
Alina menghela nafas sedalam mungkin untuk menenangkan kembali batinnya. Setelah kejadian ditaman itu Alina masih saja bisa melengkungkan senyumnya meski terpaksa. Setidaknya saat ini ia bisa tenang dan melupakan kejadian itu.
"Ya Allah, hamba sudah mengambil keputusan untuk bertahan dengan ikatan ini. Bantu hamba melaluinya. Hamba tahu, hamba takkan sehebat dan sesabar istrinya Rosulullah, tapi izinkan hamba untuk bertahan." Alina mengusap wajahnya selepas berdoa. Lalu berjalan mendekat kenakas yang diatasnya berada foto pernikahannya dengan sang suami, Akmal.
Tangannya terulur kefoto itu, diusapnya foto itu. "Semoga kita memang berjodoh Mas,"
"Dan kamu yang bunda yakinin bakal hadir ditengah bunda dan ayah, jadi anak pintar ya sayang, meski nanti bunda dan ayah gak lagi-lagi sama, bunda janji bakal jagain kamu dan bakal jadi ayah juga buat kamu, kita berjuang berdua buat kehidupan kedepannya ya sayang," lirihnya. Tangannya terus bergerak diperutnya yang masih rata.
Sudah 20 menitan Alina menatap foto itu, dan kini ia beralih ke pantulan dirinya di cermin. Ya Robb... Apa yang salah dengan diriku ini? Kenapa suami hamba tidak dapat menerima hamba? Kenapa sikapnya sering berubah-ubah terhadap hamba, apa hamba dimatanya selalu salah, apa ia memang tidak menginginkan pernikahan ini? Apa hanya Sandra wanita yang sangat ia cintai hingga dia tidak bisa menerimaku sebagai istrinya? Aku harus bagaimana ya Rabb?
"Apa yang kau pikirkan?" tanya seseorang dibelakangnya.
Alina terkesiap kaget, mencari asal suara. Diambang pintu Akmal menyandarkan tubuhnya. "Mas." Alina bangkit dari duduknya, "Ada apa Mas, kok Mas ke kamarku?"
Akmal mendekat menghampiri Alina. "Gak nyangka ya, Kau sehebat itu. Huh! Dari mulai Dokter gila sampai Ustadz pun dengan gampanya kau dapat, hebat!" Akmal bertepuk tangan didepan wajah Alina.
"Maksud Mas apa?"
"Sudahlah, tidak usah sok polos, bukannya seharian kau bersenang-senang dengan sahabatmu itu? Mentang-mentang saya jalan dengan Sandra, kau seenaknya keluar dengan lelaki lain! Apa kau tidak malu dengan Almarhum Abimu yang melihat anaknya jalan dengan yang bukan mahramnya, jangan-jangan kau sudah menggadaikan kecantikanmu? Atau... tubuhmu karna kau kesepian?" Akmal tidak memikirkan lagi sebab akibat dari perbuatannya. Ia benar-benar dikuasai rasa cemburu.
Alina mengangkat wajahnya tak percaya dengan ucapan sang suami, ia menatap dengan nanar, matanya berkaca-kaca, sesak, perih, serasa menggores hatinya.
Plakkk!!!
Tangan Alina dengan beraninya menampar Akmal. Entah setan mana yang menguasai tangannya itu. Yang pasti Alina merasakan kesedihan yang berlipat dari luka sebelumnya. Sehina itukah dirinya Dimata suaminya? Serendah itukah Alina bagi Akmal?
"Mas, aku tahu Mas tidak suka padaku. Mas juga tidak mengharapkan pernikahan ini. Selama ini aku bertahan demi Abi! Dan Amanah yang dibuat oleh ayah kita. Tapi, aku juga punya perasaan. Aku berhati Mas! Hatiku sakit jika terus diperlakukan seenaknya. Hatiku sakit...., Aku menunggu Mas untuk mempertahankan pernikahan ini, tapi apa, Mas tidak pernah menghargai dan berniat sedikit... Saja untuk memperbaiki. Aku lelah berjuang sendiri! Mas bilang, Mas akan berubah tapi mana, Mas masih seperti ini! Baiklah..." Alina meremas kuat gamisnya. Membiarkan air mata dan sesak hatinya menguap.
"Sekarang Mas mau bagaimana? Mas ingin aku menyerah, kan? Kalau memang itu kemauan, Mas. Aku akan pergi, Mas bebas menentukan jalan Mas sendiri. Silahkan Mas mau menikah dengan Sandra atau wanita lain, aku tidak akan menahan. Dan untuk saat ini aku butuh waktu untuk sendiri."
Akmal seperti kehilangan kata, ia hanya diam tanpa mampu menggerakkan bibirnya. Kesedihan tiba-tiba menyerang batinnya.
"Pergi!" pinta Alina memalingkan tubuhnya dari sang suami.
Akmal masih terpaku. Kenapa tiba-tiba ia menyesali perbuatannya? Rasa bersalah tiba-tiba bergelut dalam jiwanya. Tangan Akmal terangkat hendak menyentuh pundak Alina yang bergetar hebat akibat perbuatannya.
"PERGI!!!" teriak Alina sekali lagi.
Akmal menurunkan tangannya. Walau ada keinginan besar dalam dirinya untuk mengangkat beban yang baru saja ia tindihahkan pada wanita ini. Akmal berbalik meninggalkan sang istri.
.....
"Ya Allah, sang pemilik semesta alam ini jika memang ini jalan terbaik dari-mu yang engkau tunjukkan untuk hamba, hamba ikhlas menerimanya. Tapi hamba mohon, tolong kuat hamba menjalaninya, dan hamba mohon tolong sampaikan pada Abi hamba dan Ayah dari suami hamba, tolong sampaikan permintaan maaf dari hamba. Sampaikan jika hamba tidak mampu bertahan hingga akhir, maaf karna hamba tidak mampu menjaga dan menjalankan amanahnya," ucapnya dengan nada bergetar disela tangis yang begitu pilu.
Lagi. Akmal kembali mematahkan hati wanita yang sungguh mencintainya. Mungkin, kali ini adalah batas akhir kesabarannya. Dan sampai sinilah takdir menyatukan mereka. Setelah ini tidak ada lagi yang namanya tangis kesedihan. Bukan Alina menyerah sebenarnya, tapi Akmal yang memintanya untuk pergi. Ia tidak akan pergi jika bukan karna tekanan yang terus memaksanya untuk pergi.
Sehabis Sholat ia mengemas pakaian dan beberapa barang miliknya. Setelah itu Alina bergegas kedapur, ini hari terakhir baginya berada didapur, ini terakhir kalinya ia memasak untuk Akmal, suaminya. Untuk kali ini memasak spesial untuk sang suami.
Dan berharap Akmal memakan masakannya. Karna selama ini baru beberapa kali Akmal memakan masakannya, itu juga hanya mencicipinya.
"Aku berharap Mas memakan masakanku," lirihnya. Matanya tak henti mengeluarkan cairan bening.
Tapi sesedih dirinya, Alina masih berusaha menarik sudut bibirnya meski sedikit, "Semoga Mas suka," ucapnya lagi. Makanan sudah disajikanya diatas piring dan tertata rapi diatas meja panjang yang berukuran sedang itu.
Alina menelan ludah yang terasa mencekik tenggorokannya. Setelahnya ia berjalan menuju ruang tamu yang disana barang-barang miliknya sudah berada.
Sebuah amplop putih sudah berada ditangannya, meski masih merasa ragu untuk masuk kedalam kamar sang suami tapi ia memaksakan dirinya masuk. Ditaruhnya amplop itu diatas nakas disamping ranjang sang suami.
Akmal yang masih terlelap tidur, wajah tampannya yang begitu tenang sangat menyejukkan mata, tapi dengan menyakinkan hati, Alina menghembuskan nafas panjangnya dan memantapkan langkahnya untuk melepas segalanya.
Sekeluarnya dari kamar sang suami, dihembuskan lagi nafasnya dan kembali keruang tamu. Sejenak ditatapnya sekeliling ruangan rumah itu, rumah yang sudah hampir satu tahun ini ditempatinya. Rumah yang dijadikan sebagai surga dunianya, rumah kedua yang menjadi saksi hidupnya setelah pindah dan tinggal disana.
Tak ada yang tau akan keputusannya, ia yakin jika ini adalah jalan akhirnya. Ia lelah dengan hatinya yang selalu sakit, ia ingin berhenti sejenak untuk menenangkannya. Yang penting jalan pilihannya itu tak pernah keluar dari jalan Allah, maka Allah akan selalu ada untuknya.
Ingat pepatah, ingatlah Allah ketika senang, maka Allah akan mengingatkanmu disaat kamu sedih.
.....
Next✨
Gimana, lanjut jangan?
Sorry ya upnya lama banget🙏🏻🙂
Jangan lupa Follow
Aku di Instagram: @im.silpa🤗