The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|24|



"Lin... Bangun Lin" Akmal menggoyangkan pelan tubuh sang istri.


"Hmmm." gumam Alina masih menutup mata.


"Pindah, jangan tidur disini, nanti kamu bisa masuk angin,"


"Mas udah pulang? Kapan? Kok aku gak denger suara mobilnya," Alina mengucek matanya.


"Udah gak usah bahas itu, cepet masuk kamar," titah Akmal, Alina mengangguk lalu berjalan menuju kamar dilantai dua. Langkahnya berhenti lalu membalikan tubuhnya melihat sang suami.


"Mas laper gak?" tanyanya.


"Kamu laper? Pengen makan?"


"Iya, tiba-tiba laper pengen makan"


"Ya sudah mas buatin telur dadar, gimana?" ucap Akmal sebenarnya ia sangat lelah hari ini, dikampus kerjaannya lumayan padat. Tapi entah kenapa ia merasa khawatir jika membicarakan Alina menahan perutnya.


"Boleh Mas," sahutnya, pipinya merona, entah kenapa ia sangat sulit untuk membenci suaminya itu, setiap kali suaminya itu merayu atau memberikan perhatian sedikit saja Alina merasa bahagianya luar biasa. Ya seperti malam ini, padahal hanya ditawarkan telur dadar, tapi hatinya senang ia dapat melihat jika suaminya itu tulus ingin membuatkan makan untuk nya, baru pertama kalinya Akmal melakukan ini padanya.


Alina melongo saat melihat telur mata sapi yang bulat sempurna.


"Selama pindah kerumah ini Mas belum pernah masak, Mas juga cuma bisa buat ini,"


"Kamu suka gak?" tanya Akmal hati-hati. Dilihatnya sang istri yang menghembuskan nafasnya pelan lalu tersenyum padanya.


"Suka kok."


"Bener?" Akmal menatapnya.


"Aku suka semua masakan, yang penting halal pasti aku makan,"


"Sayang...." panggil Akmal.


"Semoga suka ya, ini makan malam pertama kita." ucap Akmal akhirnya. Alina tersenyum dan menyuapi Akmal.


"Keburu dingin." bisik Alina tapi Akmal masih mendengar, ia tersenyum dan membuka mulut menerima suapan sang istri.


Mereka makan dalam diam, hanya beberapa kali melempar senyum. Walau hanya telur tapi Alina bahagia.


Akmal menyodorkan air pada Alina, "Ayo minum."


"Mas duluan aja, alin belum haus kok," Akmal menggeleng mau tak mau Alina meminumnya. Selanjutnya ia melotot saat sang suami meminum bekas bibirnya.


"Mas..." bisik Alina Akmal meneguk habis airnya. Akmal mendekat pada Alina, tangannya lalu membungkuk. Tanpa pikir panjang Akmal mencium bibir ranum itu.


Alina mendorong tubuh Akmal tapi tidak bisa, akhirnya ia pun terbawa suasana dan mengalungkan tangannya dileher Akmal. Mereka saling melumat seolah itu adalah ciuman terakhir.


"Maaf, karna Mas terlalu dingin padamu, jika kamu mengandung Anak kita Mas akan berubah," bisik Akmal kemudian mengangkat tubuh Alina dan membawanya kekamar melanjutkan apa yang seharusnya dilanjutkan. Membiarkan piring dan gelas tergeletak diatas meja.


.....


Malam tadi adalah malam kedua setelah malam beberapa minggu lalu Alina tidur dikamar Akmal, dan malam kedua ini adalah malam yang begitu indah. Ia tak percaya jika suaminya bisa berubah menjadi hangat dan perhatian, meski begitu Alina masih tetap mewanti-wanti hatinya agar selalu bersiap-siap, karna bisa saja ia dijatuhkan lagi.


"Mas!" seru Alina karena Akmal hanya memandangnya tanpa mengucapkan apapun.


"Apa sayang?" Alina memutar bola matanya saat mendengar ucapan santai sang suami. Ia berjalan menghampiri suaminnya. Berdiri dihadapannya setelah selesai dengan hijabnya.


"Mas Akmal ke kampus jam berapa, kok belum siap?" sekali lagi Alina bertanya dengan nada rendah. Bukannya menjawab, Akmal malah menariknya duduk dipangkuan Lelaki itu.


"Jam 10, Alin." Akmal menarik pingganya sampai tubuh mereka tertempel rapat. Menaruh kepalanya di bahu Alina.


Apa Mas Akmal sudah menerimaku sepenuhnya? Apa ini yang dinamakan nikmatnya pernikahan? Sungguh Alina sangat bahagia, tak henti ia mengucap syukur atas hari ini, semoga hari berikutnya akan lebih baik lagi.


Alina merasa pelukannya makin mengerat membuatnya menyerngit bingung dengan sikap Akmal pagi ini, ini pertama kalinya ia melihat suaminya begitu manja padanya, sikap dinginnya berubah menjadi hangat, " Mas..." bisik Alina sembari mengelus rambut halus Akmal.


"Hemmm?"


"Kenapa, ada masalah?" entah kenapa Alina merasa ada yang Akmal sembunyikan darinya. Dari semalam setelah mereka selesai ber***ta, Akmal lebih banyak diam sampai pagi ini. Tatapannya tidak bisa dibaca tapi Alina merasa ada ketakutan didalam pasang mata itu.


"Mas cuma gak mau jauh aja dari kamu." Alina merasa Akmal tersenyum dibalik bahunya. Terasa karena bibir Akmal menempel tepat dibahunya.


Akmal menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada Alina. "Kalo Mas nanti bersikap seperti kemarin-kemarin lagi, Mas minta satu, kamu harus bertahan dan jangan pernah pergi." ucapnya tersenyum.


"Insyaallah, Alin bakal berusaha tapi Alin gak bisa jamin, sabar itu ada batasnya Mas, tapi kalo Mas pengen kita perbaiki pernikahan ini, kita berjuang sama-sama, jangan cuma Alin aja yang berjuang Mas juga harus, supaya tau rasanya memperjuangkan ketetapan Allah itu seperti apa, meski sulit tapi yakinlah itu menyenangkan dan insyaallah pahala yang Mas dapatkan, dan ingat yang kita perjuangkan adalah suatu amanah dari lelaki yang menyayangi kita sejak kecil, amanah dari ayahnya Mas dan Abinya Alin juga." ucapku tersenyum.


Cup.


Alina melotot saat tiba-tiba Akmal menciumnya. Tatapan mereka beradu dengan bibir yang masih menempel, Alina bisa melihat Akmal menyeringai dibalik ciumannya. Membuat Alina panik dan segera mendorong tubuh sang suami.


"Mas, nanti aku telat," rujuknya sedikit malu. Akmal terkekeh lalu menarik tubuh sang istri dari pangkuannya. Alina masih menunduk karena malu, tapi kenapa harus malu? Akmal kan suaminya? Gak salah jugakan.


Wajar sih hal seperti ini baru bagi Alina, selama pernikahannya dengan suaminya. Walau mereka sudah melakukan itu, Alina masih merasa malu karena kembali pada kenyataan kalau mereka adalah orang asing yang memang tak saling kenal. Bahkan awalanya mereka tidak sebaik sekarang, dan Alina berpikir hal seperti ini malah tidak akan terjadi, ya karna pernikahannya memang tidak didasari cinta, pernikahannya terjadi karena perjodohan. Tapi skenario Allah-lah yang lebih kuat dan membuatnya menjadi seperti ini.


Alina merasa ada benda kenyal dan basah mengecup keningnya. Hangat. Perasaan Alina menghangat setiap kali Akmal melempar kecupan padanya. Ia memejamkan mata menikmati perlakuan sang suami.


"Aku antar." Akmal menggenggam tangannya. Berjalan meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu atas sikap manis Akmal.


.....


Lelaki yang tengah melamun diruangan kerjanya, ingatannya terus mengingat kejadian yang ia lakukan dengan sang istri. Kejadian yang sudah terjadi satu bulan lalu dan ia menyadari jika ia mengeluarkan sp**ma nya didalam, bukan ia menyesal melakukan itu. Tapi kini pikirannya kembali kacau karena mengingat wanita lain yang kesehatan nya terus menurun, wanita yang juga dicintainya. Kini ia memikirkan bagaimana jika sang istri hamil dan bagaimana jika ia disudutkan lagi pada pilihan. Harus memilih sang istri atau wanita yang dicintainya lebih dulu?


Apa boleh ia memiliki keduanya?


.....


Next✨


Akmal bimbang nih😳🤔


Instagram ku: @im.silpa🤗