The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|43|



"Umi, Mas Akmal kok nggak ada dikamar?" tanya Alina sembari celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya, yang tidak terlihat didalam kamar.


"Tadi umi lihat dia keluar," jawab umi. Alina mengkerutkan keningnya berpikir, kapan Mas Akmal keluar kamar?


"Yasudah, Alina cari Mas Akmal dulu ya,"


"Biar umi saja, buatlah saparannya untuknya," titah umi pada Alina yang baru saja berjalan beberapa langkah.


"Tadikan umi buat sarapannya?" tanya Alina.


"Buatlah lagi, akan lebih baik jika suamimu memakan masakan istrinya sendiri." ucap umi, Alina hanya mengangguk. Lalu berjalan kedapur.


Kali ini Alina akan memasak nasi goreng, simpel dan tidak terlalu banyak bahan-bahan yang digunakan juga.


"Nasi sudah, bawang merah, cabai, garam, mecin, telur terus apalagi ya?" ucapku sambil berpikir-pikir.


"Kecap!" ucap seseorang dibelakangnya.


Alina langsung menepuk jidatnya, "Ah! Iya benar kecap!" Kemudian Alina langsung mengambil kecap itu.


Alina yang masih belum sadar pada orang dibelakangnya, ia terus saja memasak, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Alina baru sadar saat Akmal menempelkan dagunya dibahunya. Alina senang dengan perlakuan suaminya yang sangat berubah seperti ini, tapi ia masih merasa sangat canggung.


"Mas! Aku lagi masak, bisakah kamu melepas pelukannya," ucap Alina.


"Memangnya aku menggangu?" tanyanya.


"Tidak, tapi aku tidak enak," keluh Alina.


"Mengapa? kamu tidak suka saya peluk?" tanyanya.


Alina membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Akmal, "Bukan Mas, hanya saja... aku..."


"Baiklah, jika kamu masih takut kepadaku, aku akan memberimu waktu agar kamu terbiasa padaku dan menerimaku sepenuhnya," ucapnya dengan wajah kecewa. Alina langsung mencubit tangan Akmal membuat lelaki itu meringis kesakitan.


"Mas belum mandikan? Lebih baik Mas mandi dulu baru nanti sarapan, Mas harus kekampus jangan sampai Mas telat." Alina tersenyum seraya mengalihkan ucapan suaminya dan juga menetralkan suasana, ia tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya.


Tapi Akmal masih menunduk kecewa.


"Mas Akmal! Cepetan mandi!" ucap Alina sedikit keras. Akmal menoleh, tak lama berlalu pergi.


Nasi goreng yang Alina buatpun sudah siap dihidangkan. Alina membawa satu piring nasi goreng ke meja makan. Sambil menunggu Akmal turun dari kamar. Alina mencicipi nasi goreng buatannya itu terlebih dahulu.


"Enak kok, semoga Mas Akmal suka," kata Alina.


Setelah meletakkan nasi goreng itu, baru saja Alina akan kedapur lagi. Tapi Akmal sudah duduk dimeja makan.


"Mau kedapur, perabot yang tadi aku pakai belum ku cuci."


"Tidakkah kau ingin menemani ku makan?" ucapnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


Mas Akmal mulai memasukkan satu sendok nasi goreng itu kedalam mulutnya. Sementara aku hanya diam menatap wajahnya. Entah kali keberapa ini Alina melihat suaminya memakan masakan buatannya tanpa komplen sedikit pun. Padahal sebelumnya Akmal selalu bilang, "Aku tidak akan pernah memakan masakanmu." Dulu kata-katanya begitu menoreh hati, tapi sekarang ada secuil rasa bahagia dalam hati Alina bisa melihat suaminya makan dengan lahap.


"Nasi gorengnya enak, Mas suka." kata Mas Akmal.


"Alhamdulillah kalau Mas suka," ucap Alina tersenyum.


Akmal mengenggam kedua tangan Alina.


"Mas harap setelah ini hubungan kita bisa lebih baik," ucapnya.


"Aamiin, tapi aku tidak bisa mengiyakan sepenuhnya, karena luka yang begitu dalam membuatku terus takut untuk memulainya kembali, tapi Alin tidak akan juga mentidakkan jika memang Mas ingin kita membuka lembaran baru, alin akan mencoba untuk menerima Mas lagi," jelasnya. Dan disana Akmal sudah tidak lagi menggenggam tangan Alina. Alina tahu jika suaminnya kecewa dengan jawabannya, tapi Alina juga ingin terjebak lagi dalam lubang yang sama, meski kini ia bersamanya lagi tapi Alina masih menjaga jarak dari Akmal.


.....


Alina merebahkan kepalanya dipanggungkan uminya, tempat yang sangat ia rindukan. Setelah kepergian Akmal ketempat kerjanya, Alina tiba-tiba ingin berbicara serius dengan uminya, Alina membutuhkan pendapat uminya saat ini.


"Umi, apa pendapat umi ketika Abi menjodohkan Alin dengan Mas Akmal?" tanya Alina sembari menatap wajah uminya.


"Sebelum umi menjawab, kenapa kamu terima perjodohan itu? padahal kamu gak mencintainya kan,"


Alina bangkit dari tidurnya lalu menatap dalam mata uminya.


"Karena Alin gak mau buat Abi sedih, karena Alin pikir dengan menerima perjodohan itu akan membuat Abi bahagia," jelas Alina.


"Umi tahu itu, kamu melakukan semuanya semata-mata karena Abi, tapi nak kalau saja kamu menolak mungkin sekarang kamu bahagia bersama laki-laki pilihanmu. Sejujurnya umi sedih... lihat kamu seperti ini, kamu terluka karenanya, tapi kamu bertahan karena amanah Abi, dan umi, umi terus saja memaksa agar kamu tetap dengannya, sebenarnya umi tidak ingin melakukan itu, tapi..."


"Tidak apa umi, Alin tidak pernah merasa umi memaksa pada Alin agar tetap bertahan dengan pernikahan ini. Tidak pernah umi, semua yang Alin lakukan itu murni karena dari hati Alin, Alin bersyukur karena dengan adanya pernikahan ini Alin bisa belajar menjadi wanita kuat itu seperti apa." jeda, Alina tersenyum. "Alin mencintainya umi, Alin menerima semua perlakuannya pada Alin, dan Alin yakin bertahannya Alin dengan tangis selama ini, tidak akan pernah sia-sia. Lihatlah sekarang, Mas Akmal mau berubah, itu tandanya Allah mengabulkan sebagian doaku umi, dan anak yang ada diperut Alin itu bukti jika pernikahan ini tidak sia-sia, meski nanti Mas Akmal berulah lagi Alin tidak akan langsung meninggalkannya, Karena Alin tidak ingin menjadi wanita durhaka. Alin akan mendengarkan penjelasannya jika dia memang akan terus seperti itu, maka Alin akan pergi." lanjut Alina, tak terasa Alina mengeluarkan air matanya.


"Masyaallah, umi beruntung memiliki putri sepertimu, semoga Allah selalu bersamamu nak, Abi pasti bangga punya anak seperti kamu." ucap umi sembari menghapus air mata Alina.


.....


Next✨


Semoga selalu suka ya😊


Jangan lupa tinggalkan vote dan komennya👌