
Hallo...
Sebelum baca harap follow dulu akun author, dan setelah baca biasakan vote👌
Happy reading ✨
.....
Akmal POV
Mataku tak lepas dari gundukan tanah merah yang diatasnya dipenuhi taburan bunga. Kutatap lekat batu nisan itu. Tanpa diminta, kakiku bergerak sendirinya. Kudekap batu nisan yang tertera nama anakku.
Di pemakaman hanya tinggal aku seorang diri. Umi dan yang lainnya sudah lebih dahulu pulang. Karena malam ini akan diakan pengajian dirumah.
"Nak..." panggilku dengan suara serak. Aku menyentuh batu nisan itu. "Maafkan ayah ya... maaf atas kesalahan ayah. Kamu adalah putri ayah dan ayah yakin kamu akan menjadi bidadari surga."
"Maaf, karena sikap ayah yang tidak tegas kamu harus pergi secepat ini." jutaan air mata ini rasanya tak cukup menembus semua kesalahanku.
Hampir setengah jam-an aku masih saja berada disamping makam anakku, yang ku beri nama 'Viannisa Farriza' tangisku tiada hentinya, hingga suara seseorang yang memanggil namaku membuat aku menolehkan kepala.
"Akmal... gue perlu bicara sama lo."
"Akmal, apa lo gak bisa ceraikan Alina!"
Orang yang kina berada dihapanku menatap tajam kearahku, sorot matanya mengatakan jika ia sangat membenci diriku ini. Ya, itu adalah Dinda. Wanita yang selalu berada disamping Alina. Wanita yang mengetahui semua rahasia hubunganku dengan Alina.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Gue pingin lo ceraikan Alina. Selama ini gue cuma diam, gue cuma diam Akmal! Gue udah gak tak tahan mendam kekesalan ini. Gue pingin lo menceraikannya! Gue nggak peduli kalo nanti Alina marah sama gue, yang jelas saat ini gue pingin lo pergi. Lo gak pantas buat Alina! Masih banyak lelaki yang lebih baik dari lo mengantri untuk menggantikan posisi lo itu. Pergilah, pergi!"
Aku tersentak mendengar suara Dinda yang mulai meninggi padaku. Aku tidak percaya jika dia akan berbicara sekasar itu padaku. Sorot matanya semakin emosi. "Sampai kapanpun saya tidak akan melepasnya,"
Dinda menghela nafas panjang. "Akmal... Lo memang gak tahu malu. Lo sebut diri lo itu laki-laki? Hah! Sungguh gue gak yakin soal itu. Rasanya lo itu kaya maling, sudah tahu salah masih.. saja mengelak, seharusnya lo itu malu sama diri lo sendiri, lo pernah ngaca dicermin gak sih?! Lihatlah Akmal... Lo itu laki-laki yang menjijikkan, lo sakitin istri lo sendiri dan lo malah bersenang-senang dengan mantan pacar lo. Oh tuhan... Gue jadi pingin tahu, gimana caranya ibu lo ngajarin lo waktu kecil."
"Cukup, cukup Dinda... Saya tidak ingin berdebat denganmu. Jika tidak ada kepentingan lagi lebih baik kau pergi. Saya tidak suka melihat kamu, dan tolong jangan pernah kau bawa-bawa nama ibu saya."
"Hah! Memang susah berbicara dengan manusia yang tidak berotak! Tidak tau diri! Ingat Akmal, setelah Alina bangun nanti bakal gue pastiin dia benar-benar meninggalkan lo! Gue lebih rela dia bersama Azka dari pada harus tetap tinggal bersama laki-laki brengsek seperti lo!"
Perdebatan antara aku dan Dinda berlangsung tak lama. Karena tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku pergi meninggalkannya.
Setelah pergi meninggalkan Dinda, Aku berjalan tak tentu arah. Aku menangis meratapi nasib ini. Hingga satu hal tiba-tiba muncul dalam kelapa, ini mengenai kejadian dimasa lalu, kejadian dimana aku berada dititik paling terendah.
Flashback
Saat itu aku mengenakan setelan jas dan dasi. Ya, hari itu adalah hari kelulusan di sekolah. Semua orang bersuka riang menikmati momen terharu ini, tapi bagiku kebahagiaan dan kesediaan datang bersamaan.
Aku bahagia dihari itu karena aku lulus dengan nilai yang memuaskan dan aku juga mendapat beasiswa di Universitas yang ku favorit selama ini. Tapi sayangnya dihari itu juga aku mendapat tamparan keras, aku melihat orang yang setiap hari menemani hari-hari ini menggandeng laki-laki lain.
Sungguh aku bertanya-tanya. Siapa laki-laki itu? Saat itu aku pikir saudaranya, tapi sayang tebakan itu salah.
Dia datang padaku dengan balutan gaun cantik berwarna hitam, ku alihkan mataku pada gandengan itu, sungguh hatiku terasa sesak, berbagai tanya semakin menyeruak diotakku. Tibalah dia dihadapanku, senyumnya sungguh menawan, uraian rambutnya menambah kecantikannya.
"Akmal, kenalkan dia kak Gustaf calon suamiku," ucap Sandra
Dalam sekejap duniaku gelap, nafasku sesak, dan tubuh ini rasanya mati rasa. Hatiku menangis dan aku ingin sekali berteriak, mengapa akhirnya seperti ini? Tapi sayang suara ini hanya sebatas gumaman ini sungguh menyesakkan.
Aku tak bisa berkata-kata apa-apa. Hanya ku ukir seulas senyum kecil untuk menanggapinya.
"Aku harap kamu segera menemukan penggantinya." Setelah berkata Sandra langsung memeluk Akmal.
Akmal melepaskan pelukan Sandra.
"Dan aku harap ini memang keputusan yang baik untukmu. Karena aku yakin, seberapa jauh dan lama kau meninggalkanku akan ada saat dimana kau sadar jika kau memang tak bisa jauh dariku. Percayalah Sandra, dan jika hari itu tiba aku akan tetap menerimamu, bahkan jika nanti aku sudah memiliki istri sekalipun."
"Aku tidak akan menahanmu agar kau tidak pergi, karena bagaimanapun kau punya hak untuk tetap pergi dan memilih keputusan itu, tapi ingatlah, aku akan tetap setia menunggumu."
Sementara Sandra hanya menatap nanar wajah laki-laki dihadapannya, matanya mengatakan jika ia begitu tersakiti. Melihat laki-laki dihadapannya seperti itu membuat hatinya sakit dan merasa bersalah karena telah mengambil keputusan ini.
"Maafkan aku, karena sudah mengambil keputusan ini, beribu maaf mungkin tak cukup untuk mengobati luka hatimu saat ini. Terimakasih karena kau telah mencintaiku, terimakasih karena kau akan tetap menungguku kembali meski dalam waktu yang panjang, dan akan ku pastikan aku akan kembali padamu." ucap Sandra dalam hati.
"Kau memang lelaki baik, tak salah aku membuatmu jatuh cinta, terimakasih untuk semuanya." Setelah itu Sandra pergi meninggalkan Akmal yang hanya mematung saja. Dan Akmal terus mengawasi langkah dua orang itu yang semakin menjauh darinya, saat itu juga hidupnya berubah, Akmal yang memang sudah dingin kini membuat dirinya semakin dingin dan bahkan menyeramkan, dan hari ini juga ia memutuskan akan membelenggu dirinya dengan luka yang ada didalam hatinya yang memang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Ia lakukan itu karena orang yang membuat luka ini, karena ia yakin orang itu akan kembali untuk mengobati luka ini, meski dengan penantian yang panjang .
Aku berharap jika hari ini hanya mimpi buruk tapi keras mengelak kenyataan pahit ini memang benar adanya, nyatanya dia memang benar-benar pergi jauh dariku.
.....
Hari demi hari Akmal lewati, dan hari pun berganti bulan, semenjak kepergian Sandra Akmal tak pernah berhubungan dengan wanita, ia habiskan waktunya hanya dengan belajar untuk menggapai mimpinya.
Dan undangan yang tengah digenggamnya saat ini, ia dapat atas nama pengirim Sandra. Akmal penasaran dengan isi undangannya dan dibukalah udangan itu.
Terlihat jelas setelah dibuka, jika itu undangan pernikahan Sandra dengan Gustaf. Setelah membaca undangan itu Akmal hanya bisa menelan pahitnya penantiannya selama ini.
Tiga hari setelah undangan itu, tukang pos mengantarkan satu buah amplop coklat, dan lagi, nama Sandralah yang tertera sebagai pengirim.
Meski menahan diri untuk tidak membacanya, tapi perasaan penasaran terus saja mendorong Akmal agar membuka secarik kertas yang ada didalam amplop coklat itu. Setelah membuka surat itu ia bisa tahu jika itu sebuah permintaan maaf dan penyesalan.
To:
Akmal
Akmal, mungkin saat kau membaca surat ini aku bukan lagi Sandra yang dulu.
Akmal, selama ini kau pasti menungguku kan? Aku tahu kau pasti setia padaku, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.
Jujur saja Akmal, aku menyesal memilih laki-laki yang sekarang menjadi suamiku, aku sadar jika hanya engkaulah yang mampu membuat hariku ini semakin berarti.
Seharusnya dari awal aku tak harus egois, Akmal. Penyesalan memang selalu ada diakhir.
Sekarang aku membebaskan dirimu, berbahagialah Akmal pujaan hatiku. Aku izinkan kau menikah dengan wanita lain, tapi sebelum kau akan menikahi wanita lain, aku lebih setuju jika kau menikah dengan sahabatku, Alina.
Maafkan aku Akmal, menikahlah untuk kebahagiaanmu sendiri, dan lupakan saja wanita pengecut sepertiku ini.
Lupakan semuanya, anggaplah jika sebelumnya kau tidak pernah bertemu denganku. Aku ini hanya pengecut yang bahkan tak sanggup untuk meminta maaf secara langsung kepadamu, aku bahkan tidak menepati janji itu, janji jika aku akan kembali padamu lagi, tapi apa? Aku bahkan memilih untuk mengakhiri janji itu dengan tetap bertahan untuk hidupku sendiri.
Jadi, janganlah engkau membuang energimu hanya untuk menangisi aku. Aku yakin kau akan berbahagia.
Salam
Sandra
Begitulah isi suratnya, yang jelas setalah membaca surat itu Akmal menumpahkan tangisnya, ia masih tak percaya jika Sandra yang menulis surat itu.
.....
21 Maret||
Tibalah saat dimana hari pernikahan Sandra dan Gustaf dilaksanakan. Pernikahannya megah dan akan dilaksanakan dengan tema outdoor.
Sandra terlihat sedih dihari pernikahannya, tangannya mengerat di tangan sang ibu, perasaannya tak dapat ia artikan, entah ia harus bahagia atau sedih karena pernikahan ini berlangsung dengan cepatnya.
Meski perasaannya berkecambuh tak berarti, tapi sebisa mungkin Sandra tetap tersenyum didepan sang ibu.
Balutan gaun panjang berwarna putih dan riasan yang senada itu menambah tingkat kecantikan Sandra semakin keluar. Tak lama masuklah bunda Gustaf memberi tahu bahwa prosesi ijab kabul telah selesai dan saatnya untuk Sandra keluar untuk bertemu dengan Gustaf yang kini menjadi suaminya.
Sandra berjalan didampingi ibunya dan bunda Gustaf. Jantungnya berdetak semakin tak beraturan semakin cepat langkahnya tak terasa kini ia mendekat kearah Gustaf yang menatapnya dengan senyum.
Resepsi pun digelar secara meriah di sebuah taman yang telah disewa.
Banyak kerabat dan teman-teman yang datang mengucapkan selamat, tapi hanya dua orang yang tak hadir dihari pernikahannya, Akmal dan Alina.
.....
1 telah tahun berlalu
Sandra yan sudah menerima Gustaf sepenuhnya, juga memahami sifat suaminya yang sebenarnya, tapi ia juga sudah sangat sadar jika pernikahannya bukanlah pernikahan yang ia impikan.
Tahun pertama rumah tangganya memangnya masih baik-baik saja, dan mereka masih tinggal satu atap. Tapi setelah 5 bulan ini berlangsung dan Sandra tengah mengandung, Gustaf memilih tinggal ditempat yang saling berjauhan.
Sandra tak tahu apa yang direncanakan Gustaf padanya, tapi setiap bulan Sandra memang selalu menerima transferan uang dengan jumlah banyak dari sang suami, tapi bukan itu yang Sandra inginkan ia ingin Gustaf selalu ada di sampingnya, terlebih ia tengah mengandung anak darinya.
Berbagai cara Sandra Lakukan untuk mengetahui semua aktivitas yang suaminya lakukan diluar sana, dan cara itu membuahkan hasil, ternyata laki-laki yang Sandra nikahi adalah suami oranglain, dan dengan itu Sandra merasa dibohongi oleh Gustaf. Karena tidak ingin memperbesar masalah Sandra membiarkan suaminya itu berkumpul kembali dengan istri pertama dan anak-anaknya.
Selang beberapa hari Sandra mengirim pesan pada Gustaf jika ia minta bercerai, Sandra sadar jika ia memilih jurang dalam bukan jalan lurus yang akan membawanya ke kehidupan yang dimimpikannya.
'Ya Allah, jika benar ini memang cobaan dunia bagiku, aku tak kuat menahannya sendiri, aku lebih baik mundur. Dan hamba sudah memutuskan untuk kembali padanya, meski terlambat setidaknya janji itu masih dapat hamba tepati, soal resiko itu sudah hamba abaikan, meski kembalinya hamba menambah luka hamba tak apa, yang jelas saat ini hanya orang yang bernama Akmal lah yang mampu hamba jadikan sandaran. Jika saat ini laki-laki itu sudah memiliki istri, hamba tak berniat merebutnya, hanya saja hamba menginginkan sedikit saja ruang untuk hamba berteduh dihatinya, ini memang gila ya Rabb tapi hanya inilah yang dapat hamba lakukan untuk menjaga anak ini.' doa Sandra dalam hati, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi bajunya.
.....
Tepatnya 2 tahun umur Shiran, Sandra memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah beberapa tahun ini ia habiskan berjuang seorang sendiri, bahkan ibunya yang menjodohkan Gustaf denganya tidak tahu menahu mengenai permasalahan ini, karena selama ini pahitnya hidup Sandra telan sendiri, ia pikir ibunya tak perlu tahu cepat masalahnya ini.
Tapi sebelum keberangkatannya ke Jakarta, sebulan lalu Sandra sudah lebih dulu mengabari Akmal jika ia akan kembali ke Jakarta. Dan kebetulan nomor telepon Akmal yang dulu masih dipakainya, jadi sangat mudah bagi Sandra untuk menghubunginya.
Dan selama sebulan itu juga Sandra menceritakan semua masalahnya, dan juga, ia tahu jika Akmal telah menikahi sahabatnya, Alina. Wanita yang dulu Sandra sarankan untuk Akmal nikahi, dan itupun menjadi kenyataan yang lumayan menggores hatinya.
.....
Dan dimana hari itu tiba tepatnya diacara besar Azka, Akmal kembali menggandeng Sandra, wanita yang selama ini ditunggunya.
Menurut Akmal, Meski Sandra telah memberi luka yang amat besar tapi dengan kehadirannya luka itu seketika musnas. Dan untuk Alina yang kini menjadi istrinya, Akmal hanya menganggapnya wanita yang hadir tanpa diundang tapi kehadiran memang benar adanya.
Menurut Akmal, Sandra dan Alina itu berbeda jauh, dan tentunya Sandralah yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidupnya.
Flashback off
.....
Aku yang kini sudah berada diruangan dimana wanita yang telah ku sia-siakan terbaring lemah.
Perasaan cinta ini hadir diantara banyaknya rasa kecewa, bertahan dengan kekhawatiran yang melihatmu seperti ini.
Apa benar aku sudah sepenuhnya mencintaimu?
.....
**Hai👋 gimana nih sama part ini?
Sorry kalo tulisannya berantakan dan alurnya gak nyambung🙏🏻😁
Typo-typo koreksi ya🤔
Nah, jadi buat yg kemarin tanya² 'siapa sih bapaknya Shiran atau siapa sih suaminya Sandra?'
Author udah jelasin ya, kalo Gustaf itu bapak kandung Shiran anakanya Sandra, author emang gak jelasin secara rinci asal usul Gustaf itu siapa, anak siapa yang jelas Gustaf itu anak temennya Ibunya si Sandra yang sengaja ibunya jodohin. Kenapa dijodohin? Karena dulu ibunya Sandra itu agak matre dan tentunya pengen kalo si Sandra itu hidup senang, karena kekayaan yang Sandra punya sekarang itu hasil dari uang transferan Gustaf dulu.
Jadi gitu ya, semoga pertanyaan kalian soal seluk-beluk Sandra terjawab ya😊 kalo soal Dokter Rehan itu beda lagi, author bakal ceritain di part mendekati tamat ya.👍
See you next part 👋😘**