
Pagi yang cerah di hari Minggu, hari ini hari dimana Alina pulang dari rumah sakit. Perdebatan kemarin bersama Azka membuat kebencian Akmal semakin besar pada Alina. Lelaki itu tidak lagi bisa menahan gemuruh di dadanya ketika berhadapan dengan Alina. Tapi, keadaan yang membuat Akmal tidak bisa marah.
Akmal memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya malam ini. Mau tidak mau Alina mengikuti kemauan Akmal untuk menginap. Padahal Alina masih merasa lemas akibat sakit kemarin, tapi Alina tidak bisa membantah suaminya itu.
.....
Yang biasanya aku mengendarai motor favorit ku untuk hari ini tidak, aku pergi menggunakan mobil hitam milik Mas Akmal. Mobil itu kini sudah terparkir tepat di halaman rumah.
Hatiku tersentil, ketika ku melihat seorang wanita dan gadis kecil yang tampak tertidur di gendongan ibunya.
"Alin," sapa Sandra dengan senyum sumringahnya. Mas Akmal yang awalnya berjalan membeyeng ku, dia malah berjalan mendahului dan ia malah mengambil alih Shiran dan membawanya kedalam tanpa melirikku sedikit pun. Apa ia akan terus seperti itu padaku? Dan, untuk apa Sandra ada di rumah mama? Pikiran buruk yang terus ada di kepalaku saat ini.
Sandra menggandeng tanganku untuk mengikuti Mas Akmal masuk kerumah mama. Didalam sudah ada saudara-saudara Mas Akmal dan juga mama.
Ketika melihat kedatangan ku, Mbak Zahra segera berdiri dan memeluk ku erat.
"Udah lama gak ketemu Alin, mbak rindu, kamu gak papa kan?" Bisik mbak Zahra ditelinga ku. Aku dapat menangkap maksud bisikan Mbak Zahra, ia tidak menanyakan keadaan ku melainkan hatiku.
Mbak Zahra ini adalah kakak perempuan satu-satunya Mas Akmal. Mbak Zahra juga sudah memiliki suami dan dua orang anak. Sebelum kenal dengan Mas Akmal, aku lebih dulu kenal dengan Mbak Zahra, karena yang mengajariku tentang pakaian yang benar-benar menutup aurat itu adalah Mbak Zahra sendiri. Sejak dulu dia sudah aku anggap seperti kakak ku, sehingga aku dengannya sudah tidak sungkan lagi untuk meminta bantuan dan lainnya.
"Aku gak papa kok Mbak," jawabku. Dapat kudengar Mbak Zahra menghembuskan nafas lega. Aku segera beranjak menemui mama dan menyalami tangan ibu mertuaku itu.
"Mama dengar kamu sakit, sudah baikkan?" Tanya mama khawatir, bahkan beliau langsung mengecek suhu tubuhku dengan punggung tangannya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik ma, ya cuma pusing-pusing dikitlah," jawabku. Mama tampak tersenyum lega mendengarnya.
"Shiran gimana? Katanya kemarin demam," Mas Akmal yang tengah asik berbincang dengan Sandra terlihat terkejut dengan pertanyaan mama.
"Panasnya udah turun kok ma, tapi masih tetep harus dijaga makanan sama istirahat nya." Jawab Mas Akmal. Aku yang berada jauh dengan mereka hanya bisa menahan sakitnya hati ini, jika Mas Akmal terus seperti ini pada Sandra. Kenapa ia tidak menikahi nya? Dari pada terus menambah dosa karena terlalu dekat dengan bukan mahram, dan tentunya menyakiti hati ku. Mungkin jika menikahinya aku bisa belajar ikhlas berbagi suami, dan insyaallah nanti surga yang ku dapat. Disisi lain juga Mbak Zahra menggenggam tanganku.
Azan maghrib membuat kami tersadar dan segera bergerak untuk melaksanakan sholat Maghrib. Sholat kali ini diimami oleh Mas Akmal sendiri.
Ya Allah, ini pertama kalinya sejak menikah dengan Mas Akmal, sholat ku diimami oleh suamiku sendiri. Dengan susah payah kutahan air mata untuk tidak mengalir, sungguh aku merasakan senang sekaligus sedih diwaktu bersamaan.
Disaat semua wanita dapat diimami suaminya ketika baru saja menikah, sedangkan aku harus menunggu hampir dua bulan dulu baru merasakan diimami olehnya. Itupun sholat keluarga nya.
Rasanya sholatku tidak khusuk, sejak tadi aku berusaha menahan air mata dan isakan yang bisa lolos kapan saja dari bibirku. Suara baritonnya yang bergetar makin mengundang air mataku untuk keluar.
Ketika salam, setetes air mata akhirnya mengalir dari mataku.
'Berharap masih ada namaku disetiap bait doamu, sebab namamu masih ada disetiap sujudku.' kata hatiku.
Dengan segera kuusap wajahku untuk menghilangkan jejak air mata. Untung aku bisa mengendalikannya agar tidak berlarut.
.....
Seusai sholat Maghrib berjamaah, kami melanjutkan dengan makan malam. Beberapa hidangan sudah tertata rapi di atas meja makan panjang berukuran sedang itu.
Aku terpaksa duduk di dekat shiran, sedangkan disampingnya Mas Akmal. Dan Sandra dia duduk bersampingan dengan Mbak Zahra dan suaminya untuk kedua anaknya Mbak Zahra mereka sudah tertidur pulas jadi tidak ikut makan. Oh ya, keberadaan Sandra di sana sebagai tamunya Mas Akmal. Baru kusadari Sandra terdiam sejak tadi.
Kulihat tatapan Mbak Zahra mengkode untuk mengambilkan makanan untuk Mas Akmal. Ku raih piring yang ada di depan Mas Akmal dan mengambilkan nasi untuknya.
"Terlalu banyak," protes Mas Akmal, ku kembalikan sedikit nasinya. Tanganku mulai bergemetar, aku tak pernah tau apa kesukaan Mas Akmal. Walau sudah bertahun-tahun mengenalnya, aku kenal dengannya karena saat dulu Mas Akmal pacarnya Sandra. Kemungkinan jika Mas Akmal bukan pacar Sandra aku tidak akan kenal dengannya, dan jika bukan karena perjodohan ini, aku juga tidak adakan berada di situasi seperti ini.
Kuraih sepotong ikan goreng dan menaruhnya diatas piring yang sudah terisi nasi. Namun tangan kekarnya merampasnya dengan kasar.
Dapat aku menyadari tiga orang lainnya, yang ada di ruangan itu menatapku dengan tatapan heran. Aku tidak sanggup untuk menggerakkan tubuhku sedikit saja, bahkan untuk kembali keduduk posisi awal ku.
Lagi-lagi Mbak Zahra memberi kode padaku untuk mengambilkan air minum. Baru saja tanganku hendak meraih gelas, lagi-lagi tangan kekar itu sudah menariknya dan menyodorkannya kehadapan Sandra.
"Sudah! Mbak gak bisa diam aja. Akmal, apa yang kamu lakukan? Alin itu istrimu, biarlah dia melakukan tugasnya," teriak mbak Zahra, bahkan ia dengan keras menggebrak meja.
"Tapi dia tidak tau apa-apa," balas Mas Akmal santai, tidak ada rasa bersalah pada dirinya. Sedangkan aku hanya dapat mematung.
"Justru itu, karna Alina tidak tahu apa-apa, biarlah dia belajar. Dan, kamu tidak bisa berlaku seperti itu dihadapan istri mu. Sandra! Kamu juga harus paham, jika Akmal bukanlah Akmal yang dulu. Kamu harus tahu batas dan posisimu!" Ucap Mbak Zahra, semakin geram. Sandra yang kulihat saat ini ia hanya merenung, aku tau perasaan nya saat ini. Tapi, ia memang sudah tidak ada hak atas Mas Akmal, karna saat ini aku istrinya bukan dia.
"Zahra!" Tegur mama. Kulihat beliau menatapku dengan pandangan bertanya. Sungguh, saat ini aku ingin menangis dan berteriak. Hatiku sakit, aku malu. Seorang istri tidak bisa melayani suaminya, istri macam apa aku ini.
Astaghfirullah.
"Duduklah Lin!" Perintah mama. Berusaha kududuk dan mulai larut dengan makananku. Mbak Zahra juga sudah terdiam ditempatnya, sesekali ia melirikku dan menanyakan keadaan ku lewat sorot matanya.
.....
Selesai makan, semua berkumpul diruang keluarga. Aku dan Sandra sama-sama terdiam. Aku terdiam karena hal tadi, mungkin Sandra terdiam karena ucapan Mbak Zahra, tapi aku juga tidak tahu.
"Alina? Akmal? Sandra? Ada apa ini?" Tanya mama. Aku tergagap, aku tidak tau akan menjawab apa. Kulirik sedikit kearah yang duduk disamping ku, Sandra hanya menunduk sama seperti ku sedangkan Mas Akmal terlihat santai.
"Akmal?" Tegur mbak Zahra. Tapi lagi-lagi mama memperingati mbak Zahra agar tetap diam.
"Ma, maaf tadi salah alin, alin yang tidak fokus karna sedikit pusing tadi." Aku berusaha menjawab sebisaku. Karna kullihat Mas Akmal tidak berniat menjawabnya.
"Aduh, mama minta maaf ya, kamu pasti masih sakit ya Lin?" Tanya mama khawatir.
"Oh tidak kok, tadi cuma sedikit aja, sekarang udah baikkan udah gak papa." Jawabku. Mama tersenyum mendapat jawabanku.
"Ma, Akmal minta izin."
Aku yang mendengar itu langsung teralih kearah Mas Akmal. Yang sedari tadi terlihat santai.
"Untak apa?" Tanya mama. Suasana dengan cepatnya berubah menjadi sangat tegang.
"Akmal," ucapnya terhenti. " Akan menikahi Sandra" tegasnya pada kalimat 'menikahi'.
"Kamu sadar tidak Akmal? Astaghfirullah, dimana hati mu, terbuat dari apa hati itu, istrimu itu sedang sakit dan seenaknya kamu berbicara seperti itu! Kamu! Mbak benar-benar kecewa." Bentak Mbak Zahra, ia benar-benar marah bahkan wajahnya memerah menahan amarah. Jangankan Mbak Zahra, aku saja yang mendengarnya seperti tertimba benda besar yang memang dijatuhkan jauh dari sana untuk ku. Sehingga sakitnya, benar-benar menoreh hatiku yang paling dalam. Aku memang menginginkan Mas Akmal menikahi Sandra supaya tidak jadi dosa untuk nya. Tapi, jika ia meminta disaat seperti ini sulit untuk ku. Apalagi dihadapan mama.
"Apa-apaan kamu mbak, kenapa kamu malah yang marah, seorang laki-laki itukan bisa menikah dengan lebih dari satu wanita!" Jelas Akmal. Yang membuatku meneteskan air mata.
"Sudah cukup kalian menghancurkan hubunganku dengan Sandra dulu, untuk saat ini aku akan mempertahankan nya."
"Mas, cukup mas, sudah cukup mas bicara! Aku tau posisiku ini, dan memang mas tidak pernah bisa menerima ku menjadi istri mas, aku juga tau yang mas cintai hanyalah Sandra." Kali ini aku menyerukan unek-unek yang sudah lama aku tahan-tahan. Aku memang sudah tidak kuat lagi. "Aku ikhlas mas menikahi Sandra." Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, aku berlalu meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur sehancur-hancurnya.
.....
Netx✨
Terimakasih untuk yang sudah mampir dicerita ku🙏🏻😊
Jangan lupa bantu like, vote dan komen ya😘