The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|16|



Pagi ini senyum Azka telah terbit. Suasana hatinya sudah cerah ketika mendapat balasan dari Alina.


"Semoga Allah sesegera mungkin membukakan hati mu untuk ku. Aamiin." Doanya.


Selepas sholat subuh Azka tidak pernah lupa membaca Al-Qur'an. Barulah setelah itu ia akan bersiap-siap untuk ke pesantren.


"Azka, semalam katanya gak bakal pulang?" Tanya Nina bundanya. Karena Nina tahu, Azka seperti ini karna Alina, gadis cantik yang sejak lama di cintai nya.


"Emang waktunya Azka pulang aja, Bun." Jawabnya, lalu duduk untuk makan pagi. Nina menyendokkan nasi untuknya.


"Bunda tahu, kalian berteman sejak kecil. Tapi, kamu harus ingat! Alina sudah menikah, tidak akan baik jika kamu selalu bersamanya, nak. Bunda bukan tidak suka melihat kamu sama Alina. Hanya saja, bunda takut kamu akan semakin terluka."


Perkataan sang Bunda memang benar adanya. Bagaimana pun Azka menyangkalnya, tetap sama, jikalau Alina memang milik Akmal. Sudah tidak ada lagi harapan untuk memiliki Alina.


"Aku tahu, Bun." Sesaat hening. "Aku tidak ingin memilikinya, hanya saja aku selalu berdoa semoga Alina membuka hatinya untuk Azka, Azka tidak ingin Alina terus tersakiti, pergi dulu Bun, Assalamualaikum," pamitnya.


"Gimana keputusan kamu mengenai renca Bunda? Soal perjodohan itu..." Teriak Nina.


"Masih aku pikirkan, Bun." Jawab Azka sembari berjalan ke luar rumah.


Nina tersenyum hambar, mau sampai kapan anaknya ini memendam perasaan untuk sahabatnya? Jika tahu akan seperti ini, mungkin dulu Nina akan melamar Alina terlebih dahulu sebelum Alina menerima amanah itu.


"Aku berangkat Bun," teriak Azka diri luar.


"Iya." Jawab Nina. Azka pun melajukan mobil membelah jalanan kota yang padat di jam berangkat kerja, untung pesantren nya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


.....


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku yang baru saja sadar karna ada janji dengan Azka. Langsung ku kendarai motor dengan kecepatan sedang. Padahal hari ini aku baru saja ikut membantu Dokter dalam mengoperasi pasien, cukup lelah. Tapi aku tidak ingin ingkar janji pada Azka. Toko-toko berjejer ditepi jalan menjejelkan jualan nya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu persatu. Aku dan Azka sudah janjian akan bertemu di sebuah kafe dekat pesantren nya.


Tapi rintikan hujan turun membasahi bumi. Lama-kelamaan rintikan itu berubah menjadi hujan yang semakin lebat. Dalam sekejap, tubuhku sudah basah kuyup terkena hujan. Ketika ku melihat sebuah toko dipinggir jalan, kuputuskan untuk berteduh sejenak, tapi tempat itu begitu sepi.


Ternyata aku memilih tempat yang salah untuk berteduh. Tak berapa lama aku berdiri disana, dua lelaki bertubuh kekar berdiri tak jauh dariku. Aku mulai ketakutan, berharap ada seseorang yang dapat membantu.


Aku bertambah takut ketika mereka mulai melirik kearah ku. Tanpa menunggu apa lagi, kurongoh kantungku dan mengambil ponsel didalam sana dan segera menghubungi Mas Akmal.


.....


Ditempat lain laki-laki yang masih bingung dengan hatinya. Ia hanya terdiam dikursi, matanya memandang jendela yang menampilkan hujan yang lebat diluar sana membuatnya malas untuk pulang. Apalagi ia harus melihat sang istri di rumah, yang memang keadaan dirumah sedang tidak baik.


Pikiran nya terus saja melayang memikirkan Alina. Gadis itu sekarang tengah berada diluar sendirian. Akmal tau dia wanita yang hebat, agamanya begitu kuat. Namun Alina tetaplah wanita yang berbahaya jika berada diluar sendirian apalagi hari mulai gelap seperti ini.


Tanpa memikirkan apa lagi, Akmal menarik jasnya dan kunci mobil yang terletak diatas meja kerjanya dan segera berlalu.


.....


Aku menatap ponsel dengan pandangan kosong, Mas Akmal memang mengangkat telpon dari ku tapi ia tidak memberikan respon apapun. Sedangkan di ujung sana kedua lelaki berwajah sangar itu mulai meneriaki ku. Kutatap langit yang masih menumpahkan air hujan. Hanya satu diotakku saat ini, yaitu lari.


Baru saja kakiku melangkah, kedua lelaki itu sudah menghadang tepat di depan ku. Aku tidak tau sejak kapan mereka berada di dekatku. Hatiku berdetak kencang, pikiranku mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Mau kemana? Hujan. Nanti kamu kedinginan loh," ucapnya dengan suara lembut yang mampu menaikkan bulu kudukku. Kugeser sedikit tubuhku kearah samping mencari celah untuk lari, namun mereka juga mengikuti pergerakan ku.


"Permisi, saya mau pulang," cicitku. Mereka tertawa mendengar nada bicara ku yang ketakutan.


"Loh jangan takut, kita baik kok."


Tidak! Otak ku memberi sinyal kalau mereka bukan orang baik. Lampu peringatan itu sudah menyala sejak aku melihat mereka masih berdiri diujung jalan.


Kamu harus pergi, Lin. Lari sekencang-kencangnya kalo bisa. Bisik hatiku. Kutatap sekeliling mencari pertolongan, tapi naas. Jalanan begitu lenggang karna hari sudah malam dan keadaan hujan lebat juga. Menyerah akhirnya aku mencari jalan untuk lari. Jika aku lari dari sini sampai dua puluh menit, tapi biarlah.


Tanpa aba-aba aku gerakkan kakiku untuk berlari menjauh, tapi lagi, mereka menghalangi ku. Kali ini salah satu diantara mereka menggenggam pergelangan tanganku dan mencengkramnya kuat.


Aku terkejut sekaligus ketakutan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tanganku, dan berusaha berteriak meminta pertolongan.


Aku tak henti memberontak agar tanganku terlepas, wajah mereka yang sangar makin membuat ku ketakutan. Kututup mataku dan berharap kalau semua ini hanya mimpi.


.....


Senyum itu tidak luntur sama sekali dari wajah pria itu. Sudah tak sabar Azka menunggu kedatangan Alina. Sudah dua jam lebih Azka duduk bersama secangkir kopi dan donat kesukaan Alina. Suasana hatinya yang awalnya senang, kini berubah menjadi benar-benar gelisah. Apa terjadi sesuatu pada Alina? Ia terus saja berusaha mengusir pikiran jeleknya itu. Tapi, hatinya mengatakan jika Alina saat tidak baik-baik saja. Langit sedang mendung, ada gumpalan hitam dilangit sana. Azka hanya berharap hujan segera berhenti, ia sangat mencemaskan keadaan Alina yang sejak tadi tak kunjung datang. "Ah! Mungkin dia berteduh". Pikirnya.


Tapi... Bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Tanpa berpikir lama, Azka meraih kunci mobilnya dan melaju membelah jalanan yang tengah diguyur hujan lebat.


Sepanjang perjalanan matanya tak henti melihat kiri-kanan berharap dapat melihat Alina, gadis cantik yang sangat dicintainya.


.....


Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba tanganku rasanya terlepas. Namun aku tak sanggup untuk membuka mataku. Suara baku hantam mengejutkan ku, kubuka mataku perlahan dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati Azka yang tengah baku hantam dengan kedua lelaki itu.


Rasa takut tadi berubah menjadi rasa takut lain. Takut kalau salah satu diantara kedua lelaki itu membawa benda tajam dan melukai Azka. Mulutku terus melafalkan doa agar diberi keselamatan untuk Azka, meskipun yang menolong dan datang saat ini bukan Mas Akmal. Tapi Azka bagiku sama berharga nya dia adalah sahabat ku, yang sudah ku anggap kakak sendiri.


Tak butuh waktu lama, kedua lelaki itu sudah babak belur dan melarikan diri. Aku tak tau apa yang aku lakukan, aku hanya butuh ketenangan. Tanpa aba-aba kupeluk Azka dan menangis tersedu-sedu disana. Dapat aku rasakan Azka memeluk dan mengelus kepala ku memberi ketenangan. Aku tau itu dosa dan dilarang, tapi saat ini aku memang butuh sandaran.


.....


Sepanjang perjalanan pulang dan pikirannya yang terus melayang pada Alina. Akmal terus melajukan mobilnya lebih cepat, dalam hatinya rasa khawatir tiba-tiba menyerang nya. Pikiran buruk tentang keadaan sang istri saling berbisik satu persatu, Akmal yang risih berusaha menyingkirkan nya. Tapi, itu tidak bisa, malah semakin ia mengusirnya semakin banyak bisikan itu. Apa iya Alina kenapa-kenapa? Pertanyaan itu muncul. Akmal pun bergegas melajukan mobilnya lebih cepat dari tadi.


Di depan toko yang memang sepi dan keadaan hari yang sudah gelap, ekor matanya menangkap sesosok perempuan berhijab, bajunya basah kuyup, terlihat sesekali mengusap air matanya. "Bukannya itu... Alina?" Tanpa lama Akmal turun dari mobilnya. Berjalan kearah perempuan itu, tapi ia melihat sosok laki-laki yang tak lain adalah Azka itu membuka jaket, lalu menyampirkan pada tubuh Alina. Dan apa, dia memeluk Alina!


Akmal mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya benar-benar memutih. Antara tidak rela atau cemburu Akmal tidak tahu, yang pasti dia benar-benar tidak rela melihat sang istri bersama laki-laki lain.


Sedangkan Azka disana masih memeluknya, mendekap tubuh Alina didadanya. Namun, tiba-tiba Akmal menarik tubuh Azka hingga menjauh dari Alina.


"Pergilah! Biar saya yang mengurus istri saya sendiri," ucapnya dingin penuh penekanan.


Azka menatap tak suka pada Akmal. Tapi ia tidak bisa apa-apa, ia tidak ada hak untuk Alina. Salah juga jika ia harus mencari gara-gara dengan keadaan sahabatnya yang seperti saat ini, mungkin ada baiknya ia pergi. Setidaknya Alina aman sekarang, meski berat akhirnya Azka memilih mundur tanpa sepatah katapun. Lalu pergi, benar-benar pergi.


Semenjak perginya Azka keadaan dingin, Alina masih sesegukan karna tangisnya. Alina juga masih diam. Kelihatan ketakutan yang besar dalam dirinya, terlihat dari bahu dan bibirnya yang bergetar serta tangannya yang saling menggenggam. Akmal merasa menyesal tidak langsung pergi ketika mendapat telpon tadi, seharusnya ia harus lebih memperhatikan istrinya, mungkin jika tidak egois kejadian ini tidak akan terjadi.


"Berhentilah menangis, ayo kita pulang." Tanpa ragu Akmal meraih tangan Alina dan menuntunnya berjalan ke arah mobil.


Mobilnya kini sudah melaju, tapi Alina hanya terdiam dibangkunya, Akmal tidak tau apa yang terjadi pada Alina. Ketika ia menemukan sang istri, ia hanya melihat Alina sudah menangis di pelukan Azka.


Kali ini tangan Akmal terulur mengelus kepala Alina, ia menatap sang suami dengan tatapan kosong. Akmal makin merasa bersalah melihat nya seperti ini. Baru saja semalam Akmal membuat sang istri menagis, dan hari ini ia melihat nya lagi menangis. Sungguh! Rasa menyesal dan khawatir sangat berkecambuh dalam dirinya. Ia bingung.


"Maaf seharusnya Mas yang datang membantu, bukan Azka." Ucapnya lirih. Alina hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap kearah depan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"A-aku ta-tadi di.. pegang-pegang sa-sama preman." Ucapnya lalu kembali menitikkan air matanya. Akmal yang berada di samping syok.


Astaghfirullah. Pantas saja dia ketakutan. Pikir Akmal. Akmal lebih menyesal karena tadi ia mengabaikan telpon darinya, seharusnya kejadian ini tidak terjadi jikalau dia langsung pergi menemuinya.


Egois! Memang pantas sebutan itu untuk Akmal. "Maaf seharusnya Mas datang lebih cepat," ucapnya lirih lagi. Alina masih mengangguk untuk menanggapi. Dan tatapannya terus kedepan, dengan tangan yang saling menggenggam.


.....


Next✨


Kasian gak sama Alina?


Kaya biasa gengs, kalo suka like, vote dan komennya😊👍


Follow Instagram ku ya: @im.silpa🤗 kalo pengen di follback sama aku boleh, yang penting dm aja👌🙂