The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|21|



Akmal POV


Tanpa sepengetahuannya, aku membuka pintu dan menatap kosong kearah pintu kamar yang tertutup rapat. Aku tau didalam sana kau menangis, seberapa kau mencoba tidak bersuara tapi isakkanmu masih dapat kudengar jelas.


Perasaanku kacau, hatiku bergemuruh. Aku tidak tau mengapa harus dihadapkan pada keadaan seperti ini.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan?" gerutunya. Diacaknya rambutnya dan kembali kekamarnya. Didalam kamar ia tidak tidur, melainkan menatap sebuah foto yang ada didalam dompetnya. Foto pernikahannya dengan Alina sang istri.


Rasa bersalah padanya begitu besar karena telah menyeretnya kedalam masalah serumit ini. Tapi, aku tidak bisa menyakiti wanita yang kucintai sejak awal. Aku hanya berharap hari ini adalah mimpi hingga nanti ku bangun akan kembali pada keadaan semula.


.....


"Bunda..."


Aku terkejut ketika mendapati Shiran yang datang keruangan dimana aku sedang melakukan pemeriksaan pada pasien, dia berlari kearahku dengan keadaan menangis. Wajahnya terlihat memerah dan sembab. Tapi aku bingung bagaimana bisa ia ada disini sedangkan ini masih jam sekolahnya.


"Shiran, ada apa?" kuhampiri Shiran dan berjongkok tepat didepannya. Kuusap pipi dan matanya yang masih berlinang air mata. Belum sempat ia mengatakan apapun, Shiran sudah terlebih dahulu memelukku erat.


Lagi, ia menangis tersedu dibahuku. Kuusap rambu hitam panjangnya dan memberikan ketenangan untuk gadis manis itu.


Setelah sedikit tenang, kubawa Shiran keluar ruangan dan kududukan dia dikursi tunggu. Sedangkan aku memilih untuk berjongkok didepannnya.


"Ada apa Shiran, cerita sama Tante?" tanyaku lembut.


"Shiran takut Bunda, Mama sama Ayah Akmal berantem, padahal Mama lagi sakit. Shiran emang gak ngerti yang mereka omongin, tapi Shiran tau kalo Ayah Akmal lagi marahan sama Mama, Shiran takut," adunya dengan isakan yang masih terdengar dari bibirnya.


Mas Akmal dan Sandra bertengkar? Masalahnya apa? Apa itu karna ku?


"Shiran jangan takut ya, ada Tante disini, mungkin Mama sama Ayah Akmal lagi ada masalah aja, orang dewasa emang seperti itu Shiran, mereka selalu bertengkar untuk menyelesaikan masalahnya, Shiran jangan nangis lagi ya, Mama sama Ayah Akmal pasti baikkan kok." bujukku dengan lembut. apa yang terjadi, tapi tidak mungkin aku bertanya pada Shiran. Apalagi pergi keruang rawat Sandra.


Aku sadar diri, pasti ini karna pernikahanku. Untuk itu aku tidak ingin lagi terlalu jauh masuk dalam kehidupan mereka. Aku ikhlas mereka bersama kembali, meski melepasnya akan sangat sulit bagiku.


"Shiran lain kali jangan temuin Tante kalo Tante lagi meriksa pasien, apalagi kalo Shiran masuk sembarangan kaya tadi," ucapku memberitahu.


"Kenapa emangnya Bun?"


"Bahaya buat Shiran, soalnya kalo masuk ruangan pasien itu harus pake masker, supaya penyakitnya gak nular kekita, apalagi kalo Shiran masuk keruangan yang emang anak kecil dilarang masuk, itu lebih bahaya, Shiran mau sakit, mau dirawat kaya orang-orang didalam?" Ujarku sambil menunjuk kearah pasien yang tengah terbaring dikasur.


"Gak maulah Bunda, Shirankan pengen sehat selalu, supaya bisa ketemu Bunda terus," ucapnya, gadis manis ini kini mulai tenang. Dia menatapku dengan mata sembabnya, sungguh aku kasihan padanya, ia harus menangis tapi tidak tau apa kejadian yang dilihatnya itu sangatlah rumit, bahkan penyebabnya itu adalah aku sendiri, wanita yang dijadikan tempat mengadunya.


Ketika saat ini, aku sangat malu dengan posisiku sendiri, aku berpikir kenapa aku harus menerima pernikahan ini, jika ujung-ujungnya aku sendiri yang harus mengalah dan pergi.


Tapi aku lebih kasihan pada Abi, aku yakin saat ini dia sedih melihatku yang lemah ini, tapi aku memang tak sekuat yang Abi lihat, aku lakukan semua ini sebenarnya semata-mata karna Abi. Karna Abi yang mendesakku untuk menikah dengan perjanjian yang dibuatnya, sedang aku saat ini harus menerima resiko dari perjanjian itu.


Aku harus tersakiti, harus berjuang tapi tanpa lawan yang memperjuangkan ku juga. Sungguh aku tersiksa dengan ini, tapi bagaimana lagi aku harus bertahan? Untuk mundur sulit untukku, untuk melangkah kedepannya bahkan lebih berat. Pasrah.


"Nah gitu dong, karena gadis cantik Tante udah gak nangis lagi, gimana, kalo Tante beliin makanan kesukaannya Shiran deh, ayo!!" ajakku. Shiran tampak semangat, ia segera meloncat dari tempat duduknya dan menggandeng tanganku menuju kantin rumah sakit.


.....


"Bunda," teriaknya dari depan pintu rawat Sandra. Aku melambaikan tangan pada gadis manis itu. Dari lorong sana Shiran berlari ke arahku, dengan senyum yang terpancar dari bibirnya.


"Bunda, Bunda jadikan jenguk Mama hari ini?" tanyanya penuh harap, aku mengedipkan mata pertanda mengiyakan.


Aku dan Shiranpun berjalan menuju ruang rawat Sandra, sebenarnya aku ragu, tapi kemarin aku sudah janji pada Shiran.


Sudah tiga hari juga Sandra dirawat dirumah sakit ini, rasanya tidak baik juga kalau aku tidak datang untuk menjenguk. Kebetulan sekali hari ini jadwal pemeriksaan pasienku sudah tuntas.


Sejenak aku terdiam didepan pintu, ragu untuk mengetuknya. Setelah beberapa menit termenung didepan pintu, aku masih saja tak berani mengetuk pintu itu. Dan dapat aku lihat juga, jika Mas Akmal ada didalam. Sepertinya mereka tengah berbicara serius, karna dapat ku lihat dari gerak gerik mereka berbincang, tapi suara tidak dapat kudengar.


"Ayo masuk," ajaknya. Yang sudah menggelayu manja di tanganku. Karna tidak enak pada Shiran akhirnya ku buka pintu tapi tidak kuketuk terlebih dulu.


Sandra yang sedang terbaring dikasur dan Mas Akmal yang berdiri tepat disampinganya terus saja berbincang tanpa henti.


.....


"Mas tidak bisa Sandra!" ucapnya keras. Aku sedikit kaget mendengarnya tapi aku masih mematung diambang pintu enggan untuk melangkah lagi.


"Mas harus menafkahinya lahir dan batin, bagaimanapun dia istri mas," apa meraka tengah membicarakanku?


"Mas sudah menikahinya sesuai keinginan abinya, tapi untuk tidur dengannya, apalagi harus memiliki anak darinya! Mas tidak Sudi," jawabnya tegas penuh penekanan. Sungguh mereka memang tengah membicarakanku. Sebenci dan sejijik itu Mas Akmal padaku? Hingga ia tak Sudi memiliki anak dariku. Sungguh hatiku sakit, kenyataan pahit itu kembali menyeruak dalam hati ini. Aku tak kuasa mehanan air bening yang sejak tadi ingin keluar dari sudut mataku.


"Aku mohon, Mas harus memiliki buah hati darinya, dia wanita yang baik, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi pernikahan ini."


"Mas berusaha mencintainya, Mas berusaha menerimanya, tapi ini malah menyakiti hati Mas, Mas memang ada sedikit rasa padanya, tapi untuk mencintainya penuh, Mas gak bisa," aku masih diam, jadi selama ini Mas Akmal tersakiti karna ini.


"Tapi Mas, Alina tetap istri Mas, sudah jadi tanggung jawab Mas, sedang aku! Aku hanya masalalu Mas yang datang diwaktu yang salah, aku tidak ingin menyakiti Alina lagi, sudah cukup! Sejak SMA saja aku menyakitinya, dia yang selalu ada disamping kita . Tapi bodohnya aku, aku tidak sadar jika orang yang ada disampingku tersakiti, dan lebih jahatnya aku dia adalah Alina sahabatku sendiri." walau Sandra tidak terlihat wajahnya karna terhalang Mas Akmal, tapi aku yakin jika Sandra menangis terdengar jelas dari suaranya yang bergetar.


"Cukup Sandra, Mas tidak peduli, justru Alina wanita yang baik, Mas tidak ingin menyakitinya lebih dalam, sudah cukup Mas menikahinya, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisimu Sandra! Cukup! Mas tidak bisa terus seperti ini, sudah cukup semua ini!"


Aku terdiam, aku kira Mas Akmal sudah benar-benar ingin memperbaiki pernikahan ini denganku. Namun apa ini? Apa yang ia lakukan padaku hari-hari sebelumnya hanyalah drama! Permainannya!


"Aku sudah memberitahu Mas, dan terserah Mas kedepannya akan seperti apa, nggak mungkin Mas selalu bersikap seperti ini, dia tetap istri sah Mas."


"Mas akan bertahan dengannya sampai waktu pernikahan yang sudah Mas tulis dalam surat yang dulu pernah Mas dan dia tanda tangani, setelahnya, baru Mas akan menceraikannya."


CERAI!


Kata itu bagaikan pedang yang berhasil menusuk jantungku. Hingga kakiku melemah, hatiku hancur, air mataku mengalir tak henti. Selama ini dengan semua masalah ini aku tak pernah sekalipun memikirkan perceraian dalam pernikahan ini. Bahkan aku tidak pernah mengingat jangka waktu yang sudah ditentukan dalam surat bermaterai itu, aku kira waktu itu tidak berlaku, tapi nyatanya, Mas Akmal mengingat bahkan menunggunya.


Sesakit inikah berjuang sendiri? Sekian lama aku berjuang demi pernikahan ini dan menerima ikhlas meski Mas Akmal tidak mencintaiku dan memilih wanita dimasalalunya. Aku kira akan ada hadiah besar untuk ku, tapi kenapa malah takdir seperti ini yang harus aku lewati Ya Allah?


Aku yang tadinya memegang tangan Shiran kini tangan gadis itu ku hempaskan begitu saja. Dan aku berjalan keluar tanpa terdengar suara, karna tidak ingin mereka mengetahui jika aku sudah mendengar kenyataan pahit ini. Tapi sayang, Shiran malah bertiak memanggil namaku. "Bunda...."


"Alina!" barulah mereka menyadari keberadaanku. Aku membalikkan tubuh kaku dan masih dengan tagisku. Sandra bangun dari tidurnya, Mas Akmal hanya diam menatapku.


"Kenapa Lin?" tanya Sandra khawatir, aku hanya menggeleng.


"Kemarilah,"


"Tidak apa, aku hanya mengantarkan Shiran saja kesini, kalau begitu aku pergi ya, Assalamu'alaikum."


"Lin, Alina!" panggilan Sandra dapat kudengar jelas, ia mungkin merasa aneh melihatku yang seperti ini. Karna sejak kedatangan ku kesana mereka memang tidak menyadarinya. Aku berlari menjauh dari mereka, aku butuh waktu untuk menenangkan diri.


Jarakku kini sudah jauh dan suara Sandra yang tadi terus memanggil tak lagi kudengar. Aku hanya berjalan sambil diam dengan air mata yang terus mengalir. Aku terus berjalan hingga sebuah taksi berhenti tepat didepanku.


Setelah menyebutkan alamat rumah Umi, mobil berwarna biru itu melaju meninggalkan rumah sakit.


......


Next✨


Yok Like, vote dan komennya😊 sangat berharga sekali buat penulis iseng ini😁🤭


Instagram ku: @im.silpa🤗