
Pukul 7:16 Akmal dan Alina tiba di rumahnya. Saat memasuki rumahnya Alina benar-benar tak percaya jika suaminya bisa menerimanya sekarang. Setelah sekian banyak luka yang ia terima kini membuahkan hasil, dari kesabaran dan ketabahannya begitu legit ia tuai, begitu manis ia rasakan. Dan itu benar-benar membuat hati kecil Alina tak berhenti mengucap syukur.
Saat Alina akan berjalan ke kamarnya, Akmal menggenggam tangannya. Dan itu membuat Alina menghentikan langkahnya lalu berbalik pada suaminya. Matanya menatap laki-laki itu seperkian detik. Seolah bertanya ada apa Mas?
"Mulai saat ini aku ingin kau tidur dikamar ku,"
Deg
Alina tidak salah dengar bukan? Akmal menyuruhnya agar tidur dikamarnya?
"Hah?" Alina pura-pura tidak mendengar ucapan suaminya itu. Padahal hatinya sudah meronta-ronta kegirangan.
"Tidak ada pengulangan." jawab Akmal. Akmal tahu jika istrinya itu tengah memancingnya. Inikah yang namanya anugerah? Istri Sholehah yang ku sia-siakan selama terikatnya pernikahan ini. Dan aku baru menyadarinya setelah sekian luka yang dia terima. Aku memang laki-laki egois! Tapi aku sungguh berterimakasih padamu ya Rabb, aku menyadari kesalahanku sebelum semuanya benar-benar pergi dariku.
Alina memasuki kamar sang suami, setelahnya ia bergegas untuk mandi. Sebenarnya Alina sedikit canggung pada Akmal tapi ia tidak bisa terus seperti itu. Bagaimanapun Akmal itu suaminya, laki-laki yang sudah sah baginya. Setengah jam kemudian Alina sudah selesai mandi. Ketika keluar kamar mandi ia melihat suaminya tengah duduk dipinggir ranjang sambil memainkan ponselnya.
Alina merasa Akmal tidak menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari kamar mandi. Alina berniat untuk mendekati suaminya, namun saat ia akan mendekat Akmal lebih dulu mendongakkan kepalanya menatap Alina. Mata mereka bertemu membuat jantung Alina berdetak kencang tak karuan. Seolah waktu berhenti seketika hanya semilir angin saja kini dapat ia rasakan.
Alina terpekik kaget. Melihat Alina seperti itu membuat Akmal terkekeh geli. Alina segera menyembunyikan keterkagetannya, ia pun berbalik menuju meja rias.
Jantungnya masih tak karuan, Alina sangat sulit untuk menetralkan jantungnya itu. Dari balik cermin Alina melihat kalau Akmal memasuki kamar mandi. Alina pun menghela nafas panjang sambil terus berusaha menetralkan jantungnya yang semakin berdetak cepat.
10 menit kemudian Akmal keluar dari kamar mandi. Akmal melihat jika istrinya tengah menghampar sadajah untuk mereka sholat. Akmal menghampiri Alina.
"Mas, kita sholat berjamaah ya." ucap Alina. Akmal pun menganggukan kepalanya. Setelah Alina selesai berwudhu mereka pun melaksanakan sholat berjamaahnya yang entah keberapa kali. Tapi Alina rasa sholat berjamaah kali ini benar-benar terasa khusyuk ia dapat fokus pada satu titik sadajahnya dan hatinya tentram tanpa beban apapun.
Setelah mengucapkan salam. Alina segera menyalami tangan suaminya. Lalu mereka berdzikir, berdoa dan dilanjutkan dengan bertadarus.
Usai sholat, Alina merapikan sajadah dan Al-Qur'an. Alina melihat-lihat kesekeliling kamar. Ia sangat ingat jika dulu suaminya sangat melarangnya untuk masuk ke kamar ini. Tapi sekarang ia bisa tidur bersamanya, sungguh keajaiban bagi Alina.
Akmal berdehem. Dari belakang ia memutar tubuh Alina hingga mata mereka bertemu. Alina terkagum. Matanya suaminya ini tajam namun kali ini mata itu sangat meneduhkan. Alina tersenyum. 'Ya Allah Terimakasih engkau telah mempertemukan ku denganya. Aku tidak akan berhenti mengucap syukur, aku tidak pernah membencinya sepenuhnya aku hanya kecewa saja, tapi aku akan membiarkannya untuk membuktikan ketulusannya, aku memberi kesempatan suamiku untuk memperbaiki kesalahannya. Dan aku berharap kelak dialah laki-laki yang akan menuntunku kedalam surga-mu ya Rabb.' syukur Alina dalam hati.
Mata mereka masih saling mengunci tapi lama-lama Alina merasa gugup dan perlahan menundukkan wajahnya. Namun sebelum berhasil menundukkan wajahnya, Akmal sudah lebih dulu menahan dagu Alina dengan telunjuknya supaya mereka saling bertatapan kembali. Akmal tersenyum hangat.
Akmal melihat semu dipipi Alina dan juga tak lepas dari senyum salah tingkahnya. Angin berhembus menusuk keduanya membuat Akmal menarik Alina dalam pelukannya. Dan mengajak Alina untuk berbaring ditempat tidur.
.....
'Yang hamba panjatkan kini akhirnya dapat hamba rasakan. Terimakasih atas rencanamu yang engkau siapkan untukku wanita biasa yang berharap takdir baik ya Rabb.' ucap Alina dalam hati setelah menunaikan sholat malamnya. Air matanya tak bisa ia bendung lagi dan meluncur begitu saja tanpa permisi.
"Alina," Alina menyeka air matanya. Ia tak tahu jika Akmal melihatnya menangis.
"Iya," hati dan dadanya terasa bahagia saat kini Akmal memeluknya erat. Satu butir bening kembali jatuh mewakili perasaan haru. Keduanya kaku tanpa kata, seolah berbicara melalui tatapan. Menyelami perasaan masing-masing.
Akmal mengangkat dagu Alina yang menunduk, beberapa saat hening, hanya suara detak jantung saling bergemuruh, sang lelaki itu menyentuh pipi Alina lembut.
Alina merasa setiap sendirinya dialiri aliran listrik, hatinya berdesir, jantungnya terpompa sangat cepat.
"Alina," jeda beberapa saat, "terimakasih karena kau selalu sabar menghadapi laki-laki sepertiku, dan aku berharap jika suatu saat sikapku begitu lagi padamu, tetaplah bertahan jangan menyerah. Tetaplah disampingku, menjadi cahaya yang terus menerangi langkahku, menjadi pemenang ku jika aku marah, dan jadilah ibu dari anak-anak kita. Jangan pernahkah berpikir untuk meninggalkanku, aku tahu meminta dan menuntutmu terlalu banyak tapi sungguh hanya kaulah wanita yang mampu membuatku menyadari jika dunia ini kejam. Dan kau juga wanita yang mampu membuat dinding tebal ini roboh, aku berharap kau tidak pernah pergi, Alina."
Dengan mata berkaca-kaca Alina tersenyum, Alian mengangguk sebagai jawabannya. Hanya anggukan, anggukan yang mewakili jawaban atas ucapan suaminya.
"Aku memang tidak sebaik dan sesholeh Azka, tapi percayalah, aku akan berusaha menjadi suami yang bertanggungjawab, dan izikanlah aku menjadi jembatan untukmu menuju surga-nya." ucapan laki-laki dihadapannya ini benar-benar menyentuh hati Alina. Sampai-sampai ia tak bisa menahan tangisnya. Air mata bahagia terjatuh tentunya. Allah memang menjanjikan surga bagi istri yang ikhlas jika suaminya berpoligami. Tapi jika ada jalan yang lebih baik dari jalan itu mengapa harus mengambil jalan rumit. Ujian memang selalu datang pada mereka yang menjalankan kehidupan, tapi yakinlah jika kesabaran dan ketabahanmu itu akan menuai kisah yang baik, dan waktu untuk bahagiapun sudah Allah atur sebaik mungkin, jika waktu sudah tiba maka kau akan bahagia tanpa sedikit kesedihan bercampur didalamnya. Yakinlah jika Allah begitu mencintai hambanya. Alina benar-benar merasakan kebahagiaan itu sekarang.
"Aku bukan lelaki yang sempurna didunia ini tapi aku akan menjadi lelaki yang sempurna untukmu, aku memang dingin dan menyebalkan tapi hatiku tidak sekeras batu, aku hanya butuh pendorong untuk melawan diri ini, dan aku ingin kaulah orang itu."
Alina mengangguk, "Aku akan menjadi orang yang menjaga hati itu. Dan aku tidak pernah meminta Mas untuk menjadi laki-laki sempurna, cukup jadilah imam dunia akhirat ku, itu sudah lebih cukup bagiku."
Seketika senyum Akmal merekah, kata-kata sederhana itu menghangatkan hati Akmal yang telah beku begitu lama. Tanpa terasa tanganya semakin memeluk erat. "Terimakasih humairaku," ucapnya tulus.
.....
Next ✨
Kangen sama cerita ini gak?😁
Author kangen sama kalian loh😘
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. See you👋