The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|36|



"Risyal..." Suara panggilan ummi Kalsum terdengar membuat Risyal mengalihkan pandangannya kearah wanita yang tengah menuangkan sesendok nasi kepiring, "Iya Bu" ucap Risyal sembari berjalan kesumber suara.


"Makan dulu nak." ucap Kalsum ibunya.


"Risyal nanti sore kau ada kajian dimesjid lagi bukan?"


"Iya. Ada apa memangnya ibu?"


"Nanti sebelum kesana bisakah kau antarkan makanan ini untuk Arum?" ucap ummi Kalsum.


"Baiklah." Ummi Kalsum seketika tersenyum pada Risyal.


.....


Matahari mulai menenggelamkan dirinya, sama seperti jadwal rutin sebelumnya Risyal selalu padat dengan kajiannya.


Sesuai permintaan ibunya, sore ini sebelum kemesjid untuk melakukan kajian,ia mampir kerumah cukup besar untuk mengantarkan makanan. Perlahan Risyal berjalan kearah rumah itu, ketika sampai didepan pintu rumah itu Risyal berniat mengucapkan salam. "Assala...." ucapnya terhenti seketika ketika terdengar suara lantunan yang sama dengan suara wanita yang ia dengan dibalik tirai masjid beberapa hari lalu namun kali ini bacaannya lebih fasih.


"Assalamu'alaikum." ucap Risyal sembari menunggu orang dalam membuka pintu.


"Waalaikumsalam, sebentar ya." jawaban itu dapat Risyal dengar dengan jelas.


"Bi," Arum yang berlari menghentikan langkahnya.


"Iya nak,"


"Biar Alin aja yang buka, bibi bisa lanjutin masaknya," ucap Alina sembari tersenyum, Arum hanya mengangguk lalu berbalik kearah dapur. Dan Alina berjalan kearah pintu.


"Ada perlu apa?" ucap Alina ketika pintu sudah terbuka lebar dan menampakkan seseorang.


"Ustadz Risyal?" ucapnya lagi terkaget melihat laki-laki didepannya.


"Ah, maaf mengganggu, saya disini untuk mengantarkan makanan untuk bi Arum dari ibu." jawabannya sambil menyodorkan tempat makanan yang dibawanya.


"Oh, terimakasih. Mau masuk dulu?" tawar Alina.


"Tidak perlu, saya juga harus kemesjid untuk kajian rutin, titip salam saja untuk bi Arum dari saya." Alina hanya mengangguk kakuk.


"Kalo begitu saya pergi, Assalamu'alaikum," setelahnya Risyal pergi.


"Siapa nak?" tanya Arum tiba-tiba yang mengagetkan Alina.


"Astaghfirullah, a-ah ini... Ini dari ummi Kalsum bi untuk bibi katanya," jawab Alina.


"Yang anterinnya, nak Risyal?" Alina hanya mengangguk kakuk, lalu menyodorkan makanan itu dan berjalan kedalam.


"Nak Risyal anak satu-satunya ummi, dulu waktu bibi sering ikut kajian bersama ummi, ummi selalu bercerita pada bibi jika ia sangat ingin melihat Risyal menikah, tapi hal itu masih saja belum terwujud,"


"Kenapa memangnya?" Potong Alina.


"Nak Risyal sangat sulit...sekali untuk membuka hatinya untuk wanita, entah apa alasannya tapi ummi bilang, setiap ummi berniat menjodohkannya Risyal selalu menolak." Jelas bi Arum pada Alina.


"Nak, nak Alin," Arum yang melihat Alina yang tiba-tiba terdiam merasa aneh, terlebih kini Alina mulai meneteskan air matanya.


"Nak Alin!" Kini Arum menepuk pundak Alina dan itu berhasil membuyarkan lamunannya.


"Maaf bi, kenapa dengan Alin ya? Kok jadi cengeng gini." ucap Alina yang menyeka air matanya.


"Tidak apa-apa, bibi yakin, suatu hari nanti Alin pasti mendapat kebahagiaan yang sangat besar dalam hidup, tidak perlu menangis yang sudah terjadi biarlah semuanya berjalan sesuai takdir yang maha kuasa, seberat apapun itu kita harus bisa melupakannya, jika sudah bisa melupakannya maka bersiaplah untuk membuka yang baru." ucap bi Arum yang kini memeluk erat Alina.


"Huh! Insyaallah Alin bisa menjalankan semuanya bi,"


Arum melepas pelukannya, "malam ini ada kajian lagi, lebih baik kita pergi kesana." ajak Arum sembari mengelus perut Alina yang memang sudah membuncit saja.


"Jadilah anak yang baik untuk ibumu nak, buatlah dia terus tersenyum, jika kau terlahir sebagai laki-laki jadilah imam kedua setelah ayahmu, sebelum imam lain mengisi posisi itu. Tapi jika kau wanita, jadi wanita seperti yang mengandungmu, wanita kuat adalah wanita Sholehah, jadi..jadilah wanita Sholehah diatas agama yang diajarkan ibumu, bantulah ibumu untuk hidup dengan harapan barunya." ucap Arum yang terus mengelus lembut perut itu. Alina yang melihat sungguh terharu dengan apa yang dikatakan Arum, kata-katanya sungguh seperti ibunya, wanita yang selama ini mengajarkan begitu beratnya kehidupan, begitu berartinya hidup ini.


"Alin akan berusaha jadi ibu yang baik, Alin juga yakin anak Alin akan tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dari ibunya, karena selama ini juga dia dikelilingi orang-orang kuat." Alina tersenyum.


"Lebih baik kita makan dulu bi, Alin kayanya lapar nih, tadi bibi masak apa?" tanya Alina.


"Ah iya nak, bibi masak makanan kesukaan nak Alin. Telur balado ples donat untuk cemilannya,"


"Bi Arum memang jago," ucap Alina, "baiklah, mari kita makan bi, setelah itu kita bersiap untuk kemesjid." lanjut Alina sambil menggandeng tangan Arum berjalan kearah dapur.


.....


Malam ini menjadi malam kedua Alina mengikuti kajian dimesjid. Seperti biasanya Alina selalu duduk di shaf depan, bukan ia ingin melihat ustadz yang memimpin kajian, tapi ia ingin lebih jelas mendengar kajian itu, bagaimanapun ia masih berstatus istri orang mana mungkin ia menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Bagaimana jadinya jika ia lakukan itu. Tidaklah itu suatu perbuatan yang dibenci Allah.


Ayat demi ayat terlantunkan tanpa sadar Alina bergumam, "Masyaallah suaranya merdu sekali." lantunan surah Al-rahman yang dibaca ustadz Risyal sangatlah merdu.


Bi Arum yang sama-sama dishaf depan dan duduk tepat disamping Alina hanya tersenyum mendengar perkataan Alina. Sedangkan wanita disamping kirinya melihat tak suka.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah malam ini kita bisa berkumpul kembali ditempat yang insyaallah diridhoi Allah SWT. Sholawat dan salam mari kita panjatkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW," ustadz Risyal memulai ceramahnya.


"Malam ini kita akan mengkaji tentang 'Hijrah'. Hijrah itu bukanlah sesuatu yang asing didengar, sekarang sudah banyak orang yang membicarakan hijrahnya, tapi ingatlah ibu-ibu bapak-bapak hijrah itu bukan hanya meninggalkan segala sesuatu yang Allah benci. Dan kita memutuskan untuk memperbaiki diri, banyak orang yang memutuskan berhijrah ia hanya fokus pada baju dan hijab yang bagaimana nantinya ia akan kenakan, sesungguhnya hijrah bukan hanya menutup aurat tapi memperbaiki hati, luruskan hati pada sang maha kuasa terlebih dahulu, tetapkanlah hati itu padanya setelah benar-benar mendapatkan kenyamanan barulah kita mulai menutup aurat, setelahnya barulah kita mulai menjauhi sesuatu yang Allah benci. Karena pada hakikatnya Allah menyukai orang-orang yang berproses, hijrah memang gampang dan semua orang bisa berhijrah, jika seorang wanita tidak berjilbab ia bisa dikatakan berhijrah, tapi disini kita tidak bisa menyimpulkan jika orang berjilbab itu berhijrah, karena tidak ada yang tau hati seseorang itu seperti apa. Berhijrah itu bukan berarti kita memakai hijab besar yang panjang, tidak, tapi hatilah yang menuntukannya, hati yang bersihlah yang dikatakan berhijrah, hakikatnya hijrah itu adalah cinta dan benci," ucap ustadz Risyal yang terdengar melalui speaker mesjid.


"Ingatlah berhijab itu adalah kewajiban bagi seorang wanita muslim, namun, bukan berarti ketika telah berhijab maka selesailah proses hijrah itu. Tidak, hijrah memperbaiki penampilan itu adalah tingkatan hijrah yang paling awal. Tapi...hati yang baik juga bukan berarti tidak menutup aurat, karena kodratnya wanita Sholehah itu yang menutup auratnya agar tidak terlihat oleh yang bukan mahramnya." ucap ustadz Risyal.


"Begini, pada hakikatnya kita tidak bisa seenaknya berbicara tentang hijrah itu seperti apa. Baik itu wanita berjilbab atau tidak kita tidak bisa menyebutnya itu wanita yang baik dan buruk, karena sampai kapanpun hukum jilbab itu wajib sebagaimana dalam Al-Qur'an surah An-nuur ayat 31 dan Al-ahzab 59. Dan hijrah itu bisa dilakukan oleh siapapun, selagi kita hidup maka kita bisa berhijrah." ucap ustadz Risyal tegas.


"Untuk yang ingin bertanya silahkan ajukan pertanyaan." lanjut ustadz Risyal.


.....


Alina hanya menunduk menelan habis ucapan ustadz Risyal tadi. Sungguh dulu ia pernah diposisi itu, ia merasa paling benar karena sudah berhijab, tapi yang dikatakan ustadz Risyal benar. Tidak ada seorangpun yang baik atau buruk, karena sebenarnya berhijab itu adalah kewajiban bagi wanita muslim.


Next✨


Maaf baru bisa up😊 sorry kalo ceritanya gaje yaπŸ˜πŸ™πŸ»


Jangan lupa tinggalkan jejak dicerita ini πŸ‘