
Ketika ku buka mataku, keberadaan ku bukanlah dirumah tapi dirumah sakit tempat ku bekerja. Tapi ketika melihat sosok yang tengah mondar-mandir itu aku sedikit terkaget. Itu bukan Mas Akmal, melainkan Azka.
"Azka," panggilku. Aku berusaha bangun dari tidur. Namun aku tak kuasa, karena kepalaku masih terasa berat.
Laki-laki yang tadi ku panggil menoleh, dengan cepat ia menghampiri dan membantu ku untuk duduk.
"Terimakasih."
"Sudah lama?" Tanyaku. Suaraku sedikit serak akibat baru bangun tidur.
"Dari semalam, aku mencoba menghubungi suamimu tapi panggilan dialihkan." Ucapnya terhenti. "Karna, takut kamu kenapa-kenapa aku bawa mu kesini, tapi tidak perlu khawatir aku sudah meninggalkan pesan pada suamimu, jika kamu berada dirumah sakit." Lanjutnya seraya tersenyum padaku, aku mengangguk, meski sebenarnya aku kesal.
Semalam? Berarti Azka menungguku sebegitu lamanya. Sedangkan Mas Akmal, dia tidak peduli?. Hati ku sakit, hawa panas begitu bergejolak didada. Apa Mas Akmal masih belum bisa menerimaku sebagai istrinya?
"Lin, aku sudah siapin makanan, kamu makan dulu ya." Azka mengambil mangkuk yang ada dinakas samping tempat tidur, Azka menyuapiku perlahan-lahan.
Aku makan lumayan banyak. Azka terus saja menghiburku, hingga aku tertawa tak henti-hentinya.
.....
Hingga tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan keduanya diambang pintu. Keberadaan nya sudah sejak tadi, saking asiknya bercanda Alina sampai tidak menyadari kedatangan orang itu.
"Sudah sehatkan?" Suara bass tersebut berhasil mengalihkan sekaligus menghentikan tawa keduanya.
"M-mas sejak kapan datang? Bukannya Mas semalam dirumah Sandra?"
"Memang kenapa? Aku masih ada hak bertanggungjawab atas kamu." Akmal menatap tajam Azka dan Alina bergantian. "Oh, jadi maksud mu kedatangan saya mengganggu kalian yang enak berpacaran dan melupakan posisimu sebagai seorang istri. Begitu kan maksud kamu?! Percuma Alina kamu berpenampilan sok suci, menggunakan hijab dan gamis besar mu itu, tapi, kelakuan kamu seperti jalang," ucap Akmal dingin meninggalkan Alina dan Azka. Membuat api amarah berkobar didada ustad muda tersebut.
"Tunggu!!!" Bentak Azka. "Jaga ucapan mu Akmal! Kau tidak pantas mengatakan Alina seperti itu."
"Kenapa?" Tanya Akmal berbalik di sertai tatapan membunuh. "Anda tidak suka? Memang kenyataannya seperti itu, bukan?!" Akmal melancarkan senyum devil.
"Brengsek kau!!!" Azka langsung mencengkram dan menarik kerah jas yang dikenakan Akmal. Dan satu pukulan keras dengan mulus mendarat di wajahnya, emosi Azka sudah memuncak.
Alina yang sejak tadi sudah panik harus bagaimana dan ia tidak bisa menghentikan perdebatan mereka, tapi dengan keadaannya yang memang masih lemas, Alina menghampiri Azka, mencengkram lemas lengan Azka. Melihat tatapan yang diberikan Alina selalu bisa meredam amarah seorang Azka.
Azka mendesah kasar, kenapa dia selalu lemah terhadap perempuan ini, padahal ingin sekali dia menghajar habis lelaki yang tidak tahu bersyukur karena memiliki seorang istri Sholehah dan sesabar Alina itu.
Akmal mengibas-ngibas bekas cengkraman Azka dijas nya, dan mengusap kesal pipinya yang tadi berhasil Azka pukul.
"Mas, pipi mu?" Akmal mengacuhkan Alina. Dan berlalu begitu saja.
"Alina, dia sudah keterlaluan! Kenapa kamu di--"
"Ka, please....," Potong Alina memohon.
"Jika kamu terus seperti ini, kamu hanya mempersulit ku,"
"Jika kamu diam saja, kamu akan terus di injak-injak." Azka memperingati.
"Tapi kamu benar-benar akan mempersulit ka, percayalah."
"Aarrgh!!" Azka menghantamkan tangannya kedinding rumah sakit.
.....
Aku mengikuti Mas Akmal yang terus berjalan keluar rumah sakit. Meski aku masih lemas tapi aku tidak peduli dengan badanku saat ini, aku hanya ingin menjelaskan pada Mas Akmal jika aku dan Azka tidak ada hubungan apa-apa. Karna aku tidak ingin Mas Akmal terus salah paham.
Kini keberadaan ku didalam mobil Mas Akmal. ku duduk disamping Mas Akmal yang sibuk dengan ponselnya. Wajahnya datar seolah tidak pernah menganggap ku ada.
"Mas harus tahu kalo Azka itu sudah seperti abangku sendiri. Mas tidak perlu curiga apalagi cemburu." Alina masih tidak menyerah untuk membuat suaminya paham.
"Mas! Dengerin alin, kan?"
Mas Akmal mendengkus lalu menatap tajam kearah ku yang tiada henti mengoceh disampingnya.
"Bisa diam tidak?"
"Tidak! Sebelum mas mengatakan marah apa tidak sama aku? Please.. mas jangan marah ya. Aku juga tidak tahu jika Azka akan datang kerumah, karna selama aku tinggal dirumah. Aku, tidak pernah memberi tahu alamat rumah kita. Oh iya, kenapa sih mas tidak suka pada Azka? Padahal dia itu baik." Alina tidak henti berceloteh hingga membuat kuping Akmal panas.
"Alina, Diam!"
Aku menghiraukan Mas Akmal. "Mas, perlu tahu kalau Azka itu sahabat dari kecil, dia baik, dan suka membantu aku. Mas jangan cemburu ya?!"
Akmal terdiam sejenak dari kegiatannya. "Apa dalam Islam diperbolehkan bersahabatan dengan lawan jenis? Apalagi sampai duduk berduaan dengan yang bukan mahram, kecuali dia punya hubungan darah denganmu. Apa itu boleh?" Azka berkata penuh penekanan di akhir kalimat tanpa menoleh sedikitpun pada Alina, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Aku terdiam, aku hanya menunduk, ucapan suamiku memang benar. Namun detik berikutnya aku kembali meminta maaf menjelaskan beberapa hal membuat Akmal mendesah dalam. Sangat berisik! Perempuan ini cerewet sekali. Pikir Akmal.
"Iya aku tahu, Mas. Lagipula Alin tidak ngelakuin apapun dan tidak ada perasaan apapun. Jadi Mas maafin aku ya."
"Alina!" Untuk sekian kali Akmal mengingatkan sang istri untuk diam.
.....
Akan tetapi Alina tidak kunjung diam. Akmal kesal, lalu meletakkan ponselnya. Tiba-tiba Akmal mendorong Alina hingga bersandar kekaca mobil. Satu tangan lelaki itu mencengkram bahu Alina satu tangannya lagi mendekap mulut Alina. Kejadian itu begitu terasa cepat hingga tanpa Alina sadari kini wajah Akmal sudah begitu dekat dengan wajahnya. Semakin dekat hingga hembusan nafas sang suami begitu terasa dipipi. Setelahnya ia berbisik.
"Lain kali, jika kamu masih tidak bisa diam saat kupirintah. Ku pastikan bukan hanya tanganku lagi yang membungkam mulut mu. Melainkan mulutku sendiri."
Mata Alina langsung membulat sempurna mendengar ancaman Akmal. Pipinya memancarkan rona merah muda, hatinya berdesir.
"Mengerti maksudku?"
Dengan muka polos yang terlihat ketakutan. Alina mengangguk seperti orang bodoh. Kemana Alina yang suka menggoda seperti jalang? Kemana? Tanpa sadar lelaki itu tersenyum melihat kegugupan sang istri yang tidak berani menatap matanya, Akmal terpesona oleh binar yang memancar kepolosan dari bola mata coklat didepannya. Tanpa mata itu sudah menghipnotis nya. Mata kecil nan indah yang meneduhkan.
Detik berikutnya Akmal langsung melepas tangannya dari mulut dan bahu Alina ketika sadar sudah tenggelam dalam tatapan indah sang istri yang ia acuhkan selama ini.
Kini keduanya salah tingkah, bergerak tak nyaman diposisi masing-masing. Hingga Alina memutuskan untuk keluar mobil, untuk kembali masuk kerumah sakit. Karna ia memang masih butuh istirahat, ia merasa ada ribuan kupu-kupu terbang didalam sanubarinya. Tidak dipungkiri ia begitu senang namun tak kuasa menahan debaran jantung yang terpompa berkali-kali.
Ketika Alina berjalan memasuki rumah sakit, ia mendesah, sesekali menarik nafas panjang. Sang hati terus meronta-ronta padahal baru sedikit saja disentuhan sang suami. Sentuhan suaminya itu bagaikan sengatan belut listrik yang berhasil menyalurkan tenanga dengan kekuatan 600 volt.
Tangannya bergemetar. Bukan cuma itu saja jantungnya terus berdebar tiada henti, desiran aneh terasa diseluruh tubuhnya.
Lalu bagaimana dengan Akmal? Apa dia merasakan hal yang sama. Dan jawabannya....,
Ya! Akmal mengalami hal yang sama. Tapi, lelaki itu terlalu malu untuk mengakuinya. Hatinya juga berdebar tak terkontrol. Kira-kira seperti itu kebenaran yang Akmal alami saat ini di mobil.
.....
Next✨
Yuk follow Instagram ku: @im.silpa🤗
Maaf kalo ada typo🙏🏻