau tidak perlu resah karna bagaimanapun jalannya kita akan bertemu lagi, karna takdir tidaklah ada yang tahu." lanjut Alina menjelaskan.
"Assalamu'alaikum, aku duluan Azka." ucap Alina kemudian melangkah masuk kembali kedalam rumah.
Sebelum pergi ia sempat menatap Azka dengan rasa bersalah, namun kuat tersirat kata maaf dari tatapannya.
Selepas Alina pergi Azka hanya diam dia merenungkan ucapan Alina. Setelah itu ia pergi.
.....
Akmal yang tadi hanya diam saja, kini setelah melihat Azka pergi ia mengikuti laki-laki itu hingga ia memanggil namanya.
"Azka"
Azka menoleh, "Saya perlu bicara denganmu." ujar Akmal dingin.
"Langsung saja. Apa maksud kamu menemui Alina lagi?" tanya Akmal to the point lengkap dengan tatapan mengintimidasi.
"Tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin bertemu dengannya saja." jawab Azka dengan tidak merasa terintimidasi sama sekali.
Emosi Akmal seketika bergejolak mendengar ucapan dari Azka.
"Saya tahu, kamu sudah mengenalnya sejak kecil. Tapi mulai sekarang, saya tidak mengizinkan kamu berhubungan dengan istri saya jika tidak ada urusan yang teramat penting!" tegas Akmal.
"Istri?!" ucap Azka setelahnya ia menyunggingkan bibirnya sembari mendengus, "Memang aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada Alina. Heh! Sejak kapan kau menganggapnya istri, bukannya kau tidak ingin pernikahan ini." melihat wajah Akmal, Azka langsung menyeringai, merasa puas menumpahkan kekesalannya pada orang dihadapannya.
"Ya, memang benar, tapi untuk sekarang saya tidak akan memberikan Alina pergi lagi. Apalagi pergi pada laki-laki sepertimu, tahu agama tapi tidak bermoral! Sudah tahu istri orang masih saja didekati." ucap Akmal.
"Perbuatan saya pada Alina tidak bisa kau sangkut pautkan dengan agama, karna yang saya lakukan murni dari hati saya, saya hanya tidak ingin melihat wanita yang saya cintai terus saja tersakit oleh laki-laki brengsek sepertimu!"
Bugh!
Akmal mendaratkan pukulannya pada pipi Azka. Azka yang mendapat pukulan keras, wajahnya terlihat kaget membuat matanya melotot lebar.
"Kau!!" Azka langsung mencengkeram dan menarik baju yang dikenakan Akmal. Emosinya kali ini sudah memuncak.
"Pukul, ayo pukul!!" ucap Akmal. "Kenapa, tidak berani?"
Azka mendesah kasar, "Aargh!!" Azka melepas cengkramannya. Bukan ia tidak berani memukulnya tapi ia tidak ingin masalah semakin rumit.
Akmal menyeringai menang, setelah itu Akmal mengibas-ngibas bekas cengkraman Azka dibajunya lalu melangkah masuk kedalam rumah.
"Aargh!!" Azka menghantamkan kakinya kegerbang.
.....
Semoga suka ya😊 gak suka juga gpp sih.
Ada beberapa perubahan dari cerita ini ya, tapi untuk alur gak berubah sih, cuman dari percakapan aja jd buat yg pengen ngerti silahkan baca lagi dari part 41 aja😊👍
Jangan lupa tinggalkan jejak 👌 typo-typo maaf ya🙏🏻