The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|33|



"Mas, apa Mas sungguh ingin memperbaiki semuanya? Sungguh setelah sikap Mas yang terus menyakitiku membuat luka dalam hatiku sulit percaya padamu." ucapnya sambil menatap lekat wajah tampan sang suami.


Pagi ini Alina berniat untuk pulang ke Bandung.


"Mas, untuk saat ini aku butuh waktu untuk mempertimbangkan semuanya, bukan aku tidak ingin memperbaiki pernikahan ini lagi, tapi aku memang butuh waktu, takutnya aku akan dijatuhkan lagi, aku akan datang ketika aku sudah benar-benar siap." Alina beranjak dari tidurnya melangkah keluar kamar. Dan diluar kamar Mbak Zahra sudah berdiri disana.


"Kamu mau kemana?" tanya Mbak Zahra dengan nada sedih. Meski Alina tidak membawa koper tapi Zahra sudah tau jika ia akan pergi.


"Aku akan pulang."


"Tapi Akmal, apa kamu sudah tidak ingin bersamanya lagi?"


"Bukan Mbak, aku hanya butuh waktu untuk mempertimbangkan semuanya," jelasnya.


"Tapi dia sudah mau berubah. Apa kamu tidak akan menghargainya?!" ucapan Zahra sedikit meninggi hingga membuat Alina menatapnya tak percaya.


"Mbak, apa sekarang dimata mbak aku yang salah? Aku tau apa yang terbaik untukku sendiri! Mbak tidak diposisiku, aku terluka karena adik Mbak Zahra! Selama setahun ini aku bertahan dengan luka, dan Mas Akmal baru menyadarinya bahwa ia salah dan menyesalinya, apa dengan itu cukup! Mengobati luka yang dia berikan padaku? Aku memaafkannya, tapi untuk percaya padanya aku masih ragu. Assalamu'alaikum," ucapnya lalu pergi keluar rumah.


Zahra terpaku, air matanya mengalir. Perkataan Alina masih terbayang, tapi itu memang benar, dan mungkin ini balasan untuk adiknya.


Zahra mengejar Alina keluar.


"Mbak selalu berharap... Kau segera membuka hati lagi untuk Akmal." teriak Zahra pada Alina yang sudah berada didalam mobil. Mobil itu pun melaju cepat.


Zahra menangisi semuanya. Ia merasa gagal sebagai kakak, seharusnya ia bisa menahan Alina agar tetap disini. Lututnya melemas, seakan engselnya itu akan terlepas, iapun terjatuh ketanah dengan air matanya yang ikut jatuh ketanah.


.....


Butiran-butiran hujan yang deras membasahi bumi pagi. Mobil yang Alina tumpangi melaju dijalan kota yang tidak terlalu ramai. Dinginnya hujan membawa Alina pada ingatannya yang terus menampilkan kisahnya yang baru saja berada dititik akhir, berada diantara kebingungan pilihan. Menetap atau pergi?


"Ya Allah, ampuni semua yang aku lakukan ini, tolong bantulah aku menghapus luka yang terus saja membuatku menyimpan rasa kecewa dan marah. Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati, bukalah pintu maaf dan rasa ikhlas dalam hati hamba untuk memaafkannya, agar hati bisa tenang dan terbebas dari dosa. Aku masih mencintainya, tapi luka inilah yang terus saja membuatku agar memupuk dalam rasa itu agar hilang, ya Allah hanya engkau yang berkuasa atas raga ini, atas hati ini, buatlah hambamu yang lemah ini melupakan penyakit hati ini yang sulit hilang. Agar hamba bisa yakin untuk pilihan itu, Aamiin ya rabbal'alamin."


Tetesan air mata yang jatuh membasahi khimarnya.


.....


Disudut lain, laki-laki tengah bersimpuh diatas sajadah yang menjadi bukti, bahwa ia tengah merayu Tuhannya. Disholat duhanya laki-laki itu mengangkat kedua tangannya menghadap Allah SWT.


"Ya Allah ya Tuhanku, inikah takdir yang kau berikan padaku? Sepi rasanya aku harus hidup sendiri tanpanya, aku memohon pada-mu persatukanlah hamba kembali dengannya, seperti nabi Adam dan Siti Hawa yang awalnya berjauhan hingga akhirnya bertemu lagi. Aku memohon pada-mu ya Allah yang menciptakannya, jika sosoknya adalah yang terbaik bagi hamba dalam membangun sebuah pondasi rumah tangga ini, maka persatukan lagilah hamba dengannya, hamba ingin memperbaiki semuanya dan meraih ridhomu. Ya Rabbi, mudahkanlah jalan untuk hamba untuk Perjuangan bahtera rumah tangga ini. Aamiin."


Kalimatnya lembut meminta sang Rabb agar kembali mempersatukannya.


"Akmal... Keluarlah, sudah jam berapa ini, kau harus segera kekampus." ucap Zahra kakak perempuannya.


"Hmmm... Bentar lagi kak," gumam Akmal. Sungguh hari ini bukanlah hari yang baik untuknya melakukan aktivitas, bahkan untuk keluar kamar saja berat rasanya.


"Cepat turun.. jangan buat masalahmu mengganggu pekerjaanmu," teriak Zahra.


"Iya kak," Akmal pun mulai menuruni anak tangga, wajahnya pucat, matanya memerah. Sebegitu terpuruknya ia ditinggal sang istri. Dulu Alinalah yang ada diposisinya saat ini, menangis setiap hari, karena torehan luka yang Akmal berikan. Kini laki-laki itu merasakannya, sakitnya ditinggalkan tanpa kepastian untuk kembali.


"Akmal, biarlah waktu yang menjawab. Semua orang pernah berada dikeadaan seperti ini, hal ini wajar terjadi dalam rumah tangga."


"Tapi aku tidak bisa melepasnya, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku." Air mata Akmal mengalir mendengar ucapan sang kakak. Dipeluknya Akmal, karena bagi Zahra meski Akmal sudah menjadi laki-laki dewasa, dimata Zahra ia masihlah laki-laki kecil yang memang membutuhkan sandaran untuk melepas segala beban dalam hidupnya.


Setelah mendengar kabar bahagia dari Alina yang tengah mengandung anaknya, kini Akmal harus jatuh hingga berribu-ribu dalamnya lautan. Kemarin ia hanya kehilangan Alina saja, tapi setelah mengetahui kebenarannya ia harus kehilangan sang istri dan bayi yang ada diperut Alina. Sungguh karma untuk Akmal.


"Jika kau menyesali semua, dan akan mencintainya tulus karena Allah, maka kejarlah dia, perjuangan pernikahan ini dan buatlah Alina percaya padamu, jika kamu memang benar-benar ingin pernikahan ini tetap ada." ucap Zahra dengan air mata yang juga mengalir membasahi pipinya.


.....


Semua terasa gelap, hanya suara-suara yang meminta-minta bangun yang dapat Alina dengar. Perlahan-lahan Alina membuka matanya, semula tampak kabur namun setelah beberapa saat ia dapat melihat Bi Arum tengah memandangnya dengan tatapan sayang.


"Jam berapa emangnya bi?" ucap Alina ketika sudah benar-benar memfokuskan matanya.


"Terimakasih bi, ya sudah, bibi boleh balik lagi kekamar," titah Alina lembut.


"Baik non," Bi Arum tersenyum lalu menghilang dari balik pintu.


Setelah sholat malam dan sholat subuh. Dipagi yang cerah ini senyuman kecil menjadi awal untuk menjalankan hari yang baik. Alina tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Karena hari ini ada jadwal mendampingi Dokter untuk operasi.


"Bi Alin sudah sarapan, Alin pamit kerumah sakit," ucap Alina.


"Iya non, hati-hati..." jawab bi Arum dari lantai dua, bi Arum tengah membersihkan gudang yang tidak terpakai agar terlihat sedikit lebih rapi.


"Iya bi, Alin pergi, assalamu'alaikum..." ucap Alina kemudian berjalan menuju mobilnya. Ya Kemarin-kemarin setelah pindah ke Bandung Alina sengaja membeli mobil untuk dipakai kesana kemari, karena jika terus naik motor ia takut kandungannya kenapa-kenapa, jadi ia membeli mobil dengan sisa uang tabungannya.


.....


Dirumah sakit Alina sudah ditunggu beberapa dokter dan suster lainnya, yang pagi ini akan menjalankan operasi pada pasien pengidap penyakit kanker serviks.


"Akhirnya yang ditunggu muncul juga," Wanda dan Ani memang wajah sama.


"Maaf ya telat biasalah bumil." bisiknya sambil tertawa.


"Ah iya, tidak terlalu terlambat kok, ya sudah ayo masuk para Dokter sudah ada didalam." ucap Wanda sambil menggandeng tangan Alina masuk.


"Assalamu'alaikum, maaf saya telat Dok."


"Waalaikumsalam, tidak apa kami paham kondisi ibu hamil." Semua yang ada didalam terkekeh. Meski Alina baru disana tapi para Dokter dan suster sudah sangat akrab dengannya jadi tidak ada kecanggungan apapun.


"Baiklah kita mulai saja," ucap Dokter Aksa yang akan bertanggungjawab dengan operasi hari ini. Semuanya bersiap dan mulai melakukan pembedahan.


Sudah hampir 3 jam berada didalam ruang operasi, suster dan Dokter keluar berbarengan. Operasi hari ini berjalan lancar tidak ada gangguan apaapa.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan baik," ucap syukur Alina.


"Alhamdulillah, semoga pasien segera siuman," sahut Ani diikuti Wanda dengan anggukan.


"Setelah ini kau mau kemana Lin?" tanya Wanda.


"Aku akan makan siang dulu, setelahnya aku ada pemeriksaan kandungan," jelas Alina.


"Ya sudah kita bareng aja kekantinnya, Btw kamu dianter siapa kedokter kandungannya?" tanya Wanda lagi.


"Sendiri,"


"Kenapa tidak dengan suamimu, bahaya Lo kalo kamu sendiri terus, takutnya kenapa-kenapa dijalan yakan ni?" Ani mengangguk.


Ya Allah kenapa hidupku seperti ini? Tidak adakah kebahagiaan untukku nikmati?


"Suamiku sibuk," jawab Alina singkat. Ia tidak ingin mengingat masalahnya lagi, sudah cukup baginya menangisi semuanya. Bagaimana pun tidak ada harapan lagi untuk terus bertahan dengan rumah tangganya.


"Oh gitu, ya udah, kita makan siang yu," ajak Wanda. Mereka bertiga berjalan kearah kiri lorong rumah sakit untuk menuju kantin.


.....


Netx✨


Semoga selalu suka ya sama cerita ini😊


Yok awali pagimu dengan senyuman 🙂 dan ketika melangkah niatkanlah karena tuhanmu.☺️


See you reader 💕