The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|10|



Semalam aku berjaga karena Shiran terus saja memanggil nama Sandra dalam tidurnya. Aku tidak tau dia mengigo atau mimpi, yang jelas saat ku lihat dari raut wajahnya, Shiran terlihat sedih. Dia mengeluarkan air matanya dan terus menyebut nama Sandra. Saat itu aku orang yang berada dekat dengannya aku berusaha menenangkannya, aku rasa malam itu aku sudah seperti ibu saja, menggantikan posisi Sandra untuk Shiran. Aku menepuk-nepuk nya dan membelai rambutnya.


Satu kata yang terngiang dikepala ku malam itu. Andai orang yang ada disekitar ku saat ini, adalah milikku! Dengan apa aku harus salurkan perasaan yang menguasai relung jiwa ini? Saat lisan tak mampu menyampaikan, apakah perlakuan dapat menafsirkan? Karena terkadang, ada hati yang tak peka akan rasa.


Dalam keterdiamanan yang tak seharusnya, Apa harus? Demi sahabat mengorbankan kebahagiaan sendiri?


Ya Allah, semoga hamba mampu bertahan tanpa harapan, karena aku yakin, semua itu rahasia yang sudah kau suguhkan untukku, sebagai takdir. Gumam hati Alina.


.....


Setelah memastikan urusan rumah selesai. Dan jam yang menggantung didinding menunjukkan pukul delapan, Alina mulai bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Sandra, untuk mengantarkan Shiran padanya.


Karena Alina pikir ia tidak seharusnya diam terus menerus, bahwasanya sudah terlalu banyak luka untuknya, ia harus mengutarakan dengan lisan. Harus berapa lama lagi ia berlomba-lomba dengan waktu demi mencipta rasa yang tak terbalas. Meski nantinya penolakan atau luka lagi yang ia dapat, setidaknya ia harus menegaskan jika yang mereka lakukan salah! Dan, Sandra juga harus mengerti! Jika Akmal sudah menjadi suami orang, bukan lagi pacarnya yang dulu.


"Shiran cantik, hari ini ikut Tante ke rumah Shiran ya..." Ucapku sambil menangkup pipi Shiran.


"Tapi... Mama bilang, Shiran harus tinggal disini dulu, sampe mama jemput, bunda..." Balasnya.


"Tapi Tante gak bisa jadi mama penggantian buat kamu!" Shiran yang mendengar ucapanku yang sedikit tinggi, ia terlihat murung.


"Shiran sayang kok sama bunda, Shiran juga mau kalo bunda jadi mama Shiran setelah mama." Matanya memerah. sungguh, aku tak tau harus menjelaskan apa pada gadis kecil dihadapanku saat ini. Aku menarik nafas panjang,


"Kamu gak akan ngerti yang Tante rasain...Shiran, sudah cukup Tante terus tersakiti karna mama mu, dan sekarang..."


"Dia gak salah! Cukup aku yang salah disini," ucapan ku terpotong oleh seseorang dibelakang ku. Aku membalikan tubuh, terlihat sudah Sandra dan Mas Akmal yang tepat dihadapan ku. Aku merasa bersalah karna ucapan tadi.


"Sandra."


"Sini sayang," ucap Sandra pada Shiran. Shiranpun berlari kearah Sandra. Aku melihat Shiran yang sudah erat memeluk kaki Sandra, tapi ketika ku melihatnya, Shiran nampak ketakutan. Apa setelah ini Shiran akan membenciku?


"Alina! Masuk!!" Bentak Akmal.


Alina terkejut, tanpa basa-basi dan lainnya, tiba-tiba saja Akmal menyuruh Alina masuk kedalam rumah.


"Tapi... Mas,"


"Aku bilang masuk!!" Bentak Akmal lagi. Terpaksa ia harus melangkah masuk.


Ketika Alina masuk kedalam, Mas Akmal menyuruh Sandra pulang. Dan itu masih dapat dia dengar, tapi Alina hiraukan. Dan meneruskan langkahnya yang sempat tertunda karna mendengar ucapan Mas Akmal pada Sandra.


"Astaghfirullah," ucap Alina cepat ketika tangannya tiba-tiba ditarik Akmal, karna itu membuat tubuh Alina terjatuh. Dengan posisi kedua tangan bertumpu kelantai karna menahan badannya.


"Mas kok narik tanganku sih?" Protes Alina.


"Siapa suruh kamu marah-marah ke Shiran?!" Jawab membentak.


Alina menggeleng. "Astaghfirullah... Itu gak seperti yang Mas lihat. Aku--"


"A-aku emang gak bisa jadi ibu pengganti buat Shiran! Aku bukan Sandra, bukan siapa-siapa juga."


"Y-ya, aku gak ada niat buat kamu jadi ibu pengganti, aku cuma pengen sementara ini kamu jagain Shiran dulu." Jawab Mas Akmal tanpa dosa.


Alina menarik napasnya perlahan, sungguh! Menghadapi sikap Akmal begini sepertinya Alina harus memperbanyak stok kesabaran. "Sabar Alina," ucapnya perlahan. Terus membantahnya juga tidak akan ada guna jika berdebat dengan suaminya ini. "Sudah Lin, kamu mengalah lagi saja." Alina berdiri dari jatuhnya. Kini dia sudah duduk bersampingan dengan Akmal, yang sudah sibuk dengan ponselnya.


Lama terdiam, Akmal maupun Alina tidak membicarakan apapun. Hanya suara hembusan angin kecil yang terdengar. Alina mulai bosan karna tidak ada pembicaraan diantara dirinya dan sang suami, Alina yang mengenakan hijab panjang dan gamis yang memang senada dengan warna hijabnya, nampak cocok dipakainya. Tapi, tetap saja. Seberapa cantik dan bagusnya Alina berpakaian untuk suaminya tetap saja, itu tidak pernah menarik dimata sang suami.


"Kalo bosen mending masuk, sana!" Usir Akmal.


Alina memutar wajahnya seratus delapan puluh derajat hingga pandangannya tertuju pas didepan muka Akmal, sejenak tatapan mereka beradu dan saling mengunci. Debar dan desiran aneh tiba-tiba menyeruak didada keduanya.


Detik berikutnya Akmal langsung mengalihkan pandangannya kembali pada layar ponsel itu. "Ya Allah tolong beri hamba kesabaran yang besar agar dapat bertahan dengan sifat suami hamba yang sulit dipahami. Hamba kira dengan berpakaian bagus, dan berdanda cantik untuk nya akan menarik perhatiannya. Namun tidak! Mas Akmal justru semakin dingin terhadap hamba ya Allah. Harus dengan cara apalagi hamba menarik perhatiannya?" Curhat Alina dalam hatinya. Ia masih bergeming, pikiran dan hatinya masih berkecambuk.


"Alin! Kau mendengarkan ku tidak!!" Lagi-lagi membentak.


Alina terkejut, ia bangkit dari duduknya, memandang Akmal tak percaya, meski terpaksa ia harus melangkah masuk.


Kini, Akmal benar-benar ingin sendiri. Perlahan ia mengeluarkan dompet lalu membuka nya, sesosok wanita cantik tengah tersenyum difoto. Bukan hanya sosok wanita cantik itu saja yang ada difoto, melainkan dengan dirinya juga yang memang disampinganya. Wanita yang dulu sangat ia cintai, wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Sandra, ya itu sosok wanita cantik yang terselip didalam dompetnya. "San, kapan kau akan kembali padaku seperti dulu? Aku sangat takut, jika nanti wanita yang kunikahi benar-benar bisa membuat ku jatuh cinta padanya, jika itu terjadi. Bagaimana dengan mu? Apa hubungan kita masih tetap ada?" Itu yang Akmal pikirkan ketika mengingat Sandra wanita yang dulu menjadi pacarnya.


Alina yang diam-diam mendengar dari balik tembok tidak terasa menitikan butiran bening dari iris mata sendunya. "Mau sampai kapan kamu terus berpikir seperti itu? Mau sampai kapan kamu terus menyakiti dirimu dengan perasaan dulu, yang terus kamu bawa sampai sekarang. Mau sampai kapan kamu mengingat masalalu dan kenangan itu? Tidakkah kamu lelah? Andai saja kamu katakan, apa darinya yang tidak bisa kamu lupakan, apa aku yang seperti ini tidak cukup untuk mu? Apa kelebihannya yang tidak ada padaku, jika aku tidak memiliki kelebihan itu, aku bersedia berubah menjadi orang lain, itu demi dapat perhatian dari mu. Tapi, sayangnya tidak. Jangankan menjadi orang lain. Bahkan jadi diri sendiri pun tak pernah kau lirik atau perhatikan, bagaimana aku yang menjadi oranglain? Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Aku aktif, kamu risih. Aku mencoba diam kau malah semakin dingin dan acuh padaku. Bilang! Padaku, aku harus apa?" Alina menyeka air matanya kasar, lalu melangkah cepat menuju kamar, setibanya disana Alina langsung menghempaskan tubuhnya ketempat tidur. Saat ini Alina benar-benar ingin meluapkan isi hatinya. Ia menangis disana.


Disisi lain Akmal terus larut dalam ingatan masalalu. Namun tersadar ketika suara pesan masuk. Reflek Akmal menjatuhkan foto itu kelantai. Lelaki itu membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya, tapi, begitu cepat juga wajah pemilik netra tajam itu berubah, laki-laki itu tiba-tiba naik pitam, darahnya seakan mendidih, tangannya pun terkepal erat. Melihat pesan terror dilayar ponselnya. "Berani sekali manusia ini mengirim pesan seperti itu pada ku!!" Ucapnya dengan suara tinggi.


Menit berikutnya Akmal menelpon orang yang tadi mengirim pesan terror padanya.


"Kenapa? Kau tidak suka? Atau kau takut?"


Akmal terkejut bukan main dengan suara orang ditelpon itu. "Lo siapa? Lo kenal gue?" Tanya Akmal tidak kalah tegas.


"Hah!! Lo gak usah tanya gue siapa, yang jelas Lo harus lebih perhatiin istri Lo, kalo emang Lo sayang sama dia. Kalo enggak..." Telpon itupun terputus. Tapi, detik berikutnya Akmal mencoba menelponnya, namun tak kunjung diangkat juga.


"Dasar!! Anjing tu orang! Emangnya gue takut." Gumam Akmal kesal.


Kata-kata orang tadi, terus mengiang di kepalanya saat ini. Akmal hanya bisa terdiam sambil menyerap dalam-dalam kata-kata yang mengancam keselamatan alina, sang istri.


.....


Next✨


Sorry ya up nya lama🙏🏻 tapi thanks u buat yang udah mau nunggu cerita ini😊😘


Follow Instagram aku yuk: @im.silpa🤗