The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|13|



"Ya Allah, perihal perasaan ini, hamba tidak tahu. Sebegitu jauhnya sampai menguasai hati. Perasaan ini terlanjur melekat dalam jiwa hamba hingga buta ketika sesuatu yang berharga itu engkau jauhkan dari ku, hamba melupakan batasan bahwasanya engkaulah yang berkuasa. Kehilangannya dulu membuat luka yang amat dalam, sampai menutup mata hati hamba. Dia terlalu indah, terlalu sempurna, bahkan hamba enggan untuk menerima oranglain. Karna egoni ini, orang disekitar hamba terluka hatinya. Hamba mohon hadirkan seseorang, untuk dapat membuka hati hamba yang terlanjur terjebak dalam cinta yang lama dan masih dengan orang sama. Hamba tidak ingin terus berjalan dengan cinta yang salah, sehingga hati yang tengah menunggu hamba dengan sabar, terluka habis karna hamba terus bermain dengan orang dimasalalu yang seharusnya kini telah usai."


_Akmal Farriz_


Dua puluh menit sudah Rehan menunggu Alina membuka mata. Namun wanita itu tetap menutup matanya. Seusai memeriksanya tadi, ia masih enggan untuk beranjak dari kursi disamping ranjang Alina.


Akmal juga masih menunggunya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Tubuhnya sangat lemah karena Alina terlalu banyak mengeluarkan darah. Dia butuh istirahat total." Jelasnya, melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah larut malam, saya permisi dulu. Jika Alina bangun, pastikan diam makan dan meminum obatnya ya, pak," jelasnya.


"Iya, baik dok," jawab Akmal.


"Saya permisi dulu, Assalamualaikum..." Pamit Rehan.


"Waalaikumsalam," jawabnya.


Tak lama setelah Rehan keluar, Dindapun pamit pulang.


.....


Entah ada angin apa Akmal pindah duduk yang tadinya hanya berdiri, kini dia sudah disamping ranjang Alina. Memperhatikan wajah Alina yang biasanya merona merah muda kini pucat, kesedihan tampak jelas diwajah teduhnya. Keceriaan itu seolah sirna dalam sekejap. Seberapa besar cintanya padaku? Tiba-tiba dada Akmal berdesir ketika melihat butiran bening muncul dari sudut mata gadis itu. Alina menangis dalam lelapnya. Makin lama, makin deras hingga tubuhnya sedikit berguncang karena sesegukan. Gumaman kecil timbul dari bibirnya yang pucat. Sangat kecil! Namun masih bisa Akmal dengar jika wanita dihadapannya tengah memanggil nama uminya.


"Lin! Alina! Bangunlah." Karena tidak tega Akmal sedikit mengguncang tubuh Alina agar terbangun. Perlahan matanya terbuka, namun matanya menatap lekat mata sang suami. Matanya berkaca-kaca, sesekali masih sesegukan detik berikutnya tangis Alina pecah. Akmal panik bukan main melihat Alina tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. "Berhentilah menangis, aku tidak tahan mendengar nya," gumamnya dalam hati. Otaknya berfikir cepat bagaimana menenangkan tangis seorang perempuan. Pelukan? Itu yang muncul saat ini. Tapi, Akmal ragu, namun apa daya? Tidak ada cara lain.


Dengan cepat Akmal menarik tubuh Alina, mendekapnya dalam pelukan erat.


Alina syok. Antara tak percaya dan kaget. Namun pelukan itu benar-benar membuat nya tenang. Alina memejamkan mata mencoba mengurai segala sesak dalam dadanya.


"Tenanglah! Saya akan segera menemukan orang itu. Saya janji," Janji Akmal.


'Ya Allah, izinkan hamba terbuai dalam pelukannya meski sejenak. Rasa yang begitu menenangkan ini terlalu singkat untuk disiakan. Engkau yang maha membolak-balikkan hati. Jika boleh hamba memohon, tetapkanlah suami hamba dalam kehangatan yang sama sampai tua nanti, agar hamba tak lagi berjuang seorang diri.' doa Aliran dalam hati.


Beberapa menit kemudian Akmal tersadar dengan tindakan nya. Lalu mendorong tubuh Alina terlihat canggu.


"Ka-kau tidurlah ini sudah larut." Ucapnya gugup. Ketika beranjak pergi, Akmal ingat jika Alina belum makan. Akmal berbalik lalu mengambil nampan berisi makanan diatas balas beserta obat dari dokter Rehan tadi. Menaruhnya dipangkuan Alina.


"Makanlah!" Serunya singkat.


"Tapi, ma--"


"Tidak usah manja, kamu bisa makan sendiri," potong Akmal.


Alina manyun, hatinya menggerutu. 'Seharusnya Mas Akmal peka. Tanganku kan sedang sakit. Dasar! Si monster kutub yang super dingin. Emang gak pernah sadar, labil banget sih, tadi baik perhatian. Eh sekarang kumat lagi'.


"Kalo sudah makan obatnya diminum setelah itu tidur, istirahat." Akmal yang baru saja melangkah dua kali, ia tidak mendengar Alina memakan makanannya. Ketika Akmal berbalik lagi ternyata Alina hanya terdiam sambil memandangi makanan itu. Menyadari hal itu Akmal meraih sendok itu dan mulai menyendok kan bubur dalam mangkok. Akmal mengedipkan alis mengisyaratkan Alina untuk membuka mulut kemudian menyuapinya. Setelah buburnya benar-benar habis Alina meminum obatnya.


.....


Sudah dua hari ini Alina tak henti tersenyum manis. Bahkan sudah berulang-ulang kali ia menertawai dirinya sendiri. Entahlah, rasanya ia ingin terus tersenyum mengingat kejadian semalam dan malam sebelumnya.


Banyak pertanyaan yang berkeliaran di otaknya. Dan dari pertanyaan itu pula tumbuh berbagai harapan yang membuat hatinya terbang tinggi.


Alina sudah berusaha mengingatkan hatinya, mewanti-wanti jika suatu saat ia bisa saja dijatuhkan, dan dilukai lagi. Namun, kali ini hatinya menolaknya, ia sudah terlanjur terbang, terlanjur melambung tinggi.


Tanpa Alina sadari dari tadi ada seseorang yang melihat dirinya yang begitu asik dengan rasa bahagianya. "Duh yang lagi bahagia, sampe gak nyadar ada orang datang, kesambet apa nih, Lin?" Alina dikagetkan dengan kehadiran Dinda yang tiba-tiba muncul dirumahnya.


"Dinda? Kapan datangnya?" Alina bertanya. Dia memang tidak tahu kapan kedatangan Dinda, sahabatnya itu.


"Gimana mau denger... Orang Lo nya aja sibuk dengan dunia kebahagiaan Lo sendiri," ucap Dinda. Alina hanya mengembangkan senyum dibibirnya.


"Jangan bilang kalau Lo udah benar-benar jatuh cinta sama 'suami Lo yang selingkuh sama sahabat Lo itu'. Ujar Dinda dengan menekan dikalimat .


"Kami udah tau, Din?" Tanyaku. Karena selama ini aku belum memberi tahu Dinda jika Mas Akmal adalah suamiku.


"Baru kaya gitu, udah merona! Gimana kalo udah dibuat tepar kalo bikin anak." Ucapan Dinda membuat Alina malu, apalagi dengan kata-katanya yang perontal itu.


Alina menggeleng geli, "Apaan sih Din, udah sana pergi ke rumah sakit." Usirku halus.


"Aduh... Iya-iya masih pagi kok Lin, gue kan datang kesini mau jenguk Lo... Tapi, Lo emang jatuh cinta ya sama suami Lo itu?"


"Emangnya salah, jatuh cinta sama suami sendiri?" Ucap Alina membenarkan, memang tidak salah jika Alina mencintai suaminya, itu memang tidak-tidak apa toh diakan sudah sah.


"Udah ah, sana pergi." Usirku lagi. Dinda yang sudah memajukan bibirnya terpaksa keluar karna alina mendorongnya pelan sampai ke ambang pintu. Dindapun pergi menaiki mobilnya, Alina yang masih mematung ia hanya melambaikan tangannya pada Dinda yang sudah didalam mobil. Mobil itu melaju.


.....


"Pak, saya boleh nanya gak?" Ucap mahasiswi yang umurnya berbeda jauh dengan nya. Hari ini jadwal Akmal mengajar lumayan padat, dan beberapa perkejaan yang belum ia tuntaskan juga. Hingga membuat dirinya harus pergi pagi-pagi sekali.


"Silahkan,"


"Umur bapak berapa sih? Udah married belum pak?" Semua mahasiswa lain yang ada dikelas tiba-tiba tertawa, sehingga kelas menjadi ramai.


"Sebegitu pentingnya?" Jawab Akmal dingin. Aura hitam dalam dirinya keluar sehingga dengan cepat berefek pada orang yang tadinya ramai, kini sudah tenang dan suanasanya berubah menjadi hening.


"Jika kalian bertanya, pertanyaannya yang memang menyangkut mapel yang saya ajarkan! Mengerti!!" Hanya anggukan kepala dapat Akmal lihat, tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya.


Jam mengajarnya sudah usai. Akmal langsung kembali ke ruangannya. Akmal kini ia berdiri di parkiran mobil. Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depannya. Wawan keluar, membuka pintu untuk bos barunya kemudian masuk kembali dan Akmal segera menyuruh Wawan melajukan mobilnya ke rumah Sandra.


Perjalanan dari universitas tempatnya mengajar ke rumah Sandra perlu waktu sekitar 1 jam setengah. Di karenakan ruas jalan sedikit macet. Kali ini Akmal tidak menunggu Wawan membuka pintu, ia sudah keluar dan langsung bergegas masuk ke rumah Sandra. Di sana ada Shiran yang asik bermain dengan bonekanya, dan ada dokter pribadi Sandra juga. Akmal mengalihkan pandangannya pada Sandra, saat ini wajahnya tak lagi sepucat hari sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merindukan wajah cantiknya yang begitu membuatnya jatuh hati. Apa sih Akmal, bagaimana dengan Alina? Ingat! Dia istri mu? Tidak! Akmal tidak boleh terperangkap dalam perasaan yang bimbang ini!


"Pak!" Dokter itu berhasil membuyarkan lamunan Akmal.


Dokter itu adalah Dokter Sinta, dokter yang selama ini merawat Sandra. Dokter Sinta menoleh ke ambang pintu. "Pak Akmal. Saya ingin berbicara dengan Anda." Sinta melangkah keluar dari kamar Sandra.


"Ada apa Dok?"


"Saya melihat perkembangannya Bu Sandra sepertinya beliau.. kondisi semakin parah." Ucap Sinta yang membuat Akmal syok.


"Parah bagaimana? Bukanya kemarin dia sudah baikan?" Tanya Akmal dengan wajah khawatir.


"Kemarin memang membaik, tapi, sekarang kondisinya memburuk. Bahkan kanker di rahimnya semakin menyebar!" Jelas Sinta. Akmal mengacak rambutnya kasar.


"Pokoknya, lakukan yang terbaik untuk Sandra! Berapapun biayanya saya akan menanggung nya." Ucapnya. Dokter itu mengangguk lalu pamit karena tugasnya sudah selesai.


"Saya pamit pak, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Akmal.


.....


Akmal bingung dengan perasaannya saat ini, satu sisi dia ingin wanita yang sekarang didepannya menjadi miliknya kembali. Tapi, disisi lainnya juga dia ingin wanita yang sekarang menjadi istri nya enyah dari hidupnya, itu dulu. Sekarang... Entahlah!


Lima menit sudah Akmal duduk di samping ranjang Sandra dengan Shiran yang digendong nya.


"Mas Akmal, terimakasih sudah menyempatkan datang kerumah," ucapnya lemah dengan senyum yang mulai merekah. Air mata kebahagiaan mulai mengalir deras. Sandra duduk dengan kepala yang disandarkan. Di ciumnya putri kecil yang menemani hidupnya selama ini, bebannya seakan terangkat dalam waktu singkat.


Sore harinya Sandra sudah duduk di kursi roda bersiap untuk menjenguk Alina. Akmal mendorong kursi rodanya.


.....


Next✨


Biasakan setelah baca jangan lupa like, vote dan komennya😊


Instagram ku: @im.silpa🤗