
Disabtu pagi yang cukup cerah ini aku sudah siap dengan baju gamis dan Khimar instan ku. Aku ingin bertemu dengan Rehan setelah semalam Rehan memintaku bertemu, tentu saja aku sudah mengirim SMS pada Mas Akmal, tapi aku tidak tau apa ia sudah membacanya atau belum.
"Assalamu'alaikum Dok," salamku setelah sampai dimeja tempat Rehan duduk.
"Waalaikumsalam Lin, duduklah!" Perintah Rehan datar. Aku takut, bagaimana tidak setelah kejadian semalam aku sangat takut Rehan akan marah denganku.
"Dokter Rehan," panggilku.
"Panggil nama saja, aku kecewa Lin, suamimu benar-benar mempermalukanku."
"Dan apa kamu tau apa hal yang paling membuatku kecewa? Apa kamu tau siapa gadis yang selama ini aku maksud, yang ingin aku pinang?" apa maksud Rehan Ya Allah? Apa sangkut paut gadis itu denganku?
"Hal yang paling membuatku kecewa adalah pernikahanmu karna gadis yang inginku pinang adalah kamu Lin, mungkin kamu tidak pernah tau perasaanku, kamu juga tidak kenal aku sebelumnya. Tapi, aku lebih kenal kamu, lebih jauh dari suamimu itu." maksudnya apa? Aku tidak paham?
Deg
"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti? Sebelumnya kamu mengenal ku dari mana? Bukannya kita bertemu setelah kamu ditugaskan di rumah sakit tempat ku bekerja?" Tanya Alina meluncur terus.
"Aku sudah yakin kamu tidak akan mengenalku, yang jelas aku tidak hanya kenal kamu satu dua tahun saja! Aku juga tau alasan kenapa kamu menikah dengan Akmal, aku tau!"
"Maaf Rehan, tapi kamu kenal aku dari mana? Sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan mu." Ucapku gugup. Rehan terus menatapku tajam.
"Sudahlah! Aku memang bodoh, seharusnya aku lebih dulu menikahimu."
Sungguh, aku tidak tau maksudnya. Bagaimana dia bisa sejauh ini mengenalku?
Tiba-tiba Rehan yang tadi duduk berhadapan dengan ku kini ia mendekat dan berbisik ditelingaku. "Kau boleh menikah dengannya, tapi, jangan harap dia bisa memilikimu seutuhnya. Because you are mine." bisiknya dengan suara lembut membuat ku takut. Aku meneguk ludah. Pikiranku tiba-tiba menjadi buruk. Tidak, tidak! Bisa sajakan Rehan itu bercanda? Tapi...
"Kamu bercanda kan?" Ucapku gugup. Tanganku kini mulai bergetar, bahkan posisi dudukku saja sudah tidak nyaman lagi.
"Sttt...." Rehan menaruh telunjuknya dibibirku. Astaghfirullah, apa yang Rehan lakukan? Aku menatapnya ketakutan. Aku syok ketika melihat Rehan seperti ini, dia benar-benar gila tidak waras. Aku menggeleng tidak percaya.
Yang semakin membuat ku takut, Rehan malah menampilkan senyuman dibibirnya. Lama-lama aku bisa gila, akupun menepis tangannya.
"Jika kau masih bersama Akmal, maka aku akan tetap mengincarmu!" Rehan mengeluarkan pisau bedah dari saku celananya membuat mataku terbelalak.
.....
Alina meringis kesakitan, begitu Rehan menyayat tangan kirinya. Walaupun sayatan itu tidak terlalu panjang, tetap memberikan sensasi ngilu. Dan cairan hangat menetes keluar.
"Apa kamu gila Rehan?!" Rehan malah mengusap kepalaku. Elusan tangannya dibarengi senyum, sama sekali tidak memperdulikan ringisan Alina.
Alina menatap Rehan tajam. Mulutnya terbuka-hendak mengatakan sesuatu, namun mengatup kembali. Akhirnya Alina membuang muka.
"Ayo!" Rehan mencekal tangan kiri Alina yang tadi sudah terkena sayatan dan menariknya. Merekapun keluar dari kafe, Alina tidak mengeluarkan suara. Alina hanya bisa pasrah mengikuti jika tidak maka sang suami yang akan menjadi korbannya.
.....
Malam ini aku terkunci di sebuah Apartemen milik Rehan. Sungguh aku tidak habis pikir Rehan sekejam ini, ternyata dibalik wajah tampan dan kebaikan nya tersimpan sifat yang sulit dipahami. Apa dia segila ini?
Aku hanya bisa terdiam sambil terus melafalkan doa berharap ada orang datang membantu. Aku ingin pulang, tapi aku takut jika aku lari nanti Mas Akmal akan kenapa-kenapa karna dia sudah ngancam akan menjadikan Mas Akmal mangsanya.
Empat jam lebih aku hanya duduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Kali ini aku benar-benar ingin keluar dari sini, aku menarik napas panjang sebelum memberanikan diri untuk lari keluar. Aku mencari beberapa alat yang bisa digunakan untuk membuka pintunya.
Dan akhirnya pintu itu terbuka, tapi sebelum aku melangkah aku memastikan terlebih dulu keadaan diluar, sepi. Akhirnya kakiku melangkah keluar. Sambil menahan napas, aku keluar dengan pelan dari pintu.
Aku berjalan pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Setelah keluar dari Apartemen Rehan, aku menangis. Bukan hanya tubuhku yang sakit, namun kini aku takut akan sosok Rehan.
.....
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam," suara jawaban dari dalam. Pintu itupun terbuka, dan terlihat jelas lelaki yang beberapa hari ini sikapnya lebih hangat dan perhatian.
"Alin?" Terlihat khawatir dari wajahnya. "Dari mana saja?"
"Aku habis dari rumah Dinda, ada beberapa kerjaan." Akmal mengangguk, lalu Alina melenggang masuk dengan gontai. Kakinya merasa lemas, ia ingin segera merenggangkan tubuhnya di kasur. Hari ini benar-benar hari terburuk sepanjang hidupnya.
Ketika Alina berjalan untuk naik ke lantai atas, Akmal tak sengaja melihat bekas luka di tangan sang istri. Luka apa itu? Sayatan? Akmal langsung menarik tangan kiri Alina. "Ini kenapa?" bentaknya dengan nada khawatir.
Alina mengikuti arah pandang Akmal. "Ah, gak papa Mas," jawab Alina terbata begitu Akmal mengetahui bekas sayatan ditangannya.
Akmal menatap tajam Alina. "Ini kenapa?" tegasnya lagi. "Jawab Mas, Alina."
Alina menggeleng. "Nggak sengaja kena pisau bedah tadi di rumah sakit." Alina menjawab lirih.
Akmal masih menatap sang istri dengan sorot mata tak percaya. "Nggak mungkin. Mas tahu kamu gak seceroboh itu, Alin."
Alina menggigit bibir bawahnya. Ia hanya menunduk tak berani menatap Akmal.
Alina dapat melihat kekhwatiran di wajah sang suami, membuat Alina semakin menaruh harap. Apa Mas Akmal sudah mencintaiku? Sikap dan perilakunya sangatlah hangat berhasil membuat jantung Alina berdegup kencang.
.....
"Alin..." teriak Dinda ketika baru saja datang dilobi rumah sakit.
"Hmmm..."
"Dua hari lalu suamimu datang kesini?! Katanya salah paham sama Dokter Rehan." aku tidak ingin mendengar nama itu lagi. Mendengar nya saja mampu mengingatkan kejadian satu hari lalu.
"Din maafkan aku, aku tidak ingin membahas kejadian itu lagi, aku capek Din," ucapku frustasi.
Dinda terdiam, hanya deru napas kami dan detikan jarum jam yang terdengar. Kutarik napas panjang dan berusaha menetralkan emosiku. Aku tidak harus menghadapi ini dengan emosi.
"Oke-oke, maaf ya Lin, aku janji gak bakal tanya-tanya soal itu." Ucap Dinda dengan nada suara yang sudah kembali normal.
"Aku pun minta maaf Din," jawabku penuh merasa bersalah.
Dinda mendekat dan mendekap tubuhku, memberikan dukungan lewat pelukannya. Setelah melepas pelukannya, Dinda mengambil tempat duduk dikursi yang disediakan untuk pasien.
"Aku siap jadi tempat sandaranmu,"
Alhamdulillah aku mempunyai sahabat seperti Dinda, yang ada disaat sedih maupun senangku. Dan yang utama aku juga memiliki Allah. Seseorang pernah berkata padaku, ingatlah Allah ketika kamu senang maka Allah akan mengingatmu disaat kamu sedih, dan itu benar adanya.
.....
Aku tidak ingin bertemu Rehan siang ini tapi dia memintaku untuk menemuinya di ruangannya. Awalnya aku ragu dan kejadian kemarin semakin terbayang, tanganku kini bergetar hebat tapi aku tetap menemuinya.
Namun, aku tidak ingin terlalu dekat dan akrab seperti sebelumnya. Aku takut Rehan berbuat lebih parah dari kemarin.
"Assalamu'alaikum Dok."
"Duduklah!"
Aku tersenyum ragu dan duduk dikursi tepat didepan Rehan. Aku dapat merasakan suasana yang tiba-tiba tegang. Bagaimana tidak, Rehan terus saja menatapku tajam. Matanya begitu menyeramkan, aura pembunuhnya begitu terlihat jelas.
Rehan masih terdiam, namun matanya tak pernah lepas dariku. Karna terlalu takut aku mulai menangis.
"Sorry!" Ucapnya, seketika aku melihat kearahnya bingung. Sebenarnya apa yang dia pikirkan.
"Maaf karna kejadian kemarin dan hari sebelum-sebelumnya."
"Maksudnya apa?"
"Sebelumnya maaf, aku terpaksa lakuin ini," ucapnya lirih. Tapi itu malah membuat ku semakin bingung. Tatapan Rehan yang awalnya menyeramkan kini berubah jadi memelas.
Dia mengeluarkan laptopnya dan menunjukkan video padaku. Setelah melihat video itu tiba-tiba aku kaku, seluruh tubuh ku sangat sulit di gerakan. Astaghfirullah, kalimat itu yang pertama keluar dari mulutku. Aku benar-benar tidak percaya dengan isi video itu.
"Dia adalah Sandra, sahabatmu yang sengaja membayarku sebagai pembunuh bayaran."
Dia adalah Sandra. Sandra. Sandra. Kalimat itu yang kini terus mengiang di kepalaku, seolah kaset yang sedang diputar berulang-ulang.
Jantungku kini mulai berdegup tidak seperti biasanya. Rasa tidak percaya dan amarah bercampur, kacau. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Rehan kini sudah tertanam rapi dikepalaku. Aku menggeleng. Tapi aku masih tidak percaya jika Sandra melakukan itu padaku. Tidak! Tidak, tidak mungkin Sandra membayar Rehan untuk membunuhku secara perlahan. Lagipula buktinya belum kuat itu hanya gambaran postur tubuh yang memang seukuran Sandra.
"Aku ada bukti lain."
Duniaku seolah berhenti berputar tatkala Rehan menunjukan sebuah foto yang disana terpampang jelas wajah Sandra, dia mengenakan jaket hitam milik Mas Akmal, tengah menghadap kamera dengan cahaya temaram dan di depannya memang ada Rehan yang memakai jubah hitam yang dipakainya saat menculikku.
"Kamu lihatkan Lin? Aku sengaja mengambil gambar ini dari cctv, supaya kamu tau kalo Sandra pura-pura baik didepan mu. Aku sengaja membocorkan ini, karna aku sudah tidak tahan harus terus menyakiti mu."
Wajahku seketika memucat. Kepalaku juga berdenyut sakit dan berputar-putar.
"Sandra itu si muka dua! Kamu harus berhati-hati dengan penampilannya." Suara Rehan lagi-lagi terdengar, terus mengiang di kepalaku.
Rehan kini menatapku yang tengah memegangi kepala. Kepalaku semakin sakit dan rasa pusing terus menyerang. Hingga seketika mataku tiba-tiba blur, akupun ambruk di ruangan Rehan. "Alin!" Suara teriakan Rehan yang terakhir ku dengar selepasnya aku tidak ingat.
.....
Nextโจ
Jangan lupa lovenya, komen dan vote๐๐
Kalo ada typo maaf ya๐๐ป๐๐ป๐๐ป semoga kalian suka sama ceritanya ya๐
Lanjut jangan???
Instagram ku: @im.silpa๐ค