
Alina berlari kencang seperti kuda yang tengah berlari dipacuan perlombaan, nafasnya berhembus kasar. Kini ia memasuki lobi langkahnya langsung tertuju ke meja resepsionis, sesampainya di sana dengan tidak sabar ia bertanya dimana ruangan uminya. Setelahnya dengan tergesa-gesa ia menyusuri lorong putih rumah sakit hingga sampailah ia di ruangan Melati kamar nomer 2.
Di dalam kamar terdapat empat brankar yang saling berhadapan, salah satunya telah di isi oleh umi.
"Umi!" teriaknya tapi wanita paruh baya itu tidak terusik, matanya masih menutup rapat.
Alina merengkuh tubuh renta uminya ke dalam pelukannya. Rasanya ia tak sanggup menghadapi hari ini, melihat uminya terbaring lemah di atas kasur seperti ini, terlebih air matanya mengalir saat ia melihat beberapa selang infus menempel di lengan serta hidungnya sebagai alat bantu.
"Umi kenapa bisa kaya gini?" tanya Alina dengan sangat khawatir.
Tapi wanita itu masih saja tak menjawab, bahkan tak berusik sama sekali hanya diam tanpa bergerak sedikitpun.
"Umi bangun dong, Alin disini," ucapnya sambil menangis sendu.
Dari luar datanglah dua orang yaitu Umi kulsum dan anaknya Risyal. Alina tidak tahu kenapa Umi kulsum bisa ada disini, yang jelas saat ini ia hanya ingin melihat wanita dihadapannya segera membaik.
"Alina," panggilannya. Alina berbalik.
"Yang sabar sayang," ucapanya lagi.
"Apa yang terjadi sama umi?"
"Umi kamu kena serangan jantung."
Ucapan Umi kulsum benar-benar membuat dada Alina menghujam.
"Umi kamu harus di pasang ring jantung."
Astaghfirullah. Begitu mendengar hal itu, sedu sedan yang mulai mereda kembali menerbitkan Isak tangis sembilu. Hatinya tersayat pilu.
Ini tidak boleh terjadi!
"Umi harus bangun, aku gak mau Umi ninggalin Alin, cukup Abi aja yang pergi Umi..."
"Tidak ada yang tahu ini akan terjadi, jika saya di posisi kamu saya juga akan berbicara begitu, tapi ingatlah takdir itu sudah menjadi garis permanen, tidak seorang pun bisa menolaknya," jeda. "Lebih baik kamu tenangkan diri dulu, berdoalah minta pada-nya jalan terbaik, meski kematian jalannya itu sudah jelas jalan terbaik untuk Umimu, saya berbicara seperti ini hanya mengingatkan, saya tidak ingin nantinya kamu menyalahkan yang kuasa karena kepergiannya." lanjutnya. Di situ pula Alina mengucapkan istighfar, ia benar-benar tidak tahu malu, seharusnya ia berdoa bukan malah seperti ini.
Alina tersenyum. "Terimakasih sudah mengingatkan."
"Sesama manusia memang sudah diwajibkan untuk saling mengingatkan," jawabannya benar-benar membuat hati Alina tersentuh. Lelaki dihadapannya ini memang lelaki sempurna yang insyaallah bisa menuntun ke surganya Allah. Pikir Alina yang masih setia melihat Risyal. Sedangkan Risyal hanya menundukkan kepala enggan untuk membalas tatapan Alina.
.....
Sebelum makan siangnya Alina menyelipkan doa untuk uminya, hatinya berserah diri.
Ya Tuhan yang maha besar dan maha baik. Aku memohon banyak padamu, berikanlah umi ring jantung yang cocok. Aku ingin ia sadar kembali, aku ingin melihat umi membuka matanya, meski sekejap saja tapi setidaknya aku bisa bertatap dulu dengannya. Jika memang ini saatnya umi pergi, aku ikhlas. Tapi biarkan lah aku mendengar suaranya yang terakhir kalinya, izinkanlah aku memeluknya dan berbincang meski sebentar saja. Aamiin.
Tangisnya berlimpah membanjiri pipinya. Matanya merah bengkak. Apa ini benar-benar akan terjadi? Apa iya umi akan mati?
Meski hatinya berusaha ikhlas tapi kepalanya terus berputar pada pertanyaan itu. Jika boleh jujur sebenarnya ia belum sepenuhnya ikhlas, ia masih belum bisa mengizinkan uminya pergi, terlebih ia akan merasakan sakit yang amat Sakit untuk kedua kalinya. Ia masih ingin melihat wanita kuatnya itu segar bugar lagi. Kenapa perpisahan selalu mengundang tangis yang pilu sih?
Yang dia harapkan saat ini adalah kesembuhan untuknya dan berharap semoga Tuhan segera mengabulkan permohonan nya.
.....
Usai sholat Maghrib, Alina berencana untuk belanja cemilan karena malam ini ia akan menginap dirumah sakit. Sejak tadi siang ia juga belum makan sama sekali.
Saat Alina beranjak untuk menyimpan mukenanya. Tiba-tiba pintu kamar rawat di ketuk dari luar.
"Masuk!" seru Alina
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Risyal menyembul masuk.
"Setelah ini kamu akan pulang?" tanya Risyal
Alina menggeleng. "Tidak. Aku akan menginap disini." ucapnya
"Bagaimana dengan suamimu? Apa kamu sudah memberitahunya?" tanya Risyal lagi
"Belum. Ponselku rusak karena terjatuh tadi pagi." jelas Alina pada Risyal yang masih di ambang pintu.
Risyal menyodorkan ponselnya. "Nih"
"Untuk apa?"
"Untuk memberitahu suamimu jika kamu akan bermalam disini. Jika kamu tidak memberitahunya dia akan khawatir padamu." Alina tersenyum lalu mengambil ponsel itu lalu menghubungi Akmal.
.....
Akmal sejak tadi terus saja mondar-mandir, tampak raut wajahnya sangat dilanda kegelisahan. Sudah duduk, berdiri, duduk lagi terus saja laki-laki itu lakukan.
"Kemana sih kamu lin" lirihnya
Benda panjang pipih itu ada digenggamnya, ya itu ponsel Alina. Laki-laki itu tidak tahu harus mencari istrinya kemana, terlebih ponsel milik Alina itu rusak dan ia tidak tahu harus menghubungi siapa. Sudah mencoba menghubungi umi tapi nihil tidak ada jawaban.
Drettt....
Akmal mengalihkan pandangannya saat mendengar dering ponsel miliknya. Disana terdapat nomer tidak kenal. Akmal merongoh ponsel itu lalu menggeser layarnya.
"Hallo, ini siapa?" tanya Akmal pada orang diseberang telpon.
"Assalamu'alaikum, Mas Akmal, ini Alina" jawabnya dengan suara serak.
"Alina? Kamu pake no siapa? Kemana saja__"
"Umi masuk rumah sakit Mas, Alin pake no nya ustad Riysal. Ponsel aku rusak Mas," beritahu Alina.
"Kamu dirumah sakit mana?" tanya Akmal khawatir.
"Rumah sakit tempat dulu aku kerja" setelahnya Akmal pun mematikan panggilan itu. Lalu bergegas ke rumah sakit.
"Makasih ustadz Risyal," ucap Alina sembari menyodorkan ponsel itu.
Risyal mengambil ponselnya. "Iya, sama-sama" jawabnya
Alina merongoh tas miliknya yang terletak dimeja. Lalu berjalan melewati Risyal. Tapi langkahnya terhenti karena pertanyaan dari Risyal. "Mau kemana?"
Alina berbalik. "Supermarket, sekalian mau makan diluar."
"Mmm... Kebetulan saya juga mau keluar, kamu mau bareng saya?"
"Emang boleh?" tanya Alina
Risyal mengangguk sambil mengulum senyum.
Setelahnya mereka keluar dan menaiki motor gede milik Risyal.
Sesampainya di supermarket Alina mengambil beberapa cemilan. Setelahnya itu mereka melanjutkan perjalanan dan sekarang mereka tengah mencari tempat untuk makan.
Sekitar 5 menitan akhirnya mereka menemukan restoran. Mereka pun masuk setelah menemukan meja kosong mereka pun duduk, tak lama seorang pelayan menghampiri dan menawarkan selembar menu.
Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing dan tak lama pelayan itu pun datang menyajikan dua porsi makanan.
Sepeninggal pelayan, Alina tersenyum pada Risyal. Sementara Risyal ia hanya menunduk dan sialnya jari-jari tangannya terasa begitu dingin tiba-tiba, membuat dirinya mengeluarkan jadi salah tingkah. Jantungnya berdesir. Perasaan aneh menggejolak dan membucah di dalam dada. Ini pertama kalinya dalam hidupnya. Risyal menarik nafas dalam-dalam, rasanya Alina telah melumpuhkan hatinya dalam waktu sesingkat itu.
Dalam hubungan seperti ini sebenarnya tidak benar, tapi Risyal tidak bermaksud seperti itu. Perasaan aneh itu selalu tiba-tiba datang ketika ia berdekatan dengan Alina.
Mereka pun menyusut habis hidangan itu. Dan kini perutnya benar-benar kenyang.
"Udah malem. Belum sholat isya juga, kita pulang yuk" ajak Risyal
Alina mengangguk.
Saat Alina hendak melangkah, Risyal menyodorkan tangan. "Ada apa?" tanya Alina
"Biar saya yang bawa."
"Enggak usah. Biar aku aja." Alina memegang erat kantong plastik besar.
"Itu berat lho, gak papa biar saya aja yang bawa."
Alina ternyuh. Sebegitu baiknya Risyal terhadapnya. Alina tersanjung dengan perhatian laki-laki disampinganya ini.
Mereka beranjak meninggalkan restoran.
.....
Next✨