
Setelah kejadian pingsanku diruangan Dokter Rehan, aku masih bingung dengan semuanya. Tidak mungkin Sandra melakukan hal sejahat itu padaku. Meski Dokter Rehan memperhatikan bukti yang menyudutkan kebenarannya pada Sandra, tapi tidak bisa begitu saja aku memponis jika Sandra memang orang dibalik kejadian itu.
Kakiku terus berjalan entah kemana. Kumandang adzan ashar lah yang menyadarkanku, kuhentikan langkahku didepan sebuah musola dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Setelah menghadap Rabb-ku dan berkeluh kesah kepadanya, baru aku keluar untuk lanjut pulang kerumah.
Di pelataran musola, kudengar sebuah suara memanggilku. Kubalikkan tubuhku dan mendapati Azka yang berdiri tak jauh dariku.
"Assalamu'alaikum Lin, sendirian?"
"Waalaikumsalam ka, iya," jawabku lesu.
"Ada masalah? Bisa aku bantu?" tanya Azka berbasa-basi.
"Tidak ada apa-apa ka."
"Kamu berbohong. Aku mengenalmu sudah lama sekali Alina, aku dapat melihat jika kamu tampak murung, ada apa Lin? Siapa tau aku bisa membantumu?"
"Aku hanya memikirkan kejadian penculikan yang menimpaku." Mendengar itu Azka terdiam.
"Penculikan? Maksudmu apa Lin?" tanya Azka dengan wajah yang terlihat kaget.
.....
Alina menceritakan semua kejadian saat penculikan itu.
"Siapa orang itu?!" tanyanya khawatir.
Alina hanya menggeleng.
"Apa ada bukti yang bisa menemukan orang itu?" tanyanya lagi. Akupun mengeluarka foto yang diberikan Rehan.
"Sandra?" Berhenti sejenak. "Bukannya... Ini Dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan mu?" Alina mengangguk membenarkan.
"Kamu percaya kalo Sandra orang yang menyuruh Dokter Rehan?" Aku menggeleng. Aku memang percaya tidak percaya dengan ucapan Dokter Rehan, tapi hatiku mengatakan jika Sandra tidaklah seperti itu.
"Hmm, kalau kaya gitu, kamu sendiri yang harus buktiin, siapa orang yang sebenarnya salah! Minta sama Allah Lin, selipin masalah ini didoa mu. Insyaallah, sang Rabb pasti memberi petunjuk." Pesan Azka yang kutanggapi dengan senyuman.
"Kamu ngapain disini?" tanyaku.
"Selain ngajar di pesantren aku juga sekarang buka kajian di masjid-masjid terdekat Lin, hitung-hitung bagi ilmu." Ucap Azka. "Oh ya, kamu mau pulang, kita bisa bareng!" ajak Azka.
"Tidak usah, aku bawa motor sendiri."
"Okelah, aku pergi dulu, Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumussalam,"
Malam ini aku pulang seperti biasa, aku sampai didepan rumah, ucapan Rehan yang tadi sempat terlupakan kini kembali menyeruak dipikirkanku. Mas Akmal yang membukakan pintu, dia tersenyum padaku tapi aku melenggang mengabaikannya.
Sepanjang malam ini aku ingin sendiri, sebenarnya aku sangat butuh sandaran tapi tidak mungkin aku menceritakan keluh kesah ku pada Mas Akmal. Apa dia akan percaya jika Sandra seperti itu? Aku mengurungkan niatku itu. Aku lebih melih melepaskan beban itu dengan menangis dikamar.
.....
Pagi sekali aku sudah siap dengan pakaian kerjaku, aku sudah hendak kedapur ketika mendapati sepiring nasi goreng sudah terletak dimeja makan. Apa Mas Akmal membuatkannya untukku? Sepertinya ya. Benar saja, tak lama Mas Akmal keluar dari dapur dengan segelas susu hangat.
"Makanlah," ucap Mas Akmal sembari meletakkan segelas susu dihadapanku. Sejak kapan Mas Akmal seperti hatian ini padaku? Aku hanya bisa tersenyum kecil, bahagia rasanya Mas Akmal berubah menjadi seperti ini padaku.
"Kamu lagi buru-buru gak?" tanya Mas Akmal ragu, sepertinya ada hal yang akan disampaikan Mas Akmal, dan sepertinya serius.
"Gak Mas, kenapa?" tanyaku.
"Sebelumnya Mas mau minta izin, Maaf juga kalo permintaan Mas menyakitimu, tapi Mas harus menyampaikannya." Mas Akmal menjeda kalimatnya dan menarik nafas sejenak.
"Sebulan lalukan Mas kerumah sakit, Mas itu nganter Sandra buat check up, tapi dokter bilang kalo Sandra harus lebih sering check up nya, jadi Mas mau minta izin buat nganter dia check up, cuman... Check up kali harus ke luar kota." Jelas Mas Akmal. "Gimana?"
"Ya sudah, aku gak bisa ngelarang, toh itu juga demi kebaikan Sandrakan." ucapku. Sebenarnya aku sedikit tak suka ketika Mas Akmal meminta izin seperti itu, tapi aku tidak bisa egois. Bagaimanapun Sandra tetap sahabatku.
"Kamu sudah mengijinkan, Mas akan pergi lusa."
"Baiklah, Mas hati-hati, bilangin salamku buat Sandra, cepet sembuh juga," ucapku.
"Tentu saja Mas akan menyampaikannya."
.....
Aku sampai dilobi rumah sakit. Rasanya aku malas untuk pergi keruangan para pasien. Namun, aku juga tidak bisa melepas tanggung jawabku.
Dering ponsel mengagetkanku, ku raih ponsel yang terletak didalam sakuku dan mengangkat telpon dari Sandra.
"Hallo! Assalamu'alaikum Alin!"
"Waalaikumsalam San, ada apa?"
"Gimana keadaanmu? Baik-baik saja bukan?"
"Alhamdulillah aku baik."
"Alhamdulillah, oh ya Lin, Mas Akmal sudah bilangkan soal dia mau nganterin aku Check up? Satu lagi, Shiran memintamu datang kerumah, kamu ada waktu?"
"Sudah, aku mengijinkannya, aku datang sejam lagi."
"Waalaikumsalam."
Setelah telpon tertutup baru aku menyesal dengan apa yang baru aku katakan. Jika aku mengijinkan Mas Akmal mengantar Sandra, selama mereka disana..., Mas Akmal dan Sandra akan selalu bersama. Bagaimana dengan aku?
Tapi itu sudah terlanjur keluar dari mulutku, tidak mungkin kumenariknya kembali.
Jadi setelah berakhirnya shift aku langsung menuju rumah Sandra menggunakan motorku. Aku juga berniat untuk menanyakan apa yang Rehan bilang padamu.
Tak perlu menunggu lama, aku mengendarai motor menuju rumah Sandra, dan kini motorku sudah terparkir rapi dihalaman rumah Sandra, kulangkahkan kakiku menuju pintu coklat rumahnya.
"Assalamu'alaikum," salamku dan mengetuk pintu rumahnya yang sedikit terbuka.
"Waalaikumsalam, Lin masuklah kebetulan Mas Akmal ada disini," ucap Sandra yang membuatku kaget.
Bersama Sandra, aku terus melangkah menuju ruang keluarga dimana Shiran dan Mas Akmal berada. Namun ternyata bukan hanya mereka, namun juga ibu Sandra yang tengah bermain dengan Shiran.
"Shiran, lihatlah siapa yang datang." Shiran yang mendengar namanya dipanggil segera memalingkan wajahnya. Ia segera bangkit dan berlari memelukku. Kuusap lembut rambutnya panjang dan berwarna hitam.
"Tante juga kang..."
"Siapa yang menyuruhmu datang kesini, wanita perebut," teriak ibu Sandra yang membuat Shiran terkejut, bukan hanya Shiran akupun terkejut dengan perkataan ibu Sandra.
"Ibu!" tegur Sandra yang dibalas dengusan ibu Sandra.
"Memang betul bukan kalau dia itu wanita perebut, dengar ya Alina, jika bukan karna perjanjian Abimu itu! Akmal sekarang akan menjadi suaminya Sandra, bukannya kamu memiliki seorang ibu, jika ibumu diperlakukan seperti anak saya, apa yang akan kau lakukan hah? Apa kamu sanggup melihat ibumu diperlakukan seperti ini."
"Setelah kau rebut Akmal dari anak saya dan sekarangpun kau akan bermuka dua didepan cucuku Shiran?"
"Ibu!" hardik Sandra marah.
"Diamlah Sandra! Apa yang ibu lakukan ini sudah benar." balas hardik ibunya. "Saya tidak tau bagaimana orangtuamu mendidikmu hingga menjadi seperti ini."
Cukup! Cukup sudah, sejak tadi aku diam karna aku tau disini aku juga salah, tapi aku tak bisa diam saja jika disangkut pautkan dengan Abi dan umi.
"Anda boleh mengatakan apapun tentang saya, terserah, tapi tak pantas rasanya jika anda menyinggung kedua orangtua saya, anda pun seorang anak, saya yakin anda akan melakukan hal yang sama jika ada yang mengolok-olok orangtua anda," ucapku mengembalikan kata-kata yang sempat ibu Sandra katakan tadi. Aku tidak perduli lagi dengan kata-kata yang aku gunakan tidak sopan.
"Lagian disini saya tidak ingin menjadi istrinya Mas Akmal, saya juga tidak merasa sebagai orang perebut suami orang, jika bukan karena perjanjian Abi dan ayahnya Mas Akmal saya tidak akan seperti dan saya juga tidak mungkin terjebak didalam masalah seperti ini," tambahku.
Kulihat Mas Akmal dia hanya menatapku tanpa mau membelaku. Padahal aku kira setelah beberapa hari belakangan hubunganku dengan Mas Akmal sudah membaik, tetapi ku salah, kurasa dia hanya baik didepan ku saja.
"Jadi sebenarnya kalian menyuruhku datang kesini hanya untuk ini? Untuk cacian dan makian kalian? Oh iya, aku juga kesini sebenarnya ada yang ingin diperlihatkan," ucapku sambil mengeluarkan foto yang ada didalam tasku. Sandra dan Mas Akmal melihat foto itu.
"Apa ini?" tanyanya bingung.
"Kamukan Sandra yang menyuruh Dokter Rehan untuk menculik setelahnya membunuhku juga?!"
"Aku tidak pernah melakukan itu, Lin." ucapnya.
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarkan penjelasanmu, kalau begitu terima kasih banyak, saya rasa kalian sudah berhasil menyudutkan saya, saya pamit, Assalamualaikum." setelah mengucapkan itu aku berlalu tanpa melihat kebelakang. Hatiku hancur, namun setetes pun air mata tak jatuh dari mataku.
Motor yang kukendarai kini entah kemana. Tapi aku rasa malam ini aku akan pulang kerumah umi untuk menenangkan pikiran.
Motor ini kini sudah sampai didepan gerbang putih rumah Umi. Kubunyikan klakson, tak lama umi keluar dan membuka gerbang, akupun masuk.
"Assalamu'alaikum Umi," salamku dan mengecup punggung tangan umi. Rumah tampak sunyi setelah Abi tidak ada.
"Waalaikumsalam anak Umi." Umi memeluk tubuhku sejenak melepas rindunya. "Anak Umi kok kurusan ya?" tanya Umi.
"Masa? Biasa saja mi," jawabku. Aku tidak merasa tubuhku kurusan, tapi sepertinya memang begitu. Karena akhir-akhir ini, semua bajuku mulai terasa kebesaran.
"Anak Umi banyak pikiran ya? Ada masalah dengan rumah tanggamu?" ternyata sampai juga batinku pada Umi, memang sejak dulu Umi dan aku memiliki batin yang kuat.
"Biasa masalah kecil-kecil Umi," jawabku berbohong, aku tidak ingin Umi marah lagi pada Mas Akmal dan mengkhawatirkan ku.
"Jangan bohongi Umi Lin, Umi yakin ada masalah besar setelah apa yang terjadi." aku lupa kalau Umi mengetahui kalau berita penculikan ku dan beberapa kali juga ku sering masuk rumah sakit.
"Umi tenang aja, Alin bisa kok mengatasinya," ucapku menenangkan Umi. Umi menghembuskan nafas panjang dan mengelus kepalaku sayang.
"Sudah lama kamu gak kesini, kenapa?"
"Maaf mi, Alin sedikit sibuk dirumah sakit," ucapku.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja, atau mau makan dulu, kebetulan umi masak makanan kesukaan mu, Lin." ucap umi sambil memegang pundak ku.
"Tidak usah Umi, Alin istirahat saja," jawabku pada Umi, lalu berjalan ke kamarku.
.....
Next✨
Sorry ya baru bisa up hari ini, beberapa hari aku sibuk mikirin buat kuliah soalnya😊
Kalo udah baca budayakan likenya dan komen juga😁👍 Maaf kalo typo-typo🙏🏻
Instagram ku jangan lupa follow juga ya: @im.silpa🤗