
"Terimakasih... hati-hati..." teriaknya. Mobil yang baru saja dituruninya melaju kencang kearah Jakarta, ya itu mobil Dinda dan suaminya, mobil yang beberapa jam ditumpangi Alina dari Jakarta ke kota Bandung ini.
Malam yang indah dikota Bandung. Bintang-bintang dengan riangnya bersinar diatas, dan bulan sabit yang tidak kalah bersinarnya juga ikut menerangi malam dikota yang bersih ini.
Langkahnya begitu gontai menapak ketanah sunda ini, tempat kelahiran laki-laki yang sangat berarti dihidupnya. Dengan lunghai kaki itu terus menelusuri jalan, dan dengan luka yang dibawanya dari kota lain.
Disaksikan langit malam dikota ini, tangisnya masih menyelimuti dirinya yang lemah, meratapi semua nasib yang membelenggunya. Dengan kasar kakinya dipijak-pijakan ketanah, ia benci dengan dirinya sendiri, bahkan merasa malu karena menyerah begitu saja. Bagaimana bisa ia menjadi selemah ini?
.....
Kakinya kini berhenti didepan gerbang hitam yang menjulang tinggi keatas, gerbang yang mengelilingi rumah besar berwarna putih nan mewah itu.
Tangannya kini terarah ke bel rumah yang berada disamping gerbang. Ditekannya. Tanpa lama seseorang keluar dari pintu besar disana. Langkahnya perlahan mendekat.
"Non Alina." ucapnya setelah benar-benar berhadapan dengan Alina.
"Iya bi saya," jawab Alina yang posisinya masih diluar gerbang. Wanita yang tadi keluar dari rumah besar itu adalah salah satu pekerja rumah.
"Silahkan masuk non," ucapnya setelah membuka gerbang tinggi itu. Alinapun melangkah masuk.
"Mari non, saya antar kedalam." ucapnya lagi. Alina hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
"Nama bibi siapa?" tanya Alina memecah keheningan. Kini ia sudah berada diruang keluarga, ruangan yang ukurannya lebih besar dari ruangan keluarga dirumahnya dijakarta.
"Saya mah bi Arum, non," jawabnya dengan logat Sunda yang kental.
"Oh iya, bi Arum. Kalo mang Ujang kemana? Kok dia gak jaga didepan?" tanya Alina terus.
"Mang Ujang mah biasa non..., Dia mah suka tidur kalo jam segini, tadi bibi bangunin hese pisan... Tidurnya kaya kebo non," jelas bi Arum, Alina yang mendengar, ia terkekeh kecil. Entah kenapa rasanya ingin tertawa saat mendengar suara wanita dihadapannya ini, padahal bi Arum tidak sedang berkomedi.
"Biarinlah bi, mungkin mang Ujang cape."
"Cape timana non, kerjaana oge tidur, makan, tidur, giliran disuruh mah hesena minta ampun." ujar bi Arum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini kamarnya non Alina, sok atu istirahat, kalo ada apa-apa panggil aja bibi, insyaallah 24jam siap melayani," ucapnya sambil tersenyum.
"Sebelumnya makasih bi, bener nih siap 24jam?" Alina tersenyum, ia berusaha menggoda bi Arum.
"Ya jangan juga non... Kalo 24jam saya gak tidur dong, kalo gak tidur nanti saya pas lagi beres-beres kerjaan lain nundutan," ucapnya dan lagi-lagi Alina terkekeh mendengar ucapan bi Arum yang memang sedikit lucu baginya.
"Saya bercanda," Alina mengelus lembut pundak Arum. "Ya sudah.. sekarang bibi tidur udah malem, Alin juga mau istirahat cape," lanjut Alina menyelesaikan ucapannya.
Bi Arum mengangguk lalu meninggalkan Alina... Dan Alinapun masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Sebelum tidur Alina membersihkan diri dulu. Dinyalakan olehnya shower, Alina membasahi dirinya. Tapi tiba-tiba fokusnya teralih pada bayangan yang selalu berkecambuk didalam otak dan hatinya.
"Ini ujian Lin, ujian! Ini ujian!" Alina terus meyakinkan hatinya dengan kata-kata itu.
Semakin ia keras berusaha mengalihkan fokusnya pada acara mandinya. Bayangan itu malah semakin tajam terlintas. Bayang wajah Akmal, terus berputar diingatannya. Laki-laki yang setahun ini menjadi bagian dari hidupnya, laki-laki yang juga membuat batinnya tersiksa seperti ini. Rasanya jika waktu diputar lebih cepat kebelakang lagi, tidak ada salah dan dosa sampai mendapat balasan sebegini sakitnya. Alina terluka, sangat terluka.
Wanita itu kini terduduk lemas dibawah curahan air. Dinginnya air yang jatuh kekulitnya masuk ke pori-pori dan membuatnya menggigil.
.....
Akmal melajukan mobil hitamnya meninggalkan rumah sakit, napasnya beradu dengan tepisan angin yang masuk lewat celah jendela kaca mobil. Jalan malam ini terlihat sepi, ya seperti hatinya yang tengah diriuhkan rasa penyesalan. Hingga kekosongan dan kebimbangan yang menyelimuti hatinya.
Setelah hampir menempuh satu jam perjalanan, Akmal sampai disebuah bangunan berlantai dua didaerah Jakarta.
Setelah memarkir mobilnya, Akmal melangkah santai masuk kedalam. Menyapa orang-orang disana lalu duduk dengan orang-orang disana.
"Pusing loh? Ada masalah sama istri loh?"
Akmal memejamkan mata sembari menyenderkan punggungnya ke sofa, malas sekali ia membahas masalahnya saat ini.
"Lagi galau tu dia, ditinggal istri... Istri kabur karena dia selingkuh sama mantannya dulu." ujar Bensa yang datang membawa tiga botol alkohol dengan sepiring kacang tanah.
Arlan mengangkat alisnya tinggi-tinggi kearah Akmal yang sudah mengunyah kacang tanah itu. Ketiga laki-laki sebaya itu sedang duduk disofa disalah satu ruangan, dengan meja yang sudah kotor dan berbau alkohol.
"Jangan bilang..." Arlan menggantung kalimatnya. Bensa yang paham tersenyum.
Akmal kini beralih menatap dengan tatapan "apa?".
Arlan terkekeh, "makanya bro, kalo jadi orang itu yang pasti-pasti lah, pernikahan itu bukan permainan butuh kesiapan dalam segala halnya."
"Yakan si Akmal dijodohin tolol, mana ada dia persiapan mental atau lainnya!" ujar Bensa. Karena kesal pada Arlan ia melemparkan bantal tepat kewajahnya.
"Santai dong, bisa rusak nih muka ganteng gue," jawabnya percaya diri. Bensa hanya terkekeh geli mendengar kepedean sahabatnya itu.
"Macam guelah kenalnya cinta halal." bela Arlan bangga.
"Halal dari mana, tuh cewek gak halal nempel terus disamping Lo!" jawab balik Bensa pada Arlan.
"Yakan gue butuh hiburan... Istri dirumah lagi hamil tua, masa gue ajak gituan yang ada anak gue berojol tiba-tiba karena gue teken lagi." jawab Arlan dengan menampilkan wajah konyolnya. Sedangkan wanita yang disewanya untuk menemaninya malam ini terus saja bergelayu manja didada bidangnya.
"Alah *** lu,," cibir Bensa.
"Sirik tanda tak mampu nyewa cewek secantik ini," ucapnya. Lalu berciuman panas dengan wanita disampinganya. Bensa hanya menggeleng kepala melihat kelakuan sahabatnya.
"Minum dulu aja bro," tawar Bensa sambil menyodorkan minuman beralkohol itu.
"Gue gak minum." jawab Akmal. Malam ini ia memang tengah kacau, tapi sebisa mungkin ia tidak akan lagi melampiaskan masalahnya lari ke meminuman.
.....
Tatapan nanar itu menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya. Setelah acara mandinya selesai, dan ketika Alina akan mengenakan baju tidur, tiba-tiba ia urungkan niatnya. Ia melihat perutnya yang mulai membuncit. Tampak senyum terpasang dibibirnya yang kecil, tangannya refleks mengelus perutnya.
Seandainya Alina bisa mendapatkan kasih sayang dari suaminya dan ketika anak ini lahir mungkin mereka bisa merawat buah hati pertamanya bersama. Sayang, semua itu hanya sekedar keinginan. Ia tak tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seorang suami saat mengandung untuk pertama kali. Ketika dirinya dinyatakan hamil, hari itu bukanlah hari yang baik.
Alina menghela napas panjang. Memikirkan momen itu selalu membuat dadanya terasa sesak. Seperti ada sebuah bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya hingga laju napasnya tertahan.
Apa yang dilakukan Mas Akmal sekarang?
Bagaimana keadaan laki-laki itu tanpa aku? Apa dia juga tengah bersedih sama sepertiku, atau ia biasa-biasa saja. Atau... Ia tengah bersuka riang bersama wanita pilihannya.
Pikiran itulah yang sering membuatnya goyah dan berniat untuk kembali kerumah laki-laki itu. Tapi, ia sadar apapun yang dilakukannya sang suami tidak akan berubah, ia akan terus dingin dan kasar lagi padanya.
Saat ini yang harus lebih dipikirkan ia harus melahirkan anaknya dengan selamat. Ia tidak peduli jika harus menjadi dua sosok sekaligus, menjadi ibu dan ayah untuknya. Ia masih bisa mencari uang dengan profesinya yang sebagai perawat. Ia sudah siap menanggung resikonya.
.....
Netx✨
Jangan lupa follow Instagram ku: @im.silpa🤗
Setelah baca Jan lupa tinggalkan jejaknya😊👌