The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|32|



Bagaimana dengan Mas Akmal? Apa ia memang benar-benar melepasku.


Alina berpikir bahwa Akmal tak akan menemuinya lagi, tapi hal itu lebih baik dari pada terus menerus bertemu akan semakin membuat luka dihatinya semakin dalam.


Dan siang ini Alina berniat untuk pergi kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien.


Niatnya besok ia akan ke Jakarta untuk ke rumah Akmal untuk membicarakan perihal gugatannya.


.....


Dirumah Akmal, kebetulan disana ada Mbak Zahra.


"Mbak sudah lama sekali tidak bertemu." ucap Alina.


"Iya nih, Alhamdulillah mbak senang bisa bertemu mu disini," ucap Mbak Zahra merangkul lengan kanan Alina. Alina tersenyum.


"Bagaimana kabarmu?" Setiap mbak Zahra bertanya tentang keadaan, aku langsung paham jika dia bukanlah menanyakan kondisiku, melainkan hatiku.


"Alhamdulillah, Allah selalu memberikan aku kesehatan, mbak liat sendirikan kalo aku baik-baik aja."


"Syukurlah kamu sehat,"


"Mas Akmal belum pulang Mbak?" tanya Alina untuk memastikan.


"Belum, seminggu kemarin dia sakit jadi gak pergi ke kampus, makanya mbak pulang."


Sakit?


"Lin?"


"Iya Mbak," jawabnya sambil menatap bertanya.


"Mbak mohon.. jangan bercerai dengan Ade mbak ya?" ucap Mbak Zahra dengan mata berkaca-kaca.


"Mbak pasti tahu tentang semuanya, maaf Mbak, Alin gak mungkin terus bertahan dengan pernikahan ini."


"Mbak ngerti kok posisi kamu, tapi percayalah Akmal sudah mulai mencintaimu."


Alina tersenyum. "Kita tidak ditakdirkan bersama."


"Selama dia sakit, dia terus menyebut namamu dalam tidurnya, ia tidak mau makan jika itu bukan makanan yang kau masak," jelas Mbak Zahra. Rasa khawatir mulai melanda Alina.


"Ya sudah Mbak, Alin kesini cuma mau kasih surat ini," ucapnya sejenak sembari memberikan amplop putih itu. "Sekalian aku mau ambil barang-barangku yang masih ada dikamar."


"Kamu sudah yakin dengan keputusan ini," Mbak Zahra memegang erat tangan Alina. Alina melepas genggaman tangan Mbak Zahra pelan.


"Ini yang dinamakan takdir, tidak ada seorangpun yang bisa merubahnya, hanya Allahlah yang berhak atas skenario kehidupan ini. Ini juga sudah keputusan Alina yang tidak bisa diganggu gugat," ucap Alina sebelum menaiki anak tangga.


Alina berjalan kearah kamarnya. Dia membuka kamarnya perlahan, aroma parfum miliknya begitu terasa.


"Kenapa wangi parfumku sangat menyengat sekali? Apa Mas Akmal sengaja menyemprotkannya?"


Alina melangkah masuk, bibirnya tersenyum ketika melihat foto pernikahannya masih tersimpan rapi diatas nakas disamping ranjangnya.


Alina kini beralih ke foto baru yang keberadaannya tidak pernah ada disana sebelumnya.


"Mas Akmal memajang fotonya disini?" Alina sedikit heran dengan keberadaan foto itu, pertama kali untuknya melihat foto suaminya yang sengaja dipajang disamping foto pernikahannya.


"Sudahlah hiraukan saja, dari pada nanti Mas Akmal keburu pulang lebih baik aku bergegas membereskan barang-barang." Alina beranjak dari duduknya.


Dia meraih tas sorennya yang ada dilemarinya dibagian bawah.


Alina juga memasukkan beberapa baju santainya kedalam tas.


Pergi jauh mungkin memang keinginan Mas Akmal dan sekarang menjadi jalan pilihanku.


"Astaghfirullah, berat juga." ucapnya ketika mengangkat tasnya itu.


Celklek!


Alina menoleh kearah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Akmal. Laki-laki itu berdiri diambang pintu dengan wajah pucat.


"Alina?" panggilnya pelan sambil berjalan masuk kedalam kamar. Alina mengerjapkan matanya beberapa kali.


Akmal menutup pintu kamar dan berjalan mendekatinya yang masih terdiam didekat lemari.


"Kamu pulang?" ucap Akmal. Jarak mereka kini tinggal satu langkah. Alina enggan menatap Akmal.


"A-aku kesini hanya mengambil beberapa barangku," ucap Alina yang tiba-tiba gugup.


Akmal terdiam.


"Surat gugatannya sudah aku kasih pada Mbak Zahra."


Akmal masih saja terdiam. Perlahan air mata laki-laki itu meluncur dengan santai.


Hati Alina terasa tersayat ketika melihat air mata Akmal jatuh.


"Sebesar itukah kau benci padaku Alina? Seharusnya kamu tidak perlu pergi, tetaplah disini, aku janji akan memperbaiki."


"Maaf Mas, ini sudah menjadi keputusanku, simpanlah hati itu untukku diwaktu yang akan datang, karna jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, bagaimanapun jalannya aku akan kembali." Rasanya saat seperti ini Alina menjadi wanita paling jahat. Tapi ia kembali berpikir, bahwa Akmal lah yang jahat, karena dia telah menyia-nyiakan sabarnya selama ini.


"Tetap disini Alin!"


"Tidak Mas, aku tidak bisa, Assalamu'alaikum." ucap Alina setelah ia selesai merapikan barang-barangnya lalu beranjak untuk pergi keluar kamar.


Tapi sebuah tangan menghentikan langkahnya. Akmal menarik tubuh Alina hingga jatuh didekapannya.


Akmal membawa tubuh Alina dalam dekapan. Meski tidak sepenuhnya memeluk tubuh Alina karena terhalang tas, namun Akmal merasa debaran aneh dalam jantungnya.


Rasa aneh itu kembali muncul dalam hati Akmal.


Alina yang sempat terdiam kemudian mengerjakan matanya, karena jantungnya kini ikut bergetar saat tubuh sang suami sedikit mendekapnya.


"Mas ingin buah hati darimu," ucap Akmal yang membuat Alina langsung menatap wajah bernetra hitam tajam itu.


"Maaf..." tubuh Alina kini bergetar, matanya berkaca-kaca, dan tak lamapun air itu jatuh dari ujung matanya. Akmal semakin mendekap tubuh Alina erat.


"Alin... Mas yang minta maaf," lirihnya dengan penuh penyesalan. Aku sempat kaget saat Alina memalingkan wajah karena tanganku yang sedang mengusap air matanya. Aku tau dia kecewa, marah. Ini semua salahku, harusnya aku menyadari perasaan ini lebih awal, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.


"Terimakasih... Karena sudah berani meminta buah hati dariku, tapi maaf, aku tidak bisa!" pelukan Akmal semakin erat saat mendengar suaranya yang bergetar. Aku tahu dia menangis.


"Mas yang salah, Mas mohon.. menetaplah bersamaku, dan teruslah menjadi istriku yang sampai kita tua nanti." ucapnya dan menegakkan wajah sang istri untuk melihatnya.


"Maaf, Mas sudah menyakitimu." Aku sudah tidak tahan lagi dengan penolakannya yang selalu menghindar saat tanganku akan menyeka air matanya.


Dengan lembut Akmal menarik kepalanya dan menyeka air mata itu. Setelah itu Akmal mengecup sudut bibir Alina dan didetik berikutnya berubah menjadi lumatan. Ini yang sebenarnya ingin Akmal lakukan dari tadi, menciumnya dengan lembut.


Kini Akmal mengarahkan Alina agar tangannya melingkari lehernya. Meski sedikit memberontak tapi Akmal tidak kalah, ia segera bergerak membuka kancing bajunya meraba dadanya yang bulat dan padat diluar b*a yang dikenakannya.


Akmal sudah melepas lumatannya, ia melihat kearah wajah cantik Alina yang memejamkan mata dan terlihat jelas napasnya juga ikut memburu sepertinya. Akmal tersenyum saat melihat wajah sang istri yang sudah terbawa suasana. Akan kubuat kau menyerah padaku. Pikir Akmal.


Akmal melanjutkan aktivitasnya kini ia beralih ke leher jenjangnya dan kembali tersenyum saat berhasil memberi tanda merah disana.


"Aakhh..." desahan Alina yang kuat malah membuat Akmal semakin ganas meremas dadanya. Kini milik Akmal sudah semakin berada dipuncak, terlihat jelas ia sudah menelan ludah.


"Aku akan menanam benih di rahimmu," ucapnya ketelinga Alina.


Akmal menarik kepala Alina dan menciumnya dengan terburu. Tangannya meremas dada yang sudah mengeras itu.


"Aakhh..."


Desahannya menggema dikamar itu bagaikan lantunan musik yang merdu dan Akmal menyukainya.


Akmal kini beralih kepakaian Alina yang sudah siap dilepasnya, tapi ketika ia akan melepasnya Alina memberontak. Sehingga Akmal menghentikan aktivitasnya.


"Ja...jangan Mas," jawab Alina. Akmal menghiraukannya ia kembali meremas milik Alina dan Alina kembali mendesah.


Sisi kelelakiannya kini sudah berada dipuncak, Akmal menuntun Alina agar berbaring diatas kasur. Tapi sekuat tenanga Alina memberontak, dia menolak, karena ia tahu ia tengah mengandung anak dari laki-laki yang kini sudah berada dititik klimaksnya. Tatapan mereka beradu dan disana Alina meneteskan air matanya. Membuat Akmal penuh tanda tanya.


Alina menjauhkan wajah Akmal dan berdiri. Jelas saja ia tidak ingin melakukannya dengan sang suami, ia tidak ingin nanti bayi yang dikandungnya kenapa-kenapa.


Tapi Akmal masih tetap berusaha untuk menindih Alina. Tapi Alina dengan bersikeras menolak.


"Cukup Mas! Cukup!" ucapnya hingga membuat Akmal menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa?" penuh dengan tanya dimatanya.


"Aku tidak bisa," tangisnya kini mulai mengeras.


"Kenapa Alina? Kenapa? Apa kau tidak ingin memiliki buah hati dariku?"


"Maaf." ucapnya.


"Saat ini kau masih istriku! Dan aku masih berhak meminta atas kewajibanmu padaku sebagai istri!" tegasnya. Alina hanya terdiam menundukan pandangannya.


"Aku ingin kau mengandung darah dagingku dirahimmu," ucapnya sambil memegang perut sang istri. Awalnya Akmal tidak menyadari perut sang istri yang mulai membuncit. Tapi setelah memegangnya tadi, tanda tanya mengelilingi otaknya. Buncit?


Akmal menarik wajah yang merunduk itu. Tatapannya beradu pada satu titik. Detik berikutnya Akmal berbicara. "Kau hamil?" tanyanya yang membuat Alina terdiam enggan menjawab.


"Jawab aku Alina, kau hamil?" Alina masih terdiam.


"Kau hamil anakku kan? Iyakan sayang?" suaranya bergema dikamar itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang diluar kamar yang mendengarkan perbincangannya. Ya itu Mbak Zahra.


"Jawablah Alina, kau mengandung anaknya," ucapnya pelan. Wanita itu terus saja berdoa agar pernikahan adiknya dengan Alina tidak pernah putus. Karena baginya Alina adalah wanita yang cocok untuk Akmal.


Alina menganggukan kepalanya dan jawaban itu benar-benar membuat Akmal menangis. Menangis bahagia karena apa yang diinginkannya terkabul. Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku. Aku berjanji aku akan memperbaiki pernikahan ini, dan akan kupastikan.. aku tidak akan pernah melepas istriku dengan laki-laki lain. Gumamnya dalam hati.


Rasanya mendengar kabar gembira ini membuat Akmal melayang, Alina memejamkan matanya, Akmal yang melihat mengembangkan senyum manisnya. Akmal mengecup kening sang istri lama.


"Terimakasih, terimakasih dengan kabar bahagia ini, aku akan memperbaiki semuanya." bisik Akmal setelah itu memeluk erat Alina.


.....


Next✨