
Selesai sholat, aku tidak enggan buru-buru melipat sejadah dan mukena, seperti biasa aku menyempatkan untuk membaca Qur'an. Satu ayat sampai satu makro aku melantunkan ayat suci Al-Qur'an itu. Acara ngaji ku pun selesai, ketika ku melihat jam kecil di nakas, saat itu jam menunjukkan pukul tujuh. Aku bangun dari duduk karna di luar aku mendengar suara mobil, yang ku yakini itu mobil Mas Akmal. Ku langkahkan kakiku menuju pintu utama dirumah ini. Rasanya hati ku debar, jantung ku semakin memompa kencang. Entah kenapa tapi setelah kejadian itu, hati ini begitu sangat sulit ditebak terlebih jika aku melihat dan dekat dengan Mas Akmal, tapi... Semua itu berhenti secepat kilat ketika ekor mataku melihat wanita yang duduk di kursi roda dengan gadis kecil di sampingnya.
"Assalamualaikum Alina," salamnya. Sandralah orang yang duduk di kursi roda itu.
"Waalaikumsalam, Sandra." Aku memberikan senyuman dan gadis kecil disampinganya menyalami punggung tangan ku.
"Ayo masuk," ajak ku. Aku ingin sekali marah pada Mas Akmal tapi bibirku tiba-tiba membisu. Ketika ku berjalan di depan mereka, jemari tangan anak gadis itu menggenggam tangan ku. Rasa hangatnya bisa membuat hatiku yang tadinya panas tiba-tiba dingin, amarah yang tadi bergejolak kini dapat ku kontrol.
Kini kami duduk di ruang keluarga.
"Bunda, gimana kabarnya?" Tanya shiran, yang duduk disampingku tanpa melepas genggamannya, aku memberikan senyum padanya.
"Alhamdulillah baik, Shiran bagaimana?"
"Alhamdulillah baik juga bunda." Jawabnya, Ya! Itu Shiran gadis cantik yang terus saja manja menggenggam tangan ku.
.....
Suasana di rumah terasa hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Aku dengar kemarin kamu--"
Sandra membuka suara, tapi Alina memotong pembicaraannya. "Sudah lebih baik," ujar Alina dingin. Alina menelan ludahnya ketika menyadari Akmal tengah menatap nya.
"Kamu kenapa pake kursi roda?" Tanya Alina bingung, jika dilihat Sandra memang baik-baik saja, tidak ada luka atau bekas kecelakaan dikaki maupun badannya.
"Aku diponis kanker serviks stadium 3." Ucapnya tapi masih memancarkan senyumnya.
Mata Alina melotot, ia benar-benar tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Menit berikutnya Alina bertanya. "Dari kapan?"
"Sudah dari empat tahun lalu, tapi Dokter kata pribadi ku, aku bisa sembuh kok." Lagi-lagi tersenyum. Aku sedih mendengarnya, seolah rasa sakit hati ku selama ini tidak ada apa-apanya dibanding penyakit Sandra yang diderita nya. 'Maaf, hamba yang kurang bersyukur ya Allah.' sesalnya.
"Ekhm....."
Keduanya menoleh ke asal suara. Suara orang yang sedari tadi hanya diam saja.
"Sebaiknya kita pulang Sandra, sudah larut malam." Ucapnya, padahal baru saja mereka sampai, bahkan berbincang saja belum tuntas, tapi Akmal dengan cepat mendorong kursi roda itu keluar rumah. Di ikuti Alina dibelakangnya.
"Bunda! Shiran pulang di ya."
"Iya sayang, hati-hati dijalan. Oh iya..., Jaga mamanya juga, kasian mama Shiran lagi sakit, dia lagi berjuang melawan penyakitnya." Ucap Alina sembari mengelus rambut panjang milik shiran, Shiran mengangguk.
"Shiran, ayo naik." Shiran pun berlari ke arah Akmal, lalu naik ke dalam mobil.
"Pak Wawan, antar mereka ke alamat ini," ujar Akmal sambil memberikan secuil kertas yang berisi alamat rumah. Wawan sang supir mengangguk lalu melajukan mobilnya.
.....
Suara kumandang adzan isya begitu merdu terdengar.
"Alhamdulillah, sudah adzan isya." Ucap Alina pelan. Tapi masih dapat Akmal dengar.
Alina berjalan mendahului Akmal, ia buru-buru berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelahnya ia berjalan ke musola kecil dan berharap Akmal juga mengikuti nya dan menjadi imamnya untuk sholat isya kali ini. Tapi sayang Akmal malah berjalan ke kamarnya. Alina menarik napas, setetes air mata nya jatuh. Sudah tujuh bulan Alina menikah. Sayang nya semua masih sama. Ia masih dititik bertahan sendiri, tapi lamanya dalam keadaan yang tidak pasti, alina sudah mulai bosan. Bagaimana dengan Akmal? Dia yang masih tetap ditempat, tidak ikut berjuang untuk pernikahan ini. Ia yang masih menetap dengan cinta lamanya. Mau bagaimana lagi? Alina tidak bisa apa-apa. Ia selalu berharap keajaiban datang, sebelum batas sabarnya hilang. Dan berharap suatu hari ia bisa berdiri satu saf di belakang suaminya, setelah itu bersatu dalam doa yang sama. Nihilnya, itu hanya sekedar angan yang coba ia wujudkan.
Untuk apa berlama-lama dalam tangis, toh itu tidak akan membalikan kenyataan pahit. Tidak akan membuat suaminya itu menjadi mencintai nya kan? Dengan hati yang terluka lagi, Alina berdiri untuk menunaikan sholat nya. Meski ia tahu jika sholat nya kali ini tidak khusuk karena pikiran nya yang kemana-mana. Tapi setidaknya ia masih bisa menjalankan kewajibannya.
Alina yang tengah berdoa setelah sholatnya, sedangkan Akmal yang tengah berbaring di kamarnya terlihat bingung, matanya menerawang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sesekali ia memijat pelipisnya yang seakan pusing. Malam ini ia memikirkan lamaran untuk melamar Sandra. Akmal benar-benar pusing, dari dulu ia memang ingin sekali Sandra menjadi istrinya, tapi...
Akmal kembali melihat kertas itu, kertas dengan materai berserta tanda tangan Alina diatasnya. Sekali lagi Akmal membaca surat kontrak yang menjadi batasan antara dirinya dengan Alina.
Akmal kembali meletakkan kertas itu ke tempatnya, setelahnya dia berbaring kembali dan terlelap dalam tidurnya.
.....
Di malam yang cukup dingin tepatnya pukul tiga dini hari. Ku gerakkan tubuhku dan turun dari atas ranjang. Kembali malam ini kulaksanakan kebiasaan ku. Sholat malam.
Mungkin banyak yang bertanya, tidak capek bangun pada jam segitu, bahkan diluar sana saja masih banyak orang yang cuek akan sholat lima waktunya. Bagaimana dengan mu yang setiap harinya melaksanakan sholat malam? Jawabannya hanya ada dua. Aku tidak pernah capek, dan bagiku sholat malam suatu kebutuhan dalam hidup, yang ku jadikan sebagai sholat penyempurna sholat wajib ku yang mungkin pernah terlewat. Begitulah Islam, terlihat berat namun hanya dengan niat akan membuatnya mudah.
Selesai sholat, kulanjutkan bacaan Qur'an ku sebelumnya. Sayup-sayup kembali kudengar suara bariton yang mengalun lembut melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Hatiku bergetar mendengar suara Mas Akmal. Subhanallah, begitu indahnya lantukan ayat suci mu. 'jangan goyahkan hati ini ya Rabb, jangan sampai aku terlalu lena dengan nikmat indah mu ini. karena ku tidak ingin terus berharap pada yang memang tidak pasti.'
Sambil menunggu waktu sholat subuh, ku teruskan dengan berzikir dan beristighfar. Dan suara bariton itu terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan berhenti ketika kumandang adzan terdengar. Aku berniat mengajak Mas Akmal untuk menjadi imam subuh ini. Kulangkahkan kakiku perlahan hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar Mas Akmal, ku ketuk pintu nya.
Akmal terdiam ia terus fokus pada tasbihnya, tidak ada jawaban.
"Mas!"
"I-iya? Masuk saja."
Karena sudah diijinkan masuk, akupun membuka pintu. Masyaallah, aku terpesona melihat suamiku yang begitu tampan, ia duduk bersila diatas sejadah dengan tasbih ditangannya yang tak henti terus di putar.
"Ada perlu apa?" Aku menggerjat karnanya. Aku tersenyum malu.
"Sudah waktunya sholat subuh. Mas mau tidak jadi imam, kita sholat berjamaah?" Sungguh, ini pertama kalinya aku akan memintanya untuk menjadi imam sholat. Aku benar-benar dag-dig-dug, aku yang menunggu jawabannya hanya bisa memejamkan mata. Malu rasa jika Mas Akmal menolak permintaan ku ini, makanya aku memejamkan mata.
"Baiklah, saya akan ke sana," jawabnya datar.
"Masyaallah beneran Mas?" Aku begitu bahagia, saking bahagianya aku hampir saja berlari kearah Mas Akmal untuk memeluknya. Ralat, aku bahkan sudah merentangkan tangan ingin memeluknya.
"Mau ngapain? Tuh tangan!" Ucap Akmal menunjuk tangan Alina yang seketika berhenti cepat, kini Alina dan Akmal jaraknya hanya satu langkah. "Stop! Jangan berani bergerak dan melangkah, kalo sampe berani melangkah lagi, kamu saya hukum!"
Alina terkekeh, ini pertama kali permintaan nya dan Akmal langsung menyetujuinya. Suatu keajaiban yang luar bisa. Alina memanyunkan bibir sembari berkata dalam hati. "Masa sih, meluk suami sendiri dihukum? Emang ada pasal-pasal nya?"
"Kesana duluan gih! Nanti saya nyusul kemusola."
Alina tersenyum, wajahnya merona seperti biasa. Wanita ini, terlalu banyak senyum dan tertawa. Sampai-sampai kesedihan yang tengah menyelimutinya, bisa begitu saja hilang.
"Aku tunggu dimusola, Mas" Alina mundur senyumnya tak lepas sampai akhirnya menghilangkan dibalik pintu.
.....
Akmal yang masih berdiam dikamar, ia terus dihantui rasa dilema karna pikiran semalam. Masalah kontrak pernikahan itu, dan masalah soal dirinya yang akan menikahi Sandra. Apa Alina akan mengijinkan jika dirinya menikah lagi?
Seusai sholat berjamaah dimusola Alina dan Akmal masih di atas sejadah masing-masing. Alina masih tak lepas dari kebahagiaan. Satu impian dan doanya telah terwujud, lagi-lagi ia tersenyum melihat punggung suaminya di depan, wajahnya benar-benar merona tingkat kebahagiaan nya sudah melambung tinggi. Ia pikir setelah ini tinggal impian selanjutnya, impian untuk memperbaiki rumah tangganya dan membangun keluarga kecil yang bahagia.
Akmal berbalik.
"Mas."
"Lin." Ucap keduanya bersamaan.
"Kau duluan saja."
"Tidak, silahkan mas lebih dulu," ucap Alina kembali merona.
Beberapa saat Akmal masih diam terlihat ragu, Alina menunggu.
"Mas!" Alina memiringkan wajahnya bingung karna melihat Akmal memejam.
"Lin," ucapnya ragu.
"Iya mas? Kenapa?" Kenapa Alina jadi deg degan? Apa Akmal akan mengungkapkan isi hatinya? Alina merona membayangkan yang tidak-tidak.
"Alin!" Jeda beberapa detik. "Mas akan menikahi Sandra."
Duarrrr! Rasanya beribu-ribu impian dalam hatinya untuk memperbaiki, membangun keluarga kecil yang bahagia serasa hancur berhamburan begitu saja. Sirna sudah, semuanya hancur berantakan, Alina tak mampu berkata-kata, saat seperti ini air matalah yang mampu berbicara, ucapan Akmal berhasil membungkamnya. Dadanya seolah tertimpa dinding besar yang beratnya berton-ton hingga rasanya sesak, sakit, semuanya jadi satu. Bahkan Alina tak mampu menjabarkan seberapa sakit rasanya. Sebelumnya Alina memang pernah berpikir jika ia rela dimadu oleh Akmal. Tapi, itu dulu. Setelah berpikir lebih matang. Apa itu pernikahan? Seberapa berartinya kita menjalani nya? Alina sadar, jika pernikahan itu bukanlah sesuatu hal lumrah yang seenaknya dipermainkan. Tapi, disisi lain ia sadar jika pernikahannya dengan sang suami hanya perjodohan tanpa persetujuan kedua belah pihak, dan... Hanya pernikahan yang tidak sengaja tertulis disurat nikah. Tak seharusnya ia berharap lebih.
Alina menarik napas sedalam mungkin, susah. Sesak didadanya begitu amat menyedak hingga ke kerongkongannya. Wanita itu hanya menunduk. Matanya berkaca-kaca, bendungan itu sekuat mungkin ia coba tahan. "Ya Allah ini pertama kalinya hamba menjadi makmumnya. Entah kenapa saat hamba merasa bahagia oleh nya, hamba juga harus terluka karena nya. Hamba lebih suka Mas Akmal menolak perjodohan dulu, ketimbang mendengar ia meminta ijin untuk menikah lagi... Kenyataan pahit ini begitu menyakitkan ya Rabb. Apa hamba mampu menjalani kehidupan kedepannya dengan hati yang tegar, ikhlas, rela berbagi cinta dengan istrinya nanti? Ampuni hamba ya Allah... Yang bisanya hanya mengeluh. Hamba mohon berikan kekuatan dan jalan akhir yang selurus dan sebenar-benarnya." Bendungan itu tak mampu lagi ia tahan, hancur bersamaan dengan air mata yang kini membanjiri pipinya. Secepat mungkin Alina hapus. Mengangkat wajahnya sebentar untuk menahan air mata lain.
"Mas udah yakin dengan keputusan, Mas?" Suara Alina bergetar. "Aku tidak ada hak untuk melarang, aku disini hanya bisa mengiyakan. Toh, jika aku melarang Mas, Mas akan tetap menikahinya kan? Aku ikhlas dan mengijinkan Mas menikahi Sandra." Sekuat apapun ia coba bertahan, sekuat apa ia bendung air mata itu tetap saja lolos dengan lancang dari matanya.
Kebahagiaan itu kembali hilang berganti menjadi segudang beban yang silih berganti menampar kenyataan pahit seorang Alina.
.....
Next✨
Kalo suka sama ceritanya jangan lupa klik love nya, komen juga, vote juga cerita ini.😊
Follow juga Instagram ku ya: @im.silpa🤗